NovelToon NovelToon
Perang Tanpa Pahlawan

Perang Tanpa Pahlawan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan
Popularitas:530
Nilai: 5
Nama Author: areann._

PERANG TANPA PAHLAWAN

Ardan hanyalah seorang pemuda biasa dari desa kecil yang tidak pernah membayangkan dirinya akan menginjakkan kaki di medan perang. Ia bukan bangsawan, bukan kesatria terpilih, dan tidak memiliki kekuatan istimewa. Baginya, kehidupan sederhana bersama keluarga sudah lebih dari cukup.

Namun semuanya berubah ketika perang pecah dan desanya menjadi salah satu korban pertama. Kehilangan rumah dan keluarganya membuat Ardan bergabung dengan militer, bukan demi kejayaan, melainkan hanya untuk bertahan hidup.

Di medan perang, ia menemukan kenyataan yang jauh lebih mengerikan daripada cerita tentang kepahlawanan. Ia menyaksikan sahabat-sahabatnya gugur, desa-desa terbakar, dan ribuan manusia saling membunuh tanpa benar-benar memahami alasan mereka berperang.

Seiring waktu, Ardan naik pangkat dari prajurit biasa hingga menjadi seorang komandan. Setiap kenaikan pangkat memberinya kekuasaan lebih besar, tetapi juga tanggung jawab yang semakin berat. Setiap perintah yang ia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14 — Setelah Kemenangan

Kemenangan di Jembatan Aldenwood menjadi berita besar yang menyebar cepat ke seluruh Valdren dan Sylvaris, tapi bagi mereka yang benar-benar mengalaminya, kemenangan itu terasa jauh lebih pahit daripada yang digambarkan dalam laporan resmi.

Pemakaman lapangan untuk Davo dan Corin, bersama puluhan prajurit lain yang gugur, diadakan dengan penghormatan penuh. Thalion sendiri hadir mewakili Sylvaris, memberikan penghormatan kepada prajurit manusia yang telah berjuang dan mati untuk melindungi tanah yang bukan tanah kelahiran mereka.

"Dalam budaya kami," kata Thalion setelah upacara, berbicara pada Ardan yang berdiri di samping Ress yang masih berduka, "kami percaya bahwa mereka yang mati melindungi orang lain menjadi bagian dari hutan itu sendiri, akar mereka menyatu dengan akar pohon, memberi kehidupan pada generasi berikutnya."

"Itu kepercayaan yang indah," kata Ardan.

"Mungkin kalian bisa menanam pohon untuk mengenang mereka," saran Thalion. "Sesuatu yang akan tumbuh lama setelah perang ini berakhir, mengingatkan mereka yang datang setelah kita bahwa pengorbanan mereka tidak sia-sia."

Ide itu diterima dengan baik oleh seluruh regu. Beberapa hari kemudian, di tepi Jembatan Aldenwood, mereka menanam dua pohon kecil—satu untuk Davo, satu untuk Corin—dengan janji tak terucap untuk kembali suatu hari, ketika perang telah berakhir, untuk melihat pohon-pohon itu tumbuh besar.

---

Ress, meski secara fisik telah sembuh dari lukanya, membawa luka yang lebih dalam yang tidak bisa disembuhkan oleh waktu semata. Ia menjadi pendiam, jarang tersenyum, sering terlihat menatap kosong ke kejauhan seolah masih mencari saudaranya di antara kerumunan.

Lena, yang kini juga ditempatkan lebih dekat dengan front Sylvaris setelah rotasi personel medis, memperhatikan perubahan itu dan mendekati Ardan suatu sore.

"Aku khawatir tentang Ress," katanya, nada profesionalnya bercampur dengan kepedulian personal. "Aku telah melihat prajurit yang kehilangan orang terdekat mereka sebelumnya. Beberapa pulih dengan waktu dan dukungan. Beberapa..." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi maksudnya jelas.

"Apa yang bisa kita lakukan?"

"Jangan biarkan dia sendirian terlalu lama. Beri dia tujuan, sesuatu untuk fokuskan energinya selain kesedihan." Lena menatap ke arah Ress yang duduk sendirian di dekat salah satu pohon yang baru ditanam. "Dan mungkin, izinkan dia berduka dengan caranya sendiri, tanpa memaksanya untuk 'baik-baik saja' lebih cepat dari yang ia mampu."

Ardan mengambil nasihat itu dengan serius, mulai melibatkan Ress dalam tugas-tugas yang membutuhkan fokus dan keterampilan—memeriksa perlengkapan, membantu melatih rekrut baru, tugas-tugas yang memberi struktur tanpa terlalu memaksa interaksi sosial yang mungkin masih terlalu berat baginya.

Perlahan, sangat perlahan, Ress mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Ia mulai bicara lagi, meski jarang, dan suatu hari, Ardan menangkapnya tersenyum kecil ketika seorang rekrut muda melakukan kesalahan konyol saat berlatih, senyum yang mengingatkan pada Davo yang selalu bisa menemukan humor bahkan dalam situasi sulit.

---

Wyn, rekrut muda yang diselamatkan Corin, mendekati Ardan beberapa hari setelah pertempuran, wajahnya masih menyimpan bayang-bayang rasa bersalah.

"Sersan," katanya ragu, "aku ingin meminta izin untuk berbicara denganmu."

"Tentu, Wyn. Ada apa?"

"Aku terus memikirkan Corin. Bagaimana ia mengorbankan dirinya untukku." Wyn menunduk, matanya berkaca-kaca. "Aku merasa aku harus melakukan sesuatu untuk pantas menerima pengorbanan itu. Tapi aku tidak tahu bagaimana."

Ardan mengingat kata-kata yang pernah diucapkan Farin padanya, berbulan-bulan lalu, tentang perasaan bersalah dan bagaimana membawanya tanpa dihancurkannya.

"Kau tidak perlu 'pantas' menerima pengorbanan itu, Wyn. Corin tidak melindungimu karena berharap sesuatu sebagai balasan. Ia melakukannya karena ia peduli, karena ia melihat sesuatu dalam dirimu yang layak dilindungi." Ardan menepuk bahunya. "Yang bisa kau lakukan adalah menjalani hidup yang layak diperjuangkan olehnya. Jadilah prajurit yang baik, jadilah orang yang baik. Itu cukup."

"Bagaimana jika aku tidak yakin aku bisa melakukan itu?"

"Tidak ada yang pernah benar-benar yakin," jawab Ardan, mengulangi kata-kata yang telah ia dengar dari begitu banyak mentor sepanjang perjalanannya. "Kau hanya perlu mencoba, hari demi hari."

---

Malam itu, ketika regunya berkumpul di sekitar api unggun, jumlah mereka terasa lebih sedikit dari sebelumnya, kekosongan Davo dan Corin masih terasa nyata meski tidak diucapkan secara langsung.

"Kita perlu merekrut anggota baru," kata Serena praktis, meski nada suaranya menunjukkan bahwa ia juga merasakan beratnya kehilangan. "Regu kita membutuhkan kekuatan penuh untuk pertempuran mendatang."

"Aku tahu," jawab Ardan. "Tapi beri kita waktu sejenak untuk berduka dulu, sebelum kita menggantikan mereka dengan wajah-wajah baru."

Kael, yang duduk di sampingnya, mengangguk setuju. "Davo dan Corin bukan sekadar nomor dalam regu. Mereka layak mendapat waktu untuk diingat sebelum kita melanjutkan."

Tobin menambahkan kayu ke api unggun, nyala apinya membesar sejenak, menerangi wajah-wajah lelah di sekitarnya. "Kita akan terus kehilangan orang, bukan? Selama perang ini berlangsung."

"Ya," jawab Ardan jujur, tidak ingin memberikan harapan palsu. "Tapi setiap orang yang kita kehilangan mengajarkan kita sesuatu, membuat kita lebih bertekad untuk melindungi yang tersisa, dan mungkin, pada akhirnya, membantu kita memahami mengapa semua ini terjadi."

Ia memikirkan Majelis Abu, nama yang kini tertanam dalam pikirannya sejak surat Lord Varen. Kehilangan Davo dan Corin menambah bobot baru pada tekadnya untuk mengungkap kebenaran di balik perang yang telah merenggut begitu banyak.

Bintang-bintang bersinar di atas mereka, saksi diam dari begitu banyak kehilangan dan ketahanan yang telah terjadi di bawah cahaya mereka. Besok, kehidupan di garis depan akan berlanjut, dengan segala tantangan dan bahaya barunya. Tapi malam ini, mereka membiarkan diri mereka berduka, mengenang, dan menemukan kekuatan dalam kebersamaan yang tersisa.

---

Dua minggu setelah pertempuran Jembatan Aldenwood, gelombang baru rekrut tiba dari Karhold untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh mereka yang gugur.

Ardan berdiri di depan tujuh wajah baru, masing-masing membawa campuran ketakutan dan tekad yang familiar baginya—ia ingat betul perasaan itu dari hari pertamanya sendiri di Karhold, meski terasa seperti kehidupan lain sekarang.

"Aku Sersan Ardan," katanya, memperkenalkan diri seperti biasa. "Kalian akan menggantikan dua anggota regu kami yang gugur dalam pertempuran terakhir. Aku tidak akan berpura-pura bahwa kalian bisa menggantikan mereka sepenuhnya—tidak ada yang bisa. Tapi kalian bisa menjadi bagian dari sesuatu yang telah mereka bantu bangun."

Di antara rekrut baru itu, seorang pemuda bernama Toren menonjol karena kepercayaan dirinya yang hampir berlebihan, mengingatkan Ardan sedikit pada Garrek meski tanpa kekejaman yang sama. Seorang perempuan bernama Mira, lebih pendiam namun matanya menunjukkan kecerdasan tajam. Dan seorang pemuda lain bernama Aldous, yang gugup namun berusaha keras menyembunyikannya.

"Kalian akan diintegrasikan secara bertahap," lanjut Ardan. "Belajar dari anggota regu yang lebih berpengalaman, memahami ritme dan kepercayaan yang telah kami bangun. Ini bukan hanya tentang bertarung bersama—ini tentang saling menjaga."

---

Proses integrasi tidak selalu mulus. Toren, dengan kepercayaan dirinya yang berlebihan, sering mengabaikan saran dari anggota regu yang lebih berpengalaman, yakin bahwa keberaniannya sendiri sudah cukup.

"Kau perlu belajar mendengarkan," Farin memperingatkannya suatu hari, setelah Toren hampir membahayakan formasi dengan bergerak terlalu jauh dari barisan selama latihan. "Keberanian tanpa kedisiplinan hanya akan membuatmu, dan orang di sekitarmu, terbunuh lebih cepat."

"Aku bisa menjaga diriku sendiri," bantah Toren.

"Ini bukan tentang menjaga dirimu sendiri," Ardan ikut campur, suaranya tegas namun tidak keras. "Ini tentang menjaga orang di sampingmu juga. Setiap gerakan yang kau buat memengaruhi keselamatan seluruh regu."

Toren tampak ingin membantah lebih jauh, tapi sesuatu dalam nada Ardan—pengalaman yang terpancar dari begitu banyak pertempuran—membuatnya menahan diri.

"Baik, Sersan," katanya akhirnya, meski nadanya masih sedikit kesal.

Mira, di sisi lain, dengan cepat menunjukkan bakat alami untuk taktik, sering mengajukan pertanyaan tajam tentang strategi pertahanan yang membuat bahkan Serena terkesan.

"Kau punya pikiran yang tajam untuk seseorang yang baru bergabung," kata Serena suatu sore, mengamati Mira menganalisis peta medan dengan seksama.

"Aku dulu belajar logika dan matematika sebelum perang memaksaku ke sini," jelas Mira. "Rasanya taktik militer tidak jauh berbeda—hanya soal memahami pola dan probabilitas."

---

Aldous, rekrut yang paling gugup, menemukan tempatnya dengan cara yang tidak terduga—melalui persahabatan yang berkembang dengan Wyn, yang masih berjuang dengan rasa bersalahnya sendiri atas kematian Corin.

"Kau juga takut?" tanya Aldous suatu malam, ketika mereka berdua berjaga bersama untuk pertama kalinya.

"Setiap hari," jawab Wyn jujur. "Tapi aku belajar bahwa itu tidak apa-apa. Sersan Ardan bilang, semua orang takut. Yang penting adalah tetap berdiri di tempatmu meski takut."

"Bagaimana kau melakukannya? Tetap berdiri, maksudku, setelah... setelah apa yang terjadi pada Corin?"

Wyn terdiam sejenak, memikirkan jawabannya dengan hati-hati. "Aku memikirkan apa yang ia katakan padaku, sebelum semuanya terjadi. Bahwa perasaan bersalah itu tandanya aku masih peduli. Jadi aku mencoba mengubah rasa bersalah itu menjadi tekad untuk menjadi prajurit yang lebih baik, yang layak atas pengorbanannya."

Aldous mengangguk, menyimpan kata-kata itu untuk dirinya sendiri, mulai membangun kepercayaan diri yang perlahan namun pasti tumbuh dari persahabatan baru ini.

---

Suatu malam, ketika seluruh regu berkumpul di sekitar api unggun—kebiasaan yang telah menjadi tradisi tidak resmi sejak hari-hari awal mereka—Ardan menyaksikan dengan perasaan campur aduk bagaimana wajah-wajah baru mulai berbaur dengan yang lama, bagaimana regu yang telah kehilangan begitu banyak mulai menemukan bentuk baru, tidak menggantikan yang hilang, tapi tumbuh di sekitar kekosongan yang mereka tinggalkan.

"Ceritakan tentang Elar," pinta Mira suatu malam, setelah mendengar sekilas tentang asal-usul Ardan dari prajurit lain. "Jika kau tidak keberatan."

Ardan jarang berbicara tentang Elar secara terbuka, tapi ada sesuatu dalam permintaan tulus Mira yang membuatnya ingin berbagi.

Ia menceritakan tentang ladang gandum, tentang Tobin dan persahabatan mereka sejak kecil, tentang keluarganya—Ayah yang mengasah pisau sambil bersenandung, Ibu yang memasak sup kentang, Nira yang tersenyum dengan dagu terangkat. Ia menceritakan tentang malam lonceng berbunyi, tentang kehilangan yang belum pernah benar-benar ia proses sepenuhnya.

Rekrut baru mendengarkan dalam diam, mata mereka penuh empati dan pengertian baru tentang sersan yang memimpin mereka—bukan hanya prajurit berpengalaman, tapi seseorang yang telah kehilangan begitu banyak, namun tetap memilih untuk peduli, untuk melindungi, untuk terus berjuang meski beban yang ia bawa begitu berat.

"Terima kasih," kata Toren, nadanya jauh lebih rendah hati daripada sebelumnya, "sudah berbagi itu dengan kami."

"Kalian bagian dari regu ini sekarang," jawab Ardan sederhana. "Kalian berhak tahu kisah-kisah yang membentuk kami."

Malam itu, di bawah bintang-bintang yang sama yang telah menyaksikan begitu banyak kehilangan dan ketahanan, regu Ardan—lama dan baru—mulai menulis bab baru dalam kisah kolektif mereka, satu yang akan terus berlanjut melalui pertempuran-pertempuran yang masih menanti di depan.

1
Aisyah Suyuti
good
johanes ronald
dr awal negara itu cm bertahan dan bertahan tanpa ada upaya utk menyerang sm skali ya??????
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!