Cinta kadang dapat membutakan mata seseorang, itu juga yang terjadi pada Ivy. Cinta membuatnya buta hingga tega merebut tunangan saudara kembarnya sendiri.
Ivy memang berhasil, pertunangan Mateo dan Evelyn dibatalkan dan dia berhasil menikahi Mateo. Tapi sayangnya pria itu tidak pernah mencintai Ivy. Mateo melakukan banyak hal untuk menyakit hati Ivy bahkan dia juga berselingkuh hanya agar Ivy lebih terluka. Tapi Ivy selalu memaafkan Mateo.
Hingga hari itu Ivy benar-benar berhenti mencintai Mateo. Sejak Mateo lebih memilih menemani selingkuhannya dibandingkan mengantarkan putri mereka ke rumah sakit. Hingga akhirnya Ivy harus kehilangan putrinya untuk selamanya. Sejak saat itu, cinta Ivy lenyap dan dia akhirnya memilih bercerai dan meninggalkan Mateo.
Saat Ivy berpikir dia sendirian dan tak punya tempat untuk pulang, Edgar datang memberikan cahaya untuknya. Awalnya Ivy berpikir jika Edgar hanyalah pria biasa. Tapi ternyata identitas Edgar tidak sesederhana itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Ivy Telah Pergi
Pagi itu, Nyonya Cassandra sudah bersiap sejak matahari bahkan belum terlalu tinggi. Sejak semalam, pikirannya hanya dipenuhi satu hal, Ivy.
Suaminya, Tuan Gilbert, akhirnya berhasil menemukan tempat tinggal mantan menantunya itu. Cassandra sebenarnya sangat lega mendengarnya, namun sejak tadi dia justru terus mengomeli suaminya karena merasa Gilbert terlalu lambat bersiap-siap.
"Gilbert, cepat sedikit! Kita tidak punya banyak waktu!" Kata Cassandra sambil terus melihat jam di tangannya.
"Aku sudah siap, Cassandra." Kata Gilbert.
"Kau sudah bilang begitu sejak lima menit yang lalu!" Ucap Cassandra, dia merasa kesal karena suaminya itu terus mengatakan sudah siap tapi kenyataannya dia bahkan belum siap.
Gilbert hanya menghela napas panjang, dia tahu istrinya sedang gelisah, dia pun tidak ingin membuang waktu lebih lama.
Tak lama kemudian, mereka tiba di apartemen Ivy.
Begitu berdiri di depan pintu apartemen itu, langkah Cassandra mendadak terhenti. Jantungnya berdetak begitu kencang, tangannya mengepal erat. Entah kenapa, ada perasaan tidak enak yang sejak tadi menghantui dirinya, Gilbert kemudian menekan bel.
Ting Tong.
Mereka menunggu.
Tidak ada jawaban.
Gilbert kembali menekan bel.
Ting Tong.
Tetap tidak ada suara dari dalam, Cassandra mulai menggigit bibirnya dengan gelisah.
"Kenapa Ivy tidak membuka pintunya?" tanyanya pelan, dia mulai semakin gelisah. Berbagai pikiran buruk mulai menghantui pikirannya, tapi Cassandra berusaha untuk menepis semua itu.
Gilbert mengernyitkan keningnya, dia kembali menekan bel untuk ketiga kalinya.
Ting Tong... Ting Tong...
Namun, sekali lagi tidak ada respons.
"Ivy?" panggil Gilbert sambil mengetuk pintu. "Ivy, ini aku, Gilbert."
Sunyi.
Cassandra semakin panik.
"Jangan-jangan terjadi sesuatu padanya..." Kata Cassandra.
"Tunggu sebentar."
Gilbert baru saja hendak mengetuk kembali ketika seorang wanita yang tinggal di apartemen sebelah keluar.
"Apakah kalian mencari wanita yang tinggal di sini?" Tanya Wanita itu.
Cassandra langsung menoleh.
"Iya, Ivy. Apa Anda mengenalnya?" Tanya Cassandra.
Wanita itu mengangguk.
"Ya, saya sering melihatnya."
"Apakah Anda melihatnya pagi ini?" tanya Cassandra dengan suara bergetar.
Wanita itu tampak berpikir sebentar.
"Oh, iya. Dia baru saja pergi sekitar satu setengah jam yang lalu."
Cassandra membeku.
"Pergi?"
"Iya, sekitar pukul setengah enam pagi. Dia membawa beberapa koper."
Mata Cassandra langsung melebar.
"Pukul setengah enam?"
Wanita itu mengangguk, Cassandra menoleh kepada Gilbert dengan wajah pucat.
"Tapi sekarang bahkan baru pukul tujuh."
Gilbert terdiam.
Itu berarti Ivy sudah meninggalkan apartemen ini sejak satu setengah jam yang lalu.
"Kau tau ke mana dia pergi?" Cassandra kembali bertanya kepada tetangga itu dengan tergesa-gesa, wanita tersebut menggeleng.
"Saya tidak tahu, saya hanya melihatnya keluar dengan koper. Dia terlihat terburu-buru, jadi saya tidak sempat bertanya."
"Apakah dia mengatakan sesuatu? Apakah dia bersama seseorang?"
"Ku rasa tidak, dia sendirian."
Cassandra tidak mampu menahan air matanya lagi.
"Ivy..."
Air mata langsung mengalir membasahi pipinya.
Dia berbalik dan memeluk Gilbert dengan erat.
"Gilbert..."
"Aku di sini."
"Dia pergi..." suara Cassandra pecah. "Dia pergi lagi..."
Gilbert mengusap punggung istrinya, tetapi wajahnya sendiri terlihat tegang.
"Aku akan mencarinya."
"Jangan hanya bilang begitu!" Cassandra mendongak dengan mata penuh air mata. "Kita harus menemukannya!"
"Aku tahu."
"Gilbert, tolong..." Cassandra menggenggam erat jas suaminya. "Aku ingin meminta maaf padanya. Aku ingin mengatakan bahwa aku menyesal. Aku belum sempat mengatakan semuanya padanya."
Gilbert terdiam, dia pun merasakan penyesalan yang sama. Mereka terlambat, terlambat menyadari bahwa Ivy benar-benar sudah tidak ingin ditemukan oleh siapa pun dari keluarga mereka.
"Jangan khawatir," ujar Gilbert akhirnya dengan suara tegas. "Aku akan menggunakan semua orang yang kumiliki untuk mencarinya."
Cassandra menggeleng sambil menangis.
"Aku takut kita tidak akan menemukannya."
Gilbert memandang pintu apartemen Ivy yang tertutup rapat.
"Kalau dia pergi pagi-pagi sekali dengan membawa koper, berarti dia memang sudah merencanakannya." Kata Cassandra.
Cassandra semakin erat memeluk suaminya.
"Jadi, cepat temukan dia."
Gilbert mengangguk.
"Aku akan menemukannya, aku janji."
Namun, jauh di dalam hatinya, Gilbert mulai menyadari sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak.
Apa mungkin Ivy sudah mulai meninggalkan negara ini, bukankah penerbangan Ivy harusnya 2 hari lagi. Lalu kenapa Ivy sudah pargi hari ini, atau ada yang salah. Sepertinya dia benar-benar harus mencari informasi tentang Ivy sekali lagi.
Gilbert segera mengeluarkan ponselnya. Tangannya bergerak cepat mencari nomor Jack, begitu sambungan tersambung, Gilbert langsung berbicara tanpa basa-basi.
"Jack, hentikan semua pekerjaanmu untuk sementara." Perintah Gilbert pada Jack
"Ada apa, Tuan?" Tanya Jack bingung, bukankah saat ini seharusnya Tuannya itu sudah bertemu dengan Ivy. Lalu kenapa dia masih menghubungi dirinya bahkan memerintahkan dia untuk menghentikan semua pekerjaannya.
"Cari Ivy, sekarang." Perintah Gilbert.
Di seberang sana, Jack terdiam sejenak.
"Ivy?" Tanyanya Bingung.
"Ya, kami baru saja sampai di apartemennya, tapi dia sudah pergi." Jelas Gilbert.
"Pergi ke mana tuan?" Tanya Jack, sekarang akhirnya dia mengerti alasan kenapa tuannya itu menyuruh dirinya untuk menghentikan semua pekerjaannya.
"Itulah yang harus kau cari tahu." Suara Gilbert terdengar semakin tegas.
"Dia meninggalkan apartemen sekitar pukul setengah enam pagi dengan membawa koper. Aku ingin tahu kendaraan apa yang dia gunakan, ke mana dia pergi setelah meninggalkan gedung ini, dan siapa saja yang membantunya." Lanjut Gilbert.
"Baik, Tuan. Saya akan segera menyelidikinya."
"Jack."
Gilbert berhenti sejenak.
"Temukan dia secepat mungkin."
"Baik."
Sambungan pun terputus, Cassandra masih berdiri di samping suaminya dengan wajah sembap karena menangis.
"Apakah Jack bisa menemukannya?"
Gilbert mengangguk.
"Dia akan mencoba."
"Tidak cukup hanya mencoba, Gilbert."
Cassandra menatap suaminya dengan mata penuh kekhawatiran.
"Aku ingin bertemu Ivy."
Gilbert menghela napas.
"Aku juga."
Mereka kemudian turun menuju lobi apartemen, Gilbert meminta petugas keamanan untuk memeriksa rekaman kamera pengawas. Beberapa menit kemudian, seorang petugas membawa mereka ke ruang keamanan.
"Ini rekaman dari pagi tadi, Tuan."
Layar monitor menampilkan lorong apartemen, mereka melihat Ivy keluar dari unitnya. Wanita itu mengenakan pakaian sederhana, rambutnya diikat, dan di tangannya terdapat sebuah koper berukuran cukup besar. Cassandra langsung menutup mulutnya.
"Itu Ivy..."
Matanya kembali berkaca-kaca, namun sesuatu membuat Gilbert memperhatikan rekaman tersebut dengan lebih serius. Ivy tidak terlihat seperti seseorang yang baru saja pergi untuk berlibur, dia terlihat seperti seseorang yang sedang melarikan diri. Gilbert meminta petugas mempercepat rekaman, Ivy turun menggunakan lift. Beberapa menit kemudian, kamera di lobi memperlihatkan Ivy berjalan keluar gedung sambil menarik kopernya. Lalu sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan pintu masuk, Ivy memasukkan kopernya ke bagasi. Kemudian dia masuk ke kursi belakang dan akhirnya mobil itu pergi.
Gilbert langsung mendekat ke layar.
"Berhenti."
Petugas menghentikan rekaman.
"Perbesar bagian pelat nomornya."
Petugas mencoba memperbesar gambar tersebut, namun rekaman kamera tidak cukup jelas. Sebagian nomor kendaraan masih terlihat samar, Gilbert mengepalkan tangannya.
"Apakah ada kamera di pintu keluar gedung?"
"Ada, Tuan."
"Putar rekamannya."
Petugas segera membuka kamera lain, mereka melihat mobil hitam yang sama keluar dari area parkir. Kali ini, sudut kameranya sedikit lebih jelas. Gilbert langsung meminta nomor kendaraan tersebut dicatat.
"Jack kau harus mendapatkan informasi mobil ini."
Cassandra menatap layar dengan napas tertahan.
"Setidaknya kita tahu dia pergi menggunakan mobil siapa."
"Tapi kita belum tahu ke mana."
Cassandra kembali menangis.
"Gilbert..."
Suaminya menoleh.
"Aku takut Ivy sengaja menghilang."
Gilbert hanya diam.
Kekhawatiran yang sama sebenarnya sudah muncul dalam pikirannya, apalagi setelah mengingat semua yang terjadi. Ivy kehilangan putrinya, kehilangan pernikahannya dan kehilangan keluarganya.
Dan selama ini, hampir semua orang menyalahkannya tanpa benar-benar mendengarkan apa yang dia rasakan.
Mungkin sekarang Ivy hanya ingin pergi sejauh mungkin, Cassandra menundukkan kepalanya.
"Mungkin dia pergi karena membenci kita..."
"Jangan berpikir seperti itu."
"Tapi bagaimana kalau dia benar-benar tidak ingin bertemu kita lagi?"
Gilbert tidak langsung menjawab, karena untuk pertama kalinya, dia tidak memiliki jawaban.
Ponselnya tiba-tiba berdering.
Jack.
Gilbert segera mengangkatnya.
"Bagaimana?"
"Tuan, saya sudah mendapatkan informasi awal."
Gilbert langsung menegakkan tubuh.
"Apa yang kau temukan?"
"Mobil yang digunakan Ivy terdaftar atas nama sebuah perusahaan rental."
"Rental?"
"Benar dan mobil itu dipesan beberapa hari yang lalu."
Cassandra langsung menatap suaminya.
Gilbert mengernyitkan kening.
"Beberapa hari lalu?"
"Ya Tuan, artinya kepergian Ivy sudah direncanakan."
Gilbert terdiam.
"Dan ada satu hal lagi."
"Apa?"
"Orang yang melakukan pemesanan tidak menggunakan nama Ivy."
Gilbert langsung merasa tidak tenang.
"Lalu siapa?"
Jack lalu menyebutkan sebuah nama, setelah mendengar naman itu wajah Gilbert berubah serius.
Cassandra yang melihat perubahan wajah suaminya langsung bertanya dengan cemas.
"Siapa?"
Gilbert tidak segera menjawab, dia hanya menatap Cassandra dengan tatapan berat. Karena sekarang mereka mulai menyadari bahwa Ivy pergi dengan perencanaan yang sangat matang.
Bersambung.