Sejak kecil, Kirana Lin dibuang ke desa karena terlahir bisu. Meski tak mampu berbicara, ia memiliki kecerdasan luar biasa dan segudang prestasi.
Dua puluh tahun kemudian, Kirana kembali ke keluarga Lin untuk menggantikan putri angkat mereka menikah dengan Kendra Wu, penguasa keluarga Wu yang lumpuh akibat kecelakaan.
Semua orang mengira Kirana akan menderita di tangan Kendra. Namun, gadis bisu itu justru berhasil membuat sang penguasa jatuh cinta dan membantunya merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Yuk simak kisahnya! Yang tidak suka langsung skip!👊👊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kirana Dan Kendra
Setelah upacara pernikahan selesai, para tamu mulai berdiri dari tempat duduk mereka. Beberapa kerabat keluarga Wu perlahan mendekati Kendra dan Kirana dengan senyum yang tampak ramah, meskipun tatapan mereka justru menunjukkan rasa ingin tahu dan meremehkan.
“Selamat atas pernikahan kalian,” ucap seorang wanita paruh baya sambil tersenyum tipis. “Aku benar-benar tidak menyangka keluarga Lin akan menikahkan putri pertamanya yang bisu dengan keluarga Wu.”
Beberapa orang di belakangnya saling pandang, lalu tertawa kecil. Kirana hanya menatap mereka dengan wajah datar, seolah kalimat tersebut sama sekali tidak pantas mendapatkan tanggapan darinya.
Kendra yang mendengar ucapan itu langsung menoleh. Tatapannya berubah dingin hingga membuat wanita tadi spontan menghentikan senyumnya.
“Kalau hanya ingin mengucapkan selamat, silakan,” kata Kendra tenang. “Tapi kalau datang hanya untuk menghina istriku, lebih baik pergi.”
Wanita itu langsung terdiam. Beberapa kerabat lainnya memilih mundur karena tidak ingin berhadapan dengan Kendra yang terkenal tidak mudah mentoleransi penghinaan bahkan bisa membuat mereka celaka.
Tidak lama kemudian, seorang pria berusia sekitar lima puluhan berjalan mendekat bersama seorang wanita elegan yang mengenakan gaun mahal.
Pria itu adalah Tuan Henry Wu, ayah Kendra, sedangkan wanita di sampingnya adalah Ivy, istri keduanya.
Ivy berhenti beberapa langkah dari Kendra dan Kirana. Matanya bergerak perlahan dari ujung kepala hingga kaki Kirana, seolah-olah sedang menilai barang yang baru saja dibeli.
“Oh, jadi ini menantu keluarga Wu,” ucap Ivy dengan senyum anggun. “Aku kira seperti apa, ternyata hanya gadis desa yang beruntung bisa masjk ke keluarga Wu.”
Kendra langsung mengeraskan tatapannya. Kirana tetap diam, hanya memasukkan tangannya ke dalam genggaman Kendra ketika pria itu di sampingnya.
Ivy tersenyum tipis. “Kirana, sebagai seorang istri keluarga Wu, sebaiknya kau mulai belajar tata krama dan cara menghadapi keluarga besar.”
Kendra langsung memotong ucapannya. “Kau tidak berhak ikut campur dalam urusanku.”
Wajah Ivy sedikit berubah. “Kendra, aku hanya memberikan nasihat.”
“Dia adalah istriku,” jawab Kendra dingin. “Aku sendiri yang memilihnya, jadi aku tahu apa yang harus kulakukan terhadap istriku.”
Henry yang berdiri di samping Ivy langsung mengerutkan kening. “Kendra! Jaga ucapanmu.”
Kendra menatap ayahnya tanpa rasa takut. “Kenapa?”
“Bagaimanapun juga, Ivy adalah ibumu,” tegur Henry dengan nada tegas.
Tatapan Kendra menjadi semakin dingin. “Aku hanya punya satu ibu.”
Suasana di sekitar mereka mendadak hening. Beberapa kerabat yang tadinya ingin mendekat langsung menghentikan langkah karena mereka tahu hubungan Kendra dengan Ivy memang tidak pernah baik.
Kendra melanjutkan, “Dan mengenai wanita yang merebut suami orang, kurasa orang itu tidak pantas mengajariku tentang keluarga dan tata krama. Dan sepertinya kau lupa asal usulmu sebelum kau masuk ke keluarga Wu. Kau lebih kotor.”
Wajah Ivy seketika menegang. Tangannya mengepal di balik gaunnya, tetapi ia berusaha mempertahankan senyum anggunnya.
Henry hendak membalas ucapan Kendra dengan wajah marah, tetapi Ivy lebih dahulu menyentuh lengannya. “Sudahlah, Pa,” katanya lembut. “Aku tahu Kendra belum bisa menerimaku sebagai ibunya.”
Ia menundukkan kepala seolah sedang terluka. “Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa.”
Kendra hanya mendengus pelan. Kirana yang berdiri di sampingnya memperhatikan Ivy tanpa menunjukkan ekspresi apa pun.
Tidak lama kemudian, Cassia datang menghampiri mereka. Wanita itu langsung berdiri di samping Kirana dan menepuk lembut bahu menantunya.
“Kirana, kau baik-baik saja?” tanya Cassia.
Kirana mengangguk.
Ivy segera memasang senyum manis. “Kakak, aku dengar menantu kakak ini berasal dari desa.”
Cassia menoleh. “Lalu?”
“Aku hanya khawatir,” lanjut Ivy dengan suara lembut. “Sebaiknya kakak menyewa guru tata krama untuknya.”
Beberapa kerabat mulai saling pandang. Ivy tersenyum seolah ucapannya benar-benar berasal dari kepedulian.
“Aku takut nanti kalau bertemu dengan tetua keluarga, dia justru membuat keluarga Wu malu,” tambahnya.
Senyum Cassia perlahan menghilang. Ia menatap Ivy dengan tatapan dingin yang membuat suasana di sekitar mereka terasa semakin berat.
“Kau tidak perlu mencampuri urusanku dalam mengurus menantuku,” kata Cassia.
Ivy terdiam.
Cassia melanjutkan dengan suara tenang, tetapi setiap katanya terdengar menusuk. “Dan sepertinya orang yang membutuhkan pelajaran tata krama bukanlah Kirana.”
Ivy mengepalkan tangannya.
“Setahuku,” lanjut Cassia, “tidak ada guru tata krama yang mengajarkan seorang wanita untuk menggoda suami orang.”
Wajah Ivy langsung berubah. Beberapa kerabat yang mendengar kalimat itu buru-buru menahan senyum.
Cassia tidak berhenti. “Kalau kau benar-benar ingin membicarakan tata krama, sebaiknya berkaca terlebih dahulu sebelum menilai orang lain.”
“Kak Cassia. ...” Ivy mencoba menyela.
“Sudah cukup,” potong Cassia. “Pernikahan ini adalah hari bahagia Kendra dan Kirana. Jangan merusaknya hanya karena kau ingin mencari perhatian.”
Ivy terdiam beberapa saat. Kemudian ia menarik lengan Henry.
“Ayo, Pa,” katanya pelan. “Jangan memperpanjang masalah.”
Henry terlihat tidak puas, tetapi akhirnya mengikuti Ivy meninggalkan tempat tersebut.
Cassia memperhatikan punggung mereka dengan tatapan dingin. Meski perceraian Cassia dan Henry telah berlangsung belasan tahun lalu, ia masih mengingat jelas bagaimana Henry membawa pulang anak haram sekaligus wanita lain ke dalam rumah mereka.
Saat itu, Cassia tidak banyak bicara. Ia langsung memilih bercerai dan membawa Kendra bersamanya.
“Benar-benar tidak berubah,” gumam Cassia.
Kendra melirik ibunya. “Mami tidak perlu memikirkannya.”
Cassia menghela napas. “Mami hanya kesal karena dia masih saja merasa berhak mengatur kehidupanmu.”
Kendra tidak menjawab. Cassia lalu pergi meninggalkan pasangan itu menuju ke kerabat yang lain.
Tidak lama kemudian, seorang pria muda berjalan mendekat. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana sambil memasang senyum yang tampak ramah.
“Kak Kendra,” sapanya. “Selamat atas pernikahanmu.”
Kendra menatapnya datar.
Harry adalah saudara tiri Kendra. Pria itu berdiri di hadapan mereka, lalu mengalihkan pandangan kepada Kirana.
“Oh, ini kakak iparku?” katanya.
Tatapannya bergerak menilai Kirana dari atas hingga bawah. Senyum tipis muncul di wajahnya bahkan terlihat kilat mata mesumnya.
“Lumayan juga, ya.”
Kendra langsung mengangkat wajah. Tatapannya berubah tajam.
Harry masih tersenyum seolah tidak menyadari ancaman dalam tatapan Kendra. “Maksudku, kakak cukup beruntung mendapatkan istri seperti ini.”
“Kau sepertinya sudah tidak membutuhkan matamu lagi,” kata Kendra dingin.
Senyum Harry membeku.
Kirana menoleh kepada Kendra, lalu menahan senyum tipis karena mengetahui pria itu benar-benar tidak suka orang lain menatapnya dengan cara seperti tadi.
Harry akhirnya terkekeh kecil. “Kakak masih saja mudah marah.”
“Kalau kau tahu aku mudah marah, seharusnya kau tahu kapan harus berhenti bicara,” balas Kendra.
Harry mengangkat kedua tangannya sedikit. “Baiklah, baiklah.”
Ia kembali menatap Kirana dan tersenyum. “Semoga kakak bisa bahagia terus bersama kakak ipar.”
Setelah mengucapkan itu, Harry berbalik dan pergi meninggalkan mereka.
Kendra masih menatap punggung Harry sampai pria itu cukup jauh. Wajahnya tetap dingin, tetapi Kirana justru menarik ujung lengan jasnya.
Kendra menoleh. “Apa?”
Kirana mengeluarkan buku kecil dari tasnya, lalu menulis sesuatu sebelum memperlihatkannya.
‘Kau terlalu galak.’
Kendra membaca tulisan itu, kemudian menatap Kirana datar. “Dia yang mulai.”
Kirana menulis lagi.n‘Tapi kau membelaku.’
Kendra terdiam sesaat. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain sebelum menjawab dengan suara rendah.
“Karena kau istriku.”
Kirana menatapnya beberapa detik.
Kendra kemudian menambahkan, “Setidaknya selama perjanjian kita masih berlaku. Aku tentu tidak ingin orang mencelakai dokter yang akan mengobati kakiku.”
Kirana hanya mengangkat alis, lalu memasukkan kembali bukunya ke dalam tas.
sat set tnpa drama
keren pojok nya
wuih jous gandos
aaahhh mboh lah mumet AQ sweeter
otornya lho bikin penasaran Mulu 🤣🤣🤣
🤭🤭🤭🤭