"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Sebelum kamu mendepakku, aku yang akan berjalan keluar."
Nayara tahu posisinya di kediaman Dewangga hanya sebatas hitam di atas putih. Melalui pernikahan kontrak dua tahun, ia menjadi tameng bagi Arkananta Dewangga untuk mempertahankan hak asuh anaknya, Kenzie, dari kejaran mantan istrinya, Saskia. Naya menjalani perannya dengan profesionalitas tinggi, sembari mengunci rapat hatinya di balik dinding es yang tebal.
Namun, situasi memanas saat Gisella—cinta pertama Arka—kembali dalam kondisi hancur. Dalih tanggung jawab membuat Arka kerap berpaling, memicu kelicikan Clarissa (saudara Saskia) untuk menjebak Arka hingga skandal kemesraannya dengan Gisella viral di media sosial. Foto viral ini menjadi senjata maut Saskia untuk merebut Kenzie kembali di sidang banding. Di depan mertua yang murka, Naya tampil anggun membela Arka demi menuntaskan tugas kontraknya.
Namun di balik layar, Naya menampar ego suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Sisi Lain Sang Pria Dingin-2
"Kamu tidak tahu seberapa berat rasanya menjadi seorang Dewangga, Naya," kata Arka, suaranya terdengar sunyi dan bergetar samar. "Semua orang melihatku sebagai sosok yang beruntung, punya kekuasaan, punya harta. Tapi bagi mereka, aku hanya sebuah bidak untuk mempertahankan nama besar. Bahkan ketika ibunya Kenzie pergi meninggalkan anak itu demi mengejar ambisinya sendiri, keluargaku tidak peduli pada hancurnya perasaanku. Mereka hanya peduli bagaimana caranya agar berita itu tidak merusak saham perusahaan."
Naya mendengarkan dengan saksama. Sikapnya yang tenang menghanyutkan justru menjadi ruang aman bagi Arka untuk menumpahkan beban yang selama ini ia kunci rapat-rapat di dalam brankas hatinya.
"Mereka ingin merebut hak asuh Kenzie karena menganggap aku tidak becus mengurus anak sambil memegang kendali bisnis," lanjut Arka, matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. "Itulah alasan utamaku membuat kontrak ini. Aku hanya ingin melindungi anakku. Aku tidak ingin Kenzie tumbuh besar di lingkungan dingin yang hanya menilai manusia dari angka dan pencapaian, seperti yang aku alami dulu."
Naya merasakan dadanya sedikit berdenyut perih mendengar pengakuan jujur itu. Di balik sikap kaku, angkuh, dan dinginnya Arka selama ini, ternyata ada seorang ayah yang sedang berjuang mati-matian demi masa depan anaknya. Sisi kemanusiaan Arka yang rapuh ini membuat pandangan Naya terhadap pria itu mulai sedikit bergeser.
Naya mengulurkan tangannya pelan, hampir menyentuh lengan Arka, namun ia segera menariknya kembali sebelum batas kontrak mereka terlanggar. Ia mempertahankan suaranya agar tetap stabil dan menenangkan.
"Anda adalah ayah yang baik, Tuan Arka. Tindakan Anda melindungi Kenzie sudah membuktikan hal itu," ucap Naya dengan ketulusan yang murni, tanpa ada kepura-puraan. "Dan selama dua tahun ke depan, Anda tidak perlu menghadapi mereka sendirian. Saya akan memastikan Kenzie mendapatkan benteng kasih sayang yang cukup di rumah, sehingga apa pun yang dikatakan orang-orang di luar sana tidak akan bisa melukainya."
Arka menoleh cepat, menatap mata bulat Naya yang jernih di kegelapan kabin mobil. Kalimat sederhana wanita itu mengalir seperti air sejuk yang menyiram hatinya yang gersang dan penuh luka lama. Rasa kesepian yang selama bertahun-tahun ini memeluk Arka, malam ini perlahan-lahan mulai terkikis oleh kehadiran Naya.
"Kenapa kamu begitu baik pada Kenzie? Padahal kamu tahu ini hanya kesepakatan?" tanya Arka, suaranya hampir berupa bisikan.
Naya tersenyum tipis, sebuah senyuman hangat yang murni. "Anak-anak tidak pernah memilih di rahim siapa mereka harus lahir, Tuan Arka. Kenzie tidak bersalah atas rumitnya dunia orang dewasa. Memberikan kasih sayang pada anak kecil tidak butuh kontrak atau bayaran. Itu hanya butuh hati nurani."
Arka terpaku, menatap Naya dengan debaran aneh yang makin kuat menjalar di dadanya. Wanita di hadapannya ini benar-benar berbeda. Dia tidak bisa dinilai dengan standar dunia luar yang biasa Arka temui. Di balik kesederhanaannya, ada kekuatan jiwa yang begitu megah.
Arka buru-buru memalingkan wajahnya, menyalakan kembali mesin mobil untuk menyembunyikan kekacauan perasaannya yang mulai melanggar batas aturan yang dia buat sendiri.
"A-ayo kita pulang. Ini sudah larut," ujar Arka agak gugup, mencoba mengembalikan kendali dirinya yang sempat hilang.
Naya kembali bersandar di kursinya, mengangguk pelan. "Baik."
Mobil kembali melaju menembus malam. Sepanjang sisa perjalanan, tidak ada lagi kata yang terucap. Namun, ada sesuatu yang telah bergeser di antara mereka. Tembok pembatas yang dingin dan kaku itu kini tidak lagi sekokoh sebelumnya. Tanpa mereka sadari, luka yang mereka bawa masing-masing mulai menemukan titik temu di dalam keheningan malam yang sunyi.
***
Beberapa hari kemudian...
Suara rintik hujan yang menghantam kaca jendela terdengar teratur di tengah sunyinya malam. Udara di dalam rumah besar Dewangga terasa lebih dingin dari biasanya. Jam di nakas kamar Nayara baru menunjukkan pukul dua dini hari, namun wanita itu sudah terjaga dengan napas yang memburu.
Sebuah suara rintihan tertahan menembus celah pintu penghubung dari kamar sebelah.
Naya segera menyingkap selimutnya, menyambar kardigan panjang, dan bergegas membuka pintu kamar Kenzie. Lampu tidur berbentuk bintang di sudut ruangan memancarkan cahaya remang, memperlihatkan tubuh mungil di atas ranjang yang tampak menggelisah.
"Kenzie?" Naya mendekat dengan langkah setengah berlari.
Ia menyentuh kening bocah itu, dan seketika tangannya tersentak pelan. Panas. Kulit Kenzie terasa seperti terbakar. Napasnya pendek-pendek dan wajahnya memerah sempurna.
"Mama ...." Kenzie mengigau lirih, kedua tangannya yang gemetar menggapai-gapai udara. "Mama, panas ...."
"Ssst ... Mama di sini, Sayang. Mama di sini," Naya langsung mendekap tubuh Kenzie, merengkuhnya dalam pelukan hangat.
Tanpa membuang waktu, Naya meraih termometer dari laci nakas dan menyelipkannya di ketiak Kenzie. Angka digital itu bergerak cepat dan berhenti di 39,5 derajat.
Kepanikan sempat menyergap dada Naya, namun ia segera menekan perasaannya. Sifat tenangnya yang biasa ia gunakan untuk menghadapi orang dewasa, kini menjadi senjata utamanya untuk tidak kehilangan akal sehat.
Naya membaringkan Kenzie kembali, lalu setengah berlari keluar kamar menuju pintu utama kamar Arka yang terletak di lorong utama. Naya tahu ia melanggar aturan dengan mengetuk pintu itu di tengah malam, namun kesehatan Kenzie jauh lebih penting dari perjanjian konyol apa pun.
*Tok! Tok! Tok!*
Naya mengetuk cepat namun terukur. "Tuan Arka? Mas Arka!"
Hanya butuh beberapa detik sebelum pintu jati itu terbuka. Arka berdiri di ambang pintu, tampak masih mengumpulkan kesadarannya. Rambutnya berantakan, mengenakan kaus polos tipis dan celana tidur panjang. Wajahnya mengeras, bersiap memarahi siapa pun yang berani mengusik istirahatnya.
"Naya? Ada apa? Ini jam—"
"Kenzie demam tinggi, suhunya hampir empat puluh derajat. Dia mengigau," potong Naya lugas, nada suaranya tegas tanpa bergetar, namun raut cemas tergambar jelas di matanya.
Seketika, sisa kantuk Arka menguap tanpa sisa. Wajah pria itu berubah pucat. "Apa?! Biar aku panggil dokter keluarga!"
Arka berbalik masuk untuk mengambil ponselnya, lalu menyusul Naya setengah berlari menuju kamar Kenzie.
Begitu sampai di samping ranjang, Arka melihat putranya meringkuk lemah. "Kenzie ... jagoan Papa, hey." Arka menyentuh pipi Kenzie, dan kepanikannya makin memuncak saat merasakan suhu tubuh anaknya yang tidak wajar. Tangannya gemetar saat mencoba menghubungi dokter keluarga, namun panggilan itu masuk ke kotak suara karena cuaca buruk dan jam yang terlalu larut.
Bersambung...