NovelToon NovelToon
Aku Tidak Punya Harta, Hanya Sketsa Cinta

Aku Tidak Punya Harta, Hanya Sketsa Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengejar Bayang

Pagi di rumah sakit selalu terasa dingin, meskipun matahari sudah bersinar terang di luar. Bau antiseptik bercampur dengan suara monitor dan langkah tergesa perawat menciptakan atmosfer yang mencekam. Di ruang rawat inap lantai tiga, Kay terbaring pucat dengan infus di tangan.

Ia baru sadar setengah jam yang lalu, setelah pingsan cukup lama akibat syok mendengar kabar Bima dirawat kritis. Mika duduk di sampingnya, wajah lelah tapi lega.

"Kay, lo nggak usah buru-buru. Istirahat dulu," bujuk Mika.

Kay menggeleng lemah. "Gue harus ke dia, Mik. Di mana dia?"

Mika menghela napas. "Kay, lo baru sadar. Lo pingsan karena tekanan darah turun drastis. Dokter bilang lo harus istirahat."

"Gue nggak peduli!" Kay mencoba bangkit, tapi tubuhnya lemas. "Bima di sini, Mik! Di rumah sakit yang sama! Gue harus ketemu dia!"

Pintu terbuka. Lydia masuk dengan wajah cemas, diikuti ayah Kay yang baru tiba dari Jakarta. Lydia tampil sederhana hari ini, tanpa dandanan tebal, rambut tergerai apa adanya. Ia langsung berlari ke sisi Kay.

"Nak! Kamu kenapa? Mama dengar kamu pingsan!" Lydia memegang tangan Kay.

Kay menarik tangannya. "Mama pergi."

Lydia terpukul. "Kay—"

"PERGI!"

Ayah Kay melangkah maju. Seorang pria paruh baya dengan rambut sedikit memutih, berwibawa tapi matanya lembut. Ia memakai kemeja batik lengan panjang.

"Kay, tenang. Papa di sini." Ia duduk di sisi lain tempat tidur. "Cerita sama Papa, ada apa?"

Air mata Kay jatuh. Melihat ayahnya, ia tak bisa menahan tangis. "Pa... Bima dirawat di sini. Dia dikeroyok orang. Aku harus ketemu dia!"

Ayah Kay mengusap kepala putrinya. "Siapa Bima?"

"Pacarku, Pa. Cowok baik yang Papa belum pernah ketemu. Dan sekarang dia..." Kay terisak.

Lydia menunduk. Ayah Kay menatap Lydia-ibu Kay dengan pandangan bertanya. Tapi ia tidak mendesak.

"Oke, Nak. Papa bantu cari. Kamu tenang dulu."

---

Sementara itu, di ruang rawat lain di lantai dua, Bima terbangun dengan kepala pusing. Ia membuka mata, melihat langit-langit putih dan lampu neon terang. Di sampingnya, Laras tertidur di kursi dengan posisi meringkuk tidak nyaman.

"Laras," panggilnya lirih.

Laras tersentak bangun. "Bim! Lo sadar! Alhamdulillah."

Bima mencoba duduk, tapi rasa sakit di dadanya membuatnya mengerang. "Aduh..."

"Jangan gerak dulu. Dokter bilang dua tulang rusuk lo retak." Laras membantunya berbaring lagi.

Bima menghela napas. "Berapa lama gue di sini?"

"Semalaman. Sekarang jam 9 pagi."

Bima memicingkan mata. "Biaya?"

Laras tahu pertanyaan itu akan datang. "Udah, nggak usah pikirin."

"Laras, berapa?"

Laras menghela napas. "DP 5 juta. Total nanti sekitar 10-12 juta."

Bima menutup mata. Utangnya ke Kay belum dibayarkan. Sekarang nambah lagi. Rasanya dunia runtuh. Amplop coklat untuk membayar hutang kay pasti akan terpakai untuk biaya rumah sakit ini.

"Laras, tolong anter gue pulang," katanya pelan.

"Apa? Lo belum boleh pulang!"

"Gue nggak punya uang buat rawat inap. Lo anter gue pulang, gue istirahat di kos."

Laras menggeleng keras. "Nggak bisa, Bim. Lo masih lemah. Kalo lo pulang, nggak ada yang jaga. Lo bisa kenapa-napa."

"Gue bisa jaga diri sendiri."

"Bisa apa? Jalan aja susah!" Laras hampir berteriak. "Denger, Bim. Lo pulang ke rumah gue. Bukan kos lo. Rumah gue."

Bima membuka mata, menatap Laras. "Apa?"

"Rumah gue. Ada kamar kosong di lantai bawah. Papa mama gue lagi keluar negeri. Gue bisa bantu jaga."

Bima menggeleng. "Nggak bisa."

"Bim—"

"Gue udah nyusahin lo cukup banyak. Lo bayarin rumah sakit? Lo anter ke sini? Sekarang lo mau rawat gue juga? Nggak. Gue nggak bisa."

Laras menatapnya tajam. "Lo denger, Bima Wijaya. Lo nggak nyusahin gue. Ini pilihan gue. Kalo lo nggak mau tinggal di rumah gue, gue akan jagain lo di sini sampe lo sembuh. Tapi biaya rumah sakit bakal membengkak. Pilih mana?"

Bima diam. Laras benar. Ia tidak punya pilihan.

"Lagi pula," lanjut Laras lebih lembut. "Lo butuh tempat yang aman. Gerry mungkin masih nyari lo. Di rumah gue, lo aman."

Bima akhirnya mengalah. "Oke. Tapi ini pinjaman, Laras. Gue bakal bayar semua."

Laras tersenyum. "Terserah lo. Yang penting lo sembuh dulu."

---

Sore harinya, Laras mengurus administrasi rawat jalan. Bima dipulangkan dengan segudang obat dan instruksi istirahat total. Laras membawanya ke rumahnya.

Kamar itu sederhana—dipan single, lemari kecil, meja, dan jendela menghadap ke taman belakang. Tapi bersih dan cukup nyaman. Bima berbaring lemas, masih pusing.

Laras sibuk membereskan obat dan minuman. "Ini obatnya. Gue tulis jadwal minum di kertas. Lo harus disiplin."

Bima mengamati Laras. Wanita ini luar biasa. Dari sekadar kenalan, sekarang jadi penyelamatnya.

"Laras," panggilnya.

"Hm?"

"Kenapa lo mau repot-repot?"

Laras berhenti, menatapnya. "Karena gue nggak tega liat orang baik jatuh sendirian." Ia tersenyum. "Dan karena gue... peduli sama lo."

Bima diam. Laras tahu Bima masih terikat dengan Kay. Tapi ia tidak bisa memungkiri perasaannya.

"Ngomong-ngomong," Laras mengalihkan topik. "Gue mau lapor polisi soal Gerry."

"Jangan."

"Apa? Bim, dia nyaris bunuh lo!"

"Gue nggak punya bukti cukup. Cuma kata lo. Dan dia pasti punya alibi."

Laras frustrasi. "Terus diemin aja?"

Bima menghela napas. "Untuk sekarang, iya. Tapi gue nggak akan lupa."

Laras menggeleng, tapi tidak memaksa. "Oke. Tapi kalo dia dateng lagi, gue nggak akan segan lapor."

Bima mengangguk lemah.

---

Di ruang rawat lantai tiga, Kay akhirnya diizinkan bangun. Tubuhnya masih lemas, tapi tekadnya baja. Ia memaksa Mika mengantarnya ke loket informasi.

"Kak, mau tanya pasien nama Bima Wijaya. Masuk semalam, kecelakaan," tanya Kay pada petugas.

Petugas mengetik di komputer. "Sebentar ya, Mbak." Beberapa saat kemudian, ia menggeleng. "Maaf, Mbak. Pasien atas nama Bima Wijaya sudah keluar tadi sore."

Kay terperanjat. "Keluar? Tapi dia kritis!"

"Iya, Mbak. Atas permintaan sendiri. Ada keluarga yang jemput."

"Keluarga?" Kay mengerutkan kening. "Dia nggak punya keluarga di Jogja. Siapa yang jemput?"

Petugas itu menatapnya ragu. "Maaf, Mbak. Kami tidak bisa memberikan informasi data pasien tanpa izin."

"Tapi gue—"

"Sudah aturan, Mbak. Mohon pengertiannya."

Kay hampir menangis. Ia menoleh pada Mika. "Mik, dia udah pergi. Lagi."

Mika memeluknya. "Udah, Kay. Tenang. Setidaknya dia selamat. Itu yang penting."

"Tapi gimana cara nemuin dia lagi? Jogja gede!"

Ibu dan Ayahnya muncul dari arah lift. Lydia masih terlihat cemas, sementara Ayahnua tampak berpikir.

"Nak, gimana?" tanya Lydia.

Kay menatap ibunya dingin. "Bima udah pergi. Mungkin karena mama."

Lydia terpukul. "Kay—"

"Udah, Ma. Aku nggak mau dengar."

Ayahnya melangkah maju. "Kay, mungkin Papa bisa bantu. Coba cerita lengkap."

Kay menghela napas. Ia menatap ayahnya, lalu mulai bercerita—tentang Bima, tentang perjuangannya, tentang ibunya yang ikut campur, tentang Bima yang pergi, dan sekarang hilang lagi.

Ayah Kay mendengarkan dengan serius. Setelah selesai, ia menatap Lydia.

"Bu, ini yang kamu lakukan?"

Lydia menunduk. "Aku cuma mau yang terbaik buat dia."

"Tapi ini bukan yang terbaik. Ini menyakiti dia."

Lydia menangis. "Aku tahu. Aku salah."

Ayah Kay menghela napas, lalu menatap Kay. "Nak, Papa akan coba cari Bima. Papa punya kenalan di berbagai kampus dan rumah sakit. Tapi kamu harus janji sama Papa."

"Apa, Pa?"

"Jaga diri kamu. Kalo kamu sakit, kamu nggak bisa ketemu dia. Oke?"

Kay mengangguk. "Iya, Pa."

---

Malam harinya, Kay kembali ke kos Mika. Ia duduk di balkon, menatap langit berbintang. Ponselnya bergetar—pesan dari ayahnya.

"Papa sudah kontak beberapa rumah sakit. Besok akan cek kampus-kampus. Sabar ya, Nak."

Kay membalas: "Makasih, Pa. Aku sayang Papa."

Ia menatap foto Bima di ponsel. Laki-laki itu tersenyum tipis—foto langka yang ia ambil diam-diam.

"Bim, lo di mana? Gue nyari lo, lo kabur lagi. Gue hampir ketemu, lo pergi. Kapan kita bisa bersama?" bisiknya.

Mika keluar, membawa dua cangkir cokelat panas. "Kay, lo harus percaya. Kalo jodoh, nggak kemana."

Kay menerima cokelat itu. "Mik, lo nggak bosan ngomong gitu?"

"Bosan. Tapi lo perlu dengar terus." Mika tersenyum. "Sekarang minum, tidur. Besok kita cari lagi."

Kay tersenyum tipis. "Makasih, Mik."

---

Di rumah Laras, Bima terbangun tengah malam. Sakit di dadanya masih terasa, tapi pikirannya lebih sakit.

Ia membuka galeri, melihat foto Kay. Air matanya jatuh.

"Kay, gue di sini. Tapi gue belum bisa ketemu lo. Gue harus sembuh dulu. Harus lunasin utang. Harus jadi pantas."

Di luar, bulan purnama bersinar terang. Dua insan di dua tempat berbeda menatap bulan yang sama. Berharap suatu hari nanti, mereka bisa bersama lagi.

1
falea sezi
lanjut anpe nikah
Bp. Juenk: siaap
total 1 replies
falea sezi
laki. plin plan amat kayaknya dia uda. mulai. suka. laras cowok. g tau diri
Bp. Juenk: 🤭 iya nih emang parah
total 1 replies
Nani Rahayu
semoga bisa diluruskan semuanya..paham sama sikap bima tp Kay juga gak salah...
Bp. Juenk: aamiin 🙏
total 1 replies
Jing_Jing22
Suka banget ceritanya thor🥰🥰🥰 akhirnya nemu cerita yang aku suka🫶🫶🫶
Bp. Juenk: thanks kaka, selamat menikmati
total 1 replies
OMG!!!!!/Applaud/
/Blush/
aku bisa ngebayangin sih..../Good/
Halwah 4g
😍😍😍😍😍😍 pelit bener update nya Thor..sebiji doang . hemmmm..Bimo mengingatkan q pada laki q yg pelit ngomng syag juga .🤣🤣🤣..lanjutkan Thor..lanjutkan...💪💪
Bp. Juenk: 🤭🤭🤭 bisa gitu ya
total 1 replies
Halwah 4g
😍 berlabuh jugaaa ....
Bp. Juenk: iya donk 😍
total 1 replies
Halwah 4g
aelah Bim..blm juga berlayar kapal nya..dah patah dluan .. zzzzzzzzzzzz..si Bimo nih cueknya kek othor pasti 🤣
Bp. Juenk: 🤣🤣🤣 Isa ae
total 1 replies
Halwah 4g
sueeee kbyang salting ny 🤭
Halwah 4g
aaahhhhhhh....karya baru lagi ya Thor..q suka..q sukaaaaaa.. romansa percintaan yang ringan tapi manis....jangan monoton plis ceritanya Thor..biar kita naik rollercoaster bareng 😄..semngat trs Thor..kencengin updatenya 💪
Bp. Juenk: 🙏 thanks supportnya kaka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!