NovelToon NovelToon
CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.

Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.

Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."

Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Draf yang Berulang-ulang

## Bab 7: Draf yang Berulang-ulang

Satu menit berlalu sejak Rafi melemparkan ponselnya ke kasur. Di luar, suara jangkrik bersahut-sahutan dengan deru ombak Sungai Asahan yang pasang, namun telinga Rafi hanya fokus pada satu hal: kesunyian ponselnya. Ia kembali meraih benda pipih itu dengan gerakan lambat. Layarnya masih mati. Tidak ada lampu indikator LED yang berkedip biru atau hijau.

Secara analitis, sapaan "Hai Nis" yang ia kirimkan di bab sebelumnya adalah sebuah pembuka yang aman, namun sangat tidak efisien. Jika Nisa membalas hanya dengan "Ya?", Rafi akan berada dalam posisi skakmat. Ia butuh sebuah serangan lanjutan—sebuah ajakan yang terstruktur, tidak terlihat memaksa, dan yang terpenting, tidak menunjukkan bahwa ia telah menabung mati-matian hanya untuk hari itu.

Rafi duduk tegak, menyandarkan punggungnya pada dinding semen yang dingin. Ia membuka fitur *catatan* di ponselnya. Ia tidak ingin mengetik langsung di kolom WhatsApp; risiko salah tekan tombol kirim terlalu besar. Secara skeptis, ia menilai bahwa pesan yang bagus haruslah terlihat santai, seolah-olah mengajak jalan ke Kisaran adalah kegiatan rutinnya setiap akhir pekan.

**Draf Pertama:**

*"Nis, sabtu besok sibuk nggak? Kalau nggak, jalan yuk ke Irian Kisaran. Aku mau nonton 5D terus makan ayam penyet di sana."*

Rafi menatap draf itu. Ia menggeleng. "Terlalu agresif," gumamnya. Kalimat "Aku mau nonton" terdengar egois, seolah-olah ia hanya membutuhkan Nisa sebagai pelengkap perjalanannya. Lagipula, kata "Yuk" di Tanjungbalai bisa diartikan sangat serius. Jika Nisa merasa ini adalah kencan formal, dia mungkin akan mundur karena merasa belum siap.

Ia menghapus seluruh kalimat itu. Jempolnya kembali bergerak, menekan *keyboard* virtual yang huruf 'A'-nya sudah agak sulit merespons.

**Draf Kedua:**

*"Nis, katanya di Irian ada film 5D baru. Teman-temanku bilang bagus. Kamu udah pernah coba belum?"*

Rafi membaca ulang. "Basi," desisnya. Ini adalah teknik pancingan klasik yang terlalu mudah dibaca. Nisa anak SMK Bisnis; dia pasti sudah sering menghadapi taktik negosiasi atau percakapan basa-basi dari cowok-cowok bermotor *sport* di sekolahnya. Pertanyaan "Kamu udah pernah coba belum?" hanya akan dijawab dengan "Belum" atau "Udah", dan percakapan akan mati di sana. Secara logis, draf ini gagal menciptakan urgensi.

Udara kamar terasa semakin pengap. Rafi menyeka keringat di dahinya. Ia menyadari sebuah realitas sosial yang pahit: di Tanjungbalai, jarak 50 kilometer ke Kisaran adalah sebuah perjalanan yang cukup memakan waktu. Mengajak seorang gadis menempuh jarak sejauh itu dengan bus umum membutuhkan alasan yang kuat. Ia harus terlihat seperti seorang pria yang memiliki rencana, bukan sekadar cowok yang sedang beruntung punya uang di dompet.

Ia mulai mengetik lagi, kali ini dengan tempo yang lebih lambat. Setiap kata dipilih dengan rigoritas seorang editor.

**Draf Ketiga:**

*"Nis, hari Sabtu aku mau ke Kisaran ada urusan sebentar. Terus kepikiran mau singgah ke Irian. Kalau kamu kosong, mau nggak nemenin? Nanti pulangnya aku antar sampai depan rumah."*

Rafi terdiam menatap draf ketiga. "Urusan sebentar?" Ia tertawa kecut. Urusan apa yang dimiliki seorang siswa SMA 3 di Kisaran pada hari Sabtu? Nisa pasti tahu itu hanya alasan yang dibuat-buat. Dan bagian "antar sampai depan rumah" terdengar terlalu berlebihan, mengingat mereka akan naik bus umum. Secara analitis, draf ini justru menunjukkan bahwa Rafi sedang menutupi kemiskinannya dengan kepura-puraan.

Ia menghapus lagi. Layar ponselnya hampir meredup, namun ia segera menyentuhnya agar tetap menyala. Ia melihat ke arah celengan ayam merah di sudut meja. Uang 315 ribu itu seolah memanggilnya, mengingatkannya pada setiap butir garam yang ia telan demi momen ini.

"Kenapa susah sekali?" bisiknya frustrasi.

Masalah utama Rafi adalah ketakutan akan *spek*. Di dunia remaja saat ini, kencan sering kali dikaitkan dengan kendaraan. Ia membayangkan Nisa terbiasa melihat teman-temannya dijemput dengan Ninja atau minimal Vario keluaran terbaru. Sementara dia? Dia mengajak Nisa jalan kaki ke terminal, menunggu bus yang baunya bercampur antara asap rokok dan aroma ikan kering, lalu duduk di kursi plastik yang sempit.

Ia harus menyusun kalimat yang membuat perjalanan bus itu terasa seperti petualangan, bukan beban.

**Draf Keempat:**

*"Nis, Sabtu ini temenin ke Kisaran yuk? Pengen penyet di Irian tapi nggak ada kawan. Sekalian liat bioskop 5D yang lagi rame itu. Kita santai aja naik bus biar nggak capek di jalan."*

Rafi menatap kalimat terakhir. "Santai aja naik bus biar nggak capek." Itu adalah manipulasi logika yang cerdas. Ia mengubah kekurangan (tidak punya motor) menjadi sebuah pilihan gaya hidup (naik bus agar santai). Secara skeptis, ini adalah draf terbaik yang bisa ia hasilkan. Pesan ini jujur tapi tetap memiliki "kelas".

Namun, rasa mindernya kembali menyerang. Ia melihat ke arah cermin di pintu lemari yang kusam. Ia melihat dirinya sendiri; rambut yang dipotong di pangkas rambut pinggir jalan seharga sepuluh ribu, kemeja yang sudah tiga tahun dipakai. Apakah Nisa tidak akan malu duduk di sebelahnya di dalam bus?

Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul di bagian atas layar.

**Nisa SMK: "Hai juga Fi. Ada apa ya?"**

Jantung Rafi meloncat. Pesannya dibalas! Tiga puluh menit menatap profil, dan kini balasan itu nyata. Kalimat "Ada apa ya?" terdengar sangat netral, namun bagi Rafi, itu adalah pintu yang sedikit terbuka.

Tangannya kembali gemetar. Ia segera menyalin draf keempat dari catatan ke kolom *chat*. Jempolnya melayang di atas tombol kirim. Namun, ia berhenti lagi. Ia teringat pesan ibunya tadi sore tentang harga beras yang naik di pasar. Realitas ekonomi kembali menariknya ke bumi.

*Apakah 315 ribu benar-benar cukup?* tanyanya dalam hati. *Bagaimana kalau Nisa mau beli es krim setelah makan penyet? Bagaimana kalau tarif bus naik karena Sabtu adalah hari ramai?*

Ia melakukan simulasi cepat di kepalanya.

Makan: 90.000.

Tiket: 80.000.

Bus: 40.000.

Sisa: 105.000.

"Cukup. Masih sangat cukup," gumamnya meyakinkan diri.

Ia kembali menatap draf di kolom pesan. Ia menghapus kata "Nis" di awal kalimat agar tidak terdengar terlalu akrab, lalu menambahkannya kembali karena merasa terlalu kaku jika dihilangkan. Ia mengubah tanda tanya, menggantinya dengan tanda seru, lalu mengembalikannya lagi ke tanda tanya.

Detik demi detik berlalu di kamar kecil itu. Di Tanjungbalai, waktu seolah berhenti bagi seorang remaja yang sedang mempertaruhkan seluruh tabungan dan harga dirinya dalam satu paragraf singkat. Rafi tahu, di dunia luar, pesan ini hanyalah data digital berukuran beberapa kilobita. Namun baginya, ini adalah surat kontrak yang menentukan apakah ia akan tetap menjadi "cowok nasi garam" atau menjadi pria yang berhasil membawa gadis impiannya melihat dunia luar.

Ia menarik napas panjang, menahannya selama lima detik, lalu mengembuskannya perlahan. Rigoritas mentalnya sudah mencapai batas. Tidak ada lagi yang bisa diperbaiki dari draf ini. Jika ia menunggu lebih lama, Nisa mungkin akan tidur atau berubah pikiran.

Jempolnya yang gemetar itu akhirnya tidak lagi ragu. Dengan satu tekanan mantap, ia menempelkan kulit jarinya ke layar.

*Klik.*

Pesan itu terkirim. Statusnya langsung berubah menjadi centang dua abu-abu.

Rafi segera mematikan ponselnya, membenamkan wajahnya ke bantal, dan berteriak tanpa suara. Ketegangan digital ini jauh lebih melelahkan daripada begadang mengetik tugas Doni. Sekarang, yang tersisa hanyalah menunggu. Menunggu apakah draf yang disusun berulang-ulang itu akan membuahkan hasil, atau hanya berakhir sebagai lelucon di layar ponsel Nisa.

Secara logis, ia sudah melakukan segalanya. Secara perasaan, ia merasa seperti sedang menunggu vonis hakim. Di kegelapan kamarnya, Rafi hanya bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri yang masih belum mau melambat.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!