NovelToon NovelToon
PASHAM

PASHAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Epik Petualangan
Popularitas:717
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Tio Wirawan, seorang solo climber arogan, tersesat dan terluka parah di Gunung Slamet.

Terisolasi tanpa bantuan, ia berjuang melawan lapar, infeksi, dan dingin yang perlahan merenggut hidupnya.

Namun saat kematian semakin dekat, ia menemukan sesuatu yang mustahil: sebuah desa misterius yang tidak ada di dunia manusia.

Di sana, Tio dihadapkan pada sebuah kebenaran—ia tidak hanya tersesat di gunung, tetapi di antara dua alam.

Ketika ia akhirnya kembali, secara tak masuk akal muncul di kaki Gunung Ciremai, Arya sadar ia telah diberi kesempatan kedua. Tapi sebagian dari dirinya tertinggal di tempat itu—di Pasham, tempat di mana manusia harus tersesat untuk benar-benar menemukan jalan pulang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerogoti Tikus

Kesadaran Tio kembali bukan karena cahaya matahari, bukan karena suara burung, tapi karena rasa sakit yang luar biasa di kaki kanannya.

Bukan sakit biasa. Ini sakit yang berbeda—seperti ada yang menggerogoti, mengunyah, merobek kulitnya. Tajam, perih, dan terasa sangat nyata.

Tio membuka mata. Gelap. Masih di dalam gua. Tapi rasa sakit itu terus ada, semakin intens. Ia menunduk, mencoba melihat ke arah kakinya dalam gelap.

Dan ia melihatnya.

Seekor tikus tanah. Besar, seukuran kelinci, dengan bulu coklat kusam dan gigi seri yang panjang kuning. Tikus itu sedang menggerogoti kakinya—tepat di area luka infeksi, di pergelangan kaki kanan.

Ia menggigit, mengunyah, memakan kulit mati dan jaringan yang membusuk.

Tio menjerit.

Jeritan itu pecah di ruang gua yang sempit, bergema, memekakkan telinganya sendiri. Tangannya langsung bergerak, memukul tikus itu sekuat tenaga.

Tikus itu terpental, membentur dinding gua, menjerit melengking, lalu kabur melewati celah sempit.

Tio duduk, napas memburu, jantung berdebar kencang. Ia memandangi kakinya. Luka infeksi itu kini lebih parah—bekas gigitan tikus menambah lubang baru di jaringan yang sudah membusuk. Darah mengalir, bercampur nanah. Bau busuk yang menyengat.

Ia hampir muntah. Bukan hanya karena baunya, tapi karena kenyataan bahwa tikus tanah hampir memakannya hidup-hidup. Di dalam gua gelap ini, ia nyaris menjadi santapan makhluk bawah tanah.

Harus keluar. Harus segera keluar dari sini.

Dengan sisa tenaga yang ada, Tio merangkak menuju celah gua. Tubuhnya terasa berat, sakit di mana-mana. Kepalanya berdenyut, lukanya mungkin infeksi juga. Kaki kanan—ia tidak mau memikirkannya. Yang penting keluar. Yang penting dapat sinar matahari.

Celah itu sempit, sama seperti kemarin. Tio memaksakan tubuhnya melewatinya, mengabaikan goresan-goresan baru di kulit.

Sampai akhirnya, setelah perjuangan yang terasa seperti berjam-jam, ia jatuh ke luar.

Udara segar. Matahari pagi. Tio menghirup napas panjang, bersyukur bisa keluar dari sarang tikus itu.

Tapi ia tidak bisa berlama-lama.

Makhluk-makhluk itu—para pemburu dengan mata merah—masih ada di luar sana. Mereka bisa datang kapan saja.

Tio melihat sekeliling. Tebing kecil tempat ia bersembunyi berada di dasar jurang. Untuk bisa keluar, ia harus memanjat kembali ke atas.

Tebing itu tingginya sekitar 5-6 meter, dengan dinding tanah dan akar-akar pohon yang menjulur. Tidak terlalu sulit—dalam kondisi normal. Tapi dengan kakinya sekarang?

Harus dicoba.

Tio meraih akar pertama, menarik tubuhnya. Kaki kiri menjejak tonjolan tanah. Kaki kanan diangkat, tidak bisa digunakan. Satu tarikan. Dua tarikan. Ia naik perlahan, seperti siput yang memanjat dinding.

Setengah perjalanan, saat ia berhenti sejenak untuk mengatur napas, ia melihatnya.

Di bawah tebing, di dalam dasar jurang, muncul bayangan-bayangan itu. Mata merah. Gigi runcing. Mereka menatapnya dari bawah, seperti predator yang mengawasi mangsa yang terjebak.

Tio membeku. Jantungnya berdetak kencang.

Mereka mulai bergerak kearah Tio. Merayap di dinding tebing dengan gerakan laba-laba itu, lengan-lengan panjang mencengkeram tanah, kepala berputar-putar tidak wajar.

Tio berteriak. Bukan teriakan kata-kata—teriakan kalut, teriakan ketakutan murni. Ia memanjat lebih cepat, mengabaikan rasa sakit, mengabaikan kaki yang menjerit, mengabaikan segalanya.

Satu tarikan. Dua tarikan. Tiga tarikan.

Di belakangnya, dari bawah suara gesekan semakin dekat. Ia bisa mendengar napas mereka, bau busuk mereka.

Lima meter. Empat meter. Tiga meter.

Tangan Tio mencapai tepi atas tebing. Dengan sentakan terakhir, ia menarik tubuhnya ke atas, berguling menjauhi tepi. Ia terbaring di tanah, terengah-engah, lalu menoleh ke belakang.

Mata-mata merah itu menatapnya dari tepi jurang. Mereka tidak naik. Hanya merayap di sana, di pinggir, menatap. Seolah ada batas yang tidak bisa mereka lewati.

Tio tidak tahu apa itu. Mungkin wilayah mereka hanya di dalam jurang. Mungkin mereka tidak bisa keluar di bawah sinar matahari. Mungkin—ia tidak peduli. Yang penting, ia selamat.

Tio berdiri. Kaki kanan menjerit. Luka di kepala berdenyut. Tubuhnya lemas, kosong, tanpa energi.

Tapi ia harus terus berjalan. Makhluk-makhluk itu mungkin tidak bisa naik, tapi mereka masih menonton. Dan malam akan datang lagi. Ia harus menemukan tempat aman sebelum gelap.

Dengan tongkat bambu—yang ia temui di atas permukaan—Tio mulai berjalan. Tertatih, terpincang, melompat dengan satu kaki. Lambat. Sangat lambat.

Di belakangnya, mata-mata merah masih setia menonton. Menunggu.

Berjam-jam berlalu. Matahari bergerak dari timur ke barat. Tio terus berjalan, meskipun langkahnya semakin lambat, semakin tidak karuan. Tubuhnya sudah di ambang batas. Belum makan apa pun sejak bangun. Air hanya sisa sedikit di botol—ia hemat, seteguk sekali-sekali.

Kepalanya pusing. Pandangannya kabur. Kadang ia melihat dua bayangan dari satu pohon. Kadang ia berjalan ke arah yang salah dan harus membetulkan arah. Dehidrasi. Kelaparan. Infeksi. Kombinasi yang mematikan.

Ia terus memaksakan diri. Satu langkah. Satu langkah lagi. Satu langkah lagi.

Jangan berhenti, Tio. Jangan berhenti. Kalau berhenti, kamu mati.

Tapi tubuhnya tidak mau diajak kompromi. Setiap langkah terasa seperti mengangkat gunung. Napasnya pendek-pendek. Jantungnya berdebar tidak beraturan.

Pohon-pohon di sekitarnya mulai tampak kabur. Atau mungkin itu matanya yang mulai kabur. Ia tidak tahu lagi.

Di kejauhan, ia melihat sesuatu yang familiar. Sebatang pohon besar dengan akar-akar menjulur. Beringin. Pohon beringin tempat ia berlindung beberapa malam lalu? Atau pohon lain yang mirip? Tio tidak yakin.

Yang ia tahu, pohon itu seperti menawarkan perlindungan. Tempat untuk beristirahat. Tempat untuk bersembunyi.

Tio memaksakan diri mendekat. Sepuluh langkah lagi. Lima langkah lagi. Tiga langkah lagi.

Dan saat tangannya hampir menyentuh akar pohon itu, dunia berputar.

Lereng miring. Tanah. Pohon. Langit. Semuanya berputar jadi satu. Tio merasakan tubuhnya jatuh, tapi tidak sakit. Seperti jatuh dalam mimpi.

Lalu gelap.

Tio pingsan di bawah pohon beringin itu. Tubuhnya terkulai lemas di antara akar-akar yang menjulur. Napasnya dangkal, tidak teratur.

Wajahnya pucat pasi, bibirnya kering pecah-pecah, lukanya di kepala mulai mengeluarkan cairan bening bercampur darah.

Matahari mulai turun. Sore menjelang malam.

Di sekeliling pohon, bayangan-bayangan mulai muncul. Mereka berkumpul, seperti biasa, membentuk lingkaran mengelilingi pohon beringin. Tapi mereka tidak mendekat.

Seperti malam-malam sebelumnya, pohon ini melindungi penghuninya. Mereka hanya menonton. Menunggu.

Menunggu Tio bangun. Atau menunggu Tio mati.

Sementara itu, Tio terbaring tidak sadar. Tidak makan. Tidak minum. Tubuhnya perlahan menyerah pada kelelahan dan infeksi.

Malam kedelapan—turun dengan tenang.

Bintang-bintang muncul di langit. Burung malam mulai bernyanyi. Dan Tio masih pingsan, tidak tahu apa yang terjadi di sekitarnya.

Tapi di dalam pingsannya, ia bermimpi lagi. Kakek tua itu muncul lagi.

"Wis meh tekan, Le," kata kakek itu. "Ojo nyerah. Wis meh tekan." (Sudah hampir sampai, Nak. Jangan menyerah. Sudah hampir sampai.)

Tio ingin bertanya, hampir sampai ke mana? Tapi suaranya tidak keluar.

Kakek itu tersenyum. Lalu perlahan, ia menghilang.

Tio terbangun—tidak sadar, tapi terbangun di dalam mimpinya. Ia berdiri di tengah hamparan sawah lagi. Tapi kali ini, di kejauhan, ia melihat desa. Rumah-rumah beratap ijuk. Asap mengepul dari dapur. Orang-orang berlalu lalang. Desa itu nyata. Lebih nyata dari mimpi sebelumnya.

Tio ingin berlari ke arahnya. Tapi kakinya tidak bisa bergerak. Ia hanya bisa memandang dari kejauhan, melihat desa itu, melihat kehidupan di sana.

Dan kemudian, desa itu memudar. Sawah memudar. Semuanya gelap lagi.

Tio masih pingsan di bawah pohon beringin. Napasnya masih ada, tapi sangat lemah. Tubuhnya dingin. Tangannya gemetar.

Di sekelilingnya, bayangan-bayangan masih setia menonton. Mereka menunggu.

Tapi di kejauhan, di arah yang sama dengan mimpinya, ada sesuatu yang berbeda. Cahaya kecil. Samar-samar. Seperti lampu.

Lampu desa.

Tapi Tio tidak melihatnya. Ia masih pingsan, berjuang antara hidup dan mati.

Malam itu panjang. Dan Tio masih belum sadar.

1
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
lanjuut/Determined//Determined/
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
By the way, Thor, di deskripsi ceritanya kenapa pas paragraf keempat dan seterusnya nama MC-nya jadi Arya, ya? Atau ada dua MC?/Hey/
Bp. Juenk: 🤭 iya nih Kk typo dr tokoh di novel pf yg lain. thanks koreksi nya kakak
total 1 replies
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
mulai creepy... /Skull/
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
apa yang kamu tabur, itu yang kamu tuai
한스Hans
Thor paragraf nya bisa di buat agak pendek GK 🤦 kepanjangan 🤦 , udah mampir Thor... mampir ya ke Switch-On 😄🤦
Bp. Juenk: siap. thanks supportnya 🙏
total 1 replies
Halwah 4g
mantap kaaaaa...karya baru lagi..sekrg dengan tema horor mengangkat tema pendakian...💪💪💪 semngat ka
Bp. Juenk: terimakasih Kaka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!