NovelToon NovelToon
Academy Of Fallen Marks

Academy Of Fallen Marks

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Akademi Sihir
Popularitas:218
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Di dunia di mana sihir adalah segalanya, kekuatan bukanlah anugerah—melainkan hasil dari latihan dan pengorbanan.
Ia hanyalah seorang siswi Akademi Sihir Arcanova. Tenang. Cerdas. Tak tersentuh. Hingga sebuah simbol tersembunyi muncul di tubuhnya—tanda kutukan dari iblis yang bahkan hanya hidup dalam legenda.
Tak hanya dirinya.
Dua siswa dari sekolah berbeda—termasuk seorang pewaris Akademi Crimson Crest—ternyata memikul kutukan yang sama… namun berasal dari iblis yang berbeda.
Kekuatan mereka luar biasa. Tak terbatas.
Namun setiap kali digunakan, ada harga yang harus dibayar.
Di tengah persaingan dua akademi, pelatihan mematikan di Hutan Abyss, dan rumor tentang iblis berwujud manusia yang belum pernah terlihat…
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling kuat.
Tapi siapa yang akan bertahan ketika kutukan itu mulai mengambil alih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan di Garis Retak

Langit di atas dataran perbatasan antara Crimson Crest dan Arcanova pagi itu tampak terbelah. Di sisi timur, sinar matahari menyinari menara-menara batu yang kaku dan disiplin milik para ksatria pedang, sementara di sisi barat, awan-awan magis yang berwarna-warni menggantung rendah di atas kubah-kubah kristal para penyihir elemen. Hari ini bukan hari biasa. Ini adalah hari Latihan Strategi Gabungan, sebuah tradisi kuno yang bertujuan untuk menyelaraskan kekuatan fisik pedang dengan keajaiban sihir. Namun, bagi tiga jiwa yang terikat oleh kutukan, hari ini adalah ujian paling berbahaya bagi rahasia mereka.

Lucien Vlad melangkah di barisan paling depan dari kontingen Crimson Crest. Jubahnya yang merah darah berkibar tertiup angin kencang di padang rumput Silver-Leaf. Di bahunya, peringkat satu kembali bersinar—bukan lagi sebagai simbol daun hijau yang membelenggu, melainkan sebagai lencana kehormatan yang ia rebut kembali dari Hutan Abyss kemarin. Wajahnya sedatar es, namun matanya terus memindai kerumunan siswa Arcanova yang mulai berdatangan dari arah berlawanan.

"Lihat itu, si jenius Vlad kembali ke posisinya," bisik salah satu siswa di belakang Lucien. "Kudengar dia menangkap Burung Obsidian sendirian hanya dalam dua jam. Dia benar-benar monster."

Mendengar kata "monster", otot di rahang Lucien mengeras. Ia tidak merasa bangga. Ia merasa seperti bom waktu yang sedang berjalan.

Dari arah barat, kontingen Arcanova tiba dengan kemegahan yang lebih tenang. Di antara barisan penyihir air, Vivienne melangkah dengan anggun, jubah ungunya tampak berkilauan di bawah cahaya matahari. Sementara itu, di barisan penyihir api, Daefiel terlihat mencoba mempertahankan senyum menyebalkannya yang khas, meskipun tangannya terus-menerus meraba pergelangan tangan yang tertutup kain pengikat tambahan.

Mata mereka bertiga bertemu di tengah lapangan. Tidak ada lambaian tangan. Hanya sebuah anggukan kecil yang sarat dengan peringatan: Tetap fokus. Jangan biarkan "dia" keluar.

Master Alaric dan Master Silas berdiri di panggung pengawas bersama Master Elara dan Master Ignis dari Arcanova. Keempat petinggi itu memancarkan aura yang begitu kuat hingga burung-burung di sekitar padang rumput tidak berani melintas.

"Latihan hari ini sederhana," suara Master Alaric menggema, diperkuat oleh sihir resonansi udara. "Kalian akan dipasangkan secara acak: satu ksatria dari Crimson Crest dan satu penyihir dari Arcanova. Tugas kalian adalah mencapai pusat Labirin Ilusi yang telah kami buat di bawah tanah padang ini. Di sana, kalian harus menghadapi proyeksi monster yang menyesuaikan dengan ketakutan terdalam kalian. Kerja sama adalah kunci, atau kalian akan terjebak dalam ilusi itu selamanya."

Lucien merasakan firasat buruk. Ketakutan terdalam? Jika labirin itu mampu memproyeksikan ketakutan, maka rahasia mereka tentang "Tahap Keempat" bisa saja tervisualisasi di depan mata pasangan mereka.

Satu per satu nama dipanggil melalui bola kristal acak.

"Daefiel dari Arcanova... berpasangan dengan Kaelen dari Crimson Crest!"

"Vivienne dari Arcanova... berpasangan dengan Marcus dari Crimson Crest!"

Dan terakhir, sebuah nama yang membuat seluruh lapangan hening.

"Lucien Vlad dari Crimson Crest... berpasangan dengan... Isabella von Astrea dari Arcanova."

Bisikan-bisikan kembali terdengar. Isabella adalah penyihir cahaya paling berbakat, seseorang yang dianggap sebagai "suci" karena kemurnian mananya. Bagi Lucien, ini adalah skenario terburuk. Cahaya Isabella adalah musuh alami bagi kegelapan yang ia sembunyikan.

Di Dalam Labirin: Ujian Pertama

Lucien dan Isabella memasuki gerbang labirin yang tertanam di bawah tanah. Dinding-dindingnya terbuat dari batu obsidian yang terus mengeluarkan kabut tipis. Isabella berjalan di samping Lucien, tongkat sihirnya memancarkan cahaya putih yang lembut, menerangi jalan mereka.

"Kau sangat diam, Vlad," ucap Isabella, suaranya jernih seperti lonceng perak. "Kudengar kau baru saja menyelesaikan hukuman dari Dewan. Apa yang kau cari di Hutan Abyss kemarin hingga kau begitu berambisi mendapatkan kembali peringkatmu?"

"Hanya kehormatan," jawab Lucien pendek, matanya tetap menatap lurus ke depan. Ia bisa merasakan Petir Biru di punggungnya mulai berdenyut tidak nyaman karena paparan cahaya murni Isabella.

Tiba-tiba, kabut di depan mereka menebal dan berubah menjadi warna hitam pekat yang familiar bagi Lucien. Suasana menjadi dingin, persis seperti di Hutan Abyss. Dari dalam kegelapan, muncul sebuah proyeksi mahluk. Namun, mahluk itu bukan monster biasa. Itu adalah sosok manusia yang memiliki sayap hitam besar dan tanduk melengkung, dengan mata biru gelap yang menangiskan abu.

Lucien tersentak. Itu adalah proyeksi dirinya sendiri di Tahap Ketiga.

"Mahluk apa itu?" Isabella mengangkat tongkatnya, cahaya putihnya menguat. "Baunya... sangat jahat. Itu tidak terlihat seperti monster liar. Itu terlihat seperti... jatuh."

Lucien mengepalkan tinjunya hingga kukunya menusuk telapak tangan. Ia harus menghancurkan proyeksi ini sebelum Isabella melihat terlalu detail.

"Jangan mendekat, Isabella! Itu hanya ilusi!"

Lucien melesat maju. Tanpa menggunakan petir birunya—karena itu akan memicu resonansi dengan proyeksi tersebut—ia hanya mengandalkan teknik pedang murni. Ia menebas proyeksi itu berkali-kali, namun setiap tebasan hanya membuat bayangan itu tertawa dengan suara yang menyerupai suara Lucien sendiri.

“Kau tidak bisa membunuh masa depanmu, Lucien...” bayangan itu berbisik.

Di Bagian Lain Labirin

Di bagian lain labirin, Daefiel juga sedang berjuang. Pasangannya, Kaelen, adalah ksatria pedang yang kasar. Saat mereka dihadang oleh proyeksi api hitam yang membakar segalanya, Daefiel nyaris kehilangan kendali. Api Hitam di pergelangan tangannya mulai merembes keluar, mencoba menyatu dengan ilusi tersebut.

"Hei! Gunakan apimu, dasar penyihir tidak berguna!" teriak Kaelen saat melihat Daefiel hanya diam mematung.

"Diam!" bentak Daefiel. Matanya sempat berkilat oranye kemerahan yang tidak alami. Ia harus menekan kemarahannya, karena jika ia marah, api hitam itu akan meledak dan membakar Kaelen beserta dirinya sendiri.

Ia menarik napas dalam, memvisualisasikan wajah Lucien dan Vivienne.

Fokus. Fokus adalah kunci.

Resonansi yang Berbahaya

Vivienne, di lorong yang berbeda, menghadapi ketakutannya sendiri: ia melihat dirinya sendiri memudar menjadi debu, hilang tertiup angin sementara teman-temannya memanggil namanya. Proyeksi itu begitu nyata hingga Vivienne jatuh berlutut.

"Vivienne? Apa yang kau lihat?" Marcus, pasangannya, mencoba menyentuh bahunya.

"Jangan sentuh aku!" teriak Vivienne.

Secara tidak sengaja, aura ungu gelap meledak dari tubuhnya, memukul mundur Marcus hingga menghantam dinding. Simbol Bulan Hitam di lehernya berpendar terang menembus kerah bajunya.

Marcus menatapnya dengan ngeri.

"Warna manamu... itu bukan air murni. Itu... apa itu?"

Vivienne segera menyadari kesalahannya. Ia segera merapalkan sihir es untuk membekukan proyeksi tersebut, sekaligus menciptakan tabir es tebal di antara dirinya dan Marcus agar pria itu tidak bisa melihat ekspresi wajahnya yang kini mulai dihiasi urat-urat hitam kecil di sekitar matanya.

Kembali ke Lucien

Lucien berhasil menebas jantung proyeksi "dirinya yang iblis" dengan serangan pedang murni yang sangat cepat. Proyeksi itu pecah menjadi kabut dan menghilang.

Isabella mendekat, menatap Lucien dengan penuh selidik.

"Kau terlihat sangat ketakutan saat melihat bayangan tadi, Vlad," ucap Isabella pelan. "Dan cahaya di tongkatku... ia terus bergetar saat berada di dekatmu. Seolah-olah ia mencoba memperingatiku tentang sesuatu yang gelap di bawah kulitmu."

Lucien menyarungkan pedangnya, wajahnya kembali dingin seperti semula.

"Setiap orang punya kegelapan di dalam dirinya, Isabella. Terutama mereka yang tinggal di bawah bayang-bayang Crimson Crest. Jangan terlalu banyak membaca pertanda, atau kau akan menemukan hal-hal yang tidak ingin kau ketahui."

Mereka berdua mencapai pusat labirin tepat saat lonceng berakhir.

Vivienne dan Daefiel juga muncul beberapa saat kemudian dari pintu yang berbeda. Ketiganya bertemu di tengah ruangan besar di bawah tanah tersebut. Wajah mereka semua pucat, napas mereka tidak teratur.

Mereka telah melewati ujian ilusi, namun mereka menyadari satu hal yang menakutkan: labirin itu telah merekam jejak energi mereka.

Saat mereka naik kembali ke permukaan, Master Alaric menatap mereka bertiga dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Ia tidak mengatakan apa-apa, namun tangannya memegang sebuah bola kristal yang merekam seluruh kejadian di dalam labirin.

Lucien tahu, latihan gabungan ini bukan hanya sekadar latihan. Ini adalah cara para Master untuk memancing "sesuatu" keluar dari mereka.

Dan meskipun mereka berhasil keluar tanpa transformasi permanen, mereka sadar bahwa Isabella, Marcus, dan Kaelen kini memiliki keraguan besar di dalam hati mereka.

"Kita harus lebih hati-hati," bisik Lucien saat mereka berpapasan di tengah kerumunan siswa yang bubar. "Mereka mulai memancing kita."

Vivienne hanya mengangguk pelan, sementara Daefiel mengepalkan tangannya di saku jubahnya.

Rahasia mereka kini bukan lagi sekadar rahasia antara mereka bertiga; benih kecurigaan telah ditanam di ladang yang paling subur, dan hanya masalah waktu sebelum kebenaran itu tumbuh dan menghancurkan segalanya.

1
gempi
h
Sean Sensei
/Shame/ Vivienne baru saja kena 'mental' dua kali: pertama karena tanda misterius di tulang selangkangannya, kedua karena disindir soal nilai ujian sama Daefiel. Suka banget sama dinamika karakternya, Daefiel kelihatan tipe cowok yang menyebalkan tapi bikin nagih. Semangat nulisnya!
REY ASMODEUS
aku suka 💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!