NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Time Travel
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Jaringan Santri Dan Pengkhianatan Sunyi

Kabut tipis menyelimuti rawa Segoro Wedhi saat fajar menyingsing. Di dalam gubuk utama yang kini lebih mirip bengkel kimia, Jatmika sedang menatap sebuah peta kusam wilayah Kendal. Ia baru saja menyelesaikan pemasangan kabel telegraf akustik ke tiga titik pantau utama. Namun, hatinya tidak tenang.

"Jatmika, ada seseorang yang ingin bertemu. Dia bukan orang Suro, dan bukan pula orang desa kita," bisik Darman sembari membawa seorang pemuda berpakaian sarung lusuh dan berbaju koko putih yang sudah menguning.

Pemuda itu membungkuk takzim. "Nama saya Yusuf, utusan dari Pesantren Al-Ikhlas di kaki Gunung Perahu. Kyai kami, Kyai Hasan, telah mendengar tentang 'kristal putih' dan 'kincir angin yang berputar tanpa lelah' di pesisir. Beliau ingin tahu, apakah ini mukjizat ataukah sihir yang dibawa oleh anak manusia."

Jatmika menatap Yusuf dengan saksama. Di abad ke-19, pesantren adalah pusat intelektual dan perlawanan rakyat yang paling akar rumput. Jika ia bisa mendapatkan dukungan Kyai Hasan, ia tidak hanya akan mendapatkan tenaga kerja, tapi juga legitimasi moral di mata rakyat Jawa yang religius.

"Katakan pada Kyai Hasan," Jatmika menjawab dengan nada berwibawa, "bahwa ini bukan sihir. Ini adalah Iqra—perintah untuk membaca alam semesta. Allah memberikan akal pada manusia untuk memahami hukum-hukum-Nya agar kita tidak lagi dijajah oleh sesama manusia."

Yusuf tertegun mendengar jawaban itu. Ia tidak menyangka seorang anak nelayan bisa bicara dengan kedalaman filosofis seperti itu. "Kyai mengundangmu datang ke pesantren besok malam. Ada hal penting mengenai pergerakan pasukan Belanda yang baru saja mendarat di Semarang."

"Aku akan datang," jawab Jatmika singkat.

Namun, sebelum Yusuf pergi, sebuah suara derit pelan terdengar dari pipa bambu telegraf akustik di pojok ruangan. Tok... tok-tok... tok...

Itu adalah kode bahaya. Bukan dari musuh besar, tapi tanda adanya penyusup di perimeter dalam.

Jatmika memberi isyarat pada Suro yang sedang mengasah parang di luar. Dengan gerakan yang telah dilatih dalam beberapa hari terakhir, Suro dan dua anak buahnya menghilang ke dalam rimbunnya pohon bakau.

Sepuluh menit kemudian, mereka menyeret seorang pria paruh baya yang berpakaian seperti pemburu burung. Wajah pria itu pucat pasi, matanya liar ketakutan. Di tangannya terdapat sebuah kantong berisi burung-burung kecil, tapi di balik bajunya, Suro menemukan sesuatu yang jauh lebih mematikan: sebuah lencana perak kecil dengan simbol singa Belanda.

"Dia mata-mata Mandor Kromo," geram Suro. "Aku menemukannya sedang menandai jalur masuk rawa dengan sayatan di pohon."

Warga rawa mulai berkumpul. Kemarahan meledak. "Bunuh saja! Dia akan membocorkan tempat ini pada kompeni!" teriak salah satu nelayan yang rumahnya dibakar tempo hari.

Jatmika melangkah maju. Ia melihat pria itu gemetar hebat. Sebagai manusia abad ke-21, nurani Jatmika menolak eksekusi tanpa pengadilan. Tapi sebagai pemimpin revolusi, ia tahu belas kasihan yang salah bisa membunuh mereka semua.

"Siapa namamu?" tanya Jatmika dingin.

"M-Mardun, Tuan... tolong, saya dipaksa! Anak istri saya disandera di pendopo kabupaten!" tangis pria itu pecah.

Jatmika terdiam sejenak. Ia melihat ke arah pipa telegraf, lalu ke arah Yusuf, sang santri. Sebuah ide taktis muncul di kepalanya. Ia tidak akan membunuh Mardun, tapi ia akan menggunakan Mardun untuk mengirimkan Disinformasi.

"Suro, jangan bunuh dia. Tapi dia tidak boleh pergi dari sini," perintah Jatmika. "Mardun, kamu akan menulis laporan untuk Mandor Kromo. Kamu akan katakan bahwa kamu menemukan markas kami, tapi lokasinya bukan di sini. Kamu akan mengarahkan mereka ke Rawa Bangkai di sisi timur yang penuh gas metana dan lumpur hisap."

Jatmika berpaling ke arah Yusuf. "Yusuf, bisakah pesantrenmu membantu mengamankan keluarga Mardun secara rahasia? Jika Belanda kehilangan sanderanya, Mardun akan benar-benar berpihak pada kita."

Yusuf mengangguk mantap. "Santri-santri kami tersebar di setiap desa. Mengambil satu keluarga dari pengawasan mandor bukan hal yang sulit."

Strategi Jatmika mulai melebar. Ia tidak lagi hanya memikirkan mesin, tapi juga intelijen balik (counter-intelligence). Ia tahu bahwa Kapten Van De Berg di luar sana sedang menyusun potongan teka-teki, maka Jatmika harus memberikan potongan teka-teki yang salah.

Malam itu, setelah Mardun menulis surat laporan palsu di bawah pengawasan ketat, Jatmika kembali ke meja kerjanya. Di depannya terdapat beberapa botol kecil berisi ekstrak akar-akaran dan belerang yang sedang ia suling.

"Jika mereka benar-benar datang ke Rawa Bangkai," gumam Jatmika, "aku akan memastikan mereka disambut dengan sesuatu yang tidak pernah mereka pelajari di sekolah militer Belanda."

Ia mulai merancang Lampu Gas Metana Terpantik. Rawa Bangkai kaya akan gas metana alami dari pembusukan organik. Dengan pemicu percikan api sederhana dari batu api yang dihubungkan ke tali penarik, ia bisa menciptakan ledakan udara yang mengerikan tanpa perlu menggunakan banyak mesiu berharga.

"Jatmika," Darman masuk ke gubuk dengan wajah cemas. "Keluarga Mardun sudah dalam perjalanan ke pesantren. Tapi ada kabar buruk. Kapten Van De Berg membawa pasukan Marsose dan sebuah alat aneh... mereka menyebutnya 'Balon Udara' untuk memantau dari ketinggian."

Jatmika menghentikan kegiatannya. Balon udara? Di tahun 1853? Ia lupa bahwa Belanda juga memiliki akses ke teknologi Eropa yang sedang berkembang. Jika mereka bisa melihat rawa dari atas, semua kamuflase pohon bakau tidak akan ada gunanya.

"Mereka punya mata di langit," Jatmika menarik napas panjang. "Maka kita harus membuat langit itu tidak bisa melihat kita."

Jatmika segera mengambil arang dan mulai menghitung densitas asap. Ia butuh Tabir Asap (Smoke Screen) berskala besar. Dan untuk itu, ia butuh minyak jarak dan sisa-sisa pengolahan garamnya dalam jumlah tonase.

Perang ini baru saja naik ke level yang lebih tinggi. Antara balon udara Belanda dan inovasi kimia Jatmika, siapa yang akan menguasai medan tempur Segoro Wedhi?

1
Nemi yaa
kereen😍
Sastra Gulo: Terimakasih ka :)
total 1 replies
anggita
terus berkarya tulis👌. moga novelnya lancar.
Sastra Gulo: Amin kak. support selalu ya🙏😍
total 1 replies
anggita
Jatmika.. 👍💣💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!