Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Langit yang Berbeda
Sinar matahari pagi menembus jendela kaca besar di unit apartemen lantai dua belas kawasan Kuningan. Hana berdiri mematung di tengah ruangan yang masih berbau cat baru dan kayu jati. Ini bukan rumah Aris yang penuh dengan kepura-puraan, bukan pula kontrakan petak yang pengap oleh bau semen. Ini adalah fasilitas dari perusahaan Adrian atas prestasinya membongkar kasus penggelapan tiga miliar tempo hari.
Apartemen ini minimalis namun elegan, dengan lantai parket kayu yang hangat dan pencahayaan yang lembut. Hana menyentuh permukaan meja dapur yang terbuat dari granit hitam. Dingin, namun memberikan rasa aman yang nyata.
"Mama, lihat! Gilang punya kamar sendiri!" teriak putranya dari arah lorong. Suara tawanya terdengar lepas, tanpa ada bayang-bayang ketakutan akan bentakan ayahnya atau sindiran neneknya.
Hana tersenyum, meski matanya berkaca-kaca. Ia teringat bagaimana dua minggu lalu ia harus menyetrika baju dengan panci panas di lantai semen karena tidak punya apa-apa. Kini, ia memiliki segalanya untuk memulai hidup baru. Adrian tidak hanya memberinya posisi Manajer Keuangan, tapi juga perlindungan yang sangat ia butuhkan sebagai ibu tunggal.
"Iya, Sayang. Itu kamar Gilang. Nanti kita isi dengan buku-buku baru ya," jawab Hana lembut.
Namun, di balik kenyamanan ini, Hana tahu badai di luar sana belum benar-benar reda. Ia baru saja mengganti kartu SIM ponselnya agar Aris tidak bisa menerornya lagi, tapi bayang-bayang masa lalu selalu punya cara untuk menemukan celah di tengah kesunyian.
Sementara itu, di sebuah ruangan sempit dengan jeruji besi yang dingin di Polres Jakarta Selatan, Aris duduk meringkuk di sudut sel. Kemeja batiknya yang dulu dibanggakan kini kusam, lecek, dan berbau keringat yang asam. Matanya cekung karena tidak bisa tidur sama sekali. Di dalam sel itu, ia tidak sendirian.
Seorang pria berbadan besar dengan tato di sekujur lengannya menatap Aris dengan pandangan yang mengerikan. Aris mengenalnya; itu adalah salah satu mantan mandor lapangan yang dulu pernah ia tipu soal uang upah buruh di proyek Pak Baskoro.
"Wah, wah... lihat siapa yang masuk ke kandang kita," desis pria itu sambil mendekat. "Aris Putranto. Si orang kantoran yang sok suci tapi hobinya potong gaji orang kecil."
"Bukan... bukan aku yang atur itu, Bang. Itu semua perintah atasan!" gagap Aris, tubuhnya gemetar hebat.
"Alasan klasik," pria itu menarik kerah baju Aris dan membenturkannya ke dinding sel yang lembap. "Gara-gara kamu, anakku berhenti sekolah karena upahku tidak keluar. Sekarang, rasakan bagaimana rasanya jadi orang kecil yang tidak punya kuasa."
Malam itu, Aris belajar bahwa di dalam penjara, keramik Italia dan status sosial tidak ada gunanya. Ia dihantam oleh kenyataan pahit bahwa setiap orang yang pernah ia injak sedang menunggu gilirannya untuk membalas. Ia menangis, memanggil nama ibunya, dan sesekali membisikkan nama Hana—bukan karena cinta, tapi karena ia menyesali mengapa ia kehilangan wanita yang selama ini ia anggap sebagai pelayan tak berharga.
Tiga hari kemudian, Hana sedang bersiap untuk berangkat ke kantor saat bel apartemennya berbunyi. Ia mengerutkan kening. Keamanan di sini sangat ketat, seharusnya tidak ada tamu yang bisa naik tanpa izinnya.
Hana melihat melalui lubang intip pintu. Jantungnya berdegup kencang. Di sana, berdiri seorang wanita tua yang tampak sangat ringkih, mengenakan kerudung yang miring dan baju yang terlihat kedodoran. Itu Ibu Salma.
Hana membuka pintu perlahan. Begitu pintu terbuka, Ibu Salma tidak memulai dengan makian seperti biasanya. Sebaliknya, ia langsung jatuh berlutut di atas lantai koridor yang bersih.
"Hana... Hana, tolonglah Ibu, Nak..." ratap Ibu Salma, suaranya parau dan bergetar.
Hana terpaku. Melihat wanita yang dulu begitu angkuh, yang selalu memerintahnya dengan telunjuk tajam, kini bersimpuh di kakinya dengan air mata yang membasahi lantai marmer.
"Bangun, Bu. Jangan begini," ucap Hana, suaranya tetap datar meski hatinya bergejolak. "Bagaimana Ibu bisa sampai ke sini?"
"Ibu minta tolong pada Pak Baskoro... Ibu memohon-mohon sampai Ibu pingsan di kantornya agar dikasih alamatmu," Ibu Salma mendongak, matanya yang mulai kabur menatap Hana dengan penuh permohonan. "Aris, Hana... Aris babak belur di penjara. Dia tidak kuat, Nak. Dia tidak pernah hidup susah. Tolong cabut laporan itu. Tolong bicara pada Pak Baskoro."
Hana menarik napas panjang, ia membiarkan Ibu Salma masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Ibu Salma menatap sekeliling apartemen dengan takjub sekaligus iri, namun ia segera menekan perasaan itu demi anaknya.
"Ibu ingat apa yang Ibu katakan padaku sebulan lalu?" tanya Hana sambil menyodorkan segelas air putih. "Ibu bilang aku ini menantu pembawa sial. Ibu bilang Aris bisa mencari istri mana pun yang lebih kaya dariku."
"Ibu salah, Hana... Ibu khilaf," tangis Ibu Salma pecah lagi. "Ternyata selama ini kamu yang menjaga rumah itu tetap utuh. Sejak kamu pergi, rumah itu seperti neraka. Maya tidak mau mengurus Ibu, dia malah kabur bawa sisa emas Ibu ke rumah temannya. Aris kena masalah hukum... Ibu tidak punya siapa-siapa lagi."
Hana menatap gelas di meja. "Ibu baru merasa kehilangan setelah tidak ada lagi yang bisa Ibu injak-injak. Ibu bukan rindu padaku, Ibu hanya rindu pada orang yang bisa Ibu perintah sesuka hati."
"Bukan begitu, Hana! Ibu janji, kalau Aris keluar, Ibu akan suruh dia minta maaf. Kalian bisa tinggal di rumah itu lagi, keramiknya sudah baru, terasnya sudah bagus—"
"Ibu masih bicara soal keramik?" Hana memotong dengan tawa getir. "Ibu, rumah itu bukan tempat tinggal bagiku. Itu adalah penjara selama lima tahun. Dan soal Aris... dia bukan lagi urusanku. Dia mencuri, dia memeras, dan dia menculik Gilang. Dia harus bertanggung jawab pada hukum."
Ibu Salma tiba-tiba berubah wajah. Wajah memelasnya seketika hilang, digantikan oleh gurat kemarahan yang tertahan. "Jadi kamu tega? Kamu mau jadi janda dan biarkan anakmu punya bapak narapidana? Apa kata orang nanti?! Kamu mau dianggap wanita yang menghancurkan keluarganya sendiri?!"
Hana berdiri, memberikan isyarat agar Ibu Salma juga berdiri. "Orang-orang akan bilang bahwa saya adalah wanita yang menyelamatkan anaknya dari ayah yang kriminal dan keluarga yang beracun. Silakan keluar, Bu. Saya harus bekerja."
"Hana! Kamu benar-benar keras kepala! Kamu akan kualat pada orang tua!" teriak Ibu Salma saat Hana menuntunnya keluar.
"Kualat itu untuk mereka yang menyakiti sesama manusia dengan sengaja, Bu. Saya hanya sedang berdiri di atas kaki saya sendiri," sahut Hana sebelum menutup pintu.
Di kantor, Hana disambut oleh Adrian di depan lift. Adrian memperhatikan wajah Hana yang tampak sedikit lelah.
"Ibu mertuamu datang?" tanya Adrian seolah ia sudah tahu segalanya.
Hana mengangguk. "Bagaimana Anda tahu?"
"Petugas keamanan lobi melapor ada wanita tua yang memaksa naik. Saya yang mengizinkannya, karena saya ingin tahu... apakah kamu masih memiliki kelemahan yang bisa mereka gunakan untuk menarikmu jatuh lagi," Adrian menatap Hana dalam. "Ternyata saya benar. Kamu sudah berubah."
Hana menatap jendela besar kantornya, melihat kemacetan Jakarta yang berkilauan di bawah sana. "Saya tidak berubah, Mr. Adrian. Saya hanya berhenti mengalah. Karena jika saya menyerah sedikit saja, mereka akan menghancurkan masa depan Gilang."
Malam itu, sebuah kabar baru muncul. Maya, adik Aris, dilaporkan ke polisi oleh temannya sendiri karena kedapatan mencuri uang di rumah tempat ia menumpang. Keluarga Aris yang tadinya merasa di atas angin, kini benar-benar berada di titik paling rendah dalam hidup mereka.
Hana duduk di meja kerjanya, membuka laptop, dan kembali fokus pada pekerjaannya. Baginya, setiap masalah yang ia selesaikan di kantor adalah satu langkah lebih jauh dari bayang-bayang rumah lama yang dingin itu. Ia telah selesai dengan kesabaran yang membabi buta, dan kini ia sedang menulis jalan hidupnya sendiri sebagai pemenang.