NovelToon NovelToon
Terikat Tanpa Pilihan

Terikat Tanpa Pilihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:62.5k
Nilai: 5
Nama Author: ludiantie

Tessa hanyalah gadis biasa yang hidupnya digerakkan oleh takdir dan kesalahan orang lain. Pernikahan mendadak dengan Nickolas Adhitama, pria kaya dan dingin, bukanlah pilihannya, tapi kenyataan yang harus dihadapinya.

Nick, yang terbiasa menguasai segalanya, kini berhadapan dengan Tessa, wanita lembut, teguh, tapi menantang yang membuatnya kehilangan kendali.

Sementara Tessa berjuang menjaga harga diri dan kemandirian, Nick harus belajar bahwa hati manusia tak bisa diatur dengan kekuasaan atau uang.

Di dunia di mana satu keputusan bisa menjadi perang psikologis, akankah cinta tumbuh di antara ketegangan dan luka masa lalu, ataukah mereka hanya menjadi tawanan takdir yang kejam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ludiantie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Langkah Tessa melambat ketika ia berdiri di depan rumah masa kecilnya.

Rumah itu tidak berubah.

Cat tembok yang mulai mengelupas. Pagar besi berkarat. Pot tanaman kering di sudut teras.

Namun perasaannya berbeda.

Ia tidak pernah menyangka akan kembali dengan status yang bahkan belum ia pahami sendiri, seorang istri, meski hanya sementara.

Tessa mengetuk pintu.

Beberapa detik kemudian, ibunya membuka dengan wajah lelah.

“Tessa?” alisnya terangkat. “Kamu pulang?”

Tanpa pelukan. Tanpa rindu.

“Iya, Bu.”

Ia melangkah masuk. Aroma minyak goreng dan udara pengap memenuhi ruang tamu sempit itu.

Ayahnya duduk di kursi rotan, wajahnya kusut, rokok menyala di antara jari-jarinya.

“Kamu kenapa pulang tiba-tiba?” tanyanya tanpa menoleh.

“Aku… mau bicara.”

Ibunya mendesah panjang. “Sekarang bukan waktu yang tepat.”

Tessa terdiam.

“Aku dijebak, Bu,” ucapnya akhirnya. “Temanku yang ngajak aku ke tempat itu. Dia bilang ada kerjaan event. Ternyata...”

“Sudah!” potong ayahnya keras.

Tessa terdiam, terkejut.

“Kami sedang pusing!” lanjut pria itu. “Jangan tambah masalah lagi!”

Masalah?

Ia hampir tertawa pahit.

“Aku hampir…” suaranya tercekat. “Aku hampir dilecehkan,”

Ibunya menoleh cepat. Tapi bukan dengan rasa khawatir, lebih pada kegelisahan.

“Jangan keras-keras ngomongnya,” bisiknya.

Tessa memandang mereka satu per satu.

“Kalian nggak mau tahu apa yang terjadi padaku?”

Ayahnya mematikan rokok dengan kasar.

“Yang penting sekarang hutang kita.”

Kata itu jatuh seperti benda berat.

“Hutang?”

Ibunya duduk pelan di sofa seberang.

“Usaha ayahmu gagal. Pinjaman menumpuk. Bunganya terus berjalan.”

Tessa merasa dadanya mengencang.

“Berapa?”

Tidak ada jawaban langsung.

Sampai sebuah suara lain terdengar dari arah pintu.

“Lima miliar.”

Tessa menoleh.

Seorang perempuan berdiri di ambang pintu tanpa permisi. Rambutnya disanggul rapi. Gaun merah anggun membungkus tubuhnya elegan. Senyumnya tipis, terlatih.

Sepasang mata tajam menilai Tessa dari ujung kepala hingga kaki.

“Kamu pasti Tessa.”

Perempuan itu melangkah masuk dengan percaya diri, seolah rumah itu miliknya.

“Siapa dia?” tanya Tessa pelan.

Ibunya menunduk.

Ayahnya tidak menjawab.

Perempuan itu tersenyum.

“Saya Madam Tifanny.”

Nama itu terdengar lembut. Namun nadanya tidak.

“Saya yang membantu keluarga kamu saat mereka hampir bangkrut.”

“Membantu?” Tessa menatap orang tuanya.

“Pinjaman,” koreksi Madam Tifanny ringan.

“Dengan kesepakatan.”

“Kesepakatan apa?”

Hening.

Madam Tifanny berjalan mengitari ruang tamu kecil itu, jarinya menyentuh punggung kursi, seperti sedang menilai barang.

“Awalnya mereka berjanji akan melunasi dalam satu tahun,” katanya santai. “Tapi ternyata… sulit.”

Tatapannya kembali pada Tessa.

“Kebetulan sekali kamu pulang.”

Jantung Tessa berdetak tidak nyaman.

“Apa maksud Anda?”

Madam Tifanny tersenyum lebih lebar.

“Kamu cantik, kulit putih bersih, masih muda. Pasti banyak yang tertarik.”

Ruangan terasa mengecil.

Ibunya menutup wajah dengan tangan.

Ayahnya memalingkan muka.

Tessa merasa dunia kembali berputar seperti malam di hutan itu.

“Kalian… menjualku?”

Suara itu hampir tidak terdengar.

“Kami tidak punya pilihan!” bentak ayahnya. “Kamu pikir uang lima miliar bisa turun dari langit?!”

“Aku anakmu!” teriak Tessa, untuk pertama kalinya.

Madam Tifanny bertepuk tangan kecil, seolah menikmati drama itu.

“Tenang. Tidak ada yang perlu berteriak.”

Ia mendekat pada Tessa, berhenti hanya beberapa langkah.

“Saya bukan orang jahat,” katanya lembut. “Saya hanya menjalankan bisnis. Kamu akan tinggal di tempat nyaman. Makan enak. Berpakaian bagus. Klien-klien saya orang penting.”

Tessa mundur satu langkah.

“Aku tidak akan ikut Anda.”

Madam Tifanny mengangkat alis tipis.

“Pilihan itu tidak sepenuhnya ada di tanganmu.”

Ia mengeluarkan map dari tasnya dan meletakkannya di meja.

“Kontrak pinjaman. Tanda tangan ayahmu. Ada klausul jaminan.”

Tessa menatap ayahnya.

“Klausul apa?”

Ayahnya tidak sanggup menatap balik.

“Jaminan keluarga,” jawab Madam Tifanny ringan.

“Jika gagal bayar, aset bergerak maupun tidak bergerak bisa dialihkan. Termasuk… anggota keluarga yang bersedia.”

Tessa tertawa kecil. Tidak percaya.

“Bersedia?”

Madam Tifanny tersenyum tipis.

“Secara hukum, kita bisa membuatnya terlihat bersedia.”

Darah Tessa terasa dingin.

Kemarin malam ia lari dari satu perangkap.

Dan hari ini, perangkap lain sudah menunggunya di rumahnya sendiri.

“Aku tidak akan tanda tangan apa pun,” katanya tegas.

Madam Tifanny tidak terlihat kesal.

“Saya tidak butuh tanda tanganmu hari ini.”

Ia melirik jam tangannya.

“Tapi saya tidak suka menunggu terlalu lama.”

Ia berjalan menuju pintu.

“Saya beri waktu dua hari untuk berpikir. Setelah itu… orang saya yang akan menjemput.”

Pintu tertutup.

Suara langkah sepatu Madam Tifanny menjauh.

Sunyi menekan ruangan kecil itu.

Tessa masih berdiri kaku di tengah ruang tamu.

“Jadi itu rencana kalian?” suaranya pelan. Terlalu pelan. “Menunggu aku pulang?”

Ibunya terisak. “Bukan begitu, Tess…”

“Lalu bagaimana?” Tessa menoleh tajam. “Kalian pikir aku tidak akan tahu?”

Ayahnya berdiri mendadak. “Kami tidak punya pilihan!”

“Kalian selalu bilang itu!” Tessa membalas, suaranya naik. “Dari dulu! Setiap kali ada masalah, aku yang harus mengerti!”

Ibunya menangis semakin keras. “Ibu juga sakit hati…”

“Sakit hati?” Tessa tertawa pahit. “Aku hampir dilecehkan kemarin, Bu! Aku lari dari orang-orang yang mau memperlakukanku seperti barang! Dan sekarang… rumahku sendiri melakukan hal yang sama!”

Ayahnya menggebrak meja. “Jangan berlebihan!”

“Berlebihan?” Tessa menatapnya tak percaya. “Lima miliar, Yah! Kalian tanda tangan kontrak tanpa pikir panjang! Tanpa tanya aku!”

“Itu untuk menyelamatkan keluarga ini!” bentaknya.

“Keluarga?” Suara Tessa pecah. “Keluarga tidak menjual anaknya!”

Ibunya bangkit, mendekat dengan tangan gemetar.

“Kami pikir… kalau kamu bekerja beberapa waktu saja… setelah hutang lunas..”

Tessa mundur satu langkah.

“Bekerja? padanya?” ulangnya lirih. “Ibu tahu "bekerja" yang Ibu maksud itu apa?”

Ibunya tidak sanggup menjawab.

“Aku anak Ibu,” suara Tessa bergetar hebat sekarang. “Aku darah daging Ibu. Bagaimana bisa Ibu duduk di sini dan membiarkan perempuan itu menawar hidupku?”

Ayahnya memalingkan wajah.

“Kalau bukan kamu, rumah ini disita,” katanya lebih rendah. “Kami bisa kehilangan semuanya.”

Tessa menatap sekeliling rumah itu.

Dinding retak. Sofa tua. Lantai kusam.

“Semuanya?” ia berbisik. “Apa yang sebenarnya ingin kalian selamatkan?”

Kalimat itu seperti menampar.

Ibunya terduduk kembali.

“Ayah tidak pernah bermaksud sejauh ini…” katanya lemah.

“Tapi Ayah tetap tanda tangan.”

Hening.

Air mata mengalir di wajah Tessa tanpa ia sadari.

“Seandainya kemarin malam aku tidak selamat…” katanya pelan, menahan napas yang gemetar. “Apa kalian akan tetap bilang tidak punya pilihan?”

Ayahnya terdiam.

Ibunya menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Tessa menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri.

“Aku datang ke sini karena aku pikir… setidaknya aku masih punya rumah,” suaranya melemah.

“Ternyata aku cuma punya alamat.”

Tidak ada yang menjawab.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Tessa merasa benar-benar sendirian.

Perlahan, tangan Tessa bergerak ke dalam tasnya.

Menyentuh sesuatu yang tadi hampir ia buang.

Kartu nama hitam dengan emboss perak.

Nickolas Fernandez.

CEO Adhitama Group.

Pria yang kemarin mengatakan mereka tidak perlu saling menghubungi kecuali soal administrasi.

Tessa menatap nomor telepon di kartu itu.

Jari-jarinya gemetar.

Ia tidak tahu apakah pria itu akan peduli.

Tapi untuk pertama kalinya sejak kembali ke kota, ia sadar satu hal,

Perceraian bukan lagi prioritas.

Karena sebelum itu terjadi, ia mungkin sudah tidak punya kebebasan untuk memilih apa pun.

1
Nur Halida
thor novel lucas greyson kenapa tiba2 hilang??🤔🥹
Zahraputri Putri
betulll..mending kmu pergi aja Cass jangan jadi bodoh
AstutieEcc
Nick bilang maaf aja, selesai masalah kalian, gemes dechhh/Angry//Angry//Angry/
Nur Halida
nick pasti akan menjadi suami dan ayah siaga tingkat dewa😁😁
Zahraputri Putri
sdh cukup cassandra jangan jatuhkn harga dirimu lebih dari ini,,tinggalkn orion buat dimenyesal banyak laki laki lain disana lebih baik dari dia,lagian kmu juga gk tau emaknya orion seperti apa,udh daripada sakit hati lebih dalam mending kmi pergi saja
Nur Halida
ayolah orion buka hatimu untuk cassandra
Nur Halida
ayolah orion buka aja sedikit hatimu untuk gadis setulis cassandra .. kamu harus bahagia dan melupakan tessa karena tessa sudah benar2 bahagia dengan nick
Nur Halida
itu baru bener nick.. kerena hidup berjalan kedepan 😁
Zahraputri Putri
sdh ya sdh dapat jodhnya masing masing,jadi fokus kedepan aja🤭jng lihat kebelakang lagi
Zahraputri Putri: paksa dia kk paksa 😁
total 2 replies
Nur Halida
akhirnya jodoh orion nongol juga hilalnya😊 .. keknya cassandra gadis tulus tinggal membuat orion move on aja ..
itsmecancer: mudah²an aja Orion gak rewel ya 😌
total 1 replies
Nur Halida
daniel.kalo masih jomblo mana paham apa yg terjadi tadi pagi hingga membuat mood nick jadi lebih manusiawi😁
itsmecancer: kasih paham say 🤫🤫
total 1 replies
Zahraputri Putri
sdh berani menggoda tessa🤭
dn nick kmu harus lebih santai ya jngn kaku kaku😁
Nur Halida
nick takut kamu kenapa2 tessa ...
itsmecancer: Nick makin overprotektif soalnya 🤫
total 1 replies
Nur Halida
itukan untuk kebaikanmu tessa apalagi kamu sedang hamil..
Zahraputri Putri
ternyata lucas Greysons sdh ada kamarnya sendiri😁
itsmecancer: Betul 😆 Lucas pindah rumah sekarang, sudah nggak jadi figuran lagi, sekarang dia jadi pusat masalahnya sendiri, kamu bakal lihat sisi dia yang beda disana, kalau sempat, boleh banget kenalan kesana juga ya☺️❤️
total 1 replies
Nur Halida
kenapa nick tidak mau lucas mengambil alih aset reymond??
bukannya dg begitu reymond jadi gak bisa ngapa2in karena dia jatuh miskin jafi gak mungkin balas dendam lagi ke nick kan??
itsmecancer: yang jelas Nick bukan orang yang kayak gitu...lagian itu bukan bagian dari kesepakatan☺️
total 1 replies
Nur Halida
kenapa keknya reymond ini lebih hebat dari nick ya .. buktinya dia tau kalo nick minta bantuan ke orang lain dan dia curiga ke lucas greyson ..
itsmecancer: karena dia main kotor beb... dan itu bukan dunia Nickholas
total 1 replies
Nur Halida
hancurkan reymond🤬🤬🤬
Nur Halida
jodohin orion dg gadis baik tulus dan ceria thor ..
kasihan banget lihat nick kesiksa ketika melihat orion orion dan tessa kek gitu
itsmecancer: nanti author pikir-pikir dulu 🤔
total 1 replies
Zahraputri Putri
udh thor buat sembuh aja orionnya ,gk tega lihat nick tersiksa bathin🤭
Zahraputri Putri: 🤣🤣tpi jangan lama lama dong kasian gk tega liatnya🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!