Sepuluh tahun bersahabat, satu menit untuk jatuh cinta, dan dua belas menit untuk mempertaruhkan segalanya.
Tepat pukul 23:48 di malam pergantian tahun, Arka memiliki satu misi gila: Menyatakan cinta pada Lala, sahabat masa kecilnya, sebelum kembang api pertama meledak. Namun, semesta seolah sedang bercanda. Mulai dari sinyal yang timbul tenggelam, serangan video call grup keluarga yang heboh, hingga baterai ponsel yang tersisa 1%.
Di tengah riuhnya Jakarta, setiap detik adalah pertaruhan. Apakah pesan "Aku suka kamu" akan sampai sebelum jam berubah menjadi 00:00? Ataukah Arka harus menahan rindu dan penyesalan satu tahun lagi?
"Ikuti perjalanan chat paling mendebarkan dalam 12 menit terakhir tahun ini!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Godaan untuk Menyerah
Bab 13: Godaan untuk Menyerah
Masih di menit yang sama, 23:48. Namun, stabilitas yang kucoba bangun melalui penyesuaian posisi berdiri di Bab 12 hancur dalam sekejap. Dorongan massa dari belakang membuat bahuku menabrak punggung Lala. Sentuhan itu melepaskan aliran listrik statis yang merambat dari titik kontak di deltoidku, naik ke saraf leher, dan meledak di pusat keragu-raguanku.
Seketika, sebuah opsi baru muncul dalam algoritma berpikirku: Aborsi misi.
Secara mikroskopis, aku memperhatikan ibu jariku yang menggantung kaku di atas layar. Otot opponens pollicis yang bertugas menggerakkan jempol kini mengalami tremor halus, sebuah manifestasi fisik dari konflik internal antara keinginan untuk maju dan insting untuk bertahan hidup. Menyerah bukan lagi sekadar kegagalan; ia tampak seperti jalan keluar paling logis, sebuah emergency exit yang sangat menggiurkan di tengah kepungan sesak Bundaran HI.
Aku mulai melakukan analisis perbandingan terhadap "Rasa Lega Semu" jika aku mematikan layar ponsel ini sekarang juga.
Jika aku memasukkan kembali ponsel ini ke saku jins kanan yang sempit, maka secara instan, semua tekanan biometrik ini akan hilang. Tekanan darah di pelipis (Bab 7) akan turun. Keringat di telapak tangan akan mulai menguap. Kursor yang mengejek (Bab 10) akan padam dalam kegelapan saku. Aku bisa kembali menjadi "Arka yang Sahabat", versi diriku yang aman, stabil, dan tidak memiliki risiko ditolak. Aku bisa terus berada di samping Lala, mencium aroma rambutnya (Bab 9), dan tertawa bersamanya tanpa perlu menghadapi kehancuran struktur hubungan kami.
"Kenapa aku harus melakukan ini?" tanyaku pada diriku sendiri.
Logikaku yang skeptis mulai membangun argumen yang sangat rasional untuk mundur.
Berdasarkan data observasi sepuluh tahun terakhir, status "sahabat" memiliki tingkat keberlanjutan (sustainability) sebesar 98%.
Sementara itu, transisi ke status "kekasih" membawa variabel ketidakpastian yang bisa menurunkan tingkat keberlanjutan tersebut hingga di bawah 15% jika terjadi konflik pasca-pengakuan. Secara statistik, tetap diam adalah strategi konservatif yang paling efisien untuk mempertahankan kehadiran Lala dalam hidupku.
Aku menatap sisi kepala Lala. Dia masih belum berbalik setelah tabrakan kecil tadi. Punggungnya terasa hangat melalui lapisan tipis pakaian kami.
Kehangatan itu adalah bukti nyata dari apa yang aku miliki sekarang—sesuatu yang nyata, fisik, dan ada. Jika aku mengetik karakter pertama, aku sedang mempertaruhkan kehangatan ini demi sebuah label yang belum tentu ia inginkan.
Godaan untuk menyerah ini terasa seperti tarikan gravitasi yang sangat kuat. Aku membayangkan tanganku meluncur ke bawah, membiarkan ponsel itu tersembunyi, lalu aku akan menarik napas panjang dan berkata pada Lala, "Wah, sudah mau 23:49 ya," seolah-olah tidak ada badai yang baru saja lewat di kepalaku.
Namun, di sela-sela analisis itu, muncul sebuah residu pikiran yang pahit. Jika aku menyerah sekarang, maka setiap detik di menit 23:48 ini akan menjadi hantu yang mengejarku selama sisa hidupku. Aku akan terjebak dalam simulasi "bagaimana jika" selamanya. Setiap kali Lala bercerita tentang pria lain di masa depan, molekul sulfur (Bab 9) dan kursor yang berkedip ini akan kembali muncul sebagai pengingat akan pengecutnya diriku di malam ini.
Secara fisiologis, aku merasakan dorongan fight-or-flight mencapai puncaknya. Kelenjar adrenal memompa epinefrin ke sistem sistemikku, membuat indra pendengaranku menjadi sangat tajam hingga aku bisa mendengar gesekan kain kemejaku sendiri. Aku menatap layar ponsel yang masih memancarkan pendar cahaya (Bab 8).
Cancel?
Delete draft?
Lock screen?
Jempolku bergerak satu milimeter menjauh dari layar. Sebuah gerak mundur yang signifikan. Aku merasa beban di dadaku sedikit berkurang hanya dengan memikirkan untuk berhenti. Ini adalah jebakan dopamin dari rasa aman. Tubuhku lebih memilih status quo yang menyesakkan daripada risiko baru yang mematikan.
"Arka, kok bengong?" Lala menoleh setengah, matanya menangkap kegelisahanku di bawah pendar lampu neon biru.
"Nggak, cuma... lagi mikir apa yang mau ditulis buat status nanti," bohongku. Suaraku terdengar serak, sebuah kegagalan akustik yang menandakan dehidrasi emosional.
Lala tertawa kecil. "Tinggal tulis 'Selamat Tahun Baru' aja apa susahnya?"
Apa susahnya? Baginya, kata-kata adalah udara. Bagiku, kata-kata adalah timah panas yang harus dicetak dengan presisi mikroskopis.
Ketidaktahuannya akan perang di dalam kepalaku justru membuat godaan untuk menyerah semakin kuat. Jika dia tidak tahu, maka tidak akan ada yang terluka jika aku membatalkan semuanya. Rahasia ini akan tetap menjadi rahasia, terkubur di bawah ubin Bundaran HI, hancur bersama partikel asap jagung bakar (Bab 2).
Aku membedah struktur emosional dari "Rasa Lega". Rasa lega yang didapat dari melarikan diri adalah rasa lega yang bersifat korosif. Ia akan memakan harga diriku sedikit demi sedikit di hari-hari mendatang. Aku akan melihat Lala dan hanya melihat kegagalanku sendiri yang terpantul di matanya.
Aku menatap kursor itu lagi. Kedipannya melambat di mataku, atau mungkin otakku yang mempercepat pemrosesan data.
Ada. Tiada. Ada. Tiada.
Ia bukan lagi bom waktu. Ia adalah pintu yang terbuka. Jika aku menyerah sekarang, aku sedang menutup pintu itu dan menguncinya dari dalam.
Aku akan tetap berada di dalam ruangan yang aman, namun ruangan itu akan semakin sempit seiring bertambahnya usia kami.
Secara fisik, aku merasakan otot-otot di pergelangan tanganku menegang kembali. Aku menolak tarikan gravitasi ke arah saku celanaku.
Aku melakukan perhitungan matematis terakhir: Rasa sakit dari penolakan berlangsung sementara (estimasi 6-12 bulan), namun rasa sakit dari penyesalan bersifat permanen (estimasi seumur hidup).
Logika rigor ini akhirnya mengalahkan insting bertahan hidupku. Menyerah adalah opsi yang paling merugikan secara jangka panjang.
Aku menghembuskan napas yang telah kutahan sejak Bab 12. Embusan napas itu membawa keluar sebagian dari keraguan yang mengkristal di tenggorokanku. Aku tidak akan memasukkan ponsel ini ke saku. Aku tidak akan menjadi pengecut di menit 23:48 ini.
Ibu jariku kembali mendekat ke permukaan layar. Kali ini, bukan dengan gemetar yang tak terkendali, melainkan dengan ketegangan yang terfokus. Aku memutuskan untuk membuang pintu darurat itu. Aku akan menghadapi risiko penolakan. Aku akan menghadapi kemungkinan kehilangan kehangatan di bahu Lala.
Karena di menit ini, di antara aroma sulfur dan kebisingan terompet, aku menyadari bahwa tetap menjadi "sekadar sahabat" adalah bentuk penyerahan diri yang paling menyakitkan.
Aku akan mengetik. Aku akan maju. Tapi sebelum itu, aku menyadari bahwa sistem pernapasan utamaku mulai gagal memberikan oksigen yang cukup ke otakku yang sedang bekerja keras.