NovelToon NovelToon
Ruang Rahasia Sang Pembantu: Aku Bukan Lagi Debu Di Kakimu

Ruang Rahasia Sang Pembantu: Aku Bukan Lagi Debu Di Kakimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Ruang Ajaib
Popularitas:14.4k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.

Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.

"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."

Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.

Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.

Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.

"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.

Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.

"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."

Ruang itu bersinar.

Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 - PAMAN YANG TIDAK ADA DI FOTO

Lily membaca pesan itu dua kali. [Namaku Hendra. Aku adik kandung ibumu. Pamanmu. Dan aku sudah mencarimu sangat lama, Lily.]

Dia berdiri di dapur dengan ponsel di tangan dan kepala yang tiba-tiba penuh dengan pertanyaan yang berebut keluar semua sekaligus. Adik kandung Mama. Paman. Mencari sangat lama.

Mama tidak pernah cerita punya adik. Tapi Mama juga tidak pernah banyak cerita soal keluarganya sendiri. Setiap kali Lily tanya waktu kecil, Mama selalu menjawab dengan versi yang pendek dan segera mengalihkan ke topik lain. "Keluarga Mama sudah tidak banyak. Kita fokus ke kita dulu ya, sayang." Waktu itu Lily terima saja. Anak delapan tahun tidak punya alat untuk mencurigai jawaban ibunya.

Sekarang Lily tiga kali lebih tua dari anak delapan tahun itu. Dan alat itu ada.

Dia mengetik balik. [Dari mana kamu dapat nomorku?]

Balasan datang dalam dua menit. [Dari pengacara lama ibumu. Dia minta aku hubungi kamu kalau waktunya sudah tepat. Maaf kalau terlambat, ada banyak hal yang harus aku bereskan dulu sebelum bisa menghubungimu dengan aman.]

Dengan aman.

Dua kata itu yang membuat Lily menarik napas dalam dan menyimpan ponselnya. Bukan karena tidak percaya, tapi karena dia butuh berpikir sebelum melangkah lebih jauh. Ruang rahasia semalam mengajarinya satu hal yang langsung terpakai, jangan bergerak karena emosi. Bergerak karena sudah tahu arahnya.

Malam itu Lily tidak bisa tidur, tapi bukan jenis tidak bisa tidur yang menyiksa seperti dua malam sebelumnya.

Dia berbaring di kasur tipisnya di kamar pojok belakang dan menatap langit-langit yang catnya sudah mengelupas di sudut kanan atas. Pikirannya bekerja dengan cara yang lebih rapi dari biasanya. Seperti meja yang baru dirapikan, semua benda masih ada tapi setidaknya kelihatan mana yang mana.

Mama punya adik. Adik itu mencarinya. Pengacara lama terlibat. Ada sesuatu yang perlu dilakukan dengan aman.

Di sisi lain, Nindi dan Dimas akan menikah bulan depan. Ayahnya tidak akan membiayai kuliahnya. Tante Sari ada di rumah ini dengan agenda yang belum sepenuhnya Lily mengerti.

Dan di sudut belakang halaman, ada gudang tua dengan pintu kecil yang menunggunya.

Lily memejamkan mata.

Besok. Semuanya bergerak besok.

Tapi besok datang dengan caranya sendiri.

Pagi itu Lily baru selesai menyapu teras depan ketika mobil masuk ke halaman, bukan mobil yang dia kenal. Sedan abu-abu dengan pelat luar kota, parkir dengan presisi yang terlalu rapi untuk orang yang baru pertama kali ke sini.

Pintu penumpang depan terbuka.

Laki-laki yang keluar usianya sekitar empat puluhan. Tinggi, rambutnya sudah ada putih-putihnya di pelipis, pakai kemeja batik lengan panjang yang tidak terlalu formal tapi juga tidak asal. Ada sesuatu di cara dia berdiri yang membuat Lily langsung tahu, orang ini tidak gugup. Dia sudah pernah bersiap untuk momen ini lebih lama dari Lily.

Matanya langsung mencari Lily. Dan ketika ketemu, ekspresinya berubah dengan cara yang tidak bisa dibuat-buat ... semacam lega yang bercampur dengan sesuatu yang lebih berat. Mungkin rasa bersalah. Mungkin kehilangan yang lama.

"Lily," katanya. Bukan pertanyaan.

Lily menurunkan sapu.

"Kamu Hendra," kata Lily.

Dia mengangguk. Melangkah mendekat tapi tidak terlalu cepat, seperti orang yang tidak mau membuat Lily mundur. "Aku tahu ini tiba-tiba. Aku minta maaf kalau..."

"Tunggu di sini sebentar."

Lily masuk ke dalam rumah, meletakkan sapu di sudut, dan menemukan Bibi Rah di dapur.

"Bi, ada tamu di depan. Tolong buatkan minum dulu ya. Aku bawa duduk ke teras samping."

Bibi Rah mengangguk tanpa tanya. Lily kembali ke depan.

Teras samping adalah sudut rumah yang jarang dipakai, ada dua kursi rotan dan meja kecil di antara pohon mangga yang sudah tidak pernah berbuah, agak tersembunyi dari jendela ruang keluarga. Lily yang pilih tempat ini karena satu alasan sederhana, tidak kelihatan dari dalam rumah.

Hendra duduk di kursi yang Lily tunjuk. Lily duduk di seberangnya dengan punggung tegak dan tangan di pangkuan.

"Kamu tahu aku dari mana?" tanya Lily langsung.

"Pengacara lama ibumu ... Pak Syarif. Dia yang pegang dokumen waris sejak ibumu meninggal. Aku dan Pak Syarif sudah lama mencoba cara yang aman untuk menghubungimu."

"Kenapa tidak dari dulu?"

Hendra mengeluarkan napas pelan. "Karena ayahmu punya cara membuat orang diam, Lily. Dan aku tidak mau menghubungimu sebelum aku punya cukup pegangan untuk melindungimu kalau situasinya memburuk."

Lily menatapnya. "Pegangan apa?"

"Dokumen. Bukti. Dan saksi." Hendra menatap balik dengan tenang. "Warisan ibumu bukan cuma sedikit. Ada tanah, ada rekening, dan ada saham kecil di perusahaan yang seharusnya jadi namamu waktu kamu delapan belas tahun. Semuanya ditahan."

Lily tidak bergerak.

Bagian dari dirinya ingin bertanya seribu hal sekaligus. Bagian lain, bagian yang semalam belajar di depan cermin di ruang yang tidak masuk akal itu memilih diam dan mendengarkan sampai selesai.

"Kamu percaya aku?" tanya Hendra.

"Belum," jawab Lily jujur. "Tapi aku mendengarkan."

Hendra mengangguk... bukan tersinggung, justru seperti menghargai. "Bagus. Jangan percaya aku dulu. Ini..." Dia mengeluarkan amplop dari tas di sampingnya, meletakkannya di meja antara mereka. "Baca ini dulu. Foto KTP-ku ada di dalamnya, akta kelahiran ibumu, dan surat dari Pak Syarif yang bisa kamu verifikasi sendiri."

Lily menatap amplop itu. Tidak langsung mengambil.

"Mama tidak pernah cerita punya adik," kata Lily.

Hendra diam sebentar. Ada sesuatu yang lewat di mukanya... cepat, tapi Lily tangkap. Bukan kebohongan yang disembunyikan. Lebih seperti kenangan yang menyakitkan yang sudah lama coba didamaikan.

"Ibumu melindungimu," katanya akhirnya. "Dia tahu situasinya berbahaya. Semakin kamu tidak tahu aku ada, semakin kamu aman."

"Berbahaya dari siapa?"

"Dari orang-orang yang tidak mau kamu tahu apa yang seharusnya jadi milikmu."

Bibi Rah datang dengan dua gelas teh. Meletakkannya di meja, melirik Hendra sekali, lalu pergi tanpa suara.

Lily mengambil amplop itu.

Membukanya dengan gerakan yang tenang meski jantungnya berdetak lebih keras dari yang dia mau akui.

Di dalam, foto KTP dengan nama Hendra Paramita. Akta kelahiran atas nama Wulan Dewi Paramita yang di kolom saudara kandung ada nama yang sama. Dan satu surat bermaterai dengan kop nama firma hukum, tertanda Syarif Nugraha, S.H.

Lily membaca surat itu dari awal sampai akhir.

Dua kali.

Tangannya tidak gemetar. Tapi di dadanya ada sesuatu yang bergerak ... bukan amarah, bukan tangis. Lebih seperti potongan puzzle yang terlalu lama hilang akhirnya ketemu, dan sekarang gambar besarnya mulai kelihatan meski belum lengkap.

"Pak Syarif bisa ditemui?" tanya Lily akhirnya.

"Bisa. Kapan pun kamu siap."

Lily melipatkan surat itu kembali dengan rapi, memasukkannya ke amplop, dan menyimpan amplop itu di balik celemeknya. Tempat yang tidak ada orang akan repot-repot memeriksa.

"Aku perlu waktu," katanya. "Beberapa hari."

"Aku tidak kemana-mana," kata Hendra. "Aku sewa tempat di sini. Selama yang kamu butuhkan."

Lily mengangguk. Berdiri.

"Satu hal," kata Hendra sebelum Lily masuk. "Jangan sebut nama aku ke ayahmu dulu. Tolong."

Lily hampir berkata bahwa dia memang tidak berencana menyebut nama siapa-siapa ke ayahnya sekarang. Tapi sebelum dia sempat menjawab, dari dalam rumah terdengar suara pintu dibuka keras.

Dan suara Tante Sari yang tiba-tiba ada di ambang pintu teras samping.

"Lily, siapa ini?"

1
sunaryati jarum
Ayah pengecut membiarkan putri kandung jadi pembantu untuk ibu tiri dan adik tiri di rumah peninggalan neneknya
sunaryati jarum
Semoga semua yang menjadi hakmu kembali
sunaryati jarum
Berarti ayahmu,Sari,Nindi dan Wulan tidak punya hak atas rumah peninggalan nenekmu.Benar- benar ayah tidak tahu diri
sunaryati jarum
Emak bingung terlambat dua puluh tahun, maksudnya
Erchapram: Maksudnya terlambat mengakui selama 20 tahun lamanya
total 1 replies
sunaryati jarum
Semoga tidak membayakan dirimu , Lyli
sunaryati jarum
Itu berita untuk membuat kamu goyah Lyli, teruslah maju
WeGe
kenapa ruang rahasia di gudang jadi nggak aman? semoga memindahkan dokumen ke kantor pak Syarif bukan sebuah jebakan. 😐
WeGe
ya karena ketahuan. coba kalau Lily diam sj, kan keenakan punya pembantu gratis. hukum juga sari ini lah Thor. enak aja lolos gitu doang/Smug/
WeGe
semoga
WeGe
aku masih nggak percaya padanya Lily. jangan lengah.
WeGe
pasti ada saja rencana jahat nya. hati" Lily.
asih
sudah masuk 40 bab .. mau ngejar baca tp waktunya g ada .. sudah sampai 70 bab sekarang ..Thor jangan ngebut updatenya
Erchapram: Gpp santai saja, baca kalo ada waktu. Aku kejar mau tamat sebelum lebaran. Terima kasih.
total 1 replies
sunaryati jarum
Sudah ada firasat bahwa gugatan Lyli akan berhasil
sunaryati jarum
Reynaldo selalu mengawasi Lyli,Lyli jadi semakin kuat dan tangguh serta selalu waspada
sunaryati jarum
Reynaldo mulai takut kalah ,semua nego untuk Lyli ditolak, orang tamak kini saatnya kau kalah dari generasi ketiga Nenek Suwarni
sunaryati jarum
Semakin menarik namun berat bagi emak
sunaryati jarum
Ayah pengecut tidak bisa melindungi istri dan putrinya pilih meyelamatkan diri, sekarang waktunya kau menebus Suharto walau kau masuk bui lakukan!!!
sunaryati jarum
Banyak dokumen resmi untuk mengambil hak Lyli yang diklaim orang lain, semoga bermanfaat,Lyli dan ada titik terang
sunaryati jarum
Ayah durhaka putri kandung dijadikan pembantu anak tiri dijadikan ratu, diakhir cerita ayah Lyli, Sari dan Nindi harus mendapatkan karma.Untuk Reynaldo dan kroninya harus dapat balasan setimpal
sunaryati jarum
Segera selesai dengan selamat, semua hak Lyli dapat dimilikinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!