Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.
"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak mencari tempat berteduh
Sebria mematung mendengar kalimat panjang itu keluar dari bibir Jehan. Tidak langsung menjawab ia mencoba mencerna. Sebagai wanita dewasa ia mengerti kemana arah kata-kata itu. Tapi kembali lagi siapa dirinya? Apa perasaannya?
...----------------...
Sebria tidak memilik kepercayaan diri lagi setelah dicampakkan dalam kekurangannya. Dan ia tidak ingin itu terjadi lagi diperjalanan hidupnya. Sebria mematung di sisi kasur memikirkan segala nya. Tahukah Jehan kalau dirinya tidak bisa memberikan anak? Karena itu ia di ceraikan Deric. Ungkapan tentang perasaan Jehan sama saja mengungkit luka lama.
"Kakak kenapa?" Keona masuk menghampiri Sebria duduk di tepi kasur.
"Jehan, mengungkapkan perasaannya. Dia tidak berkata langsung tapi kakak memahami nya."
"Lalu..."
"Kamu tahu, 'kan. Kakak bagaimana?" Senyum getir tidak percaya diri terbit di bibir Sebria.
"Sejujurnya aku tidak menyukai dia, Kak. Aku takut kakak terluka lagi. Sudah aku katakan ada cermin masa lalu di antara kalian. Dan aku tidak bisa mendefinisikan nya seperti apa. Aku tidak mau kakak sakit lagi."
"Kalau Byan. Kakak bisa menerima nya masalahnya ada di perasaan dan diri kakak. Kakak tidak sempurna, Keo. Kakak tidak bisa memberikan apa-apa."
...----------------...
Sinar matahari pagi menyelinap malu-malu di antara kelopak mawar yang masih berembun. Di sudut toko, di balik meja kayu yang harum aroma eucalyptus, Sebria duduk mematung. Jemarinya diam di atas secangkir kopi yang mendingin, sementara matanya menatap hampa pada deretan krisan putih.
Pikirannya tidak di sini. Di benaknya, kata-kata sang mantan kekasih masih bergema, sebuah pengakuan perasaan yang datang saat itu seperti bunga yang mekar di musim yang salah. Haruskah ia memangkas harapan itu sebelum tumbuh liar atau memberinya ruang untuk kembali berakar?
Sinar matahari semakin terang, namun bagi Sebria, pagi itu terasa abu-abu. Ia membelai kelopak bunga hydrangea yang mulai layu, persis seperti perasaannya yang lelah dipacu kenangan. Ia teringat bagaimana dulu mereka menyusun mimpi seperti batang pohon yang di tanam, sebelum akhirnya semuanya kering dan mati.
Pengakuan itu bukannya menghangatkan, malah terasa seperti embun yang terlalu dingin menusuk hingga ke tulang. Ia tahu, beberapa bunga memang tidak ditakdirkan untuk mekar dua kali di taman yang sama. Namun, untuk benar-benar membuang 'benih' itu ke tempat sampah, ia merasa belum cukup kuat. Di tengah harum semerbak tokonya, ia hanya bisa terdiam, membiarkan pertanyaan itu menggantung tak terjawab, menyatu dengan debu-debu yang menari di celah cahaya.
Sebria tetap bergeming, membiarkan lonceng pintu toko berdenting tertiup angin tanpa ada pelanggan yang masuk. Di tangannya, seangkut bunga-bunga kecil hanya dipandangi, tak kunjung dirangkai. Sebria seolah tersesat dalam labirin waktu, memutar kembali rekaman masa lalu yang kini tumpang tindih dengan pengakuan Jehan.
Dunia di luar sana mulai bising dengan deru kendaraan, namun di dalam toko ini, waktu seolah berhenti berputar. Ia tidak mencari solusi, tidak juga mencari pelarian. Sebria hanya membiarkan dirinya tenggelam dalam ketidakpastian yang menyesakkan. Baginya, menjawab perasaan itu berarti harus siap terluka lagi, sementara mengabaikannya berarti membunuh sebagian dari dirinya yang terlanjur menyayangi Byan. Pagi itu pun berlalu begitu saja, menyisakan dirinya yang masih duduk termenung, terjebak di antara bayang-bayang masa lalu dan kenyataan yang enggan ia hadapi.
"Hai..." Jehan datang membawa sekantong plastik buah jeruk sunkist. "Kenapa melamun?" Tanya nya lembut.
"Tidak apa-apa." Sebria tersenyum tipis.
Jehan menatap lamat. Hari ini ia datang tanpa Byan. Karena ingin bicara serius. "Kalau karena pernyataan ku waktu itu maka aku minta maaf tapi aku serius, Bria. Ingin memulai semuanya dari awal bukan cuma karena Byan butuh figur seorang ibu tapi karena aku memang mencintai kamu, Bria. Aku membutuhkan kamu dalam hidup ku. Aku jatuh cinta lagi sama kamu."
Manik mata Sebria berkaca-kaca lalu menarik nafas panjang. "Aku tidak sempurna, Je. Perceraian ku dengan Deric karena—"
"Aku tahu." Potong Jehan cepat. "Aku tahu alasan perceraian kalian. Disini aku yang paling bersalah, Bria. Andai saja aku tidak melakukan kesalahan maka kamu tidak mengalami penderitaan dan penghinaan itu. Aku yang menempatkan kamu dalam posisi ini." Air mata Jehan mengalir tanpa bisa di tahan. "Aku penyebab luka yang kamu alami, Bria..."
"Tidak, Je." Sebria ikut menangis. Tangannya terangkat mengusap air mata di pipi pria itu. "Berhenti menyalahkan diri kamu sendiri. Takdir tidak ada yang tahu." Sambungnya lagi.
Jehan menarik nafas panjang menguasai diri. "Aku tidak memaksa kamu untuk menerima aku dan Byan. Aku faham kamu terbebani dengan pengakuanku... Maaf aku tidak sensitif ada Byan di antara kita."
Sebria menggeleng cepat. "Aku bisa menerima Byan. Masalahnya..." Wanita itu terisak hebat sambil tertunduk. "Aku tidak bisa hamil, Je."
"Aku tidak mempermasalahkan itu." Jehan menggenggam kedua tangan Sebria. "Yang aku pertanyakan adalah perasaan mu?"
...----------------...
Di sudut kafe yang mulai remang, Keona menatap Jehan lekat-lekat saat hujan deras mulai menghantam kaca jendela, menciptakan suasana yang kian menyesakkan.
"Kakak saya itu seperti kaktus di rak paling belakang," Bisik Keona, suaranya parau tertelan suara rintik hujan. "Kelihatannya tangguh dan berduri tapi sebenarnya dia hanya mencoba bertahan hidup di tanah yang kering terlalu lama. Kehadiran putra Anda adalah hujan pertama yang dia rasakan setelah sekian tahun." Ia menunjuk ke arah pot bunga yang mulai layu di pojok ruangan. "Tapi hujan yang salah bisa membuat akar membusuk. Saya tidak akan membiarkan Anda datang hanya untuk memberikan harapan lalu menghilang saat musim berubah dan membiarkan kakak saya mati rasa lagi."
Jehan tertegun, genggaman tangannya pada cangkir teh yang sudah dingin tampak mengerat. Ia menunduk sebentar, memperhatikan pantulan dirinya di permukaan air, sebelum akhirnya mendongak dan menatap Keona dengan mata yang lelah namun jernih.
"Saya paham kekhawatiran kamu, Keona," Jawabnya pelan, suaranya tenang namun bergetar oleh kejujuran. "Saya tidak sedang mencari tempat berteduh. Sejak Kakak mu mengambil keputusan hari itu, hati saya sudah mati. Di pertemukan lagi saat ini, saya seperti menemukan setetes air di padang pasir yang luas." Jehan meletakkan cangkir itu, lalu menarik napas panjang. "Saya tidak bisa menjanjikan musim yang selalu cerah, tapi saya janji tidak akan membiarkan dia menghadapi badai sendirian lagi. Jika saya hanya ingin bermain-main, saya tidak akan menampakan diri di hadapannya."
Keona menatap tajam tidak berapa lama, ia bangkit meninggalkan Jehan sendirian. Dulu ia dengan mudah menyetujui Deric untuk menikahi kakak nya tapi kali ini. Keona harus lebih hati-hati. Jehan bergerak lebih cepat dari dugaannya.