Menikah tanpa kehadiran suami bukanlah impian Sheena. Ia terpaksa menandatangani dokumen pernikahan di catatan sipil hanya didampingi oleh ibu mertuanya, sementara Matthias—sang suami—lebih memilih merayakan kelulusan S2-nya di The Spire Of Wisdom tanpa sedikit pun memberi kabar.
Tiga bulan penuh pengabaian membuat hati Sheena mendingin. Saat Matthias pulang dengan aura black flag yang kaku dan dingin, Sheena dipaksa pindah ke mansion pribadi pria itu. Matthias bersikap seolah Sheena hanyalah orang asing yang menumpang hidup, karena hatinya masih tertahan pada sosok gadis kecil di halte bus bertahun-tahun lalu—satu-satunya orang yang membolehkannya menangis.
Matthias tidak sadar, sapu tangan yang ia simpan bagai nyawa adalah milik wanita yang kini ia abaikan di rumahnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, apakah Sheena masih mau menunggu pria yang sudah membuang waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama di Wilayah Kekuasaan
Jam dinding di kamar Matthias menunjukkan pukul sebelas malam. Suasana kamar yang biasanya terasa luas dan sepi, kini terasa begitu sempit dan penuh tekanan bagi Sheena. Ia sudah selesai mandi dan mengenakan piyama sutra panjang berwarna biru tua, namun ia masih berdiri kaku di depan cermin, berpura-pura sangat sibuk menyisir rambutnya yang sebenarnya sudah rapi.
Di belakangnya, Matthias sudah bersandar di kepala ranjang dengan kaus putih tipisnya. Pria itu sedang membaca buku, namun pandangannya sesekali melirik ke arah pantulan Sheena di cermin.
"Sampai kapan kau mau menyisir rambutmu, Sheena? Kau bisa botak kalau terus begitu," suara rendah Matthias memecah keheningan, terdengar sedikit jenaka namun penuh otoritas.
Sheena tersentak, tangannya gemetar. "A-aku hanya ingin memastikan tidak ada yang kusut."
"Kemari," perintah Matthias sambil menepuk sisi kosong di sampingnya.
Dengan langkah yang sangat pelan—nyaris seperti siput—Sheena mendekat dan merangkak naik ke atas ranjang. Ia mengambil jarak sejauh mungkin, tepat di pinggiran kasur, seolah ia bisa jatuh kapan saja.
Matthias menutup bukunya, meletakkannya di nakas, lalu mematikan lampu utama. Kini hanya tersisa lampu tidur yang temaram, memberikan nuansa kuning yang hangat sekaligus intim. Tanpa peringatan, Matthias menggeser tubuhnya mendekat, membuat Sheena menahan napas.
"Kau takut padaku?" tanya Matthias. Ia menopang kepalanya dengan satu tangan, menatap Sheena yang sedang memejamkan mata rapat-rapat.
"Tidak... aku tidak takut," bohong Sheena dengan suara mencicit.
Matthias mengulurkan tangannya, melingkarkannya di pinggang Sheena dan dengan satu tarikan lembut namun kuat, ia menarik tubuh mungil itu hingga merapat ke dada bidangnya. Sheena memekik pelan, tangannya secara otomatis bertumpu pada dada Matthias yang keras dan hangat.
"Kau berbohong. Jantungmu berdetak sangat kencang di sini," bisik Matthias, jemarinya menekan lembut bagian dada kiri Sheena.
Matthias tidak melakukan hal yang kasar. Ia justru menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka berdua, lalu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Sheena, menghirup aroma sabun bayi yang manis dari kulit istrinya.
"Matthias... kau bilang kau pusing semalam, sekarang apa lagi alasannya?" tanya Sheena mencoba mengalihkan suasana yang terlalu panas itu.
"Sekarang alasannya adalah aku tidak bisa tidur jika kau berada satu meter dariku," gumam Matthias serak. Ia mengecup bahu Sheena yang tertutup piyama, membuat Sheena bergidik nikmat. "Aku sudah terbiasa dengan aromamu sejak semalam. Jadi, jangan mencoba menjauh."
Sheena perlahan mulai tenang dalam dekapan raksasa itu. Ia merasa aman, meskipun hatinya masih berdebar. Namun, saat ia pikir mereka akan langsung tidur, Matthias tiba-tiba membalikkan tubuh Sheena agar mereka saling berhadapan.
Di bawah remang lampu, mata kelam Matthias tampak begitu dalam, seolah ingin menelan Sheena bulat-bulat. Ia mengusap bibir Sheena dengan ibu jarinya.
"Mulai malam ini, ini adalah tempatmu. Di pelukanku, di kamar ini. Mengerti?"
Sheena hanya bisa mengangguk lemah, terhipnotis oleh tatapan suaminya. Matthias kemudian mencium kening Sheena cukup lama, lalu turun ke hidungnya, dan berakhir dengan lumatan lembut di bibirnya—sebuah ciuman pengantar tidur yang membuat seluruh tulang Sheena terasa seperti jeli.
Malam itu, tidak ada kata-kata kasar, tidak ada ego yang menjulang tinggi. Hanya ada dua manusia yang mulai belajar berbagi ruang dan napas. Matthias tertidur dengan memeluk Sheena seperti memeluk harta karun yang paling berharga, sementara Sheena akhirnya menemukan bahwa dada bidang Matthias adalah bantal ternyaman yang pernah ia miliki.