Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Pemenang yang Sebenarnya
Hari lelang tiba dengan langit Jakarta yang berwarna abu-abu, seolah mencerminkan suasana hati Hana yang penuh dengan antisipasi. Ia tidak hadir secara langsung di gedung lelang untuk menjaga anonimitasnya. Sebagai gantinya, ia duduk di ruang kerjanya yang tenang, memantau setiap pergerakan melalui laporan langsung dari Baskara melalui telepon.
Di hadapannya, sebuah layar laptop menampilkan profil rumah lama itu. Gambar-gambar yang diambil oleh tim kurator bank memperlihatkan kondisi bangunan yang kini tampak menyedihkan. Taman depan yang dulu Hana rawat dengan telaten kini dipenuhi semak berduri. Cat dindingnya mengelupas, dan jendela-jendelanya tampak kusam seperti mata yang kehilangan harapan.
"Lelang sudah dimulai, Bu Hana," suara Baskara terdengar melalui speakerphone. "Ada tiga peserta lain selain yayasan kita. Tampaknya mereka adalah investor properti kecil yang ingin membagi rumah ini menjadi beberapa kontrakan."
Hana mengepalkan tangannya di bawah meja. "Jangan biarkan mereka mengambilnya, Pak Baskara. Ikuti terus instruksi saya."
Di ruang lelang, tensi mulai memanas. Harga penawaran terus merangkak naik, melampaui nilai limit yang ditetapkan bank. Salah satu peserta tampak sangat agresif. Melalui pesan singkat, Baskara memberi tahu Hana bahwa orang tersebut kemungkinan besar adalah orang suruhan, karena ia terus-menerus melihat ponselnya sebelum menaikkan tawaran.
"Satu miliar seratus juta," suara pelelang menggema.
"Satu miliar dua ratus juta," Baskara menyahut tanpa ragu.
"Satu miliar tiga ratus juta!" lawan mereka menaikkan harga dengan cepat.
Hana yang mendengarkan dari kejauhan merasa ada yang tidak beres. "Pak Baskara, siapa orang itu? Kenapa dia begitu ngotot dengan rumah yang kondisinya seburuk itu?"
"Saya sedang memastikannya, Bu. Tapi dia tampak tidak peduli dengan nilai asetnya. Dia seolah hanya ingin memastikan kita tidak mendapatkannya."
Hana terdiam sejenak. Pikiran strategisnya bekerja cepat. Jika ini adalah gangguan dari Victor Wijaya melalui kaki tangannya, maka ini bukan lagi soal properti, tapi soal harga diri. Victor ingin menunjukkan bahwa ia bisa mengontrol apa pun yang Hana inginkan.
"Naikkan ke satu miliar lima ratus juta, Pak Baskara. Jika dia masih melawan, biarkan dia menang," perintah Hana dengan nada dingin yang baru.
"Tapi Bu, itu jauh di atas harga pasar," Baskara mengingatkan.
"Lakukan saja."
Angka menyentuh satu miliar lima ratus juta. Peserta lawan tampak ragu sejenak, lalu dengan nekat berteriak, "Satu miliar enam ratus juta!"
Hana tersenyum kecil di balik telepon. "Berhenti, Pak Baskara. Biarkan dia menang."
Sepuluh menit kemudian, Baskara menelepon kembali. "Dia memenangkannya, Bu Hana. Maafkan saya. Tapi ada informasi baru. Begitu lelang selesai, orang itu segera menelepon seseorang dan menyebut nama 'Pak Victor'. Tebakan Ibu benar."
"Jangan minta maaf, Pak Baskara. Justru ini yang saya inginkan," sahut Hana dengan nada puas. "Victor baru saja membeli sebuah rumah rongsokan dengan harga dua kali lipat dari nilai aslinya hanya untuk membuat saya kesal. Dia tidak tahu bahwa saya punya rencana cadangan."
"Rencana cadangan?"
"Ya. Rumah itu memang penuh kenangan, tapi tanah di sebelahnya—tanah kosong yang cukup luas yang dulu digunakan Aris untuk parkir ilegal—ternyata juga akan dilelang sore ini oleh bank yang berbeda karena sengketa lama. Nilainya jauh lebih strategis untuk dijadikan shelter karena aksesnya langsung ke jalan utama. Victor terlalu fokus pada rumah lamanya sampai dia lupa memeriksa dokumen tanah sekitarnya."
Sore harinya, dengan strategi yang jauh lebih tenang, Hana berhasil mendapatkan tanah di sebelah rumah lama tersebut melalui yayasannya dengan harga yang sangat wajar. Victor memenangkan "monumen penderitaan" Hana, sementara Hana mendapatkan "fondasi masa depan" tepat di sampingnya.
Dua hari kemudian, Hana memutuskan untuk mengunjungi lokasi tersebut. Ia datang sore hari, saat sinar matahari mulai meredup. Ia berdiri di atas tanah kosong miliknya, menatap rumah lama Aris yang kini dimiliki oleh Victor Wijaya.
Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan rumah tersebut. Seorang pria keluar dengan setelan jas yang sangat rapi. Wajahnya tajam, dengan tatapan mata yang dingin dan penuh perhitungan. Itulah Victor Wijaya.
Victor berjalan mendekati pagar pembatas tanah, lalu menatap Hana yang berdiri hanya beberapa meter darinya.
"Selamat atas rumah barunya, Pak Victor," sapa Hana dengan nada datar. "Membeli rumah rongsokan dengan harga setinggi itu... saya tidak menyangka Direktur sekelas Anda punya selera yang begitu unik terhadap barang bekas."
Victor tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak sampai ke matanya. "Rumah ini punya nilai sejarah, Bu Hana. Saya suka memiliki sesuatu yang pernah membuat orang lain merasa hancur. Itu memberikan kepuasan tersendiri."
Hana melangkah mendekat ke arah pagar. "Sayangnya, Anda hanya membeli dindingnya, bukan jiwanya. Jiwa rumah itu sudah lama pergi bersama saya. Dan sekarang, tepat di samping bangunan yang Anda agung-agungkan sebagai simbol kemenangan, saya akan membangun tempat yang akan menghapus semua jejak kejahatan yang pernah dilakukan orang-orang seperti Anda dan ayah Anda."
Wajah Victor sedikit berubah saat Hana menyebut ayahnya. "Anda bermain api, Hana. Membawa-bawa nama orang yang sudah meninggal adalah langkah yang berbahaya."
"Api itu sudah membakar saya selama lima tahun, Pak Victor. Sekarang, saya hanya sedang mengembalikan abunya kepada pemilik aslinya," balas Hana. "Saya tahu apa yang terjadi dengan PT Anindita Jaya. Saya tahu ayah Anda adalah dalang di balik bangkrutnya ayah saya. Dan saya pastikan, setiap sen keuntungan yang Anda dapatkan dari menjatuhkan keluarga saya, akan saya tarik kembali melalui jalur yang sah."
Victor tertawa kecil, meski nadanya terdengar tegang. "Anda pikir Anda siapa? Seorang manajer yang baru naik pangkat? Proyek Vietnam itu hanya keberuntungan pemula."
"Mari kita lihat seberapa lama keberuntungan itu bertahan saat audit publik mengenai dana gelap keluarga Wijaya mulai tercium oleh otoritas Singapura," Hana menatap Victor tepat di matanya. "Saya tidak hanya mengelola uang, Pak Victor. Saya mengelola kebenaran. Dan kebenaran selalu punya cara untuk menemukan jalannya pulang."
Hana berbalik, berjalan menuju mobilnya tanpa menoleh lagi. Ia bisa merasakan tatapan tajam Victor di punggungnya, tapi ia tidak peduli. Ia baru saja melakukan deklarasi perang yang sesungguhnya.
Malam itu, Hana bertemu dengan Adrian di sebuah restoran kecil yang tersembunyi. Ia menceritakan konfrontasinya dengan Victor.
"Kamu sangat nekat, Hana," ujar Adrian, meski matanya menunjukkan kekaguman yang mendalam. "Victor Wijaya adalah pria yang tidak punya aturan. Dia bisa melakukan apa saja untuk melindungi nama baik keluarganya."
"Saya tahu. Tapi saya lelah terus-menerus bertahan," jawab Hana. "Sudah waktunya saya menyerang. Kita punya data audit internal yang mencurigakan dari vendor-vendor yang berafiliasi dengan Wijaya Group, kan?"
Adrian mengangguk. "Ya, dan saya sudah mulai menyusunnya. Tapi kita harus sangat berhati-hati. Satu langkah salah, dan kita bisa dituduh melakukan pencemaran nama baik korporasi."
Hana menyentuh tangan Adrian yang berada di atas meja. "Kita tidak akan salah langkah. Karena kita tidak sedang berbohong. Kita hanya sedang menunjukkan kepada dunia siapa mereka sebenarnya."
Di bawah lampu restoran yang temaram, Hana merasa sebuah kekuatan baru mengalir dalam dirinya. Sabar yang dulu ia habiskan kini telah berubah menjadi strategi yang mematikan. Ia tidak lagi hanya ingin bebas dari Aris; ia ingin memulihkan kehormatan keluarganya yang telah dihancurkan bertahun-tahun lalu.
Perang ini mungkin akan jauh lebih besar dan lebih berbahaya dari apa pun yang pernah ia hadapi sebelumnya. Namun, saat Hana menatap wajah Adrian yang suportif, ia tahu ia tidak akan pernah berjalan sendirian lagi.
Lampu-lampu Jakarta berkedip di luar sana, seolah-olah menjadi saksi bisu atas transformasi seorang wanita yang dulu hanya bisa menangis, kini telah menjadi seorang ratu di atas papan caturnya sendiri