NovelToon NovelToon
PEMBALASAN ISTRI Yang DITINGGALKAN

PEMBALASAN ISTRI Yang DITINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Penyesalan Suami
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.

Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.

Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.

Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Ketukan di pintu ruangan Elena terdengar dua kali sebelum pintu itu terbuka.

Ayahnya masuk tanpa menunggu jawaban, seperti biasa. Hendra Wirawan tidak pernah menunggu. Ia meletakkan map coklat tebal di atas meja Elena lalu duduk di kursi depan mejanya, menyilangkan kaki, menatap anaknya.

Elena menatap map itu. Lalu menatap ayahnya.

"Apa ini, Ayah?"

"Baca saja dulu."

Elena membuka map itu dan membaca dari awal sampai akhir. Pelan dan teliti. Ayahnya duduk diam selama Elena membaca, tidak ada yang perlu ia tambahkan, berkasnya sudah bicara mewakilinya.

Kontrak kerjasama antara Wirawan Group dan PT. Claresta Mitra Utama. Manajemen gedung komersial. Nilai yang tidak kecil. Dan nama di bagian pihak kedua yang membuat Elena berhenti sejenak.

Clara Claresta

Elena menutup map itu setelah selesai membanya, lalu menatap Ayahnya dan berbicara.

"Ayah tahu kalau Clara ada hubungannya dengan PT. Claresta?"

"Ayah langsung menyelidikinya." Ayahnya menjawab singkat.

"Sejak kapan?"

"Sejak kamu cerita." Ayahnya menatapnya. "Ayah diam bukan berarti ayah tidak bergerak."

Elena tidak bertanya lebih lanjut. Ia kenal ayahnya cukup baik untuk tahu bahwa Hendra Wirawan tidak pernah diam karena tidak tahu harus berbuat apa. Ia diam karena sedang melakukan sesuatu yang tidak perlu diumumkan kepada siapapun.

"Ada pertemuan bisnis minggu depan." Ayahnya berdiri. "Kamu yang putuskan mau hadir atau tidak. Kamu yang putuskan mau tanda tangan ini atau tidak." Ia berjalan ke pintu lalu berhenti tanpa berbalik. "Adrian dan Clara yang akan datang ke sini."

Elena mendongak. "Ke sini?"

"Mereka yang butuh kita, Elena. Bukan sebaliknya." Ayahnya menoleh sedikit. "Jangan lupa itu."

Pintu tertutup. Elena duduk sendirian. dan mulai berpikir.

Ia menatap map coklat di mejanya lama sekali. Lalu ia membuka laci paling bawah dan mengeluarkan map coklat tipis yang sudah ia simpan di sana sejak masuk bekerja, map yang belum pernah ia buka lagi sejak ia masukkan, yang isinya sudah ia hapal tanpa perlu membacanya lagi.

Surat cerai. Ia meletakkannya di samping map kontrak itu.

Dua map di atas mejanya. Lalu ia mengambil ponselnya dan mengetik pesan ke sekretarisnya.

"Pertemuan dengan PT. Claresta minggu depan, aku yang hadir mewakili Wirawan Group. Siapkan semua dokumen yang diperlukan."

Ia memasukkan map putih itu ke dalam tasnya. Menutup resleting. Lalu ia kembali ke berkasnya dan bekerja seperti tidak ada yang terjadi.

Satu minggu kemudian.

Ruang rapat Wirawan Group penuh hari itu.

Tim PT. Claresta sudah duduk di sisi kanan meja saat Elena masuk bersama sekretarisnya. Elena memperhatikan sekilas, ada beberapa orang yang tidak ia kenal, seorang sekretaris yang sibuk menyusun berkas, dan dua orang di ujung meja yang langsung berhenti bicara saat pintu terbuka.

Adrian dan Clara.

Clara kehilangan senyumnya sesaat, sebelum senyum itu kembali terpasang sempurna. Adrian tidak berhasil menyembunyikan apapun. Wajahnya berubah dengan sangat jelas, kaget, bingung, dan sesuatu yang lain yang terlihat seperti campuran antara tidak percaya dan marah.

Elena menarik kursi utama dan duduk, lalu membuka berkasnya.

"Selamat pagi. Saya Elena Wirawan mewakili Wirawan Group." Ia menatap seisi ruangan dengan tenang. "Mari kita mulai."

Rapatpun berlangsung selama dua jam. Elena memimpin setiap sesi, memeriksa setiap angka yang di persentase kan, meninjau kembali isi kontrak, klausul, tenggat waktu, semuanya ia periksa kembali dengan cermat.

Clara menjawab setiap pertanyaan dengan profesional dan senyum yang tidak pernah berubah. Suaranya lembut dan jawabannya selalu tepat. Tapi terlihat jelas tangannya menggenggam pena terlalu erat.

Adrian hampir tidak bicara. Matanya terlalu sering melayang ke arah Elena, bukan lagi terkejut, tapi sesuatu yang lain yang lebih tidak menyenangkan dari itu.

Saat rapat selesai semua orang mulai membereskan dokumen. Elena tidak bergerak. Ia menunggu sampai hampir semua orang keluar m, sampai hanya tersisa beberapa orang dari masing-masing tim.

Lalu ia mengeluarkan map coklat tipis dari tasnya. Ia berdiri dan berjalan ke arah Adrian. Meletakkan map itu di depannya.

"Ada satu dokumen lagi."

Adrian membukanya, lalu membaca. Wajahnya langsung berubah.

"Surat cerai." Ia mendongak ke Elena. Suaranya rendah tapi ada sesuatu di bawahnya yang mulai panas. "Kamu serius?"

"Sangat serius."

"Tidak." Adrian mendorong map itu. "Aku tidak akan tanda tangan ini."

"Adrian, jangan mempersulit...."

"Tidak, Elena." Suaranya naik. "Dan aku mau tanya sesuatu." Matanya menyapu ruangan, meja rapat yang panjang, logo Wirawan Group di dinding, sekretaris Elena yang berdiri tenang di sudut. "Ini semua milik keluarga kamu? Kamu Elena Wirawan? Putri Wirawan Group?"

"Iya."

"Delapan tahun." Adrian tertawa kecil, tawa yang tidak ada lucunya. "Delapan tahun kamu tidak bilang apa-apa."

"Kamu tidak pernah tanya."

"Itu tidak adil...."

"Tidak adil." Elena mengulang kata-kata itu dengan nada yang datar. Ia menatap Adrian dengan cara yang membuat kalimat selanjutnya yang mau ia ucapkan tertelan sendiri di dalam tenggorokannya. "Kamu bicara soal tidak adil."

Clara menyentuh lengan Adrian pelan dari sampingnya. "Adrian, mungkin kita bisa...."

"Sayang, jangan ikut campur dulu." Adrian menepisnya tanpa melihat ke arahnya.

Kata sayang jatuh di tengah ruangan seperti sesuatu yang tidak sengaja tumpah. Beberapa orang yang masih ada di ruangan itu tiba-tiba sibuk menatap dokumen masing-masing.

Clara tidak berkedip. Senyumnya tidak berubah.

Elena kembali meletakan map coklat itu ke hadapan Adrian.

"Saya harap, Pak Adrian bisa bekerja sama dengan baik."

"Elena ini tidak lucu!"

"Aku tidak sedang membuat lelucon, jadi tidak ada yang lucu disini."

"Kita harus bicara, Elena!" Adrian bangkit berdiri.

"Kita selesai untuk hari ini. Saya masih ada janji temu di luar. jadi Saya permisi dulu." Ia mengangguk ke sekretarisnya. "Ayo."

"Elena...." Adrian berteriak.

Tapi Elena sudah berjalan ke pintu.

1
Lili Inggrid
lanjut
Ovha Selvia
Pasti si clara lah pelakunya, klo si adrian mah ngikut2 aja..
Ovha Selvia
Waaah gak nyangka ternyata clara juga pintar, dia bahkan tau niatnya elena.. Elena, kamu harus selangkah lebih maju daripada pelakor.. Buktikan klo kamu seorang Elena Wirawan 💪
As Tini
yg kyk gini br AQ suka, hrs tegas berwibawa dan TDK menye"😄
As Tini
knp GK minta bantuan ke kluarga sndiri, pdhl kaya raya, demi anak hilangkan ego dan malu. pasti bklan di bantu kok, kasian ara
Sasikarin Sasikarin
lanjuuuuut 💪
Dessy C: siap kak 🫰
total 1 replies
arniya
mampir kak
Dessy C: makasih kak🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!