NovelToon NovelToon
00:00: 12 Menit Menuju Hatimu

00:00: 12 Menit Menuju Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Sepuluh tahun bersahabat, satu menit untuk jatuh cinta, dan dua belas menit untuk mempertaruhkan segalanya.

Tepat pukul 23:48 di malam pergantian tahun, Arka memiliki satu misi gila: Menyatakan cinta pada Lala, sahabat masa kecilnya, sebelum kembang api pertama meledak. Namun, semesta seolah sedang bercanda. Mulai dari sinyal yang timbul tenggelam, serangan video call grup keluarga yang heboh, hingga baterai ponsel yang tersisa 1%.

Di tengah riuhnya Jakarta, setiap detik adalah pertaruhan. Apakah pesan "Aku suka kamu" akan sampai sebelum jam berubah menjadi 00:00? Ataukah Arka harus menahan rindu dan penyesalan satu tahun lagi?

"Ikuti perjalanan chat paling mendebarkan dalam 12 menit terakhir tahun ini!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#1 Getar di Ujung Jempol

## **Bab 1: Getar di Ujung Jempol**

Dunia seharusnya sedang berpesta. Di sekelilingku, Jakarta sedang memamerkan keriuhannya yang paling maksimal. Namun, bagi pribadiku yang kini terjepit di antara ribuan manusia di Bundaran HI, dunia justru sedang menyusut hingga hanya menyisakan satu objek: sebuah layar ponsel berukuran enam inci yang terasa seperti bom waktu di telapak tanganku.

Waktu menunjukkan pukul 23:48. Dua belas menit sebelum semuanya terlambat.

Aku menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-paruku dengan oksigen yang terasa semakin menipis. Alih-alih mendapatkan kesegaran, aku justru menghirup aroma campuran antara mesiu kembang api yang belum diledakkan dan uap keringat dari kerumunan di sekitarku. Tanganku gemetar. Bukan gemetar karena dingin—karena malam ini suhu Jakarta terasa begitu lembap dan gerah—melainkan gemetar karena sebuah keputusan yang telah aku tunda selama sepuluh tahun.

Ibu jariku menggantung di udara, tepat di atas ikon *lock screen*. Aku bisa melihat pantulan wajahku sendiri di permukaan layar yang gelap. Wajah seorang pengecut. Wajah pria yang butuh waktu satu dekade hanya untuk berani membuka kunci ponselnya sendiri.

*Klik.*

Aku menekan tombol daya. Seketika, cahaya putih dari layar ponsel itu meledak, menusuk pupil mataku yang sudah terbiasa dengan kegelapan malam. Tingkat kecerahan layar yang mencapai delapan puluh persen terasa seperti lampu interogasi yang sedang menghakimi keragu-raguanku. Di permukaan *tempered glass* itu, aku bisa melihat jejak sidik jariku sendiri—lapisan tipis minyak dan keringat dingin yang membuat tekstur layar terasa licin sekaligus lengket di saat bersamaan.

Setiap kali jariku bergerak, ada gesekan mikro yang terasa kasar di ujung saraf jempolku. Ini adalah sensasi fisik yang sangat nyata, sebuah pengingat bahwa realitas tidak bisa lagi dihindari. Aku sedang berada di ambang jurang, dan ponsel ini adalah satu-satunya alat bantu yang aku miliki untuk melompat atau justru terperosok.

Aku mulai menyapu layar untuk memasukkan pola kunci. Gerakan sederhana yang biasanya kulakukan dalam waktu kurang dari satu detik itu kini terasa begitu berat. Jempolku terasa kaku, seolah-olah sendi-sendinya telah berkarat dalam hitungan menit. Aku harus melakukan konsentrasi penuh hanya untuk memastikan jariku tidak meleset dari titik-titik pola yang sudah kuhafal di luar kepala.

*Bzzzt.*

Ponsel itu memberikan getaran pendek saat pola terbuka. Getaran haptik itu terasa merambat dari permukaan kaca, menembus lapisan kulit ari, hingga ke jaringan otot di pergelangan tanganku. Itu adalah getaran yang sangat halus, namun di tengah keheningan batinku, ia terdengar seperti guntur yang memecah kesunyian.

Layar utama muncul. Ikon aplikasi WhatsApp berwarna hijau itu tampak seperti pintu menuju medan perang. Aku menelan ludah. Jakun di leherku naik turun dengan susah payah, terasa kering dan menyakitkan. Detak jantungku mulai melakukan improvisasi yang mengerikan; ia tidak lagi mengikuti ritme dentum *bass* dari panggung konser yang berjarak beberapa ratus meter dariku. Jantungku berpacu lebih cepat, menciptakan irama panik yang hanya bisa kudengar sendiri di dalam rongga dadaku.

Aku menatap jempolku lagi. Di bawah lampu kota yang berwarna kekuningan, kuku jempolku tampak memucat. Aku bisa merasakan denyut nadi di ujung jari tersebut—sebuah denyutan kecil yang berdetak setiap kali aku menekannya sedikit lebih keras ke permukaan layar.

"Arka?"

Suara itu lembut, namun bagi sarafku yang sedang menegang, itu terdengar seperti ledakan granat. Aku tersentak, hampir saja melepaskan peganganku pada ponsel yang licin itu. Aku tidak menoleh. Aku belum berani. Aku tahu itu suara Lala. Dia berdiri tepat di sampingku, hanya berjarak tiga puluh sentimeter. Aku bisa merasakan radiasi hangat dari tubuhnya yang sesekali bersentuhan dengan lenganku karena dorongan massa.

Aku tetap terpaku pada layar. Pikiranku mulai melakukan analisis objektif yang tidak perlu: *Berapa persen kemungkinan ponsel ini akan terlepas jika aku berkeringat lebih banyak lagi?* *Apakah casing silikon ini cukup mampu menahan gesekan jika aku tiba-tiba mengalami tremor hebat?*

Aku menyadari satu hal yang sangat mengganggu. Di permukaan layar ponselku, terdapat pantulan lampu-lampu gedung pencakar langit di sekitar Bundaran HI. Cahaya itu membentuk garis-garis neon yang melintang di atas aplikasi WhatsApp-ku. Hal itu membuat segalanya tampak semakin dramatis, seolah-olah aku sedang berada di dalam film *action* berbiaya tinggi, di mana aku adalah tokoh utamanya yang bertugas menjinakkan bom.

Namun, ini bukan bom. Ini lebih berbahaya. Ini adalah pengakuan.

Aku mulai membuka aplikasi chat itu. Daftar percakapan muncul, dan nama "Lala" berada di urutan paling atas. Terakhir kali kami bertukar pesan adalah dua jam yang lalu, saat aku menanyakan posisinya di kerumunan ini. Kini, kolom input teks itu kosong, menungguku untuk mengisi sesuatu yang akan mengubah hidup kami selamanya.

Jempolku kembali menggantung. Kali ini di atas keyboard virtual.

Aku merasa seolah-olah seluruh dunia sedang memperhatikan gerakan jempolku. Orang asing di sebelah kiriku yang sedang sibuk meniup terompet, ibu-ibu di sebelah kananku yang sedang menggendong anaknya, bahkan langit malam Jakarta yang pekat—semuanya seolah membisu untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh sepotong daging dan tulang yang disebut jempol ini.

Tekstur layar yang berminyak tadi kini mulai mengganggu fungsi *touchscreen*. Keringatku mulai mengumpul menjadi tetesan kecil di sudut layar. Aku harus mengusap jempolku ke celana jinsku yang kasar untuk mengeringkannya. Gesekan antara jempol dan kain jins itu memberikan sensasi panas yang singkat, seolah-olah aku sedang mengasah senjata sebelum bertempur.

Aku kembali menempatkan jempolku di posisi semula.

*Kenapa ini sangat sulit?* tanyaku dalam hati. Secara logis, mengetik tiga atau empat kata hanyalah masalah koordinasi motorik ringan. Secara mekanis, ini hanya membutuhkan daya tekan sebesar beberapa gram saja. Namun, beban emosional yang menempel di ujung jari ini terasa seperti aku sedang mencoba mengangkat gunung dengan satu tangan.

Aku bisa merasakan setiap inci dari permukaan *tempered glass* itu. Ada goresan halus di dekat tombol 'space' yang baru kusadari sekarang. Goresan kecil yang tak terlihat jika tidak dilihat dari sudut tertentu. Aku menelusuri goresan itu dengan ujung jariku, mencoba menunda detik yang terus berjalan.

Waktunya terus berdenyut di bilah status. 23:48. Detik terus merayap maju, tidak peduli betapa kerasnya aku memohon agar ia berhenti sejenak.

Aku menyadari bahwa detak jantungku sekarang sudah mencapai kecepatan yang berbahaya. Ada rasa nyeri tumpul di dadaku, sebuah peringatan fisik bahwa stres ini mulai melampaui batas kemampuan tubuhku untuk mengatasinya. Aku mencoba menarik napas kotak (*box breathing*), menghitung satu, dua, tiga, empat... namun suara sorak-sorai di kejauhan merusak hitunganku.

Aku kembali fokus pada jempolku. Cahaya dari layar ponsel kini menyinari sela-sela jariku, memperlihatkan detail pori-pori kulit dan bulu-bulu halus yang berdiri tegak karena sensasi merinding. Ini adalah puncak dari segala ketakutan sosial yang pernah kupelajari. Ketakutan akan penolakan. Ketakutan akan kehilangan satu-satunya orang yang membuat sepuluh tahun terakhir dalam hidupku terasa masuk akal.

Aku memejamkan mata sejenak, merasakan getaran bumi dari langkah kaki ribuan orang di sekelilingku. Saat aku membuka mata kembali, layar ponselku masih di sana. Tetap setia menunggu. Tetap menghakimi dengan kursor yang berkedip diam.

Aku menyadari bahwa 12 menit ini bukan hanya tentang sisa waktu di tahun ini. Ini adalah tentang sisa keberanian yang aku kumpulkan selama hampir empat ribu hari.

Jempolku bergerak turun sedikit. Sangat sedikit. Mungkin hanya satu milimeter. Aku bisa merasakan udara dingin di antara permukaan kulit jariku dan kaca ponsel. Jarak yang sangat tipis, namun terasa seperti jurang yang tak terseberangi.

Aku tahu, begitu aku menyentuh huruf pertama, tidak akan ada jalan kembali. Setiap getaran haptik yang akan muncul nanti adalah langkah kaki menuju titik tanpa kepulangan. Dan di menit 23:48 ini, di tengah riuh rendah Jakarta yang bersiap meledak dalam kegembiraan, aku hanya seorang pria dengan jempol yang gemetar, mencoba mencari tahu apakah cintaku akan berakhir dengan kembang api atau hanya sekadar centang satu yang membisu.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!