Tessa hanyalah gadis biasa yang hidupnya digerakkan oleh takdir dan kesalahan orang lain. Pernikahan mendadak dengan Nickolas Adhitama, pria kaya dan dingin, bukanlah pilihannya, tapi kenyataan yang harus dihadapinya.
Nick, yang terbiasa menguasai segalanya, kini berhadapan dengan Tessa, wanita lembut, teguh, tapi menantang yang membuatnya kehilangan kendali.
Sementara Tessa berjuang menjaga harga diri dan kemandirian, Nick harus belajar bahwa hati manusia tak bisa diatur dengan kekuasaan atau uang.
Di dunia di mana satu keputusan bisa menjadi perang psikologis, akankah cinta tumbuh di antara ketegangan dan luka masa lalu, ataukah mereka hanya menjadi tawanan takdir yang kejam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ludiantie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Di dalam rumah besar itu, Tessa dibawa ke sebuah kamar di lantai dua.
Kamar itu luas. Bersih. Terlalu rapi.
Pintu dikunci dari luar.
Ia berdiri di tengah ruangan, menatap jendela besar yang ternyata tidak bisa dibuka penuh.
Perangkap.
Ia menghembuskan napas panjang.
Madam tahu ia mencoba meminta bantuan.
Tapi Madam tidak tahu siapa yang ia hubungi.
Itu satu-satunya kartu yang tersisa.
Jika Nick tetap tidak peduli, maka setidaknya namanya tidak akan terseret.
Tessa tertawa kecil, pahit.
Langkah kaki terdengar mendekat lagi.
Pintu terbuka.
Madam berdiri di sana, wajahnya kembali lembut.
“Kita mulai besok,” katanya ringan. “Kamu akan belajar bagaimana menjadi aset yang layak.”
“Aku tidak akan menurut.”
“Oh, kamu akan menurut.” Tatapan Madam berubah dingin. “Semua orang menurut pada akhirnya.”
Ia berhenti sejenak di ambang pintu.
“Dan satu hal lagi,” katanya pelan. “Jika orang yang kamu hubungi itu benar-benar menganggapmu penting… dia akan datang menolongmu, tapi dia tidak akan bisa datang kesini tanpa pangkat dan kekuasaan,”
Senyum tipis muncul lagi.
“Kita lihat siapa yang bisa menolongmu dari sini.”
Pintu tertutup.
Kunci berbunyi.
Dan untuk pertama kalinya sejak malam itu,
Tessa merasa bukan hanya takut.
Tapi juga terluka.
Karena kemungkinan terbesar bukanlah bahwa Nick tidak tahu.
Melainkan bahwa ia tahu, dan tetap memilih diam.
Ponsel Nick bergetar saat ia masih berada didalam mobilnya,
Nomor tak dikenal.
Ia hampir mengabaikannya.
Hampir.
Tapi sesuatu dalam dirinya menekan tombol jawab.
“Adhitama.”
Suara perempuan yang halus dan terlatih menyapa dari seberang.
“Selamat malam, Tuan Nickolas. Saya berbicara atas nama Madam Tifanny.”
Tatapan Nick berubah, tapi nadanya tetap datar.
“Ya?”
“Kebetulan malam ini Madam mengadakan pertemuan tertutup. Beberapa mitra bisnis penting akan hadir. Nama Anda direkomendasikan sebagai calon investor potensial.”
Investor.
Waktu yang terlalu tepat untuk disebut kebetulan.
“Saya tidak merasa pernah menyatakan minat,” jawab Nick tenang.
“Minat bisa tumbuh setelah melihat langsung apa yang kami tawarkan,” balas suara itu halus. “Lokasi akan dikirimkan. Acara dimulai pukul delapan.”
Panggilan terputus.
Tidak ada basa-basi.
Nick menatap layar beberapa detik.
Undangan mendadak.
Di malam yang sama Tessa menghilang.
Dari jaringan yang sama.
Bukan kebetulan.
Ia membuka pesan masuk.
Alamatnya jelas.
Bukit Arwana.
Ia tertawa kecil tanpa humor.
“Jadi begini caramu,” gumamnya.
Ia bisa saja tidak datang.
Melapor ke pihak berwajib.
Menggunakan jalur resmi.
Tapi ia tahu jaringan seperti Madam tidak tumbang karena laporan biasa. Mereka punya perlindungan. Uang. Loyalitas yang dibeli mahal.
Kalau ia ingin melihat Tessa, ia harus masuk ke dalam.
Dan untuk masuk ke dalam, ia harus terlihat tertarik.
Nick kembali ke kantornya.
Ia membuka laptop. Mengakses laporan lama. Portofolio bisnis Madam yang terlihat legal di atas kertas, perusahaan konsultan, manajemen aset, lembaga pembiayaan.
Semua rapi.
Terlalu rapi untuk menutupi bisnis gelapnya,
Ia mengirim satu pesan pada asistennya.
“Siapkan profil investasi saya untuk proyek non-konvensional. Malam ini.”
Balasan datang cepat.
“Apakah aman, Pak?”
Nick berhenti sejenak sebelum menjawab.
“Tidak perlu aman.”
Ia berdiri, mengambil jas hitamnya.
Di cermin, ia melihat dirinya sendiri.
Tenang. Rasional. Terhitung.
Padahal di balik itu, ada satu hal yang tidak ingin ia akui,
Jika ia datang malam ini, itu bukan semata bisnis.
Dan bukan sepenuhnya penyelamatan.
Itu rasa bersalah.
Itu rasa penasaran.
Itu kebutuhan untuk memastikan ia tidak benar-benar menjadi pria yang memilih diam.
Mobilnya melaju menuju Bukit Arwana.
Gerbang tinggi mulai terlihat dari kejauhan.
Lampu-lampu taman menyala seperti menyambut tamu kehormatan.
Nick menghentikan mobil di depan pos keamanan.
“Saya diundang,” katanya singkat.
Petugas mengecek daftar.
Nama Nickolas Adhitama tercantum jelas.
Madam memang menginginkannya di dalam.
Gerbang terbuka perlahan.
Saat mobilnya masuk ke halaman luas itu, satu hal menjadi jelas,
Apa pun yang terjadi malam ini,
ia tidak lagi sekadar pengamat.
Dan di dalam rumah besar itu,
Tessa tidak tahu bahwa pria yang ia telepon semalam
sedang berjalan masuk ke tempat dimana ia ditahan.
Bukan sebagai pahlawan.
Tapi sebagai pemain baru dalam sistem yang kejam.
Nick memasuki ruang acara Madam Tifanny dengan langkah tenang. Lantai marmer mengilap memantulkan cahaya lampu gantung yang hangat, aroma parfum mahal dan kayu tua memenuhi udara.
Musik jazz lembut mengalun, tapi bukan untuk menghibur, melainkan untuk menutupi bisik-bisik strategi dan negosiasi yang akan terjadi malam ini.
Madam Tifanny berdiri di dekat pintu, gaun hitam panjangnya sempurna menempel di tubuhnya, rambutnya tersisir rapi. Senyumnya tipis, tapi matanya penuh perhitungan.
Saat Nick melangkah masuk, ia menegakkan tubuhnya, menilai setiap detail pria itu, jas hitam rapi, jam tangan mewah, aura dominasi yang sulit disembunyikan.
“Nickolas Fernandez Adhitama,” ucap Madam, suaranya lembut tapi jelas terdengar oleh semua yang hadir. “Selamat datang.”
Nick mengangguk singkat, ekspresi wajahnya tetap dingin, profesional, tanpa senyum, tanpa keramahan palsu.
Madam Tifanny menyingkir sedikit, memberi jalan. “Silakan, Malam ini adalah acara tertutup… tapi saya ingin menekankan, kehadiran anda selalu kami tunggu, Kami tahu reputasi dan posisi yang anda miliki, Privilege malam ini adalah milik anda.”
Nick mengamati ruangan, menghitung kemungkinan.
Ia tahu semua mata tertuju padanya. Tidak ada media, tidak ada yang bisa menuntut hanya beberapa pria berpengaruh yang siap bertransaksi, tapi posisi Nick lebih tinggi dari sebagian besar mereka.
“Terima kasih,” jawab Nick singkat. Suaranya rendah, tenang, seperti sedang membaca peta strategi.
Madam Tifanny melangkah lebih dekat, menatap Nick. “Saya tidak menyambut banyak orang dengan cara ini. Tapi anda… berbeda. Bukan hanya karena kekayaan, pangkat, dan posisi, tapi juga pengaruh anda yang saya hormati. Malam ini, anda adalah tamu kehormatan saya.”
Nick mengangguk lagi, tidak tersentuh oleh pujian. Ia tidak datang untuk sanjungan, ia datang untuk melihat posisi Tessa, dan menilai situasi sebelum bertindak.
“Silahkan duduk, Tuan Adhitama,” Madam melanjutkan, menyingkirkan kursi di samping meja panjangnya. “Minuman apa yang anda inginkan? Segala sesuatu tersedia. Silakan pilih.”
Nick tetap berdiri beberapa saat, matanya menelusuri ruangan, lalu perlahan duduk di kursi yang disediakan.
Setiap gerakannya terukur, setiap detik diamnya membuat beberapa pria yang hadir menahan napas.
Madam Tifanny tersenyum tipis, menyadari bahwa ia tidak bisa menekan Nick terlalu jauh. Menghadapi orang sekelas Nick, kesalahan sekecil apa pun bisa berbalik menghancurkan bisnisnya.
“Jadi, anda sudah siap melihat tawaran kami malam ini?” tanya Madam, suara tetap manis tapi tajam.
Nick menatapnya langsung. “Hm, malam ini saya di sini bukan untuk basa-basi.”
Madam Tifanny mengangguk. “Baik. Saya akan menampilkan… apa yang harus anda lihat.”
Di luar kata-kata itu, Nick tahu malam ini adalah permainan kekuasaan, tapi ia adalah satu-satunya yang bisa mengatur jalannya permainan. Dan tamu kehormatan ini bukanlah seseorang yang bisa dimanipulasi.
capek banget keknya jadi tessa
kalo aku jadi tessa keknya gak akan sanggup deh soalnya aku gtogian arangnya😁🤭
sweet banget😍😍😍
padahal baru kenal tessa tapi di bertanggung jawab dengan statusnya sebagai suami dg begitu sempurna