NovelToon NovelToon
Cariad

Cariad

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Zion Mateo Lopez adalah definisi dari kesombongan masa muda, tampan, kaya, dan tak terkalahkan. Baginya, Cassie Vorcan hanyalah sebuah target dalam taruhan mahal bersama teman-teman elitnya di SMA Chicago. Namun, apa yang dimulai sebagai permainan kotor berubah menjadi jeratan perasaan yang nyata. Selama dua tahun, Zion jatuh hati sedalam-dalamnya, mencintai Cassie lewat tindakan protektif dan rencana masa depan yang matang di California.
Di sisi lain, Cassie gadis panti asuhan yang pintar dan dingin akhirnya meruntuhkan seluruh benteng pertahanannya demi Zion. Dia percaya telah menemukan rumah, hingga sebuah rahasia di ponsel Zion menghancurkan dunianya: bukti bahwa dia hanyalah "barang taruhan" yang sukses ditaklukkan.
Beberapa Tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di Chicago dalam sebuah proyek besar. Zion kini adalah pria dewasa yang dihantui penyesalan, sementara Cassie telah menjelma menjadi arsitek sukses yang lebih angkuh dan tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#20

Malam di mansion keluarga Lopez biasanya sunyi dan dingin, namun di dalam kamar utama yang temaram, suasana terasa sangat berat oleh ketegangan yang belum tuntas. Logan sudah tertidur pulas di tengah ranjang besar itu, menjadi pembatas fisik antara dua orang yang sepuluh tahun saling merindu namun terhalang oleh ego dan luka.

Pukul sepuluh malam tepat. Di atas nakas kayu mahoni di sisi Zion, sebuah ponsel bergetar hebat, memecah kesunyian. Cahaya layarnya menyilaukan mata Cassie yang sedari tadi hanya berpura-pura memejamkan mata.

Zion mengerang pelan, lalu menyambar ponselnya dengan gerakan kasar. Ia melirik Cassie sekejap, memastikan wanita itu tidak terganggu, sebelum mengangkat telepon dengan nada suara yang sangat dingin, nada yang belum pernah Cassie dengar sebelumnya.

"Sayang... apa kamu sudah tidur?" suara wanita dari seberang telepon terdengar manja, cukup keras untuk ditangkap indra pendengar Cassie.

Zion mendesis, matanya menatap langit-langit dengan penuh kejengkelan. "Kau pikir jam berapa sekarang? Apa kau buta? Jam sepuluh, tentu saja aku akan tidur!"

"Tapi Zion, aku ingin..."

"Jangan pernah telepon aku lagi. Kita putus."

Klik.

Zion mematikan sambungan itu secara sepihak dan melempar ponselnya ke ujung nakas seolah benda itu adalah sampah.

Cassie, yang mendengar setiap kata kasar itu, merasa jantungnya mencelos. Apa? Dia sekasar itu pada kekasihnya? pikir Cassie. Selama ini ia mengira Zion adalah pria pemuja wanita yang manis, namun kenyataan bahwa Zion bisa memutus hubungan secepat kilat hanya karena telepon di jam tidur membuatnya cukup terkejut.

Tanpa sadar, Cassie berdehem keras, sebuah reaksi spontan yang menandakan ia terjaga.

"Ow... pacarmu menelepon?" sindir Cassie, suaranya terdengar jernih di kegelapan.

Deg. Zion tersentak. Ia menoleh cepat ke arah Cassie. "Cassie... kau belum tidur? Kumohon, dengarkan penjelasanku. Dia hanya..."

"Tidak perlu," potong Cassie dingin, meski hatinya berdebar. "Aku tidak mau sibuk mengurusi hidupmu. Kita bukan siapa-siapa, Zion. Kau bebas memaki kekasihmu atau gonta-ganti pasangan setiap jam. Itu bukan urusanku."

Kata-kata "Kita bukan siapa-siapa" menghantam Zion lebih keras daripada kecelakaan balap mana pun yang pernah ia alami. Putus asa dan didorong oleh rasa rindu yang sudah mencapai puncaknya, Zion tidak tahan lagi. Ia bergerak gesit, memutari ranjang besar itu dengan langkah kaki yang nyaris tak terdengar agar tidak membangunkan Logan.

Tiba-tiba, Cassie merasakan beban di sisinya. Zion sudah berada di sana, langsung merengkuh tubuh Cassie ke dalam pelukan yang sangat erat. Cassie tertegun. Ia ingin berteriak, ingin mendorong pria itu, namun tubuhnya justru berkhianat. Aroma maskulin Zion, campuran antara parfum mahal dan sisa-sisa aroma tubuhnya yang khas, menyerbu indra penciuman Cassie, membangkitkan memori-memori yang selama ini ia kunci rapat di London.

Cassie tidak menolak. Sejujurnya, di balik semua makiannya tadi siang, ia sangat merindukan cowok gila ini. Dan malam ini, keberadaan Logan di antara mereka seolah menjadi izin tak tertulis bagi tubuh mereka untuk kembali bersatu.

Namun, pelukan itu tidak berhenti di sana. Atmosfer di dalam kamar itu mendadak berubah, menjadi lebih panas dan menyesakkan. Tangan Zion yang besar mulai bergerak dengan hafal, menyusuri lekuk tubuh Cassie yang sangat ia kenali. Zion adalah navigator yang tidak pernah lupa jalan pulang pada tubuh Cassie.

Zion mulai mengecup bahu Cassie, berpindah ke leher dengan napas yang memburu. Sentuhan-sentuhan kecil itu membuat pertahanan Cassie runtuh seketika. Ia terpaksa bergeser hingga ke pinggir ranjang agar gerakan mereka tidak mengguncang Logan yang sedang terlelap.

"Zion... jangan..." desis Cassie, namun tangannya justru mencengkeram rambut Zion, menarik pria itu lebih dekat. "Anakmu akan terbangun, astaga... Zion!"

"Dia tidak akan bangun, sayang. Dia tidur sangat lelap seperti aku," bisik Zion dengan suara serak yang seksi.

Malam itu, ketegangan di kamar utama mansion Lopez mencapai titik didihnya.

Zion menatap putra kecilnya dengan penuh kasih, lalu beralih ke Cassie yang tampak tegang di pinggir ranjang. Dengan gerakan yang sangat hati-hati dan lembut, Zion membungkuk, mengangkat tubuh Logan yang ringan ke dalam dekapannya. Ia membawa Logan melewati pintu penghubung menuju ruang kerja pribadinya yang sangat luas. Di sana, terdapat sebuah sofa daybed berbahan beludru yang ukurannya hampir sebesar ranjang king, tempat Zion biasanya tertidur saat kelelahan bekerja.

Setelah memastikan Logan terlelap dengan nyaman dan menyelimutinya hingga ke dada, Zion menutup pintu penghubung itu perlahan. Ia kembali ke kamar utama, mengunci pintu, dan menatap Cassie yang kini berdiri mematung di dekat jendela.

"Sekarang hanya ada kita, Cassie," bisik Zion, suaranya serak karena gairah yang sudah tertahan selama satu dekade.

Zion melangkah mendekat, memojokkan Cassie di antara tubuhnya dan jendela besar yang menampilkan kerlap-kerlip Chicago. Ia langsung memeluk Cassie, sebuah pelukan yang sangat posesif. Cassie mencoba memberontak kecil, namun aroma tubuh Zion dan sentuhan tangannya di pinggang Cassie membuat pertahanannya luruh. Penyatuan yang tidak direncanakan itu pun meledak begitu saja.

Zion mengangkat tubuh Cassie, membawanya ke ranjang besar yang kini kosong. Atmosfer di kamar itu berubah menjadi sangat panas dan mendesak.

"Ahhh... Zion, jangan terlalu banyak bergerak, kumohon... pelan-pelan," rintih Cassie pelan, suaranya tertahan di balik bantal karena rasa takut yang bercampur dengan nikmat. "Anakmu akan terbangun mendengar suara kita, astaga... Zion, berhenti!"

Zion justru semakin menekan tubuhnya, ia memberikan ciuman-ciuman panas di sepanjang garis rahang Cassie. "Tenang, Sayang... kamar ini dirancang khusus. Suara dari sini tidak akan sampai ke ruang kerjaku. Logan tidak akan mendengar apa pun kecuali mimpinya sendiri."

"Dasar gila! Ini tetap terlalu... Ahh, sakit Zion! Kau sungguh kasar," racau Cassie. Sepuluh tahun tidak disentuh membuat tubuhnya terasa sangat sensitif, sementara Zion bergerak dengan kekuatan yang meluap-luap, seolah ingin mengganti semua waktu yang hilang.

Racauan malam itu benar-benar konyol. Di satu sisi Cassie mengkhawatirkan Logan, namun di sisi lain ia tidak bisa menampik betapa ia merindukan Zion yang dominan.

"Zion, kumohon... jangan membuat tanda!" desis Cassie saat merasakan bibir Zion mulai mengisap kulit lehernya dengan liar. "Besok ada pertemuan dengan Mommymu! Buat di tempat lain saja, jangan di leher!"

Zion mendongak, matanya yang gelap menatap Cassie dengan tatapan penuh pemujaan sekaligus nafsu yang membara. "Sayang, kumohon... boleh ya di leher? Aku ingin melihatnya besok dan tahu kau milikku."

"Astaga, tidak! Di dada saja, Zion! Di tempat yang tertutup baju!" Cassie memohon dengan napas yang tersenggal-senggal. "Kumohon pelan-pelan... kau sungguh berat, astaga! Oh tidak... pinggangku..."

Zion terkekeh pelan, namun ia tidak berhenti. Ia justru semakin dalam memberikan penyatuan itu, membuat Cassie kehilangan kata-kata dan hanya bisa mencengkeram sprei sutra di bawahnya. Zion seolah hafal setiap titik yang bisa membuat Cassie melayang.

"Pinggangmu akan terbiasa, sayang," bisik Zion tepat di telinga Cassie. "Aku akan menjagamu sepanjang malam. Tidak akan ada lagi pelarian ke London. Tidak akan ada lagi rahasia."

Penyatuan malam itu bukan hanya soal gairah fisik, tapi sebuah deklarasi kepemilikan. Setiap desahan Cassie dan setiap gerakan Zion adalah bentuk permintaan maaf dan penerimaan yang tidak terucapkan. Di bawah lampu tidur yang temaram, mereka kembali menjadi satu, menghapus jarak sepuluh tahun yang penuh dengan botol whisky dan air mata kesepian.

"Aku mencintaimu, Cassie. Selalu," gumam Zion di puncak penyatuan mereka.

Cassie tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya memeluk leher Zion erat-erat, membiarkan air mata haru jatuh di bahu pria itu. Ia tahu, setelah malam ini, ia tidak akan pernah bisa benar-benar membenci Zion lagi, karena separuh jiwanya memang selalu tertinggal pada pria brengsek yang kini menjadi ayah dari anaknya ini.

Zion akhirnya merebahkan tubuhnya di samping Cassie, menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Mereka berbaring di sana, mendengarkan detak jantung masing-masing yang perlahan mulai melambat, sementara di ruang sebelah, Logan tertidur dengan tenang, tidak menyadari bahwa malam itu, dunianya yang retak telah disatukan kembali oleh kedua orang tuanya.

🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Era Simatupang
aduh GK bisa nebak endingnya gmna, makin seru thor
ros 🍂: coba di tebak dulu kak 🤣🙏
total 1 replies
awesome moment
wkwkkwkwkwk...benang yg mbulet
awesome moment
logan n tll sombong dan...ogah blajar dri pengalaman jd...kalah pintar sm keledai
ros 🍂: mari kita kasih paham si logan Kak🤭🤣
total 1 replies
Manis
good issa👍👍👍
Fadhliyah
part paling menyedihkan. aku sampai jeda membaca Krn ikut nangis. malu ketahuan orang😭😭
ros 🍂: Terharu 😭😭😭🥰
total 1 replies
awesome moment
mmg terbuka soal hati tu g gampang
awesome moment
logan sdh dpt rumah
awesome moment
tu lah knp. menangislah saat berdo'a. krn smua akan mengabur
awesome moment
wkkwkwkwk...mo semarah p pun. sebenci p pun. kn d anak.
awesome moment
biar mrk 😭😭😭darah dlu. biar mrk menghargai org
awesome moment
baiknya mmg bgitu. biar zion...bisa menghargai
awesome moment
bagoosh. biar nyesel bin nyesek dlu
awesome moment
twins tu CCTV yg sgt kompeten
awesome moment
laxia n cerdas jg plus sarkastik
awesome moment
CCTV yg sgt detail. bahkan baca gerak bibir😄😄😄
ros 🍂: haha🤣
total 1 replies
awesome moment
hebat
awesome moment
nikmati penyesalanmu, Zion. hati manusia tu yg jd taruhan
awesome moment
logan sdg membohongi diirnya sndiri
awesome moment
bnr2 absurd
Rahayu Ayu
Baik banget dih keluarga Lopez,
mau menerima Cassie dan Logan dengan tangan terbuka,
tanpa memandang status.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!