Bagi Liana, mencintai Justin dimulai dari sebuah sore di lobi kampus. Hanya karena melihat Justin bermain basket di bawah hujan, Liana nekat mengejar pria dingin itu hingga mereka bersatu di tengah lapangan basket yang basah.
Namun, janji itu hancur saat Justin memutusnya secara sepihak di hari kelulusan Justin dan menghilang tanpa jejak.
Tiga tahun kemudian.
Liana terkejut saat harus berhadapan dengan CEO baru di kantor tempatnya melamar kerja. Justin kembali, namun ia kini asing, dingin, dan terjebak dalam pusaran perjodohan.
Meski waktu berlalu, Liana menyadari: "There was something about you that I can't forget." Hidupnya tetap terjebak pada melodi yang sama Lagu kesukaannya "About You" milik The 1975. Karena baginya, ini masih tentang Justin di setiap detiknya.
Apakah takdir memberi mereka kesempatan kedua, ataukah hujan kali ini benar-benar menghapus jejak mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Keheningan di Balik Kemewahan
Mobil sedan hitam milik Justin membelah jalanan kota yang basah dengan tenang. Di dalam kabin yang kedap suara itu, alunan lagu "Night Changes" dari One Direction mengalir pelan, mengisi kekosongan yang ditinggalkan Liana beberapa menit lalu. Suara Zayn Malik yang lembut seolah menyatu dengan irama rintik hujan yang menghantam kaca depan.
“Everything that you've ever dreamed of, disappearing when you wake up...”
Justin mengetuk-ngetuk kan jemarinya di kemudi sesuai irama. Tatapannya lurus ke depan, namun pikirannya sesekali melayang pada bagaimana Liana tertidur tadi. Ada perasaan aneh yang sulit ia jelaskan—semacam ketenangan yang baru. Biasanya, Justin benci jika ada orang lain di dalam mobil pribadinya, apalagi sampai tertidur. Tapi dengan Liana, semuanya terasa... wajar.
Lagu itu selesai tepat saat ban mobilnya melindas aspal di depan gerbang tinggi rumahnya. Pak Joko, satpam rumah, yang sudah mengenali deru mesin mobil anak majikannya, segera berlari kecil di bawah payung besar untuk membuka gerbang besi dan pintu garasi otomatis.
Justin memarkirkan mobilnya dengan presisi. Begitu mesin mati, keheningan total kembali menyergap. Ia menghela napas panjang, mengambil tasnya, dan melangkah masuk ke dalam rumah yang megah namun terasa dingin.
"Selamat malam, Den Justin. Baru pulang?" sapa Bi Sumi, asisten rumah tangga senior yang sudah bekerja di sana sejak Justin masih kecil. "Makan malam sudah siap di meja, Den. Tadi Bibi masak ayam bakar kesukaan Den Justin."
Justin mengangguk tipis. "Iya, Bi. Makasih. Saya mandi dulu, nanti saya turun lagi."
Ia menaiki tangga marmer menuju kamarnya. Setelah membersihkan diri dengan air hangat yang membasuh seluruh rasa lelahnya, Justin turun kembali ke ruang makan hanya dengan mengenakan kaus oblong putih dan celana pendek hitam.
Di meja makan panjang yang bisa menampung dua belas orang itu, Justin duduk sendirian di ujung meja. Bi Sumi berdiri tak jauh dari sana, memperhatikan anak asuhannya itu makan dengan tenang. Ada rasa iba yang menyelinap di hati wanita tua itu. Rumah ini begitu luas, lampunya begitu terang, tapi Justin selalu makan dalam kesunyian yang mencekam sejak orang tuanya lebih sering berada di luar negeri.
Di belahan kota yang lain, suasana justru jauh dari kata sunyi. Begitu Liana menutup pintu rumah, ia hampir saja melompat karena melihat Ayahnya sudah berdiri di ruang tengah dengan tangan bersedekap dan wajah yang penuh selidik—meski ada binar jenaka di matanya.
"Ehem. Yang baru pulang diantar 'pangeran' berkuda hitam, ya?" goda Ayah sambil menaikkan sebelah alisnya.
Liana langsung salah tingkah. Ia membetulkan letak tasnya dengan gugup. "Ih, Ayah! Itu... itu Kak Justin kakak tingkat, Yah. Ketua UKM Basket di kampus juga. Tadi hujannya deres banget, makanya dia tawarin tumpangan."
Ayah Liana manggut-manggut, tapi matanya beralih ke pakaian yang dikenakan putrinya. "Terus itu... jaket siapa? Perasaan Ayah nggak pernah beliin jaket abu-abu segede karung goni gitu."
Wajah Liana memerah padam sampai ke telinga. "Ini... ini juga punya Kak Justin, Yah. Tadi Liana kehujanan di lapangan pas mau latihan, terus dia pinjemin ini biar nggak masuk angin. Liana jujur kok!"
Ayah tertawa melihat kepanikan putrinya. "Iya, iya. Ayah percaya. Orangnya sopan kok, tadi Ayah liat dia payungin kamu sampai teras sebelum dia pergi. Ya udah, sana mandi, terus makan. Ayah beli martabak lagi tuh di dapur."
Liana menarik napas lega. "Siap, Bos!"
Ia segera lari ke kamar. Setelah mandi dan berganti pakaian dengan piyama yang nyaman, Liana memandangi hoodie abu-abu milik Justin yang kini berada di keranjang cucian. Ia teringat pesan Justin di perpustakaan agar segera mencucinya. Tanpa membuang waktu, Liana membawa jaket itu ke bawah, memasukkannya ke mesin cuci, dan menyetel mode paling lembut agar kainnya tidak rusak.
Sambil menunggu cucian, perut Liana mulai berbunyi. Ia pergi ke dapur, melihat persediaan di lemari, dan memutuskan untuk memasak mie instan kuah rasa ayam bawang. Ia menambahkan telur setengah matang dan banyak cabai rawit—perpaduan sempurna untuk malam yang dingin dan hujan.
Liana duduk di meja makan kecilnya, menghirup aroma mie yang menggoda. Namun, pikirannya tidak tenang. Ia terus menatap ponselnya. Ada keinginan kuat untuk mengirim pesan, tapi ia takut dianggap mengganggu.
Gue kirim pesan nggak ya? Cuma mastiin dia udah sampai atau belum kan wajar sebagai teman? pikirnya.
Dengan tangan sedikit gemetar, Liana mengetik.
Liana: Kak Justin, sudah sampai rumah? Hujannya makin deres di sini, hati-hati kalau jalannya licin.
Ia menekan tombol kirim dan langsung meletakkan ponselnya di samping mangkuk mie, seolah-olah benda itu panas.
Di rumah besar Justin, suara denting notifikasi memecah keheningan ruang makan. Justin, yang sedang menyuap nasi terakhirnya, meraih ponselnya. Sebuah pesan dari Liana.
Sudut bibir Justin terangkat sangat tipis, nyaris tak terlihat. Ia segera mengetik balasan.
Justin: Sudah. Dari 5 menit yang lalu.
Di meja makannya, Liana yang baru saja menyuap mie pertama langsung tersedak pelan saat ponselnya berbunyi Ting!
Ia segera membuka pesan itu. Balasannya sangat singkat, khas Justin sekali, tapi entah kenapa itu cukup untuk membuat Liana tersenyum lebar sendirian di dapur. Ia merasa ada ikatan kecil yang mulai terbangun di antara mereka—lebih dari sekadar senior dan maba, atau kapten dan anggota tim.
Liana membalas lagi dengan cepat.
Liana: Syukurlah. Jaketnya sudah saya cuci ya Kak, nanti kalau sudah kering saya kabari lagi.
Justin melihat pesan itu dan membiarkannya terbaca (read) sejenak sebelum membalas.
Justin: Oke. Habis ini tidur. Besok latihan jam 4 sore, jangan telat gara-gara begadang main HP.
Liana tertawa kecil membaca balasan yang terdengar seperti perintah pelatih itu. Ia mematikan ponselnya, kembali fokus pada mie kuahnya yang terasa jauh lebih nikmat malam ini. Di bawah rintik hujan yang belum reda, keduanya—meski berada di tempat yang berbeda—merasakan kehangatan yang sama, yang datang bukan dari jaket atau mie hangat, melainkan dari sebuah perhatian kecil yang melintasi sinyal telepon.