NovelToon NovelToon
JENIUS RENDAHAN

JENIUS RENDAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Slice of Life
Popularitas:155
Nilai: 5
Nama Author: Yusuf Fikri

Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 : Kejeniusan Callen

"Tunggu sebentar, Kak," ucapku pada Fazi.

Aku merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel. Zea pasti sudah menunggu di kelas atau di koridor menuju kantin. Kalau aku menghilang tanpa kabar, bisa-bisa dia mengerahkan tim pencari orang hilang atau lebih parah—melapor ke Mam Genevieve.

Jari jempolku mengetik pesan singkat.

Me: Maaf, Ze. Istirahat ini aku nggak bisa gabung. Ada urusan mendadak sama Kak Fazi. Jangan nungguin aku, makan duluan aja.

Sent.

Aku memasukkan kembali ponsel itu tanpa menunggu balasan. Aku bisa membayangkan wajah cemberutnya sekarang, tapi prioritas saat ini adalah data strategi.

"Sudah?" tanya Fazi sabar.

"Sudah, Kak. Ayo," jawabku.

Kami berdua menaiki tangga melingkar menuju lantai dua Gedung B. Ini adalah teritori yang jarang diinjak oleh siswa kelas 10. Di sini, aura senioritas terasa sangat kental.

Sepanjang koridor lantai dua, siswa-siswa kelas 11 dan 12 yang sedang nongkrong menatap kami. Tatapan mereka beragam. Ada yang hormat dan menyapa Fazi, tapi kemudian berubah menjadi tatapan menyelidik saat melihatku—anak kelas 10 tanpa kacamata dengan rambut menutupi mata—berjalan di samping sang Ketua OSIS.

"Itu siapa? Tumben Fazi bawa anak baru." "Mukanya asing. Anak beasiswa?"

Aku mengabaikan bisikan-bisik itu, tetap berjalan tenang dengan tangan di dalam saku. Fazi, sebaliknya, menebar senyum karismatik ke kanan dan kiri layaknya politisi yang sedang kampanye.

Kami berhenti di depan sebuah pintu ganda berbahan kayu jati yang kokoh. Di atasnya terpasang plakat emas: RUANG OSIS / STUDENT COUNCIL.

Fazi membuka pintu itu lebar-lebar.

"Masuklah, Callen. Selamat datang di markas kami," ucap Fazi ramah.

Aku melangkah masuk.

Ruangan itu luas dan sangat dingin. Berbeda dengan kelas biasa, lantai ruangan ini dilapisi karpet abu-abu tebal. Ada sofa kulit yang nyaman, meja rapat oval yang besar, lemari piala yang berjejer rapi, dan aroma kopi mahal yang menguar dari mesin espresso di sudut ruangan.

Di dalam sana, terdapat sembilan orang siswa kelas 12—pengurus inti OSIS. Empat perempuan dan lima laki-laki. Mereka terlihat sedang bersantai, ada yang main laptop, ada yang makan bekal, ada yang sedang berdiskusi.

Kehadiran kami membuat aktivitas mereka terhenti.

"Woy, Pak Ketua! Bawa siapa tuh? Calon anggota baru?" seru seorang cowok berambut cepak yang duduk di atas meja.

Fazi tertawa kecil, menepuk punggungku. "Bukan. Kenalin, ini Callen. Anak kelas 10-A."

Awalnya, tanggapan mereka biasa saja. Hanya anggukan sekilas atau gumaman "Oh, hai". Bagi mereka, anak kelas 10 hanyalah junior yang belum relevan.

Tapi kemudian Fazi melanjutkan kalimatnya.

"Dia yang kemarin viral karena ngalahin Kevin main basket 11-0, dan bikin Bagas 'tidur siang' di belakang perpus," tambah Fazi santai, seolah sedang membicarakan cuaca.

Seketika, suasana ruangan berubah.

Sembilan pasang mata langsung membelalak, menatapku dengan intensitas penuh. Si cowok berambut cepak langsung turun dari meja. Dua siswi cantik yang sedang mengikir kuku langsung menegakkan badan.

"Seriusan?!" seru salah satu siswi berambut ikal. Dia berjalan mendekat, mengamatiku dari dekat. "Ini anaknya? Kok... kelihatannya kalem banget? Rambutnya gondrong nutupin mata lagi. Yakin dia bisa berantem?"

"Jangan nilai buku dari sampulnya, Disa," tegur Fazi. "Callen ini spesial."

Siswi bernama Disa itu menyeringai jahil. Dia menyenggol bahuku pelan. "Oh... jadi ini cowok beruntung yang berhasil naklukin Zea si Primadona Angkatan 10 itu ya?"

"Iya, gosipnya santer banget lho," timpal siswi satu lagi. "Katanya Zea sampai nempel terus kayak perangko. Hebat juga selera kamu, Dek. Dapet yang high quality."

Wajahku tetap datar, meski dalam hati aku ingin sekali menyumpal telingaku. "Itu cuma salah paham, Kak. Kami cuma teman sekelompok."

"Halah, teman tapi dempet," goda mereka serempak.

Aku hanya bisa menggelengkan kepala pasrah. Ternyata hobi bergosip tidak mengenal kasta, bahkan elit OSIS pun sama saja.

"Sudah, sudah. Jangan digodain terus, kasihan dia," Fazi menengahi sambil tertawa.

Fazi berjalan menuju sebuah lemari kaca, lalu mengeluarkan sebuah papan catur kayu yang terlihat mewah. Bidak-bidaknya terbuat dari marmer hitam dan putih, berat dan solid.

Dia meletakkannya di atas meja kopi di tengah ruangan.

"Duduk, Cal," perintah Fazi, menunjuk sofa di seberangnya.

Aku menuruti, duduk dengan tenang.

"Sambil nunggu aku nyalin data di hard disk, gimana kalau kita pemanasan otak dulu?" tantang Fazi, matanya berkilat kompetitif. Dia mulai menyusun bidak catur dengan gerakan cepat dan terbiasa.

Anggota OSIS yang lain langsung antusias. Mereka meninggalkan kegiatan masing-masing dan mengerubungi meja kami.

"Wah, Fazi ngajak main catur," bisik cowok cepak tadi. "Jarang-jarang nih. Biasanya dia males kalau lawannya nggak selevel."

"Dek Callen, hati-hati lho," peringat Disa. "Kak Fazi ini juara catur antar-SMA se-Kalimantan Barat tahun lalu. Dia pernah ngalahin tujuh perwakilan sekolah lain sendirian dalam simulasi simultan."

Aku menatap papan catur itu. Bidak marmernya berkilau di bawah lampu ruangan.

"Terakhir kali kita main, kamu umur 9 tahun, kan Cal?" tanya Fazi, memegang bidak Raja putih. "Waktu itu aku kalah telak dalam 15 langkah. Itu kekalahan paling memalukan dalam sejarah hidupku."

Suara Fazi terdengar santai, tapi ada nada serius di sana.

"Waktu itu Kak Fazi lengah," jawabku merendah.

"Kita lihat apakah sekarang aku masih lengah," Fazi tersenyum. "Kamu pegang Hitam, aku Putih. Aku jalan duluan."

Permainan dimulai.

Fazi membuka dengan Pembukaan Ruy Lopez (e4 e5, Nf3 Nc6, Bb5). Klasik, agresif, dan solid. Gerakannya cepat, tanpa ragu. Dia jelas pemain yang menguasai teori.

Aku merespons dengan Pertahanan Berlin (Nf6). Tembok pertahanan yang dikenal sulit ditembus.

Lima menit pertama, ruangan itu hening. Hanya terdengar suara ketukan bidak marmer yang beradu dengan papan kayu. Tak. Tak. Tak.

Para penonton—anggota OSIS—menahan napas. Mereka terkejut. Biasanya, lawan Fazi akan berpikir lama setelah langkah ke-10. Tapi aku membalas setiap langkah Fazi dalam hitungan detik, seolah aku tidak perlu berpikir.

Fazi menyerang sayap rajaku dengan Kuda dan Menterinya. Agresif. Dia mencoba menjebakku dalam taktik forking.

"Kena kamu," gumam Fazi pelan saat memindahkan Menterinya ke h5.

Penonton berbisik tegang. "Wah, mat dalam 3 langkah tuh."

Aku menatap papan itu. Rambut poniku sedikit menghalangi pandangan, tapi pola di atas papan terlihat jelas di kepalaku seperti matriks digital.

Fazi memang hebat. Dia menekan, dia mendominasi ruang. Tapi dia punya satu kelemahan yang sama sejak dulu: Dia terlalu percaya diri saat menyerang, sampai melupakan celah kecil di pertahanan belakangnya.

Tanganku bergerak. Aku tidak memakan umpan Fazi. Aku justru menggerakkan Gajah hitamku memotong diagonal papan yang terlihat tidak penting.

Langkah aneh.

"Lho? Kok ke situ?" gumam Disa bingung.

Fazi juga mengerutkan kening. Dia berpikir sejenak, lalu tersenyum meremehkan. "Blunder, Cal?"

Dia memakan pionku. "Skak!"

Aku menggeser Rajaku setapak. Tenang.

Fazi menyerang lagi. Aku bertahan lagi.

Lalu, di langkah ke-24, Fazi memakan Kuda-ku dengan Menterinya. "Dapet perwira. Kamu habis, Cal."

Aku mengangkat wajah, menatap Fazi di balik poniku.

"Kak Fazi," panggilku pelan.

"Ya?"

"Lihat diagonal a7 sampai g1."

Fazi melihat papan. Matanya menyipit. Lalu melebar. Wajahnya yang tenang berubah pucat.

Gajah hitamku yang tadi kuletakkan di posisi 'aneh', sekarang menjadi sniper yang mematikan karena Menterinya sudah berpindah. Jalur menuju Rajanya terbuka lebar karena dia terlalu asyik menyerang.

Tanganku mengambil Benteng, menggesernya ke kolom terbuka.

"Skakmat," ucapku datar.

Fazi terdiam. Tangannya menggantung di udara. Dia memindai papan itu berkali-kali, mencari jalan keluar. Tapi tidak ada. Rajanya terkunci mati oleh Gajah dan Bentengku, sementara pionnya sendiri menghalangi jalan lari.

Hening total.

Anggota OSIS yang lain melongo. Mulut Disa terbuka lebar.

"Gila..." bisik si cowok cepak. "Fazi kalah? Sama anak kelas 10? Dalam 25 langkah?"

Fazi akhirnya menghembuskan napas panjang, lalu tertawa. Tawa yang lepas dan kagum. Dia mengulurkan tangannya di atas meja.

"Kamu memang monster, Cal," ucap Fazi sambil menjabat tanganku erat. "Aku sudah latihan mati-matian selama 3 tahun, ikut turnamen sana-sini, tapi tetap aja rasanya kayak main lawan komputer kalau sama kamu."

"Kakak main bagus. Cuma terlalu agresif di sayap kanan," evaluasiku jujur.

Fazi menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. Dia berdiri, mengambil sebuah flashdisk hitam dari saku celananya.

"Ini data yang kamu minta. Semua rekap Festival Olahraga 3 tahun terakhir ada di situ," Fazi menyerahkannya padaku. "Gunakan dengan bijak. Dengan otakmu ini... aku jadi kasihan sama anak kelas 11 dan 12 yang bakal lawan kelasmu nanti."

Aku menerima flashdisk itu. Senjata utamaku sudah di tangan.

"Terima kasih, Kak."

"Sama-sama. Oh ya, Cal," Fazi menahan langkahku saat aku hendak keluar.

"Ya?"

Fazi menyeringai. "Kalau Zea sampai nangis, urusanmu bukan cuma sama Kevin, tapi sama satu ruang OSIS ini. Paham?"

Suara godaan dari kakak-kakak kelas wanita kembali terdengar riuh.

"Siap, Bos!" seru mereka.

Aku hanya bisa menunduk pasrah, pamit undur diri secepat mungkin sebelum wajahku memerah lebih parah. Keluar dari kandang singa dengan kemenangan, tapi tetap kalah oleh gosip.

Dasar kehidupan SMA.

1
Zumrotul Mukaromah
semangatt update kakk🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!