Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Babak Belur
Rosse dan Adela yang melihat kedatangan tiga kakak Mirea langsung berbalik. Wajah mereka pucat, refleks mundur setapak, jelas ketakutan.
Namun sebelum ketiganya sempat mendekat ke pintu kamar, dua sosok menghadang.
Fang dan Red Monarch berdiri di tengah lorong, seperti tembok hidup.
“Buka pintunya,” suara Aren rendah, tapi penuh tekanan.
Red melangkah setengah maju, senyum tipis terukir di bibirnya.
“Jangan ganggu bos kami.”
Suasana langsung membeku.
Tatapan Aren berubah tajam, rahangnya mengeras. Ia menatap Red tanpa berkedip, aura protektifnya terhadap adiknya benar-benar terasa.
“Boris bayar kalian berapa,” ucap Aren dingin, suaranya berat dan penuh amarah,
“sampai kalian rela mempertaruhkan nyawa cuma buat lindungi dia?”
“Apalah artinya Boris buat kami?” Red Monarch menyeringai meremehkan. Nada suaranya ringan, seolah nama itu sama sekali tidak berarti apa-apa baginya.
“Bos kami itu—”
Belum sempat Red melanjutkan, Fang tiba-tiba mendekat dan berbisik cepat di telinganya.
“Red Monarch… Ingat mereka itu kakak kandung Rubby Woolf.”
Red langsung terdiam sesaat.
Matanya bergerak cepat, otaknya bekerja. Ia sadar, identitas bos asli mereka tidak boleh terbuka di depan keluarga Mirea.
Sementara itu, di tengah ketegangan yang memuncak, Rosse dan Adela justru melihat celah. Tanpa menarik perhatian, keduanya perlahan mundur, lalu berbalik dan kabur menjauh dari lorong.
Aren yang melihat Red terdiam langsung mendesak, suaranya meninggi.
“Lalu apa?!”
Red menghela napas kecil, lalu mengangkat wajahnya kembali dengan ekspresi tenang tapi penuh perhitungan.
“Lalu… bukan cuma Boris yang ada di belakang ini,” ucap Red perlahan.
“Di belakangnya masih ada keluarga Johnson juga.”
“Memangnya kenapa kalau keluarga Johnson?” suara Theo terdengar dingin, tapi justru itu yang membuatnya semakin mengintimidasi.
“Berani-beraninya mereka ganggu adik kami. Meski harus sama-sama hancur, aku bakal pastikan mereka terima ganjarannya.”
Nada bicaranya tidak tinggi, tidak meledak-ledak, justru tenang, tapi penuh ancaman.
Mendengar itu, Fang dan Red Monarch saling melirik. Untuk pertama kalinya, ekspresi santai mereka sedikit menghilang.
Red mengangkat tangan pelan, memberi isyarat ke Fang.
Keduanya mundur setengah langkah, menyingkir dari depan pintu.
“Baik… baik,” ujar Red singkat, senyum tipis masih terukir di wajahnya.
Theo melangkah maju satu langkah.
“Minggir.”
Theo mendobrak pintu kamar itu tanpa ragu.
“Dik, Mire—!”
Teriakan mereka terhenti di tenggorokan.
Yang pertama kali terlihat bukan Mirea…
melainkan Boris yang tergeletak di lantai, tubuhnya terkulai, wajahnya penuh lebam dan darah mengotori pipi serta kemejanya. Napasnya masih ada, tapi jelas ia sudah tak sadarkan diri.
Ruangan itu sunyi. Terlalu sunyi.
Rosse dan Adela yang tadi sempat menjauh, tak mau melewatkan kesempatan untuk ikut mengintip. Begitu melihat pemandangan di dalam, mata mereka langsung membelalak.
“Pak Boris?!” teriak Rosse panik, setengah pura-pura.
“Apa yang terjadi?!”
Ia melangkah satu langkah masuk, lalu menoleh ke sekeliling ruangan.
“Jangan-jangan… kamu dipukul Mirea?” tambahnya, suaranya terdengar tidak percaya.
Adela langsung tertawa kecil, tapi nadanya meremehkan.
“Mana mungkin? Dia cuma cewek kampung, kelihatan kurang gizi. Nggak mungkin bisa ngalahin cowok segede ini sendirian,” ujar Adela, masih dengan nada meremehkan, seolah apa yang ada di depan mata hanyalah lelucon tak masuk akal.
Kalimat itu terdengar jelas oleh Theo.
Berbeda dengan Theo yang masih mencerna situasi, Noel justru langsung bergerak. Ia mencengkeram kerah baju Boris yang tergeletak di lantai, wajahnya penuh amarah.
“Adikku di mana?!” teriak Noel.
“Kamu bawa adikku ke mana?!”
Boris hanya mengerang pelan, tubuhnya nyaris tak merespons. Matanya setengah terpejam, napasnya berat.
“Kakak…”
Suara itu datang dari sudut ruangan.
Ketiganya langsung menoleh.
Di balik meja rias, Mirea tampak berjongkok, tubuhnya sedikit gemetar, seolah bersembunyi. Rambutnya terurai, wajahnya pucat, matanya tampak berkaca-kaca.
“Dik!”
“Mire!”
“Adik!”
Ketiga kakaknya menghampiri bersamaan. Noel langsung berlutut, Theo dan Aren membantu Mirea berdiri.
“Ada apa? Kamu kenapa?!” tanya Noel panik.
Mirea menunduk, kedua tangannya menutup bagian depan tubuhnya, seperti gadis yang baru saja mengalami sesuatu yang menakutkan.
“Kakak… akhirnya kalian datang…”
Suaranya lembut, nyaris bergetar.
“Aku takut banget…”
Padahal di balik itu, napasnya stabil. Tatapannya tenang. Semua itu hanya akting yang nyaris sempurna.
Rosse yang melihat pemandangan itu langsung membelalak.
“Hah?!” serunya tak percaya.
“Pak Boris babak belur kayak gitu, dan kamu bilang kamu yang takut?!”
Nada suaranya campuran antara syok, kesal, dan tak bisa menerima kenyataan.