Setelah mengetahui pengkhianatan sang kekasih, serta ada masalah di pabriknya, Rayyan memutuskan untuk healing sejenak ke sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya berada.
Tapi, nasib justru mempermainkannya. Rayyan terjebak dalam sebuah kondisi, yang mana ia harus menikahi Lilis, seorang janda kembang.
Suatu hari, Rayyan pamit harus kembali ke Ibu Kota demi menyelesaikan urusannya. Tapi lama waktu berlalu, Rayyan tak kunjung kembali, hingga Lilis makin gelisah menanti.
Bagaimanakah lika-liku perjalanan mereka selanjutnya?
Apakah Rayyan akan tetap mempertahankan Lilis sebagai istri, dan menetap di desa tersebut?
Lantas apa yang sebenarnya terjadi pada Rayyan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara Aneh Dari Kamar
#3
Rumah Nanang, adalah bangunan sederhana yang tidak mewah, tapi di pekarangan, ada beberapa tanaman palawija yang tumbuh subur berkat tangan telaten Nanang serta Emaknya.
“Assalamualaikum, Mak!” ucap Nanang, berseru memanggil ibunya.
Dari dalam rumah, seorang wanita paruh baya, dengan wajah yang sudah sedikit keriput, menghampiri mereka dengan senyum bahagianya. “Waalaikumsalam, Alhamdulillah, akhirnya sampai juga,” sambut Bu Siti, hangat dan ramah seperti menyambut keluarganya sendiri.
Memang Bu Siti sudah menganggap Rayyan sebagai anak, karena dulu orang tua Rayyan pernah berjasa membantu biaya pendidikan Nanang semasa kuliah. Tuan Gusman juga tidak meminta agar Nanang mengabdi di Senopati Grup, tapi pria itu justru bangga dengan pilihan Nanang yang ingin kembali ke kampung halamannya.
“Bu, apa kabar?” tanya Rayyan.
“Alhamdulillah, beginilah, masih bisa bernafas, dan merawat sawah,” jawab Bu Siti sambil berkelakar. “Ajak masuk, Nang, bersih-bersih dulu, baru makan.”
“Iya, Mak.”
“Mak, goreng sambalnya sekarang.”
“Belum siap, Mak?”
“Kalau sambal harus dadakan, biar makin nyoss pedasnya.”
“Setuju, Bu,” timpal Rayyan yang sudah menelan air liurnya, tak sabar menyantap sambal buatan Bu Siti.
•••
Bukan hidangan mewah, hanya rebusan daun singkong, belut goreng, dan sambal. Tak lupa teh tawar hangat untuk menetralisir rasa pedas.
Tapi, sejak suapan pertama lidah Rayyan sudah di buat bergoyang, seperti menyantap sambal buatan mamanya sendiri. Rasa alami dari pedesaan, serta kesegaran bahan-bahannya.
“Makan yang banyak, sejak dua malam lalu, Nanang sudah pasang perangkap di sawah. Alhamdulillah, memang sudah rezeki, belut hasil tangkapannya besar-besar,” celoteh Bu Siti.
“Alhamdulillah, Bu. Berarti rezekiku.” Rayyan kembali mengambil nasi dari dalam bakul kecil untuk porsi kedua. “Kalau begini terus makannya, balik ke Ibu Kota, aku sudah obesitas.”
Bu Siti dan Nanang tertawa keras, melihat Rayyan makan dengan lahap, membuat mereka bahagia. Padahal Rayyan anak kota, orang tuanya bukan orang sembarangan, hartanya sangat melimpah. Tapi Rayyan tak ada masalah dengan santapan orang desa.
“Bu, dimana ibu beli cabai yang rasanya seperti sambal ini?” tanya Rayyan usai makan.
“Beli? Ibu tanam sendiri di pekarangan depan, alhamdulillah, kami tak pernah beli cabai, karena hasilnya selalu melimpah. Sampai ibu bagi-bagikan ke tetangga.”
Rayyan cukup terpukau dengan ucapan Bu Siti, tak percaya, tapi nyata. “Oh, iya? Ibu punya rahasia khusus bagaimana cara menanamnya?”
“Sudah, sudah. Nanti saja belajarnya, sekarang tidur dulu.”
Nanang menyeret lengan Rayyan berpindah dari ruang tengah, menuju kamar yang sudah dipersiapkan untuknya. Tak bermaksud apa-apa, tapi Nanang tahu Rayyan pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh, jadi ada baiknya pria itu tidur terlebih dahulu.
“Tapi aku mau tanya soal cabai pada Emakmu.”
“Nanti aku ajari cara menanam dan merawatnya. Asal kamu tahu, aku yang menanam cabai-cabai itu.”
“Tapi aku bukan ingin tahu cara menanamnya!”
“Lalu—”
•••
Sementara itu, di tempat lain. Lilis baru selesai masak untuk makan siang, sedikit terlambat, karena ia pun baru pulang dari pasar.
“Ibu, Mmbi— makanan sudah siap!” seru Lilis memanggil ibu serta adik tirinya.
Tak lama kemudian, wanita berdaster keluar dari kamarnya. Disusul kemudian gadis berambut panjang, serta berpakaian serba mini, dialah Arimbi, adik tiri Lilis. Ketika menikah dengan Almarhum Pak Sumartono ayah Lilis, Bu Saodah juga membawa anak dari hasil pernikahan terdahulu.
“Nggak ada lauk lain?” tanya Imbi dengan nada cibiran, ketika melihat hanya ada nasi dan tumisan ikan asin pedas.
“Nggak ada, tadi sampai di pasar kesiangan, jadi pedagang ikan segar sudah pulang.” Lilis mulai menyendok nasi dan lauk hasil masakannya, tak peduli dengan Arimbi dan Bu Saodah yang mulai bosan makan ikan asin.
Mau bagaimana lagi, hanya Lilis yang bekerja di rumah ini, setelah Pak Sumartono meninggal. Hidup mereka sedikit terjamin, ketika Lilis masih berstatus istri pria dari kota, karena keluarga suaminya mengirimkan uang bulanan pada mereka.
Namun, setelah Lilis dan suaminya bercerai, uang itu praktis tak pernah datang lagi.
“Makanya bangun lebih pagi, dong.” Bu Saodah ikut menimpali. Seolah lupa, bahwa pagi tadi dirinyalah yang membuat Lilis pergi ke pasar kesiangan. Karena Ia minta di kerok, masuk angin setelah jagongan semalaman sambil karaokean.
“Aku nggak jadi makan, bisa-bisa kulit halusku ini bersisik, karena keseringan makan ikan asin.” Arimbi melengos pergi, kembali ke kamar dengan bibir mengerucut.
Gadis itu sama seperti ibunya, manja, dan sukanya menghayal yang indah-indah, tanpa mau berusaha bekerja agar hidup mereka lebih baik.
Lilis mengacuhkan ucapan kedua orang itu, hidup sudah terlalu berat baginya, bila masih baper dengan ucapan mereka, kapan ia bisa melangkah maju.
Meski begitu, status janda lebih berharga, bila dibandingkan dengan berstatus sebagai istri, tapi tak dianggap. Getirnya kisah itu, hanya Lilis simpan seorang diri, tanpa ia bagi dengan siapapun.
•
Flashback
Malam itu Lilis buru-buru kembali ke rumah, usai menyelesaikan pekerjaan di pabrik. Menikahi anak orang kaya, tak selamanya membuat hati Lilis bahagia. Enam bulan sudah Lilis dinikahi Dio, namun tak sekalipun gadis itu di sentuh suaminya, bahkan melihat wajah Lilis saja Dio merasa enggan.
Karena itulah, Lilis di tempatkan di rumah kecil dekat dengan pabrik Roti, Lilis yang tak bisa diam tanpa pekerjaan, ikut membantu proses pengerjaan Roti di pabrik. Itu pun atas permintaan Bu Fatma sang mertua, agar Lilis tak tinggal secara gratis.
Namun setibanya di rumah, telinga Lilis tiba-tiba mendengar suara suara aneh berasal dari dalam kamar kosong di rumah yang Lilis tempati.
Kadang desahan, kadang teriakan kecil seperti tikus yang terjepit di perangkap, ditambah bisik-bisik yang cukup membuat telinga risih dan jengah.
Lilis tak berprasangka apa-apa, wanita bersuami namun masih gadis itu sedikit ketakutan, karena di hari-hari biasa tak pernah ada keanehan di dalam rumahnya. Langkah kakinya gemetar, bahkan tangannya ikut dingin ketika ia mendekat ke ruangan tersebut.
Pintu yang tak menutup sempurna, membuat Lilis bisa melihat aktivitas di dalamnya. Lilis memang polos, namun ia tidak bodoh, ia tahu apa yang tengah dilakukan dua orang berlainan jenis yang sedang berpose seperti roti tumpuk, kadang naik kadang turun.
Lilis membeku, air matanya mengalir, dadanya sesak menahan amarah yang seketika ingin meluap, namun tak bisa. Ia mundur beberapa langkah ke belakang, namun tanpa sengaja ia menyenggol kursi plastik yang ada di dekatnya.
Brak!
setelah Rayyan liat apa akan langsung ehem ehem ya🤭