NovelToon NovelToon
The Monster'S Debt

The Monster'S Debt

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Berbaikan
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
​Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
​Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Eksodus di Balik Kabut

​Suasana di safe house perbukitan pinus berubah drastis dalam waktu semalam. Jika sebelumnya tempat itu adalah benteng pertahanan, kini ia terasa seperti stasiun pemberangkatan bagi para pelarian yang membawa rahasia paling berbahaya di dunia. Aruna tidak tidur setelah percakapannya dengan ayahnya. Ia menghabiskan sisa malam dengan mengemas barang-barang Bumi dan memastikan ayahnya, Hadi, mendapatkan perawatan medis yang cukup untuk perjalanan panjang yang akan datang.

​Dante berdiri di ruang tengah, mengoordinasikan evakuasi dengan Enzo. Wajahnya yang kaku tampak diterangi oleh cahaya monitor dari laptop-laptop yang masih menyala.

​"Kita tidak bisa bertahan di sini lebih lama lagi," Dante berkata saat Aruna mendekat. "Julian Thorne baru saja menggerakkan koneksi diplomatiknya. Besok pagi, rumah ini akan digerebek oleh pasukan khusus dengan tuduhan terorisme internasional. Julian ingin melegalkan pembunuhan kita melalui tangan pemerintah."

​Aruna menatap Dante. "Ke mana kita akan pergi?"

​"Swiss," jawab Dante singkat. "Dana Abadi yang disebutkan ayahmu tidak tersimpan di bank biasa. Itu tersimpan di sebuah brankas bawah tanah di Zurich yang hanya bisa dibuka dengan kunci fisik dan biometrik ganda. Julian memiliki separuh kuncinya melalui Elena, dan kita memiliki separuhnya lagi melalui kau. Selama kita terpisah, harta itu tetap terkunci. Tapi jika Julian berhasil menangkapmu, dia memiliki segalanya."

​Aruna merasakan beban di pundaknya semakin berat. "Jadi, kita akan menjemput maut di sana?"

​"Tidak. Kita akan menjemput kebebasan," Dante menggenggam bahu Aruna. "Jika kita berhasil mencairkan aset itu dan mendistribusikannya ke pihak yang tepat, Julian akan kehilangan alasan untuk mengejarmu. Dia hanya peduli pada uang. Tanpa uang itu, kau tidak lebih dari sekadar janda yang tidak berguna baginya."

​Pukul empat pagi, dua helikopter tanpa lampu navigasi mendarat di lapangan rumput di belakang rumah. Evakuasi dilakukan dengan kecepatan militer. Bumi, yang masih mengantuk, digendong oleh Enzo menuju helikopter pertama bersama Hadi. Aruna mengikuti dari belakang, namun ia berhenti sejenak untuk menatap rumah yang telah melindunginya selama beberapa minggu terakhir.

​"Aruna, cepat!" teriak Dante di tengah kebisingan baling-baling helikopter.

​Saat Aruna hendak melangkah, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor rahasia Elena.

​“Dante tidak memberitahumu segalanya, Aruna. Tanyakan padanya tentang 'Proyek Icarus'. Tanyakan padanya kenapa kakek kita harus mati di tangan ayahnya. Kita bukan musuh, Aruna. Kita adalah sisa-sisa dari sebuah pertempuran yang dimenangkan oleh keluarga Valerius dengan cara curang.”

​Aruna membeku di tempatnya. Ia menatap punggung Dante yang sedang membantu pramugari taktis mengatur barang-barang. Setiap kali ia merasa sudah bisa mempercayai pria itu, sebuah rahasia baru muncul ke permukaan seperti bangkai yang dipaksa tenggelam.

​"Aruna!" Dante kembali memanggil, kali ini suaranya lebih mendesak.

​Aruna memasukkan ponselnya ke saku dan berlari menuju helikopter. Ia tidak akan bertanya sekarang. Tidak di saat nyawa anak dan ayahnya dipertaruhkan. Namun, benih keraguan itu telah tumbuh kembali, lebih kuat dari sebelumnya.

​Penerbangan menuju Swiss dilakukan melalui rute-rute ilegal yang melewati beberapa zona udara negara tetangga untuk menghindari radar. Di dalam helikopter yang sempit, Aruna duduk di samping ayahnya yang tampak tertidur karena pengaruh obat penenang. Bumi tertidur di pelukan Martha, pengasuh setianya.

​Dante duduk di seberang Aruna, sibuk dengan tabletnya.

​"Dante," panggil Aruna, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin. "Siapa yang membunuh kakekku?"

​Tangan Dante yang sedang menggeser layar tablet mendadak berhenti. Ia tidak menatap Aruna. "Kakekmu meninggal dalam pengejaran sindikat lama, Aruna. Kau sudah tahu itu."

​"Aku ingin tahu siapa yang menarik pelatuknya. Julian Thorne? Marco? Atau... keluarga Valerius?"

​Dante perlahan meletakkan tabletnya. Ia menatap Aruna dengan tatapan yang sangat lelah. "Dunia ini kecil, Aruna. Ayahku memang seorang eksekutor bagi sindikat lama sebelum dia membangun kekaisarannya sendiri. Jika dia yang melakukannya, itu adalah tugas. Tapi aku bukan ayahku."

​"Jadi itu benar," bisik Aruna. "Alasan kau menyelamatkanku, alasan kau sangat protektif... ini semua adalah penebusan dosa atas apa yang dilakukan ayahmu pada keluargaku? Hutang monster yang kau bayar dengan nyawamu sendiri?"

​"Awalnya, mungkin iya," Dante mengakui dengan jujur. "Tapi sekarang, ini bukan lagi tentang masa lalu. Ini tentang masa depanmu dan Bumi. Apapun yang terjadi di Zurich, aku tidak akan membiarkan sejarah terulang kembali."

​Aruna memalingkan wajahnya ke jendela, menatap awan gelap yang menyelimuti pegunungan di bawah mereka. Ia menyadari bahwa hubungannya dengan Dante adalah sebuah lingkaran setan. Mereka terikat oleh darah yang tumpah jauh sebelum mereka lahir.

​Sembilan jam kemudian, mereka mendarat di sebuah lapangan terbang pribadi di pinggiran Zurich. Udara di sini jauh lebih dingin dan tajam. Mereka segera dibawa menggunakan iring-iringan mobil SUV hitam menuju sebuah apartemen mewah yang telah disiapkan oleh jaringan rahasia Dante di Eropa.

​Apartemen itu berada di jantung kota, menghadap ke Danau Zurich. Namun, keindahan pemandangannya tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa mereka masih dalam pelarian.

​"Enzo, perketat pengawasan. Julian Thorne punya banyak koneksi di perbankan Swiss," perintah Dante sesampainya di sana.

​Aruna membawa Bumi ke kamar, lalu ia kembali ke ruang tengah di mana Hadi sedang menyesap teh hangat.

​"Ayah, apa itu Proyek Icarus?" tanya Aruna tanpa basa-basi.

​Hadi tersedak tehnya. Wajahnya yang pucat menjadi semakin putih. "Dari mana kau mendengar nama itu?"

​"Elena mengirim pesan padaku."

​Hadi mendesah panjang. "Icarus adalah nama kode untuk Dana Abadi itu. Kakekmu menyebutnya begitu karena dia tahu siapa pun yang mencoba memilikinya akan terbang terlalu dekat dengan matahari dan terbakar. Itu bukan hanya uang, Aruna. Di dalam brankas itu tersimpan daftar kepemilikan saham mayoritas di beberapa bank sentral dunia. Siapa pun yang memegangnya bisa meruntuhkan ekonomi sebuah negara hanya dengan satu tanda tangan."

​Aruna terduduk lemas. Skalanya jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Ini bukan sekadar perang mafia; ini adalah perang untuk menguasai tatanan dunia.

​"Dan keluarga Valerius adalah orang-orang yang ditugaskan untuk menjaga agar rahasia itu tetap terkubur," sambung Hadi. "Ayah Dante bukan membunuh kakekmu karena benci, tapi karena diperintah untuk mencegah kakekmu menjual informasi itu ke pihak asing. Ironisnya, sekarang anak dari eksekutor itu justru melindungimu untuk membuka kembali rahasia tersebut."

​Tiba-tiba, televisi di ruang tengah menyala dengan sendirinya. Layar itu menampilkan wajah Julian Thorne yang sedang tersenyum dalam sebuah wawancara bisnis di televisi internasional.

​"...dan kami sangat antusias dengan ekspansi kami di Zurich minggu ini. Kami percaya bahwa transparansi adalah kunci dari kesuksesan finansial," ucap Julian di layar.

​Aruna menatap layar itu dengan ngeri. Julian Thorne sudah ada di Zurich. Dia mengikuti mereka seperti bayangan yang tidak bisa hilang.

​Di bawah layar televisi, muncul sebuah pesan teks yang bergerak cepat: "Selamat datang di Swiss, Aruna. Jamuan makan malam kita berikutnya akan dilakukan di dalam brankas bank. Jangan lupa membawa kuncimu."

​Dante masuk ke ruangan dengan wajah geram. "Dia sudah menyadap frekuensi televisi apartemen ini. Kita harus bergerak malam ini juga sebelum dia memblokade bank tersebut."

​"Tapi Ayah masih lemah, Dante!" Aruna memprotes.

​"Kita tidak punya pilihan!" Dante meraih mantelnya. "Aruna, ambil pistolmu. Kita akan melakukan ini sekarang. Jika kita menunggu sampai pagi, kita hanya akan menjadi target empuk di apartemen ini."

1
Nasya Sifa Aura
sampai sini sungguh mengesal kn dante atau labonte sbgai lelaki tdk punya ketegasan
Kusii Yaati
Aruna harus di latih agar menjadi kuat dan tangguh 💪
mama ubay
keren cerita novelnya 💪💪💪lanjut lanjut
mama ubay
berarti aruna sudah jadi kekasih dante yah??
mama ubay
mantap.semoga dante bs jatuh cinta sm aruna
mama ubay
tidak lama lagi d tandai sebagai orang istimewah
mama ubay
selamat tp masuk kandang harimau
mama ubay
emang tdk bs panggil nama apa
mama ubay
keren keren letak tanda baca dan alur cerita tdk membuat bosan 👍👍👍👍👍
mama ubay
aanak yg polos
mama ubay
setiap kebaikan insyaALLAH pasti akan kembali lg ke diri kita👍
mama ubay
andaikan itu aku pasti cari aman
mama ubay
penasaran kenapa dia d tolong
Vanni Sr
di bab bro aruna sm dante nikah?? ko tau² udh kek suami istri aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!