NovelToon NovelToon
RITUAL PUJON BAYI

RITUAL PUJON BAYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Tumbal / Kutukan / Romansa pedesaan
Popularitas:98k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Tiga kali mengalami kehilangan calon bayinya saat usia kandungan hampir melewati trimester pertama, membuat Ainur, calon ibu muda itu nyaris depresi.

Jika didunia medis, katanya Ainur hamil palsu, tapi dia tidak lantas langsung percaya begitu saja. Sebab, merasa memiliki ikatan batin dengan ketiga calon buah hatinya yang tiba-tiba hilang, perut kembali datar.

Apa benar Ainur hamil palsu, atau ada rahasia tersembunyi dibalik kempesnya perut yang sudah mulai membuncit itu ...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21 : Jangan melewati batas

Untuk pertama kalinya Ainur melihat seringai culas pelayannya. Persis seperti sosok yang semalam membekap, menyayat, menendang dirinya. Wangi mereka pun sama, beraroma kayu manis. Dari bau itulah Ainur mengambil kesimpulan kalau mba Neng pelaku yang menyerangnya.

Sejenak Inur terpaku, gunting pada genggamannya sedikit mengendur, tapi ujungnya tetap menekan kulit tepat di urat Arteri Karotis.

Sang pelayan berdiri, menulis dengan gerakan sangat cepat, lalu diangkatnya buku khusus itu. ‘Jika kamu mati bersama ketiga putramu. Masih tertinggal kedua putri yang berada di cengkraman ki Ageng. Harap jangan lupakan itu, Ainur!’

Mba Neng melirik diiringi senyum miring sangat tipis, terlihat jelas oleh matanya, getar pada netra serta tubuh Ainur.

‘Tetaplah berada di posisimu. Jangan melewati batas, mencari tahu tentang aku. Teman atau lawan, suatu hari nanti kamu juga akan mengetahuinya.’ Buku dan pena dia jatuhkan menggantung pada leher.

Ainur masih bergeming, rautnya terlihat bingung. Sama-sama mereka mendengar suara langkah kaki.

Mba Neng seperti sosok tak kasat mata. Bergerak senyap, tahu-tahu sudah di samping meja rias – meminum habis teh herbal seharusnya untuk Ainur.

‘Kendalikan ekspresi mu!’

Ainur membaca tulisan itu. Dia menarik napas, memejamkan mata, lalu membukanya cepat, langsung terkesiap saat mba Neng sudah berdiri di depannya menyodorkan gelas kosong.

“Nduk, bagaimana keadaanmu?” Bu Mamik masuk ke dalam kamar Ainur. Menatap sekilas sang pembantu yang mengelap bekas tumpahan teh.

“Sudah mendingan, bu. Ini baru saja menghabiskan teh herbal.” Ia mengangkat gelas sedikit miring agar bisa dilihat oleh wanita yang sebelumnya dianggap ibu mertua.

Bu Mamik mengambil gelas, mengulurkan ke mba Neng, lalu dia mengelus lengan atas Ainur. “Syukurlah, ibu senang dengernya. Betapa takutnya semalam ketika suamimu berteriak mengabarkan kalau kamu terluka.”

"Terima kasih atas rasa empatinya, bu,” Ainur tersenyum tulus.

“Kita keluarga. Lukamu juga duka ibu.” Bu Mamik menyeka sudut matanya menggunakan ujung sapu tangan.

“Katanya Neneng, kemarin kamu bilang mau pergi ke kolam ikan di pembibitan, benar?”

Ainur mengangguk. ‘Dia lawan atau kawan? Kenapa mengadukan keinginanku?’

Tangan kurus Ainur digenggam. “Jangan dulu ya, nduk. Diluar lagi ndak aman, takutnya maling itu memiliki teman, tidak sendirian. Bisa saja menyerang salah satu anggota keluarga kita, terlebih kamu menantu sekaligus putri kesayangan keluarga terhormat.”

Semua itu dusta, tidak ada yang tertangkap, dan sosok penyusup sampai kini masih jadi misteri bagi Tukiran dan keluarganya.

Seperti biasanya. “Nggeh, bu.”

“Kamila mau pamitan, ayo keluar sebentar.” Bu Mamik menarik lembut lengan Ainur.

‘Awas kamu sundel!’ Ainur teringat kata-kata Kamila, yang menyamakan dirinya dengan belalang sembah.

Mba Neng membereskan kamar Ainur, mengembalikan barang pada tempatnya yang letaknya sudah dihafal luar kepala.

***

“Ainur, aku pamit dulu ya. Kamu apa ndak mau mengelus perutku, siapa tahu cepet-cepet ketularan,” Kamila tersenyum lebar, namun sorot matanya mengejek.

“Ndak. Terima kasih mbak. Takutnya nanti terselip rasa iri, lalu mempengaruhi suasana hatiku. Kalau sudah rezeki tidak akan kemana. Mau dijegal, bahkan disakiti sedemikian rupa – jika ditakdirkan untukku, bakal jadi milikku. Begitu juga sebaliknya.” Ainur membalas senyum Kamila dengan senyum tak kalah lebar.

Sekilas, hanya sepersekian detik, raut Kamila kaku, tapi dia pintar memainkan ekspresi. “Kamu benar, semoga hari bahagia itu juga cepat-cepat menghampirimu.”

Ainur manggut-manggut. “Semoga saja ….”

Kereta kuda dari kediaman keluarga Jayadi sudah siap membawa sang putri tunggal. Bu Mamik membantu menantunya naik, memastikan Kamila duduk nyaman.

Ainur tidak sudi turun dari teras, dia berdiri dan hanya memperhatikan.

Kamila melambaikan tangan, dibalas oleh bu Mamik. Ainur juga melakukan hal sama agar tidak menarik rasa curiga. Tanpa menunggu sang ibu mertua, dia masuk duluan ke dalam rumah. Tujuannya bukan kamar, tapi dapur.

Bu Mamik menatap rumit punggung Ainur, lalu menggeleng kepalanya. ‘Mungkin perasaanku saja. Bisa jadi dia masih kepikiran bayinya yang hilang.’

***

Pada sore hari saat matahari baru saja terbenam, masih menyisakan warna jingga kemerahan di cakrawala – di hunian Tukiran, anggota keluarganya tengah menikmati makan malam.

“Ainur, malam ini kami hendak bertandang ke rumah bapakmu, ada yang mau dibahas perihal bisnis baru. Apa kamu mau ikut?” sang kepala keluarga bertanya dengan nada santai.

“Aku dirumah saja, pak. Nunggu mas Aryo pulang dari desa sebelah,” tolaknya pelan.

“Bu, kamu nasehatin putramu itu. Jangan terlalu ngoyo kerjanya! Kasihan menantu kita, sering ditinggal sendirian, pasti Ainur kesepian,” protes Tukiran, mencela Daryo.

“Nggeh, pak. Nanti tak omongi Daryo, padahal ibu juga sudah sering menasehati. Katanya, dia kerja keras demi masa depannya bersama Ainur. Ingin membahagiakan dan memastikan istrinya ndak kekurangan.”

'Ingin sekali rasanya aku memuntahkan makanan yang baru saja masuk ke lambung,' gerutunya dalam hati. Sangat muak mendengar, melihat kepalsuan ini.

“Mboten nopo-nopo, bu, pak. Yang terpenting tujuan mas Daryo jelas, kerja. Tidak yang lainnya!”

Kening Citranti terlipat, dia menoleh ke Ainur. “Maksud dari kata lainnya, apa Ainur?”

“Ya mancing, mbak. Mas Aryo kan ketagihan memancing di rawa-rawa. Sering kena omel ibu. Pernah aku diajak kerja sama nyembunyiin alat pancingnya.” Ainur terkikik lalu cepat-cepat menutup mulut.

Ainur bisa menangkap ekspresi lega pada ketiga orang yang pura-pura mengelap mulut, mendorong piring kosong, dan meletakkan alat makan.

***

“Mbak, kamu apa ndak khawatir? Lagi hamil muda tapi keluar dimalam hari? Bukankah katanya pantang, ya?” Ainur menelisik sopan penampilan Citranti yang memakai pakaian tebal, lalu berkalungkan selendang.

Citranti kesulitan mencari alasan, bu Mamik membantu menjawab. “Mbak mu sudah makai jimat dari ki Ageng. Jadinya aman dari gangguan makhluk halus. Sudah ya, nduk … kami berangkat dulu.”

“Nggeh, bu. Sing ngati-ngati … semoga kecelakaan ditengah jalan, kereta kalian masuk jurang,” tentu saja kalimat terakhir cuma sebatas membatin.

Ainur pura-pura tidak melihat pada Tukiran yang tengah berbicara dengan mba Neng disamping kereta Kuda.

“Kamu awasi terus dia! Kalau ada apa-apa langsung beri aba-aba, biar para penjaga langsung bertindak!” Ia memindahkan cerutunya ke selipan jari tangan kiri.

Mba Neneng mengangguk patuh, lalu membungkuk dalam.

Sekarang di hunian Tukiran, ada tambahan penjaga empat orang laki-laki yang katanya menguasai ilmu bela diri.

Kala kereta Kuda sudah keluar dari gerbang, dan pintu tinggi itu kembali ditutup rapat, Ainur memanggil sang pelayan.

“Mbak Neng, malam ini jangan ganggu aku! Kamu ndak bisa bicara atau sengaja membisukan diri – khusus malam ini, tolong jadilah tuli dan buta!” katanya tegas.

Ainur berbalik badan, tidak mempedulikan bagaimana ekspresi wajah mba Neng.

Ini adalah malam Jumat yang sudah dijanjikan. Bagaimanapun caranya dia harus berhasil menyelinap dari hunian ini.

***

Tepat pukul sembilan malam, Ainur sudah bersiap-siap. Dia tahu kalau Aryo tidak akan pulang cepat, bisa jadi sama sekali tidak pulang, menginap di rumah istri sahnya.

Ainur menyelipkan gunting pada pinggangnya, menyambar selendang hitam, melilitkan ujungnya pada leher yang sudah sembuh dari luka gores. Diam-diam dia keluar dari dalam kamar, memastikan sekitarnya aman, lalu berlari kencang ke bagian belakang, menyebrangi halaman, dan menyelinap di sela-sela gazebo.

“Mau kemana manis? Badanmu seperti orang kekurangan gizi, tapi larimu layaknya Harimau betina. Apa goyangan pinggulmu secepat itu juga …?”

.

.

Bersambung.

1
Aprisya
semangat ainur bebaskan anak2 kamu
Salim ah
hahaha...teriak dungu padahal kaliyan yg dungu goblok 🙄 tunggu pembalasan inur yg lebih kejam para manusia hati iblis
Jetri
Si dungu berteriak dungu 🤣🤣🤣🤣
Bang Fay
ayo inur yg kuat demi balas dendam
Reni
Ealah cublikkkkk Jian kok bikin jantungan ternyata malah citranti to yg ketahuan untung bener ni bocah berulah
Betri Betmawati
siap2 lh kalian menerima pembalasan dari Ainur, sehbat2 nya Ki Ajeng masih bisa dikelabui olh mbak neng
Betri Betmawati
itu bayi monster nya pasti seram bangat ya
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Dungu? mungkin itu dulu, sekarang dia perlahan mulai berubah dan akan menuntut balas atas perbuatan kalian terhadapnya🙄
surya kartolo6
orang Ainur juga sudah LBH dari tau😡
Gadis misterius
Sekarang wktunya untuk bngkit ainur buang kasih dan perasaan manusiawimu manusia yg kau hadapi adlah manusia2 yg melebihi iblis km harus mampu balas dendam melebihi kwsadisan yg mereka lakukan kepadamu dan ke anak2mu
surya kartolo6
bukankah klo hamil baru trimester pertama itu masih gumpalan darah ya, maksudnya blm jadi janin.trus kok bisa tau2 sudah jadi wujud walaupun sudah tiada dan wujudnya monster..
Siti Mamahe Kaila Izana
Hai Mamik loe yg Dungu (pake banged) 👊👊👊 boleh geplak Mamik dan Tukiran ngga? 🤬🤬⚔️⚔️
ora
Yang kau katai dungu itu yang nanti bakal menghancurkan hidupmu...
Lisstia
ini kapan lagi waktunya ainur hamil laginya
ainur gak di bawa jalan jalan ke desanya dwipa lagi ya kak,,,biar dia lihat aktivitas warga di sana juga
Nurr Tika
semangat nur
Eli Rahma
bnr kamu hrs balas mereka lebih sadis dan lbh kejam..semangt Ainur..
Herni Tri Putri
cerita yg menarik dibaca,awal2 cerita susah ditebak..makin kesini,makin bikin penasaran../Good/
Eli Rahma
sakti juga mb neng..
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR
Bu Mamik, kau bilang dungu? Dungu juga akibat ulahmu, tunggu saja kala si dungu ini menemukan serpihan otak waras nya, pembalasan terencana akan segera menghampiri dan mengoyak semua milikmu.
menghanguskan mu si paling pintar.
SENJA
enak banget ngatain dungu 😶
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!