NovelToon NovelToon
Nenek Gerandong : Kisah Urban Legend Indonesia

Nenek Gerandong : Kisah Urban Legend Indonesia

Status: tamat
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Horror Thriller-Horror / Hantu / Horor / Tamat
Popularitas:50
Nilai: 5
Nama Author: SARUNG GAME

Kisah ini Terinspirasi dari Lengenda Urban Nenek Gerandong Di Banten Indonesia

Dulu kala Ada Ibu Muda yang sedang menyusui bayi, tiba tiba sosok nenek menyeramkan hadir membuat si ibu muda ketakutan dan pingsan. si nenek seram itu lalu menculik bayinya dan masuk ke dalam hutan dengan cara melayang

Jika bayi Ibu menyusui tak cepat ditemukan apa yang akan terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SARUNG GAME, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Kembalinya Kedamaian

Sawah-sawah hijau membentang luas hingga ke kaki bukit, padi menguning siap panen setiap musim, anak-anak berlarian di jalan setapak dengan layang-layang warna-warni yang melambai di angin sepoi.

Rumah-rumah panggung kini lebih banyak, dinding bambu dicat ulang, atap daun rumbia diganti yang baru, dan di setiap teras selalu ada pot bunga melati yang harumnya menyambut siapa saja yang lewat. Sungai kecil yang dulu penuh ilusi kini menjadi tempat favorit—airnya jernih berkilau, ikan-ikan kecil berenang bebas, dan anak-anak sering mandi sambil tertawa sampai senja turun.

Lila, anak bungsu Siti Aisyah, genap tujuh tahun hari itu. Usia yang dulu menjadi bayang mengerikan bagi setiap keluarga di desa—usia ketika kutukan Mbah Saroh dulu menuntut jiwa. Tapi hari ini, tak ada ketakutan di mata siapa pun. Lila berdiri di depan rumah panggung dengan gaun kecil berwarna merah muda yang dijahit ibunya sendiri, rambut hitam panjangnya diikat pita putih, pipinya montok merah karena malu. Di sekitarnya, Cecep yang sudah berusia empat belas tahun berdiri gagah dengan baju koko baru, Ratih dua belas tahun memegang kue ulang tahun sederhana dari tepung beras dan gula aren, dan Siti Aisyah serta Kang Asep berdiri di belakang dengan mata basah bahagia.

“Lila... tujuh tahun sudah,” bisik Siti Aisyah, suaranya penuh getar syukur. Ia memeluk anak bungsunya erat, mencium keningnya berulang kali. “Dulu ibu takut sekali waktu kau mendekati usia ini... ibu ingat malam-malam gelap, mimpi buruk, suara tawa serak... tapi sekarang... lihat kamu, sayang. kamu tujuh tahun... dan desa ini aman. Mbah Saroh sudah memberi kita kedamaian.”

Lila tertawa kecil, tangan kecilnya memeluk leher ibunya. “Ibu... Lila tidak takut. Lila sering mimpi Mbah Saroh. Dia kasih Lila bunga... dia bilang Lila boleh besar dengan senang. Lila suka Mbah Saroh sekarang.”

Kang Asep tertawa pelan, air matanya jatuh tanpa malu. Ia memeluk istri dan anak-anaknya sekaligus. “Lila... kau masih kecil ketika kutukan berakhir. Kau simbol kedamaian kita. Tujuh tahun tanpa insiden... itu bukti Tuhan dan Mbah Saroh sudah maafkan kita sepenuhnya.”

Pesta kecil diadakan di lapangan depan masjid. Warga datang membawa makanan—nasi kuning, ayam goreng, kue-kue tradisional, dan buah durian segar dari pohon yang dulu dianggap angker. Daeng Tasi dan Sari Wangi datang dengan Lilis yang sudah bisa berjalan lincah, membawa kado kecil berupa kalung manik-manik buatan tangan. Bang Jaim dan Kang Mamat ikut, membawa cerita baru dari perjalanan dagang mereka ke Balikpapan.

Siti Aisyah berdiri di depan warga, suaranya lembut tapi jelas. “Hari ini Lila tujuh tahun. Usia yang dulu bikin kita takut setengah mati. Tapi lihat... tak ada apa-apa. Tak ada suara tawa serak, tak ada bau kemenyan, tak ada mimpi buruk. Hutan kita sekarang tempat wisata mistis yang aman—orang dari kota datang untuk berdoa di monumen Mbah Saroh, untuk merasakan kedamaian yang kita dapat dari pengampunan. Ini bukti... pengampunan itu nyata. Mbah Saroh sudah memberikan kita warisan terbaik: kedamaian.”

Warga bertepuk tangan pelan, beberapa menangis bahagia. Pak Kades yang sudah semakin renta berdiri dengan tongkat, suaranya bergetar. “Kita dulu hidup dalam ketakutan. Tapi sekarang... lihat anak-anak kita. Lila tujuh tahun... dan besok anak-anak lain akan ikut. Kita sudah bebas. Terima kasih Mbah Saroh... terima kasih atas pengampunanmu, Terima kasih ya Allah telah melindungi Desa ini dari malapetaka”

Malam itu, pesta kecil berlanjut dengan tawa dan cerita. Anak-anak bermain petak umpet sampai larut, ibu-ibu bernyanyi lagu-lagu lama, lelaki-lelaki duduk melingkar cerita tentang masa lalu yang kini terasa seperti dongeng. Di kejauhan, hutan Durian Berduri berdiri tenang di bawah langit berbintang—pohon duriannya berbuah lebat, sungainya mengalir jernih, dan monumen kecil itu selalu bercahaya lembut oleh lampu minyak yang dinyalakan warga setiap malam.

Siti Aisyah duduk di teras rumahnya malam itu, Lila tertidur di pangkuannya. Ia menatap langit penuh bintang, air matanya jatuh pelan. “Mbah Saroh... terima kasih. Kau beri kami kedamaian ini. Anakku tujuh tahun... tanpa insiden. Kau sudah benar-benar maafkan kami.”

Angin malam bertiup lembut, membawa aroma melati dari monumen. Dan di suatu tempat di alam gaib, roh Mbah Saroh tersenyum tipis—senyuman penuh damai, senyuman seorang ibu yang akhirnya bisa melihat anak-anak yang tak pernah ia miliki tumbuh dengan bahagia.

Desa Durian Berduri berkembang. Hutan menjadi tempat wisata mistis yang aman—orang datang dari jauh untuk berdoa dan mendengar kisah dari warga desa, untuk rasain kedamaian, untuk dengar cerita tentang pengampunan yang mengubah kutukan menjadi berkah. Tak ada lagi ketakutan. Hanya cinta, harapan, dan kedamaian yang abadi.

\*\*\*

1
Pemuja Rahasia 001
baru bab awal tapi bagus penyusunan kata halus , terutama saat deskripsi tentang teh sari
Pemuja Rahasia 001
bab 3 ini bagus penyusunan katanya bagus terutama saat teh sari pingsan di lantai
Pemuja Rahasia 001: bab 3 tentang moster laut bagus
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!