NovelToon NovelToon
Bukan Sistem Biasa

Bukan Sistem Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Dikelilingi wanita cantik / Sistem
Popularitas:173.9k
Nilai: 4.6
Nama Author: Sarif Hidayat

Beberapa bulan setelah ditinggalkan kedua orang tuanya, Rama harus menopang hidup di atas gubuk reot warisan, sambil terus dihantui utang yang ditinggalkan. Ia seorang yatim piatu yang bekerja keras, tetapi itu tidak berarti apa-apa bagi dunia yang kejam.
​Puncaknya datang saat Kohar, rentenir paling bengis di kampung, menagih utang dengan bunga mencekik. Dalam satu malam yang brutal, Rama kehilangan segalanya: rumahnya dibakar, tanah peninggalan orang tuanya direbut, dan pengkhianatan dingin Pamannya sendiri menjadi pukulan terakhir.
​Rama bukan hanya dipukuli hingga berdarah. Ia dihancurkan hingga ke titik terendah. Kehampaan dan dendam membakar jiwanya. Ia memutuskan untuk menyerah pada hidup.
​Namun, tepat di ambang keputusasaan, sebuah suara asing muncul di kepalanya.
​[PEMBERITAHUAN BUKAN SISTEM BIASA AKTIF UNTUK MEMBERIKAN BANTUAN KEPADA TUAN YANG SEDANG PUTUS ASA!
APAKAH ANDA INGIN MENERIMANYA? YA, ATAU TIDAK.
​Suara mekanis itu menawarkan kesepakatan mutlak: kekuatan, uang,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarif Hidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Pil kultivator

Sebuah suara membentak memecah ketegangan, penuh amarah dan penghinaan:

"AKU SAMA SEKALI TIDAK MENDUGA AKAN ADA SEKUMPULAN SAMPAH YANG BEGITU TAK TAHU MALU BERANI MEMINTA UANG PADA PEDAGANG KECIL!"

​"Siapa... siapa yang bicara?"

​Para preman itu serentak menoleh mencari sumber suara. Tatapan tajam mereka langsung tertuju pada seorang pemuda—Rama—yang berjalan tenang mendekat.

​"Kau yang bicara?" tanya salah seorang preman dengan nada mengancam.

​"Memangnya ada orang lain yang suaranya terdengar sejelas ini?" jawab Rama santai. Ia kemudian menunjuk dagangan yang hancur di sekitar pedagang itu.

​"Tidakkah kalian terlalu berlebihan sampai harus menghancurkan dagangannya? Aku lihat tubuh kalian sehat dan kalian masih bisa berpikir. Apa kalian tidak merasa malu meminta uang pada seseorang hanya demi kepentingan perut kalian sendiri?"

​Rama melanjutkan, "Bahkan orang gila di sana lebih terhormat dari kalian. Dia tidak bisa bekerja, tidak bisa berpikir, tetapi dia tidak merusak dagangan orang lain hanya karena lapar."

​Seketika, suasana pasar menjadi hening. Tidak ada yang mengenali siapa pemuda pemberani ini. Bisikan penasaran mulai menyebar di kerumunan.

​"Si-siapa anak muda itu? Dia begitu berani bicara seperti itu pada Jabrig dan anak buahnya?" bisik seorang pejalan kaki.

​"Aku tidak tahu, mungkin dia hanya orang bodoh yang tak tahu siapa preman-preman itu," jawab rekannya.

​"Bajingan! Apa kau sudah bosan hidup, bocah? Beraninya kau bicara kurang ajar seperti itu pada kami!" bentak Jabrig, ketua kelompok preman itu, maju selangkah.

​"Aku rasa, kalianlah yang sudah bosan hidup. Sikap tak beraturan kalianlah yang membuat pasar ini menjadi kotor," balas Rama datar..

​"Bangsat! Apa yang kau tahu tentang aturan, hah? Semua peraturan di pasar ini dipegang oleh tuan kami! Siapa kau berani-beraninya membicarakan peraturan, Bocah?!"

​"Oh, kalau begitu, sepertinya kalian telah mengikuti tuan yang bodoh." Ucapan Rama yang tenang namun menusuk itu berhasil membuat Jabrig dan anak buahnya naik pitam.

​"Kau cari mati, Bocah!" raung Jabrig. Ia langsung memberi isyarat kepada tiga pengikutnya untuk menyerang. "Hajar dia! Buat dia mengerti konsekuensi ikut campur urusan kita!"

​WUSHH

​Tanpa perlu diperintah dua kali, ketiga preman itu menerjang Rama dari tiga arah. Namun, Rama bergerak jauh lebih cepat. Sebelum tinju mereka sempat menyentuh, ia sudah bergerak.

​Bugh!

Arkhhhh!

Brak!

​Meskipun Rama tidak menguasai teknik bela diri khusus, efek dari pil penguat tubuh telah meningkatkan insting bahayanya. Ia merasa tubuhnya bergerak mudah dan lancar, seolah terbiasa bertarung. Hanya butuh tiga gerakan cepat bagi Rama untuk membuat ketiga preman itu terlempar ke berbagai arah.

​Para penonton melotot, mulut mereka menganga tak percaya. Jabrig sendiri terpaku sesaat, terkejut melihat tiga pengikutnya dikalahkan hanya dalam satu serangan.

​Tidak ada yang menyangka pemuda itu memiliki kemampuan bertarung sehebat ini. Namun, yang tidak mereka ketahui, Rama sendiri juga terkejut dengan kekuatan tubuhnya. Ia jelas merasa hanya menggunakan sebagian kecil tenaganya untuk menghantam para preman itu.

​"Bangsat! Kau benar-benar cari masalah, Bocah!" Sadar dari keterkejutannya, Jabrig menerjang Rama dengan amarah membabi buta.

​WUSHH

​Rama sudah bersiap. Ia bergerak ke samping untuk menghindari serangan itu, lalu mengangkat satu kakinya.

​Bugh! Ugh! Wuss... Brak!

​Jabrig terlempar beberapa langkah ke belakang, memuntahkan seteguk darah segar dari mulutnya. Ia menggeretakkan gigi, menatap Rama, dan berusaha bangkit. Namun, rasa sakit yang menusuk organ dalamnya membuatnya sulit bergerak.

​Semua orang menahan napas. Jika mereka tidak menyaksikannya secara langsung, mereka tidak akan percaya bahwa Jabrig dan tiga temannya dikalahkan oleh seorang pemuda hanya dengan satu serangan tunggal.

​Rama melangkah mendekati Jabrig yang sedang berjuang untuk bangkit.

​"Ka-kau... seorang ahli bela diri?" tanya Jabrig, menahan rasa sakit di perutnya. Ia dan anak buahnya hanya tukang pukul biasa, mengandalkan kekuatan fisik tanpa gerakan terlatih. Dikalahkan dengan satu serangan seperti ini membuatnya yakin pemuda di depannya adalah petarung yang terlatih.

​"Ganti rugi atas dagangan pedagang ini. Aku akan mengampuni kalian kali ini," ucap Rama datar.

​"Bocah, kamu jangan keterlaluan! Tahukah kamu siapa kami...? Kami adalah—"

​"Ganti rugi," potong Rama dengan nada lebih menekan, "atau kau dan mereka semua tidak akan bisa berjalan lagi."

​"Kau... kau akan menyesalinya, Bocah," ujar Jabrig, tak punya pilihan selain menahan amarahnya. Dengan tertatih menahan sakit, ia terpaksa berjalan ke arah pedagang itu, mengganti semua kerugian atas barang-barang yang mereka rusak. Setelah itu, tanpa berani menatap Rama lagi, mereka segera pergi.

​Setelah kepergian para preman, ketegangan berganti menjadi rasa penasaran. Siapa sosok pemuda itu? Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang berani bertanya.

​Rama menghampiri pedagang tersebut. "Apakah Bapak baik-baik saja?"

​"Sa-Saya baik-baik saja, Nak. Terima kasih banyak atas bantuanmu. Dagangan ini adalah satu-satunya mata pencaharian saya, dan kamu telah menyelamatkannya. Kamu benar-benar seperti pahlawan, Nak. Entah bagaimana cara Bapak membalas kebaikanmu," ucap pria paruh baya itu dengan mata berkaca-kaca. Ia hendak membungkukkan tubuh, tetapi Rama segera menahannya.

​"Tidak perlu berlebihan seperti itu, Pak. Saya membantu Bapak karena saya sendiri pernah merasakan bagaimana rasanya berada di posisi tertindas tanpa bisa melawan," ujar Rama.

​Pria paruh baya itu terharu dan langsung memeluk Rama, menunjukkan rasa terima kasih dan rasa tertolong yang mendalam. "Terima kasih, Nak... terima kasih banyak."

​Setelah melepaskan pelukan, pria itu kembali berkata, "Nama saya Arman. Kalau Bapak boleh tahu, siapa namamu, Nak?"

​"Nama saya Rama, Pak. Kalau begitu, saya permisi. Semoga para preman itu tidak datang kembali mengganggu Bapak," ucap Rama. Baru saja ia berbalik, Pak Arman menghentikannya.

​"T-tunggu dulu, Nak. Ini ada sesuatu sebagai ucapan terima kasih dari Bapak," Arman menyodorkan sebuah kalung dengan liontin yang menyerupai batu permata, meskipun terlihat agak berbeda.

​"Tidak perlu, Pak. Saya ikhlas membantu. Lagipula, itu adalah salah satu barang dagangan Bapak. Akan sangat berguna jika barang itu Bapak jual saja," tolak Rama dengan tulus.

​[DING! Energi murni terdeteksi!]

​"Eh. Sistem, apa maksudmu mengandung energi murni?" Rama sedikit terkejut mendengar suara sistemnya tiba-tiba.

​[DING! Energi murni adalah salah satu bahan yang dapat membuat kekuatan pada tubuh Tuan meningkat pesat.]

​Rama tak sempat bertanya lebih lanjut karena Pak Arman kembali berkata, "Bapak benar-benar berharap Nak Rama harus menerima ini. Karena jika tidak, maka Bapak akan selalu merasa terbebani."

​Melihat wajah penuh harap dan ketulusan Pak Arman, Rama akhirnya menerima benda tersebut. "Baiklah, kalau begitu saya akan menerimanya. Tetapi, saya akan membayar setengah dari harga jualnya."

​"Tidak-tidak, Nak Rama. Itu sama saja saya tidak memberikannya secara penuh," kata Pak Arman.

​"Kalau begitu, terima kasih banyak. Semoga bulan depan dagangan Bapak akan ramai oleh pembeli."

​Setelah menerima benda itu, Rama pun kembali ke toko pakaian dan membeli beberapa set pakaian di sana. lalu tak lupa dia membeli beberapa bahan masakan untuk untuk malam ini.

​Dalam Perjalanan Pulang

​[DING! Selamat, Tuan Rumah telah menyelesaikan misi dari sistem. Anda mendapatkan hadiah Pil Kultivator dengan Bakat Tertinggi dan uang sebesar Rp10.000.000 akan ditambahkan ke profil Tuan.]

​"Pil kultivator?" Rama merasa agak familiar dengan nama kultivator itu, tetapi ia tak memiliki waktu untuk bertanya karena ia sudah tiba di pangkalan ojek.

1
Dirman Ha
g book
Dirman Ha
I g nk
Zulterry Apsupi
MC idiot
Memyr 67
𝗋𝖺𝗇𝖽𝗒 𝗂𝗍𝗎 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗌𝖺𝗅𝖺𝗁 𝖺𝗌𝗎𝗁𝖺𝗇 𝗒𝖺?
Memyr 67
𝗁𝖺𝗁? 𝗐𝗂𝖽𝗒𝖺? 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗒𝗀 𝖻𝗂𝖺𝗌𝖺 𝖽𝗂𝗉𝖺𝗄𝖺𝗂 𝗉𝗋𝖾𝗆𝗉𝗎𝖺𝗇, 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗌𝖾𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄?
Memyr 67
𝗍𝗎 𝗄𝖺𝗇? 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍. 𝖻𝖺𝗀𝖺𝗂𝗆𝖺𝗇𝖺 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗒𝗀 𝗌𝗎𝗉𝖾𝗋𝗂𝗈𝗋 𝗆𝖺𝗎 𝖽𝗂𝗉𝖺𝗌𝖺𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂, 𝗒𝗀 𝗌𝖾𝗅𝖺𝗅𝗎 𝖽𝗂𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇 "𝗆𝖾𝗇𝗒𝖾𝗅𝖺𝗆𝖺𝗍𝗄𝖺𝗇" 𝗋𝖺𝗆𝖺. 𝗋𝖺𝗆𝖺? 𝖽𝗂𝗌𝖾𝗅𝖺𝗆𝖺𝗍𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗅𝖾𝗁 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍? 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋𝖺𝗇 𝖺𝖻𝗌𝗎𝗋𝖽 𝗌𝗂𝗁 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺, 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗂𝗍𝗎
Memyr 67
𝗌𝖾𝗆𝗈𝗀𝖺 𝗁𝗎𝖻𝗎𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝖽𝖺𝗇 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗌𝖾𝖻𝖺𝗍𝖺𝗌 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 𝖼𝗈𝖽𝖾𝗍, 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁. 𝗄𝖺𝗌𝗂𝖺𝗇 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝖻𝖾𝗋𝗉𝖺𝗌𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗌𝖾𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂. 𝖻𝖾𝗋𝗎𝗌𝖺𝗁𝖺 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗉𝖺𝖽𝖺𝗁𝖺𝗅 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝖽𝗂𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗇𝖽𝗂𝗋𝗂 𝗌𝖺𝗃𝖺 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝗆𝖺𝗆𝗉𝗎.
Manusia Biasa
lucu gw suka interaksi bela x rama😁
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗅𝖺𝗂𝗇 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗃𝗎𝗀𝖺 𝗉𝖾𝗅𝗎𝗉𝖺. 𝖽𝗂𝖺 𝗌𝖺𝗃𝖺 𝖽𝗂𝗍𝗈𝗅𝗈𝗇𝗀 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗅𝗂𝗆𝖺 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗇𝖽𝖺𝗅𝖺𝗇. 𝗆𝖾𝗋𝖺𝗌𝖺 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗉𝖾𝗋𝗅𝗎 𝗆𝖾𝗆𝗉𝖾𝗋𝗂𝗇𝗀𝖺𝗍𝗂 𝗋𝖺𝗆𝖺?
Memyr 67
𝗅𝖺 𝗂𝗇𝖿𝗈𝗋𝗆𝖺𝗌𝗂 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝗌𝗁𝖾𝗋𝗅𝗂𝗇 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗌𝖾𝗉𝖺𝗋𝗈. 𝗉𝖾𝗇𝗀𝖺𝗐𝖺𝗌𝖺𝗇 𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗁𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗒𝖺
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺 𝗋𝗂𝖼𝗈 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁𝗇𝗒𝖺 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖼𝗈𝖽𝖾𝗍. 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗀𝗎𝗇𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗍𝗈𝗍 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖻𝖾𝗋𝗄𝗎𝖺𝗌𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋.
Dirman Ha
hv gi
Dirman Ha
yd dg
Dirman Ha
hv no
Dirman Ha
ig gi
Dirman Ha
ih bko
Dirman Ha
ig gh
Memyr 67
𝗄𝗈𝗄 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 250%? 𝖺𝗉𝖺 𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝗅𝗎𝗉𝖺?,
Memyr 67
𝗉𝖺𝗇𝗍𝖺𝗌 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖼𝗈𝖽𝖾𝗍 𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋 𝗉𝖺𝗇𝗃𝖺𝗇𝗀. 𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝖽𝗂𝗄𝖾𝗋𝗃𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖺𝖺𝗍 𝗂𝗍𝗎 𝗍𝖺𝗇𝗉𝖺 𝗆𝖾𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗄𝗂𝖻𝖺𝗍𝗇𝗒𝖺.
Dirman Ha
ih go
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!