"Kamu emang jenius, kenapa dingin banget sih?"
"Gapapa."
"Gapapa apanya? kamu tuh dingin kayak... Es krim ini."
"Iya. Es krim itu juga kan.... manis."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfphyrizhmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 02
BAB 02 — Meja Paling Belakang
Pria paruh baya itu melangkah masuk dengan hentakan sepatu yang konstan. Di tangannya ada penggaris kayu panjang dan buku absen tebal. Namanya Pak Hendra. Guru Matematika yang konon tidak pernah tersenyum sejak tahun 1998.
Suasana kelas X-1 yang tadinya riuh rendah seketika senyap. Hening yang mencekam. Bahkan suara AC terdengar seperti desingan mesin jet.
Pak Hendra meletakkan buku di meja. Matanya menyapu ruangan dari balik kacamata tebal, lalu berhenti tepat di sudut belakang. Di arah Mayang.
“Ada wajah asing,” suara Pak Hendra berat, bergema di ruangan. “Berdiri.”
Mayang melepaskan cengkeramannya pada pulpen mahal milik Naufal. Dia berdiri. Kursinya berdecit pelan, bunyi yang terdengar sangat keras di keheningan itu.
“Nama?”
“Mayang Sari, Pak.”
“Asal sekolah?”
“SMP Negeri 4 Karang Anyar.”
Hening sejenak. Beberapa kepala menoleh, berbisik. Karang Anyar adalah daerah pinggiran yang terkenal dengan pasar induk dan kemacetan, bukan kawasan elit.
“Jalur masuk?”
“Beasiswa Prestasi Akademik Penuh, Pak.”
Pak Hendra mengangguk pelan, tanpa ekspresi. Dia membuka buku absen, mencari nama Mayang, lalu memberikan tanda centang.
“Duduk. Di sini, prestasi masa lalu tidak berlaku. Mulai hari ini, kamu nol. Mengerti?”
“Mengerti, Pak.”
“Bagus. Buka halaman 12. Logaritma.”
Mayang duduk kembali. Jantungnya berdetak normal. Dia sudah menduga sambutan seperti ini. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada ucapan selamat datang. Hanya peringatan untuk tidak menjadi sampah.
Di meja depan, Vivie mengangkat tangan.
“Ya, Vivie?” tanya Pak Hendra.
“Pak, saya mau minta izin pindah tempat duduk sebentar,” kata Vivie dengan suara manja yang dibuat-buat. Dia melirik ke belakang, ke arah Mayang. “Di sini airflow-nya kurang bagus. Ada bau apek yang kebawa angin AC.”
Seisi kelas terkikik. Tawa tertahan yang menyakitkan.
Pak Hendra tidak tertawa. Dia menatap Vivie datar. “Bau apek tidak menghambat penyelesaian persamaan kuadrat, Vivie. Fokus ke papan tulis atau keluar.”
Vivie cemberut, wajahnya memerah padam karena ditolak. Dia mendengus kasar, membanting buku paketnya ke meja. “Iya, Pak.”
Di barisan paling depan, Vino tidak menoleh sedikit pun. Dia sudah membuka halaman 12, membaca sekilas, lalu menutup bukunya kembali. Dia mengeluarkan earphone nirkabel kecil, memasangnya di telinga sebelah kiri—sisi yang tidak terlihat oleh Pak Hendra.
Bagi Vino, materi ini adalah makanan bayi. Dia sudah menyelesaikannya saat kelas 5 SD. Dia lebih tertarik mendengarkan podcast tentang fluktuasi saham Wall Street.
Tiga puluh menit berlalu. Papan tulis penuh dengan angka dan simbol rumit. Pak Hendra menjelaskan dengan cepat, tanpa peduli apakah murid-muridnya paham atau tidak.
“Siapa yang bisa menyelesaikan soal nomor 5?” Pak Hendra menunjuk soal di pojok papan tulis. Soal pengembangan yang menggabungkan logaritma dengan fungsi eksponen.
Tidak ada yang mengangkat tangan.
Naufal di sebelah Mayang tampak mencoret-coret kertas buram dengan panik, keningnya berkerut.
“Vino?” panggil Pak Hendra.
Vino melepaskan earphone-nya dengan gerakan malas. Dia menatap papan tulis sekilas.
“Jawabannya x sama dengan 4 atau x sama dengan min 2,” jawab Vino santai, tanpa memegang pulpen, tanpa mencoret kertas. Dia menghitung di kepala.
Pak Hendra tersenyum tipis—sangat tipis. “Benar. Tapi saya butuh cara pengerjaannya. Maju.”
Vino menghela napas panjang. Seolah diminta maju ke depan adalah siksaan berat baginya. Dia berdiri, berjalan gontai ke papan tulis, mengambil kapur, dan menuliskan runtutan rumus dengan tulisan tangan yang jelek dan cepat.
Dalam sepuluh detik, papan tulis penuh dengan pembuktian yang elegan. Ringkas, padat, tanpa celah.
“Puas, Pak?” tanya Vino, melempar kapur kembali ke kotaknya. Debu kapur beterbangan.
“Duduk.”
Vino berjalan kembali ke kursinya. Saat melewati meja Vivie, gadis itu tersenyum lebar, berusaha mencari perhatian. “Keren banget sih, Vin.”
Vino tidak merespons. Dia bahkan tidak melirik. Dia kembali duduk, memasang earphone, dan menutup diri dari dunia.
“Sekarang, soal nomor 6,” kata Pak Hendra. Dia menulis soal baru. Lebih sulit. Ini soal olimpiade tahun lalu.
“Siapa lagi? Jangan Vino terus. Saya mau lihat kemampuan yang lain.”
Vivie mengangkat tangan dengan percaya diri. “Saya coba, Pak.”
Pak Hendra mengangguk. Vivie maju. Langkah kakinya percaya diri, sepatu hak rendahnya berbunyi tack-tack-tack.
Vivie berdiri di depan papan tulis. Dia mulai menulis. Awalnya lancar. Tapi di baris ketiga, tangannya berhenti. Dia terdiam. Menggigit bibir bawah. Dia menoleh ke arah teman-temannya, meminta bantuan kode.
Teman-temannya menggeleng. Mereka juga buntu.
“Macet, Vivie?” tanya Pak Hendra sinis.
“Sebentar, Pak. Ini... rumusnya agak tricky,” elak Vivie. Wajahnya mulai berkeringat. Bedaknya yang tebal tidak bisa menutupi kepanikan.
Lima menit berlalu. Vivie hanya menambah coretan yang salah.
“Duduk,” perintah Pak Hendra. “Kamu menghabiskan durasi.”
Vivie menunduk malu. Dia berjalan kembali ke bangkunya dengan wajah ditekuk. Saat melewati meja Mayang, dia berbisik tajam, “Apa lo lihat-lihat?”
Mayang tidak melihat Vivie. Matanya tertuju pada soal di papan tulis. Tangannya bergerak di atas kertas buram. Pulpen Parker pinjaman Naufal menari lincah.
Pak Hendra menangkap gerakan tangan Mayang.
“Kamu. Anak baru,” tunjuk Pak Hendra.
Mayang mendongak.
“Ya, Pak?”
“Maju. Selesaikan sampah yang ditinggalkan Vivie di papan tulis.”
Vivie terbelalak. Dia menoleh ke belakang, menatap Mayang dengan nyalang. Anak kampung ini? Menyelesaikan soal yang gue nggak bisa? Mimpi.
Mayang berdiri. Dia berjalan ke depan kelas. Rok abu-abunya yang sedikit kepanjangan bergoyang pelan. Dia mengambil kapur sisa Vino.
Dia berdiri di depan tulisan Vivie yang salah. Tanpa ragu, dia menghapus semua pekerjaan Vivie sampai bersih.
Vivie menggeram pelan di bangkunya. Penghapusan itu terasa seperti tamparan di wajahnya.
Mayang mulai menulis.
Tulisannya kecil-kecil, rapi, dan miring ke kanan. Berbeda dengan gaya Vino yang melompat-lompat, gaya Mayang sangat terstruktur. Baris demi baris. Dia tidak menggunakan cara cepat. Dia menggunakan definisi dasar logaritma, mengurainya perlahan seperti mengurai benang kusut.
Kelas hening. Hanya suara kapur beradu dengan papan tulis. Tak. Tak. Tak.
Vino, yang tadinya menunduk melihat ponsel di kolong meja, perlahan mengangkat kepala. Matanya menyipit melihat papan tulis.
Dia melihat langkah ketiga yang ditulis Mayang.
Itu cara kuno, batin Vino. Tapi... efektif.
Vino menarik satu earphone-nya lepas. Dia menegakkan punggung sedikit. Dia melihat logika berpikir Mayang terpampang jelas di sana. Gadis ini tidak menghafal rumus. Dia memahami konsepnya. Sesuatu yang jarang dimiliki murid-murid hasil les mahal di sekolah ini.
Mayang menyelesaikan baris terakhir. Hasil akhirnya sama dengan kunci jawaban.
Dia meletakkan kapur. Membalikkan badan menghadap Pak Hendra. Tangannya yang terkena debu kapur dia bersihkan ke roknya—kebiasaan yang membuat beberapa siswi di barisan depan meringis jijik.
“Sudah, Pak.”
Pak Hendra menatap papan tulis lama. Dia memeriksa setiap baris. Mencari kesalahan. Tidak ada.
“Siapa namamu tadi?” tanya Pak Hendra.
“Mayang, Pak.”
“Mayang. Cara kamu di baris keempat itu boros. Terlalu panjang. Tapi logikanya benar. Setidaknya kamu paham apa yang kamu tulis, tidak seperti temanmu yang cuma hafal rumus bimbel.”
Sindiran telak buat Vivie. Wajah Vivie merah padam, tangannya meremas rok.
“Terima kasih, Pak,” kata Mayang datar. Dia berjalan kembali ke mejanya.
Saat Mayang duduk, Naufal berbisik antusias, matanya berbinar kagum. “Gila lo, May. Itu soal susah banget. Gue aja nyerah di baris kedua. Lo belajar di mana?”
“Buku paket perpustakaan daerah. Edisi lama,” jawab Mayang singkat sambil menutup bukunya.
Di depan, Vino kembali memasang earphone-nya. Tapi kali ini dia tidak menyalakan musik. Dia mengetukkan jari telunjuknya ke meja, irama yang tidak beraturan. Mayang Sari. Noted.
Bel istirahat berbunyi.
Seperti bendungan jebol, murid-murid berhamburan keluar menuju kantin mewah yang menyajikan segalanya mulai dari sushi sampai pasta.
Mayang tetap duduk. Dia mengeluarkan bekal dari dalam tasnya. Roti tawar dua lembar yang diisi mesises cokelat murahan. Dia membungkusnya dengan kertas minyak, bukan kotak makan Tupperware.
Naufal berdiri, merapikan seragamnya. “May, kantin yuk? Gue traktir. Rayain jawaban bener tadi.”
Mayang menggeleng tanpa menatap Naufal. “Nggak usah. Aku bawa bekal.”
“Yah, rotian doang mana kenyang? Ayolah, sekali-sekali.”
“Naufal,” panggil seseorang dari pintu. Teman-teman basket Naufal. “Buruan elah! Keburu abis batagornya!”
Naufal tampak bimbang. Dia melihat Mayang, lalu melihat teman-temannya.
“Pergilah,” kata Mayang pelan. “Aku mau baca.”
“Oke deh. Nanti gue bawain minum ya,” kata Naufal menyerah, lalu berlari menyusul teman-temannya.
Kelas kosong. Hanya tersisa Mayang di belakang, dan Vino yang tertidur dengan kepala di atas meja di barisan depan. Atau setidaknya terlihat tidur.
Mayang menggigit rotinya. Kering. Seret di tenggorokan. Dia minum dari botol air mineral bekas yang diisi ulang dari rumah.
Tiba-tiba, pintu kelas terbuka kasar.
Vivie masuk bersama dua temannya, Sarah dan Oline. Mereka membawa nampan berisi es kopi susu kekinian. Tawa mereka keras, sengaja.
Mereka berjalan menuju meja Vivie, tapi kemudian berbelok ke arah Mayang.
Mayang berhenti mengunyah. Dia meletakkan sisa rotinya di atas kertas minyak.
Vivie berdiri tepat di depan meja Mayang. Dia melipat tangan di dada, menatap roti tawar itu dengan pandangan menghina.
“Kasihan banget sih,” kata Vivie, nadanya penuh simpati palsu yang menjijikkan. “Roti apaan tuh? Keras banget kayak sandal jepit.”
Sarah dan Oline tertawa. “Jangan gitu, Vie. Itu menu diet kaum marginal.”
Mayang diam. Dia membungkus kembali rotinya pelan-pelan. Dia ingin memasukkannya ke laci meja.
“Eits, tunggu dulu,” Vivie menahan tangan Mayang. Kukunya yang panjang menekan pergelangan tangan Mayang, meninggalkan bekas merah. “Gue belum selesai ngomong.”
Mayang menatap tangan Vivie. Lalu menatap mata gadis itu.
“Lepas,” kata Mayang. Suaranya rendah.
“Lo nyuruh gue?” Vivie tertawa, mendekatkan wajahnya. “Denger ya, Miss Cari Perhatian. Jangan mentang-mentang lo bisa ngerjain satu soal matematika, lo pikir lo bisa saingan sama kita di sini. Lo itu cuma error di sistem sekolah ini. Cepat atau lambat, lo bakal kebuang.”
“Ada lagi?” tanya Mayang.
Vivie kesal dengan ketenangan Mayang. Dia melihat tas ransel Mayang yang tergeletak di lantai.
“Tas lo ini... ganggu pemandangan banget,” kata Vivie. Dia menendang pelan tas itu dengan ujung sepatunya. “Kumel. Dekil. Dan baunya...”
Vivie memberi kode pada Oline. Oline dengan sigap mengeluarkan botol parfum mahal dari sakunya. Chanel No. 5.
“Biar wangi dikit, kita bantuin ya,” kata Vivie menyeringai.
Oline menyemprotkan parfum itu ke tas kanvas Mayang. Bukan satu semprotan. Tapi berkali-kali. Sampai kain kanvas itu basah kuyup.
Aroma alkohol dan bunga yang menyengat langsung memenuhi ruangan sempit di sudut itu. Baunya terlalu kuat hingga membuat mual.
“Nah, sekarang tas lo naik kasta dikit. Wangi orang kaya,” kata Vivie puas.
Mayang berdiri. Kursinya terdorong ke belakang dengan keras. Brak!
Dia tidak memukul Vivie. Dia tidak menjambak.
Dia mengambil tasnya yang basah. Kain kanvas murahan itu menyerap cairan parfum dengan cepat, membuat warnanya menjadi hitam pekat dan lembab. Bau itu bercampur dengan bau buku tua di dalamnya, menciptakan aroma yang memusingkan.
Mayang menatap Vivie tajam. Tangannya mengepal di sisi tubuh. Urat-urat halus di lehernya menonjol. Emosinya tertahan di sana, di ujung tenggorokan.
“Itu tas peninggalan Bapak saya,” kata Mayang. Suaranya bergetar sangat halus, nyaris tak terdeteksi.
Vivie terdiam sejenak, tapi egonya menolak untuk mundur. “Oh ya? Bagus dong. Bapak lo pasti seneng di alam sana, tasnya jadi wangi.”
Itu batasnya. Mayang mengangkat tangan, siap untuk melakukan sesuatu yang mungkin akan membuatnya dikeluarkan di hari pertama.
“Berisik.”
Satu kata. Datar. Dingin.
Suara itu datang dari depan.
Semua menoleh.
Vino bangun dari posisi tidurnya. Dia duduk tegak, mengusap wajahnya kasar. Rambutnya sedikit berantakan. Dia memutar kursi, menghadap ke belakang. Matanya merah, bukan karena menangis, tapi karena kurang tidur.
Dia menatap Vivie dengan tatapan yang bisa membekukan neraka.
“Lo tahu berapa harga parfum yang lo semprot itu?” tanya Vino serak.
Vivie tersenyum, mengira Vino akan memujinya atau membela standar orang kaya. “Tiga juta, Vin. Limited edition.”
Vino mendengus. Senyum miring yang meremehkan muncul di bibirnya.
“Parfum tiga juta, tapi dipake buat nyemprot tas kain seharga lima puluh ribu,” kata Vino pelan, tapi artikulasinya jelas. “Itu bukan tindakan orang kaya, Vivie. Itu tindakan orang bodoh yang bingung cara menghabiskan uang bapaknya.”
Senyum Vivie luntur seketika. Wajahnya pucat. Sarah dan Oline mundur selangkah.
Vino berdiri, mengambil botol air mineral di mejanya, lalu berjalan mendekat. Dia melewati Vivie seolah gadis itu tidak ada, dan berhenti di depan Mayang.
Dia melihat tas basah itu. Hidungnya berkerut sedikit karena baunya yang menyengat.
“Bau melati dan alkohol murahan. Bikin pusing,” komentar Vino jujur. Dia menatap Mayang. “Jemur di luar. AC ruangan ini sirkulasinya tertutup. Kalau lo simpan di sini, satu kelas bakal keracunan CO2 dari parfum norak itu.”
Vino tidak membela Mayang karena kasihan. Dia membela kenyamanan hidungnya sendiri.
Mayang menatap Vino. Dia melihat kejujuran brutal di mata cowok itu. Tidak ada rasa iba. Hanya logika.
“Minggir,” kata Vino pada Vivie yang masih mematung. “Lo menghalangi oksigen.”
Vivie, dengan mata berkaca-kaca karena dipermalukan pujaan hatinya, menghentakkan kaki dan lari keluar kelas diikuti dua dayangnya.
Suasana kembali hening.
Tinggal Vino dan Mayang.
Vino tidak mengatakan apa-apa lagi pada Mayang. Dia kembali ke kursinya, duduk, dan memasang earphone.
Mayang menatap punggung Vino.
Dia mengambil tasnya, lalu berjalan keluar menuju taman sekolah untuk menjemur tas itu di bawah matahari terik.
Di ambang pintu, Mayang berhenti sebentar. Dia menoleh ke arah Vino.
“Terima kasih,” bisik Mayang, lebih kepada dirinya sendiri.
Vino tidak menoleh. Tapi jari telunjuknya mengetuk meja satu kali. Tok.
Tanda dia mendengar.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibir Mayang terangkat sedikit. Sangat sedikit. Sebuah kemenangan kecil di medan perang.
Bersambung.....