NovelToon NovelToon
Wa'Alaikumsalam Mantan Imam

Wa'Alaikumsalam Mantan Imam

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Pernikahan Kilat / Romansa / Konflik etika
Popularitas:22.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.

Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.

Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.

Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.

Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Ketika Bakti Mengalahkan Perasaan

Reza menarik napas dalam. “Ini pernikahan karena keadaan,” katanya pelan. “Bukan karena cinta.”

Jemari Siti mengerat di pegangan tasnya.

“Aku akan menikahinya. Menanggung kebutuhannya. Menjaga namanya.”

Reza menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras.

“Tapi jangan paksa aku memberi lebih dari itu.”

Rahman mengernyit. “Maksudmu?”

“Tidak ada tuntutan perasaan. Tidak ada paksaan untuk dekat.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih dingin. “Dan Zahra tidak boleh diseret ke dalam ini.”

Siti menatapnya lama. “Kau belum melepaskan gadis itu.”

Reza tidak menyangkal. “Aku tidak ingin menciptakan kebohongan baru hanya untuk menutup kebohongan lama.”

Sejenak ruangan sunyi.

“Dan jangan berharap pernikahan ini menjadi sesuatu yang lain dari yang seharusnya,” lanjut Reza. “Ayza hanya akan menjadi teman hidup di mata orang. Bukan di hatiku.”

Ia menarik napas tipis. “Ia hanya akan menjadi istri siriku.”

“Reza!” Suara Rahman meninggi tanpa ia sadari.

Siti menggeleng pelan, tatapannya tak percaya. “Menikah secara siri itu merugikan bagi perempuan, Nak,” ucapnya serak.

“Kau anggap apa Ayza?” Rahman menatap tajam, rahangnya mengeras. “Ayah tidak setuju.”

Ia melangkah maju setengah langkah. “Kalau niatmu seperti itu, lebih baik jangan nikahi Ayza. Jangan pedulikan lagi ayah, bunda, atau adikmu.”

Siti menunduk, suaranya nyaris tak terdengar. “Bunda tak menyangka…”

Kalimat itu menggantung, tak selesai.

“Kau mengecewakan kami,” ucap Rahman pelan namun menghantam. Ia berbalik, memapah Siti menjauh.

Reza tertunduk. Tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih.

“Aku juga melakukannya demi kebaikan dia,” katanya tertahan. “Kalau aku tak bisa mencintainya, aku tak akan membuatnya berstatus janda di mata dunia. Hanya kita yang tahu.”

Rahman berhenti melangkah. Menoleh perlahan.

“Kalau kau tidak berniat melupakan Zahra dan menerima Ayza,” katanya dingin, “kita tak perlu membicarakan ini lagi.”

Ia menatap Reza lurus-lurus.

“Kau tidak perlu menikahi Ayza. Lakukan saja apa yang menurutmu benar. Dan jangan hiraukan kami lagi.”

***

Ayza duduk di sofa ruang tengah. Kaki palsunya ia lepaskan, diletakkan rapi di samping. Napasnya terasa berat sejak tadi.

Bu Aini keluar dari dapur membawa dua cangkir teh hangat. Ia meletakkannya pelan di meja, lalu ikut duduk di samping putrinya.

“Kamu diam sejak kemarin,” ucap Bu Aini lembut.

Ayza tersenyum tipis. Senyum yang tak sampai ke mata. “Bu… apa Ibu yakin Pak Rahman benar-benar ingin Kak Reza menikah denganku?”

Bu Aini tidak langsung menjawab. Ia meniup tehnya pelan. “Kenapa tanya begitu?”

Ayza menunduk. Jemarinya meremas ujung hijabnya. “Kak Reza itu… CEO. Hidupnya besar. Dunianya luas.”

Ia mengangkat wajahnya pelan. “Aku cuma perempuan biasa. Guru ngaji. Bahkan… berjalan saja harus dibantu alat.”

Kalimat terakhir nyaris berbisik.

Bu Aini menatap putrinya lama. “Sejak kecil kamu selalu merasa kurang,” katanya lirih.

Ayza tersenyum pahit. “Karena memang begitu, Bu.”

Ia menarik napas panjang. “Dulu, Kak Reza selalu cuek sama aku. Seolah aku tidak ada. Sekarang tiba-tiba… pernikahan.”

Bu Aini meraih tangan Ayza. Hangat. Tegas. “Ayza,” katanya pelan, “kalau kamu ragu, lebih baik kita tolak.”

Ayza terdiam.

“Jangan menikah karena kasihan, Nak. Jangan menikah karena hutang budi,” lanjut Bu Aini. “Ibu tidak mau kamu hidup dengan perasaan kecil.”

Mata Ayza berkaca-kaca.

“Tapi keluarga Pak Rahman sudah terlalu banyak membantu kita, Bu.”

Suara Ayza bergetar. “Tiap bulan ngasih sembako. Waktu kecelakaan itu… biaya rumah sakit… kaki palsu ini…”

Ia menelan ludah. “Kalau bukan karena beliau, mungkin aku sudah—”

“Cukup,” potong Bu Aini lembut. Ia mengusap punggung tangan Ayza. “Hutang budi tidak dibayar dengan mengorbankan hidup sendiri.”

Ayza terdiam lama. Lalu ia berkata lirih, hampir tak terdengar, “Aku tak ingin jadi beban, Bu. Tapi aku juga tak ingin jadi orang yang tidak tahu terima kasih.”

Bu Aini menghela napas panjang. “Kalau kamu menikah dengan niat tulus, ingin membuat suamimu merasa tenang, insyaAllah rasa itu akan tumbuh, Nak.”

Ia menatap Ayza dalam-dalam. Cahaya lampu memantul di wajahnya, kulitnya tampak cerah tanpa rias berlebihan. Tatapannya tenang, teduh.

“Tapi kalau sejak awal hatimu ragu… jangan dipaksa, Nak. Lebih baik kita menolaknya baik-baik.”

Ayza menutup mata. Napasnya bergetar. “Ayza takut, Bu,” ujarnya jujur.

“Takut tidak cukup. Takut hanya jadi kewajiban.”

Bu Aini memeluknya. Erat. “Tidak apa-apa takut,” bisiknya. “yang penting kamu jujur pada dirimu sendiri.”

Ayza bersandar di bahu ibunya. Lama. Di dalam dadanya, rasa terima kasih dan keraguan saling bertabrakan.

"Sekarang bukan masalah aku pantas atau tidak bersanding dengannya. Pertanyaannya adalah...apa aku sanggup menjalani pernikahan yang sejak awal membuatku ragu?" batin Ayza.

***

Di kantor, Reza duduk di balik meja kerjanya. Layar laptop menyala. Grafik bergerak. Laporan menunggu tanda tangan, tapi tak satu pun ia baca.

"Lakukan saja apa yang menurutmu benar. Dan jangan hiraukan kami lagi."

Tangannya mengepal.

“Benar menurut siapa?” gumamnya pelan.

Ia menutup laptop, bersandar ke kursi. Menatap langit-langit.

Zahra selalu ada di rencana hidupnya. Sebagai pasangan. Sebagai citra. Sebagai masa depan.

“Aku mencintainya,” ucapnya lirih. Begitu yakin pada dirinya sendiri.

Namun kalimat ayahnya terasa seperti garis yang ditarik paksa. Satu langkah lagi, dan ia benar-benar sendirian.

Reza menatap layar laptop dengan tatapan kosong. “Kalau aku tetap diam…” desisnya.

Ia berdiri. Mengambil jasnya.

“Ini bukan soal yakin atau tidak,” katanya pelan. “Ini soal… jangan kehilangan semuanya.”

***

Di rumah, Rahman duduk di ruang tengah membaca berkas. Siti di sampingnya, diam, wajahnya pucat. Keduanya tidak menoleh saat Reza masuk.

“Ayah. Bunda.”

Tidak ada jawaban.

Reza berdiri canggung beberapa saat sebelum akhirnya bicara lagi. “Aku sudah memikirkan semuanya.”

Rahman mengangkat pandangan. Tatapannya datar. Tidak hangat, tidak marah. Itu yang justru membuat dada Reza terasa sesak.

“Aku akan berusaha melupakan Zahra,” ucap Reza pelan. “Dan mencoba menerima Ayza.”

Siti menoleh. Matanya berkaca-kaca. Rahman menunggu. Tidak menyela.

“Tapi aku ingin jujur sejak awal,” lanjut Reza. “Aku tidak mau memulai pernikahan dengan kebohongan.”

Ia menarik napas. “Kami menikah secara siri dulu.”

"Reza!" suara Rahman meninggi tanpa bisa dicegah.

Siti terdiam. Jemarinya bergetar di pangkuan.

“Tolong dengarkan aku dulu, Yah,” lanjut Reza cepat, seolah takut kata-katanya dipatahkan, “kalau kami cocok. aku akan mengesahkannya secara negara. Tapi kalau ternyata tidak—”

Ia berhenti sejenak.

“Status Ayza tetap bersih. Tetap lajang di mata hukum.”

Untuk sejenak tak ada yang bicara.

Rahman menatapnya tajam. "Kau ini--"

Siti mengusap dada Rahman, menggeleng pelan. Tatapannya penuh permohonan, lalu beralih ke Reza. “Kau sudah memikirkannya dengan matang?”

“Itu yang paling adil menurutku,” jawab Reza. Suaranya tenang, terlalu tenang. “Aku tidak ingin merugikan siapa pun.”

Siti menunduk. Air mata jatuh satu.

“Apa kau yakin dan konsisten dengan keputusanmu?” tanya Rahman datar.

Reza menelan ludah. "Jujur, aku tak mungkin melupakan Zahra dalam semalam, tapi aku akan berusaha."

Ia menatap lantai.

“Tapi jangan paksa aku mencintainya.”

Reza menutup mata sejenak. Bukan karena lega. Tapi karena sejak pagi itu, ia tahu, ada sesuatu dalam hidupnya yang resmi ia relakan.

Rahman menatap anak sulungnya lama. “Ayah terima. Tapi jangan jadikan pernikahan ini tempat pelarianmu dari tanggung jawab,” katanya akhirnya, nadanya penuh ketegasan.

Reza mengangguk. “Aku tidak lari, Yah.”

Siti menimpali. “Ayah dan Bunda hanya berharap satu hal.”

“Apa?”

“Jangan menyakiti Ayza dengan sengaja.”

"Aku janji."

Reza mengangguk.Ia percaya dirinya tidak akan menyakiti siapa pun. Padahal jauh di dalam hati, ia sudah menyiapkan jarak. Bukan untuk Ayza, melainkan untuk perasaan yang tak pernah ia niatkan untuk diberikan.

"Aku tahu keputusanku ini benar atau salah. Yang penting sekarang ayah dan bunda bisa tenang selama berobat. Dan ada yang mengurus Fahri saat aku bekerja." gumamnya dalam hati.

Ada rasa bersalah yang menyusup di dadanya, tapi ia tepis.

"Ini demi kebaikan semua orang. Kalau memang tidak cocok," pikirnya. "waktu akan membuktikannya.

Ia merasa kalimat itu terdengar seperti pembenaran yang terlalu mudah, tapi ia menepisnya.

"Tapi.." ucap Siti pelan, “apa Ayza dan ibunya akan setuju? Bagaimana jika mereka menolak?”

 

...🔸🔸🔸...

...“Kadang kita tidak memilih menikah. Kita hanya memilih siapa yang paling siap kita korbankan.”...

..."Nana 17 Oktober "...

...🌸❤️🌸...

To be continued

1
phity
tentu sja zahra tdk akan mau merawatmu krn kerjaannya lbh penting drpd mo merawat orng sakit nanti tangan nya jd kasar kuku cantiknya jadi rusak...
asih
cantik Karna visual akan rapuh saat bertambahnya usia
LibraGirls
Oh my god gk sangup sampai ayza tau wlpn dia gk ada perasaan sm rezza tp dia udah bertangung jwb sebagai istri sirih nya reza
LibraGirls
Km percaya dia tertidur pules bisa² dia clubbing ma teman² nya dunia model begitu kenapa elo bego banget si za gk suruh org ngikutin si Zahra 😤
Dew666
💎🌹
Dek Sri
lanjut
Anitha Ramto
tentu saja si Zahra menghindar buru² karena tidak mau merawatmu dan kamu akan menjadi beban buat si Zahra.

Fahri selalu ngingetin Ayza jangan sampai jatuh Cinta sama Pria Bestard kaya si Reza🤣,tenang saja Fahri...Ayza tidak akan pernah jatuh cinta sama kakakmu,Ayza mh sudah ada yang nungguin Cinta sejatinya Ayza...Kaisyaf😍
Mundri Astuti
emang y love is blind, jadi bikin org ilang ke warasannya macam si Reza
Hanima
lama amat Thor sadarrrr nya 🤭
Diana Dwiari
dr situ dah keliatan kan bahwA wanita yg kamu kejar hanya mau senangnya saja.....makan tuh jalangmu
Felycia R. Fernandez: tapi sayangnya Reza kuat nafsu kk,bukan cari yang beneran tulus 😆😆😆
total 1 replies
Jumi Saddah
nah kapan semua akan terungkap,,,pasti kita bilang wow gitu😄
Sugiharti Rusli
karena sekali lagi apa yang diucapkan oleh Fahri menemukan kebenaran, dia hanya berperan sebagai art bagi Reza,,,
Sugiharti Rusli
entah bagaimana nanti kali Ayza lebih memilih lepas dari si Reza setelah dia sembuh,,,
Sugiharti Rusli
dan Ayza tahu ini bukan awal akan tumbuhnya perasaannya terhadap suaminya itu sih,,,
Sugiharti Rusli
sedang Ayza istri yang dipilihkan oleh kedua ortu kamu yang tidak pernah kamu anggap, dia tetap hadir ke rumah sakit meski sudah tengah malam
Sugiharti Rusli
kita lihat nanti tanggapan perempuan pilihan kamu sendiri Reza yang katanya sangat kamu cintai sampai mau berzinah
Puji Hastuti
Ayza kenapa kamu masih mau peduli sih!
Puji Hastuti
Siapa yang nelpon reza? Zahra kah?
Sugiharti Rusli
entah apa nanti yang akan Ayza tanggapi dengan kejadian yang menimpa 'suami' nya itu, bahkan si Zahra yang sudah pernah Reza sentuh belum tentu mau merawatnya
Sugiharti Rusli
ternyata Allah memiliki takdirnya sendiri dengan apa yang menimpa si Reza sekarang yah,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!