NovelToon NovelToon
Mantu Koplak Menjadi Penguasa

Mantu Koplak Menjadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Mafia
Popularitas:992
Nilai: 5
Nama Author: richard ariadi

Tanda tangani ini, dan semua hutangmu dianggap lunas," ucap Minghua Zhang sambil melemparkan kontrak pernikahan ke atas meja yang penuh puntung rokok. Chen Song menatap angka di kertas itu, lalu menatap wajah dingin Luna di pojok ruangan. Baginya, ini bukan pernikahan, ini adalah tiket keluar dari neraka—yang tanpa ia sadari, justru akan membawanya ke neraka jenis baru.

Chen Song adalah seorang pria dari kelas menengah ke bawah yang memiliki kecanduan judi yang parah. Dalam sebuah permainan berisiko tinggi di kasino bawah tanah, ia kehilangan segalanya. Ternyata, lawan mainnya adalah seorang kolektor hutang kejam yang bekerja untuk relasi bisnis keluarga Zhang. Chen Song berhutang dalam jumlah yang mustahil ia bayar miliaran yuan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon richard ariadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pasukan tersembunyi

Luna Zhang kini benar-benar berada di titik terendah dalam hidupnya. Dari seorang ratu bisnis yang dipuja, menjadi wanita gelandangan yang bahkan tidak diakui oleh ibunya sendiri. Dengan koper kecil berisi sisa pakaian dan tanpa sepeser pun uang di rekening, ia berjalan kaki berkilo-kilometer meninggalkan kemewahan Mansion Gou Tun menuju pusat kota Gou Cheng.

Kota yang dulunya tunduk pada perintahnya, kini terasa asing dan kejam. Luna mencoba mendatangi beberapa relasi bisnis lamanya untuk mencari pekerjaan, namun hasilnya nihil.

 Daftar Hitam William, William Zhang telah menyebarkan peringatan ke seluruh perusahaan di kota: "Siapa pun yang mempekerjakan Luna Zhang akan menjadi musuh klan Zhang."

 Di sebuah hotel tempat ia dulu sering mengadakan jamuan, manajernya bahkan tidak mengizinkannya duduk di lobi. "Maaf Nyonya Luna, Anda bisa mengotori kursi kami," ucapnya sinis.

Setelah dua hari menahan lapar, Luna akhirnya diterima bekerja di sebuah kedai makan kecil di pinggiran kota yang kumuh, tempat yang tidak terjangkau oleh mata-mata William.

Ia yang dulu tangannya hanya menyentuh pena mahal dan dokumen miliaran, kini harus.

  Mencuci piring-piring berminyak hingga tangannya lecet.

 Mengepel lantai kedai yang kotor di bawah teriakan pemilik kedai yang galak.

 Tidur di gudang sempit di belakang kedai yang bocor saat hujan.

Malam hari, sambil menahan perih di bahunya, Luna menatap bulan dari jendela gudang. Ia teringat pada Chen Song. Anehnya, meski semua orang menghujat suaminya itu, Luna adalah satu-satunya yang merasakan bahwa kejatuhannya saat ini adalah bagian dari badai yang lebih besar.

Luna (Berbisik sendiri) "Chen Song... di mana kau? Apakah kau benar-benar iblis seperti yang mereka katakan? Ataukah kau satu-satunya yang pernah benar-benar menjagaku?"

Tanpa ia sadari, setiap kali ia menyebut nama Chen Song, tanda lahir kecil di pergelangan tangannya berdenyut hangat—sebuah Segel Pelindung Tersembunyi yang ditinggalkan Chen Song sebelum ia melarikan diri.

Di saat Luna menderita di kota, William Zhang mulai merasa tidak tenang. Meskipun ia sudah menang, ia merasa ada yang salah. Pasukan elit yang ia kirim ke Hutan Bambu Hitam belum juga kembali.

Sementara itu, di kedai tempat Luna bekerja, seorang pria misterius bertopi caping sering duduk di pojok ruangan, memesan teh tawar, dan terus mengawasi Luna dengan mata yang memancarkan aura merah tipis.

Preman lokal mencoba mengganggu Luna di gudang kedai, memicu Segel Pelindung Chen Song meledak dan menghancurkan seluruh tempat itu.

 Malam itu, kedai kecil yang pengap di pinggiran kota Gou Cheng dalam kekacauan. Tiga pria berbadan besar dengan tato naga di lengan—preman suruhan yang tampaknya mencium keberadaan Luna—masuk dan mulai membalikkan meja.

"Di mana pelacur keluarga Zhang itu?! William Zhang menjanjikan satu miliar untuk siapa saja yang menyerahkannya hidup atau mati!" teriak pemimpin mereka sambil menghancurkan botol kaca ke meja.

Luna, yang sedang mencuci tumpukan piring di dapur belakang, membeku. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa ke tenggorokan. Tanpa pikir panjang, ia melepaskan celemeknya yang basah, menyambar tas kain kecilnya, dan menyelinap keluar melalui pintu belakang yang berkarat.

Ia berlari menyusuri gang-gang sempit yang becek. Suara sepatu bot para preman itu terdengar menggema di belakangnya, mengejar seperti kawanan serigala yang lapar.

Luna (Napasnya tersengal-sengal) "Tuhan, tolong aku... Jangan biarkan mereka menangkapku!"

Saat Luna terpojok di sebuah jalan buntu yang gelap, para preman itu muncul di ujung lorong dengan seringai menjijikkan. Namun, saat ketakutan Luna mencapai puncaknya, tanda lahir di pergelangan tangannya mulai berpijar merah menyala.

Suhu udara di sekitar Luna turun drastis. Bayangan-bayangan di tembok seolah-olah hidup dan mulai merayap menuju para preman tersebut. Luna merasa sebuah kekuatan dingin mengalir dari pergelangan tangannya, menjaga kesadarannya tetap tegak.

Tepat saat preman terdepan hendak mencengkeram bahu Luna, sebuah suara rendah yang penuh dengan hawa membunuh terdengar dari atas atap bangunan tua di samping mereka. "Sentuh dia, dan aku akan memastikan jiwamu tidak akan pernah bisa bereinkarnasi."

pengawal kerajaan song tiba".

suasana gang sempit itu tiba-tiba berubah. Suara gemerincing baja dan derap langkah yang sangat teratur memecah kesunyian malam. Dari balik kabut kegelapan, muncul sepasukan prajurit yang mengenakan jas hitam legam dengan lambang Naga Emas melingkari Matahari di dada mereka.

Ini bukan tentara bayaran William, bukan pula polisi kota. Ini adalah Resimen Bayangan Kerajaan Song, pasukan elit yang selama ribuan tahun menjaga garis keturunan asli kaisar yang telah lama menghilang.

Seorang pria gagah dengan jubah merah marun turun dari mobil. Di tangannya terdapat sebuah panji bertuliskan aksara kuno: "SONG".

Luna, yang berada di tengah-tengah dua kekuatan besar, merasa pusing. 

Pembantaian di lorong gelap itu berakhir dalam hitungan detik. Pasukan Resimen Bayangan Kerajaan Song bergerak seperti badai pedang mereka tidak hanya memutus leher para preman, tetapi juga menghancurkan jiwa mereka hingga tak bersisa. membiarkan pasukan itu melakukan tugas kotor mereka, matanya yang merah darah terus mengunci sosok Luna.

luna dibawa pergi dari daerah kumuh tersebut."

Setelah perjalanan yang menembus dimensi ruang, mereka tiba di sebuah kediaman megah yang berdiri kokoh di atas tebing curam, tepat di ujung laut yang dikenal sebagai Lautan Abadi. Rumah ini dikelilingi oleh formasi Feng Shui yang sangat kuat, membuatnya tidak terlihat dari radar maupun satelit manusia biasa.

"Tuan Putri, di sinilah tempat persembunyian anda. 

Chen Song membuka matanya dengan sentakan hebat. Napasnya terasa seperti menghirup debu kuno. Ia tidak berada di balkon mewah atau di depan mansion ia masih berada di lubang gua yang lembap dan gelap di Hutan Bambu Hitam.

Tubuhnya terasa kaku dan dingin. Saat ia mencoba bergerak, ia menyadari kepalanya bersandar pada dada kerangka manusia yang sedang duduk bermeditasi. Tulang-tulang putih itu terasa sedingin es, namun anehnya, dari kerangka itulah mengalir sisa-sisa energi kehidupan yang menjaga jantung Chen Song tetap berdetak selama ia pingsan berhari-hari.

Di tangan tengkorak itu, terdapat sebuah gulungan kulit manusia yang kini telah menyatu dengan telapak tangan Chen Song. Sebuah pesan batin merasuk langsung ke sukmanya:

 "Kau yang terpilih oleh kegelapan... jangan tertidur dalam mimpi indah. Istrimu sedang menderita, musuhmu sedang tertawa, dan kau membusuk di pelukanku. Bangunlah, Sang Penelan Langit!"

Chen Song melihat ke bawah. Luka tembak di bahunya tidak sembuh secara normal; lubang peluru itu kini terisi oleh kristal hitam yang berdenyut. Darahnya tidak lagi merah, melainkan berwarna ungu gelap.

Meskipun ia merasa sangat lemah, Mata Dewa-nya kini berevolusi menjadi Mata Iblis Pembalas. Ia bisa melihat menembus tanah, menembus jarak bermil-mil jauhnya.

Melalui kekuatan barunya, Chen Song melihat kenyataan yang terjadi selama ia pingsan:

 Luna Zhang  dibawa oleh kerajaan dimana dia tidak bisa melacaknya karena ada energi menyekatnya . 

 William dan David Zhang sedang mengadakan pesta besar dikediaman kepala keluarga, merayakan "kematian" Chen Song dan pengusiran Luna.

Chen Song bangkit dengan susah payah, tulang-tulangnya berderak keras. Ia mengambil buku kulit manusia itu. Kerangka yang mendekapnya tiba-tiba hancur menjadi debu begitu Chen Song berdiri, seolah-olah tugasnya menjaga Chen Song telah usai.

 Chen Song "Aku memimpikan kerajaan dan pasukan... tapi yang aku butuhkan hanyalah tanganku sendiri untuk mencabut nyawa kalian. William, Tibet, David... aku datang bukan sebagai menantu, tapi sebagai pemanen nyawa."

Di dalam keheningan gua yang mencekam, Chen Song duduk bersila di antara debu kerangka sang kultivator purba. Ia membentangkan buku kulit manusia itu di pangkuannya. Cahaya ungu redup memancar dari kristal hitam yang tertanam di bahunya, menerangi aksara-aksara kuno yang seolah bergerak hidup di atas lembaran kulit tersebut.

Chen Song menyadari bahwa kekuatan lamanya (Mata Dewa dan energi Cawan Penelan Langit) bersifat suci dan murni, sedangkan pelajaran dalam buku ini bersifat Iblis dan Primal. Jika ia tidak hati-hati, tubuhnya akan meledak karena penolakan energi.

 Ia mulai melakukan Inner Alchemy. Ia menarik energi murni yang tersisa di meridiannya dan memaksanya bertabrakan dengan energi hitam dari buku tersebut di titik pusat energinya (Dantian).

 Terciptalah Inti Kehancuran Abadi. Chen Song tidak lagi menjadi kultivator cahaya ataupun iblis biasa; ia menjadi entitas seimbang yang bisa memanipulasi kehidupan dan kematian sekaligus.

Kedua matanya kini mengalami transformasi final. Mata kanannya tetap berwarna emas jernih (Mata Dewa) yang bisa melihat kebenaran dan struktur energi, sementara mata kirinya menjadi merah pekat dengan pupil vertikal (Mata Iblis) yang bisa memancarkan api hitam dan ilusi kematian.

 Chen Song "Dunia melihatku sebagai sampah, lalu sebagai ancaman. Sekarang, mereka akan melihatku sebagai takdir."

Setiap napas yang diambil Chen Song menarik energi dari tumbuhan dan serangga di sekitar gua. Hutan Bambu Hitam di atasnya perlahan menguning dan mati karena energinya dihisap masuk ke dalam gua melalui pori-pori kulit Chen Song.

Kristal hitam di bahunya meresap sempurna, membentuk tato naga hitam yang melingkar dari leher hingga lengan bawahnya. Luka-lukanya hilang, digantikan oleh kulit yang sekeras baja namun sehalus giok.

Setelah merasa kekuatannya pulih sepuluh kali lipat dari sebelumnya, Chen Song menutup buku kulit manusia itu. Buku itu seketika terbakar menjadi abu hitam dan meresap ke dalam telapak tangannya.

Ia kini memiliki kemampuan untuk:

 Berpindah tempat melalui bayangan.

 Mencabut paksa kultivasi seseorang hanya dengan sentuhan.

 Menciptakan area di mana semua musuhnya akan merasakan siksaan mental yang paling dalam.

Chen Song berdiri, dan getaran kekuatannya meruntuhkan pintu gua. Ia melangkah keluar ke udara malam, menatap ke arah Kota Gou tun tempat wiliam berada berada.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!