Di usianya yang sudah 26 tahun, Arya masih betah menganggur. Cita-citanya bekerja di kantor besar bahkan menjadi CEO, tidak menjadi kenyataan. Bukan itu saja, tiga kali pula pria itu gagal mendaftar sebagai CPNS.
Ketika di kampungnya diadakan pemilihan Kepala Dusun baru, dengan penuh percaya diri, Arya mencalonkan diri. Tidak disangka, pria itu terpilih secara aklamasi.
Kehidupan Arya berubah drastis semenjak menjabat sebagai Kadus. Pria itu kerap dibuat pusing dengan ulah warganya sendiri yang terkadang membuatnya darah tinggi sampai turun bero.
Selain pusing mengurus warga, Arya juga dibuat pusing ketika harus memilih tiga wanita muda yang tiba-tiba masuk ke dalam kehidupannya.
Ada Arini, dokter muda yang menjadi alasan Arya menjadi Kadus. Lalu ada Azizah, gadis manis dan Solehah anak Haji Somad. Terakhir ada Arum, janda beranak satu yang cantik dan seksi.
Yang mau follow akun sosmed ku
IG : Ichageul956
FB : Khairunnisa (Ichageul)
TikTok : Ichageul21
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zia's Effect
Telinga Arya ibarat antena yang bisa menangkap sinyal kecil sekali pun. Ucapan salam yang tidak terlalu kencang, cenderung lembut, berhasil menembus dinding selaput telinga Arya. Menggelitik pria itu yang masih asik bergelung dengan selimut.
Seketika mata Arya terbuka. Dengan cepat dia menyibak selimut seraya menegakkan tubuh. Sarafnya tengah mengirim stimulus kalau yang datang adalah bidadari cantik yang memiliki senyum terindah di seisi dunia.
Tanpa menunda lebih lama, Arya segera turun dari ranjang. Dengan semangat empat lima, pria itu mulai berjalan keluar kamar.
“Aduuuhhh ….”
Terdengar suara Arya mengaduh. Pria itu mengangkat sebelah kakinya yang menginjak sesuatu. Sontak pria itu melihat ke bawah. Matanya membelalak melihat alat-alat yang biasa nongkrong di dapur, sekarang pindah ke lantai kamarnya.
“Gusti … si Amih menih tega pisan. Nanaon ieu parutan aya di dieu? (Apa-apaan ini parutan ada di sini?),” kesal Arya.
Dengan langkah sedikit pincang, Arya keluar dari kamar dan langsung menuju teras. Di sana, Lasmini sedang berbicara dengan Azizah.
Tahu Azizah yang datang, Arya yang baru bangun tidur merasa malu untuk langsung menemuinya. Apalagi dia belum shalat shubuh. Pasti itu hal pertama yang akan ditanyakan gadis itu. Arya pun bermaksud balik badan. Hendak menuju kamar mandi lebih dulu.
Belum sempat Arya beranjak, mata Azizah sudah lebih dulu menangkap sosok pria itu.
“Kang Arya ….”
Mau tidak mau dan sangat amat terpaksa, Arya membalikkan tubuhnya. Pria itu melemparkan senyumannya pada Azizah. Sementara Lasmini yang berdiri di samping gadis cantik itu memandang anaknya dengan raut wajah mengejek.
Puas! Matakna mun dihudangkeun teh, hudang. Hees wae! (Puas! Makanya kalau dibangunkan tuh bangun. Tidur mulu!), mungkin itulah yang ada dalam benak Lasmini.
“Tunggu sebentar ya, Zia. Aku mau shalat dulu.”
Tanpa menunggu jawaban Azizah, Arya langsung ngacir menuju kamar mandi. Untuk kedua kalinya dia terpergok bangun siang oleh sang pujaan hati.
Setelah menggosok gigi dan berwudhu, Arya segera keluar. Dia bergegas menuju kamarnya untuk menunaikan shalat shubuh.
Sekitar sepuluh menit kemudian, barulah dia keluar dengan wajah lebih segar. Pria itu segera menuju teras. Masih ada Lasmini yang sedang menemani Azizah.
“Ada apa Zia ke sini jam segini?” tanya Arya basa-basi untuk menghilangkan rasa malunya.
“Rek ngontrol, kunaon boga Kadus teh meni hese dihudangkeun jeung shalat shubuhna kabeurangan wae! (Mau ngontrol, kenapa punya Kadus susah dibangunin dan shalat shubuhnya kesiangan terus!).”
Bukan Azizah, tapi Lasmini yang menjawab pertanyaan Arya. Sontak mata pria itu membulat. Dengan tanpa saringan, Lasmini membongkar kebiasaan buruknya di depan Azizah. Sepertinya Arya harus mencari helm full face untuk menutupi wajahnya.
Azizah tak bisa menahan senyum mendengar jawaban Lasmini. Sebenarnya beberapa hari lalu saat datang berkunjung, dia sempat mendengar Lasmini yang mengeluh karena Arya sulit dibangunkan shalat shubuh.
Itulah yang membuat Azizah sengaja datang saat pagi akan menjelang atau sekitar pukul setengah enam. Dia ingin melihat sendiri apakah benar Arya termasuk orang yang sulit dibangunkan shalat shubuh.
“Sudah shalatnya, Kang?”
“Sudah. Ayo duduk dulu.”
Dengan isyarat mata, Arya meminta Lasmini untuk masuk ke dalam. Sambil menunjukkan ekspresi meledek, Lasmini masuk ke dalam rumah. Lebih dulu dia menuju kamar Arya untuk mengambil perabotan yang tadi dipindah paksa ke kamar anaknya.
“Kenapa sih setiap aku ke sini, Akang belum bangun terus?” tanya Azizah memulai perbincangan di antara mereka.
“Hehehe … maaf, Zia. Aku emang agak susah bangun shubuh.”
“Usaha dong, Kang. Masa mau kaya gini terus. Nanti kalau Akang menikah dan punya anak, kan harus kasih contoh yang baik buat anak.”
“Nikahnya sama kamu ya?”
“Sama siapa pun itu, Akang kan tetap akan menjadi kepala keluarga. Harus bisa memberi tauladan baik untuk anak dan istri.”
Lasmini yang diam-diam mendengar pembicaraan kedua insan itu menyetujui apa yang dikatakan Azizah. Semoga saja hati anaknya bisa tergerak dan mau mengubah kebiasaan buruknya.
“Iya, In Syaa Allah aku akan berusaha jadi orang yang lebih baik. Aku sadar punya banyak kekurangan. Makanya aku butuh pendamping seperti kamu.”
Azizah tersenyum malu mendengar ucapan Arya yang tetap mengandung gombalan terselubung.
Preeetttt pisan anak urang. Gusti … basa hamil manehna ngidam naon sih? (Preett banget anakku. Ya Allah … waktu hamil dia ngidam apa sih?), batin Lasmini sambil berlalu pergi.
“Aku datang mau kasih ini, Kang.”
Azizah memberikan sebuah buku pada Arya. Di sana sudah terdapat rancangan tentang pola pelaporan keuangan BUMK. Azizah membagi laporan pemasukan dalam beberapa item.
“Ehm … ini bagus kok. Aku percayakan sama kamu. Nantinya laporan keuangan ditempel di mading, supaya bisa dilihat warga. Selain itu, aku juga rencana up di media sosial. Biar warga bisa lihat secara online. Pokoknya harus transparan.”
“Aku setuju, Kang. Ya sudah, kalau begitu aku pulang.”
“Eh kok pulang sih? Ngga mau temani aku jalan-jalan keliling kampung kaya kemarin?”
“Aku mau ke sekolah, Kang. Ada jadwal ngajar hari ini.”
“Oke deh, makasih ya, Zia.”
Sambil melemparkan senyuman, Azizah meninggalkan kediaman Abah Brama. Arya tetap terpaku di tempatnya seraya memandangi Azizah yang mulai menjauh.
***
Waktu menunjukkan pukul empat lebih dua puluh menit. Seperti biasa, kediaman Abah Brama sudah terlihat hidup. Brama sudah bangun dan mandi. Pria itu memang terbiasa mandi sebelum shubuh. Sambil menunggu adzan shubuh bergema, pria itu duduk di teras sambil berdzikir.
Lasmini yang juga sudah bangun, tengah berada di dapur. Semua pekerjaan rumah sudah terbiasa dilakukannya sendiri sejak muda. Kalau pun ada yang membantu, hanya untuk membantu memasak. Karena terkadang dia harus menyiapkan banyak makanan untuk pekerja di kebun dan kandang.
Lasmini yang baru selesai membersihkan dapur, hendak pergi ke kamar anaknya. Sudah menjadi kebiasaan membangunkan anaknya sebelum adzan shubuh bergema.
Baru saja berjalan, langkah wanita itu tertahan ketika melihat Arya keluar dari kamar sambil membawa handuknya. Lasmini langsung terbengong di tempatnya. Dia sampai mengucek matanya, takut kalau apa yang disaksikannya hanya mimpi belaka.
“Arya … tumben geus hudang (udah bangun).”
“Astaghfirullah, Amih. Teu kenging nyarios kitu. Amih kedah bersyukur gaduh murang kalih kasep, bager jeung soleh jiga Arya (Ngga boleh ngomong gitu. Amih harus bersyukur punya anak ganteng, baik dan soleh kaya Arya).”
“Preeettt .., bilang aja kamu malu kalau Iza datang ke sini kamu masih bau jigong.”
“Ya Allah, ampunilah dosa Ibu hamba,” jawab Arya sambil mengangkat kedua tangannya seperti orang sedang berdoa.
Kesal mendengar jawaban anaknya, refleks Lasmini mengambil centong. Melihat Amih yang hendak mengeluarkan senjata saktinya, Arya bergegas masuk ke kamar mandi.