Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.
Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Tulisan Darah di Halaman Tua
Udara di ruang arsip medis bawah tanah itu terasa begitu padat, seolah dipenuhi oleh ribuan partikel debu yang membawa serta memori kematian. Elara Senja menyandarkan punggungnya pada rak besi yang dingin, napasnya terdengar memburu di tengah kesunyian yang mencekam. Di tangannya, buku tua bersampul kulit hitam itu terasa hangat, sebuah anomali yang membuat bulu kuduknya meremang seketika.
"Tenang, Elara. Kau harus tenang jika ingin selamat," bisiknya pada diri sendiri dengan suara bergetar, mencoba mensugesti otaknya yang mulai dikuasai panik.
Cahaya dari senter yang diletakkannya di atas meja kerja tua berkedip lemah, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari liar di dinding berjamur. RSU Cakra Buana memang terkenal dengan cerita hantunya, tetapi berada di Basement Level 4 sendirian di tengah malam adalah definisi mimpi buruk yang nyata. Elara tahu, dia tidak punya banyak waktu sebelum Dr. Arisandi atau sesuatu yang lebih jahat menemukannya di lorong labirin ini.
Ia membuka lembaran buku itu perlahan, aroma kertas lapuk dan sedikit bau logam berkarat langsung menusuk indra penciumannya. Halaman-halaman itu tidak ditulis dengan tinta biasa, melainkan cairan merah kecokelatan yang telah mengering selama puluhan tahun. Aksara yang digunakan adalah campuran antara bahasa Sanskerta kuno dan dialek lokal Arcapura yang sudah punah, membuat kening Elara berkerut dalam.
"Ini bukan sekadar catatan medis... ini ritual," gumam Elara, matanya menelusuri diagram anatomi tubuh manusia yang digambar dengan detail mengerikan di halaman tengah.
Gambar itu menunjukkan titik-titik meridian tubuh yang sengaja dilukai untuk mengalirkan energi kehidupan ke tanah fondasi bangunan. Elara teringat pada rumor tentang pembangunan sayap timur rumah sakit ini pada zaman kolonial, di mana banyak pekerja paksa yang hilang tanpa jejak. Ternyata, mereka bukan sekadar hilang, melainkan dijadikan pasak hidup untuk menopang ambisi seseorang yang ingin mengikat entitas gaib di tanah ini.
Suara tetesan air dari pipa bocor di sudut ruangan terdengar seperti hitungan mundur jam kematian, memecah konsentrasi Elara yang sedang berusaha menerjemahkan paragraf krusial. Ia menemukan sebuah nama yang dilingkari berkali-kali: *Wirotomo*. Nama itu terdengar asing, namun deskripsi di bawahnya membuat jantung Elara seakan berhenti berdetak sesaat.
"Penjaga Gerbang harus diganti setiap siklus bulan darah... dan kandidat berikutnya harus memiliki mata batin yang terbuka separuh," baca Elara terbata-bata, menerjemahkan teks itu dengan sisa pengetahuan linguistiknya.
Matanya terbelalak ketika menyadari implikasi dari kalimat tersebut, sebuah realitas mengerikan yang kini menghantam kesadarannya. Pak Darto memiliki kemampuan melihat hal gaib namun sering menyangkalnya, sebuah kriteria yang sangat cocok dengan deskripsi 'mata batin terbuka separuh'. Jika hipotesisnya benar, Pak Darto tidak diculik untuk dibungkam, melainkan dipersiapkan sebagai tumbal utama untuk memperbarui perjanjian terkutuk rumah sakit ini.
Tiba-tiba, suhu di ruangan itu turun drastis hingga embusan napas Elara membentuk kabut putih tipis di udara. Pintu besi ruang arsip yang tertutup rapat tiba-tiba bergetar pelan, seolah ada seseorang—atau sesuatu—yang sedang meraba permukaannya dari sisi luar. Elara mematikan senternya dengan panik, membiarkan kegelapan total menyelimuti dirinya di antara rak-rak arsip yang menjulang tinggi.
"Saya tahu kamu di dalam, Nak..." sebuah suara berat dan serak terdengar menembus celah ventilasi, bukan suara Dr. Arisandi, melainkan sesuatu yang jauh lebih tua.
Elara menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan, air mata ketakutan mulai menggenang di pelupuk matanya. Suara itu terdengar seperti gesekan batu nisan, kering dan tanpa emosi, namun membawa aura otoritas yang mematikan. Langkah kaki berat mulai terdengar menyeret di lantai lorong luar, semakin mendekat ke arah pintu tempat Elara bersembunyi.
Ia harus mencari jalan keluar lain, atau setidaknya tempat bersembunyi yang lebih aman sebelum makhluk itu mendobrak masuk. Matanya yang mulai terbiasa dengan kegelapan menangkap celah sempit di belakang lemari arsip paling ujung, sebuah lubang servis yang mungkin menuju ke saluran pembuangan lama. Tanpa berpikir panjang, Elara merangkak pelan, berusaha tidak menimbulkan suara sedikit pun meski lututnya terasa perih bergesekan dengan lantai semen kasar.
"Jangan bersembunyi dari takdirmu..." suara itu kembali terdengar, kali ini lebih dekat, seolah berbisik tepat di samping telinganya.
Elara memejamkan mata sejenak, merapalkan doa dalam hati sambil mendorong tubuhnya masuk ke celah sempit di dinding. Aroma busuk dan lembap langsung menyergapnya, tetapi itu jauh lebih baik daripada harus berhadapan dengan pemilik suara mengerikan tadi. Ia terus merayap maju, buku tua itu ia dekap erat di dada seolah itu adalah satu-satunya perisai yang dimilikinya.
Lorong sempit itu membawanya ke sebuah ruangan yang lebih luas, diterangi oleh cahaya bulan yang menembus kisi-kisi jendela tinggi di langit-langit. Ini adalah Ruang Insinerator Lama, tempat pembakaran limbah medis yang sudah tidak beroperasi sejak tahun 90-an. Di tengah ruangan, sebuah tungku pembakaran raksasa dari besi hitam berdiri kokoh seperti monumen kematian.
"Pak Darto?" panggil Elara dengan suara nyaris tak terdengar, matanya menyapu sekeliling ruangan yang dipenuhi debu tebal.
Tidak ada jawaban verbal, hanya suara angin yang bersiul melewati cerobong asap tua. Namun, mata Elara menangkap sebuah benda familiar tergeletak di dekat kaki tungku pembakaran. Itu adalah topi fedora lusuh yang selalu dikenakan Pak Darto, kini tergeletak begitu saja di lantai yang kotor.
Elara bergegas mendekati topi itu, namun langkahnya terhenti ketika melihat jejak seretan aneh di lantai yang mengarah ke pintu besi kecil di samping tungku. Jejak itu bukan darah, melainkan lendir hitam pekat yang baunya seperti campuran formalin dan bunga kamboja busuk. Firasat buruk mulai menjalar di punggungnya, memberitahu bahwa apa yang ada di balik pintu itu bukanlah sesuatu yang ingin ia lihat.
"Kau terlalu ingin tahu, Elara. Sifat itu yang akan membunuhmu," suara dingin Dr. Arisandi tiba-tiba menggema dari arah pintu masuk utama ruangan tersebut.
Elara memutar tubuhnya cepat, mendapati sosok dokter itu berdiri tegak dengan jas putih yang tampak terlalu bersih untuk tempat sekotor ini. Di tangannya, Dr. Arisandi memegang sebuah jarum suntik berisi cairan bening, tatapannya datar namun menyimpan kekejaman yang tak terlukiskan. Di belakang dokter itu, bayangan-bayangan hitam tampak menggeliat di dinding, seolah menunggu perintah tuannya.
"Di mana Pak Darto? Apa yang Anda lakukan padanya?" tanya Elara lantang, mencoba menutupi ketakutan yang menggerogoti nyalinya.
Dr. Arisandi tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya yang dingin. Ia melangkah maju perlahan, sepatu kulitnya mengetuk lantai beton dengan irama yang teratur dan mengintimidasi. Elara mundur selangkah demi selangkah, hingga punggungnya membentur dinginnya dinding tungku insinerator.
"Pak Darto sedang menjalani... purifikasi. Dia terpilih untuk menjaga keseimbangan RSU Cakra Buana, sebuah kehormatan yang tidak bisa ditolak," jawab Dr. Arisandi santai, seolah sedang membicarakan prosedur medis biasa.
Elara mencengkeram buku tua di tangannya semakin erat, menyadari bahwa buku ini mungkin adalah satu-satunya alat tawar yang ia miliki. Jika Dr. Arisandi menginginkan ritual itu berhasil, dia pasti membutuhkan panduan yang ada di dalam buku ini. Elara mengangkat buku itu tinggi-tinggi, mengancam akan melemparkannya ke dalam tungku pembakaran yang menganga di sebelahnya.
"Satu langkah lagi, buku ini akan menjadi abu!" ancam Elara, suaranya melengking memenuhi ruangan.
Langkah Dr. Arisandi terhenti seketika, wajahnya yang tenang berubah menjadi topeng kemarahan yang mengerikan. Bayangan-bayangan di belakangnya ikut bereaksi, memanjang dan menajam seperti cakar yang siap merobek daging. Situasi ini seperti bom waktu, dan Elara tahu dia sedang berjudi dengan nyawanya sendiri di meja pertaruhan setan.