Aaron Alexander Demian Dirgantara, seorang pria sukses yang memiliki perusahaan di Amerika yang bergerak di bidang infrastruktur dengan kekayaan yang tidak terhitung, memiliki paras tampan dengan tinggi badan ideal dan bentuk tubuh yang cukup bagus.
Ia merupakan seorang pria yang sangat di puja puja dan menjadi impian para wanita, namun ia hanya menganggap wanita sebagai tisu basah dan mainannya.
Setelah 10 tahun ia tak pulang ke negaranya, ia malah terpincut pada seorang wanita muda yang sering ia temui di sebuah club, wanita yang membuatnya penasaran dan ingin memiliki nya seutuhnya.
Namun takdir berkata lain, selain saingannya yang lumayan banyak ia tertampar dengan kenyataan jika wanita kecil incarannya adalah adik angkatnya sendiri yang sering ia temui di rumah dengan pakaian syar'i nya.
Bagaimanapun kelanjutannya, yuk ikuti kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundaAma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps-1
aku(12 tahun yang lalu)
Duarrr......Duarrrrr
Bztttt....
Duarrrrr....
Derrr....Derrrrrrr
Malam itu, hujan turun begitu deras, langit malam dipenuhi dengan kilatan kilatan petir yang menyambar tanpa henti suara guntur begitu bergemuruh hingga malam ini dunia begitu mencekam dengan suasana malam yang menakutkan.
Namun malam itu, sebuah mobil Mercy C200 yang berisi 4 orang tergelincir ke dalam jurang di sebuah jalanan dekat pegunungan.
"Bawa ke sebelah sini,..."
"Tolong buka matanya Bu, jangan sampai kehilangan kesadaran,... Kita akan membantu dengan memberikan pertolongan pertama.."
"Berikan pertolongan pertama cepat!!!!"
"Baik pak!!!!"
"Masukkan ke dalam mobil..."
"Satu, dua, tiga....."
Brughhh
Wiyuwwww....wiyuwwww...wiyuwwwww
Suara sirine ambulance menggema di telinga seorang anak kecil berusia 7 tahun, dengan tangisan merengek putri kecil sang korban menangis saat melihat sang ayah dan ibunya di bawa pergi ke dalam ambulance.
Kepalanya di penuhi darah dengan tubuh yang hampir lecet seluruhnya, ia di peluk oleh beberapa relawan yang ikut membantu mengevakuasi mereka, namun tangan mungilnya mencoba menggapai mobil ambulance yang mulai berjalan menjauh.
"Bunda.....Ayahhhh....." panggil nya dengan suara yang beriringan dengan Isak tangis nya yang tak kunjung berhenti.
"Jangan sedih sayang,... Kita ikut pake mobil om yah..." ujar salah seorang relawan yang langsung membawa wanita kecil itu ke dalam mobil miliknya.
Kecelakaan maut yang menimpa mereka merenggut langsung dua orang pria di dalamnya, sang ayah dan sang supir meninggal di tempat, sedangkan sang ibu kini tengah melawan takdirnya di dalam ruangan ICU, hanya tersisa putri kecil mereka yang kini tengah tertidur tenang di atas ranjang rumah sakit, tidak ada yang datang ke sana meskipun telah dihubungi berkali kali, hanya ada asisten pribadi mereka yang datang ke rumah sakit, itupun di waktu yang menjelang subuh.
Hingga siang harinya, sang ibu tersadar sebentar lalu tak lama ia menghembuskan nafas terakhirnya seraya mendekap erat tubuh putri kecilnya.
Sang putri kecil marah marah hingga menangis histeris saat perawat mengambil nya dari dekapan sang ibu.
"Don't Touch me, i don't like you,...."
"Ibu Help me!!!"
"Wake up Bu..... Please!!!!"
Ia meronta seraya berteriak teriak memanggil ibunya yang tengah di periksa para dokter, sampai akhirnya sang dokter meminta maaf seraya menggelengkan kepalanya pada asisten pribadi mereka.
"Ibu telah ikut berpulang,...." ujar sang dokter seraya menarik selimut sang pasien agar menutupi wajahnya.
Sontak saja kabar itu meruntuhkan pertahanan asisten yang langsung jatuh terkulai ke atas lantai, ia memeluk putri kecil atasan nya seraya meraung Raung seolah dunia tidak pernah adil pada hidup atasannya.
Hingga tak lama kemudian, malam harinya lagi saat ia sibuk mempersiapkan pemakaman, seorang keluarga yang baru saja pulang dari Amerika datang langsung ke rumah keluarga Manopo, yah Manopo itulah keluarga kecil yang menjadi korban kecelakaan tunggal semalam.
"Nyonya Manopo berpesan agar anda mau merawat putri kecilnya dan putri dari supirnya hingga menemukan pasangan nya nanti,..." ujar sang pak Romi selalu asisten sekaligus pengacara keluarga Manopo pada pak Benedict Dirgantara, seraya menunjuk seorang wanita remaja yang terlihat seumuran putranya.
"Sebagai gantinya, ia akan menginvestasikan seluruh hartanya selain saham kepada perusahaan anda..."
(Back To Now....)
"Sayang... Ayo bangun, sekarang hari Senin..."
Tok tok tokkkkk
"Hajeeraaaaaaa!!!! Bangun gak,!!!" Bu Selyn berteriak kencang seraya menggedor gedor pintu kamar Hajeera.
Ya! Hajeera Afza Hadriana Manopo putri dari Giselia Manopo dan Hendrik Manopo, yang kita ia angkat sebagai putri angkat nya bersama sang suami Benedict dirgantara.
Namun putrinya ini amat sangat melelahkan, terkadang introvert terkadang ekstrovert, hingga kadang kala Bu Selyn sendiri kesulitan untuk mendidik putri angkat nya.
"Hajeera, bangun gak, kalo masih belum bangun dalam hitungan 5, mamah suruh tukang buat dobrak pintunya...." ancam Bu Selyn.
"Sattttuuuuuu........."
" Duuuuaaaaa..... "
"Tiggggaaa...."
" Emmmpatttttt......"
"Empat setengah......"
"Limm-----
Klekkkkkkkk
"Mamah berisik banget sih, Hajeera udah bangun mah, orang lagi di Aer juga..." ujar Hajeera menggerutu, dengan bibir monyong dan tubuh yang masih basah kuyup yang hanya di balut handuk tebal.
"Kalo gak mamah teriakin, bisa bisa kamu telat lagi telat lagi ke sekolah!!!!" ucap Bu Selyn dengan tegas dan garis wajah kakunya.
"Cepet turun ke bawah, kita makan bareng bareng..." ujar Bu Selyn seraya menepuk pelan pundak sang putri lalu berjalan menuruni anak tangga satu persatu.
Tukkkk.... Tukkkkk.... Tukkkkk...
Suara irama langkah sepatu pantofel menuruni anak tangga dengan anggun, yah Hajeera, jika sudah memakai seragam sekolah Hajeera akan berlagak layaknya anak sekolah yang soft spoken.
"Pagi mah, pah..." sapa Hajeera seraya mengecup pipi kedua orang tua angkatnya, ia cukup dekat dengan keduanya layaknya anak kandung.
"Pagi sayang,..." jawab pak Benedict dengan bibir merekah sumringah.
"Ini sayang... Cukup gak selainya?" tanya Bu Selyn pada Hajeera seraya menyerahkan dua lembar roti isi selai coklat dan kacang favorit nya.
"Cukup,.." Jawab Hajeera lalu mengambil piring berisi roti yang di sodorkan mamahnya.
"Makasih mah,..."
"Sama sama sayang,...." jawab Bu Selyn dengan nada suaranya yang lembut.
"Oh ya sayang, kakak Indri katanya udah pulang ke Indonesia, ada ngabarin kamu gak? Mamah telpon gak diangkat angkat..." tanya Bu Selyn pada Hajeera di sela sela makannya.
Indri Silvana Advi, putri supir keluarga Manopo yang menjadi putri angkat nya juga.
"Kakak bilang nginep di hotel mah, katanya sih masih jet lag.." jawab Hajeera.
"Pantesan, telpon mamah gak diangkat angkat..." ujar Bu Selyn dengan wajah murung, karena putri angkat yang satunya cukup menjaga jarak dengannya hingga mereka tidak terlalu dekat, karena sedari awal umur Indri bukanlah anak anak yakni sudah berusia 20 tahun yang cukup seumuran dengan putra kandung nya, di tambah karir Indri yang sibuk di dunia modelling hingga dirinya jarang berkumpul bersama.
"Kalo gitu, Hajeera berangkat dulu yah mah, pah..." pamit Hajeera, bangun dari tempatnya duduk lalu menyalimi kedua orang tuanya.
"Assalamualaikum..." pamit Hajeera seraya melangkah kan kakinya menuju arah pintu utama.
"Waalaikumsalam... Hati hati sayang..." jawab Bu Selyn dan pak Benedict.
"Gak usah di benerin terus, non udah cantik kok..." goda pak Darso supir pribadinya yang melihat nona kecilnya yang terus terusan membenarkan kerudung yang di pakainya.
"Bukan masalah gak cantiknya, ini tuh biar makin ciyantikkk..." jawab Hajeera lalu duduk dengan anteng di kursi penumpang.
Selama perjalanan menuju sekolah Hajeera fokus ke dalam ponsel di tangannya, bukan sedang scrolll tiktok melainkan ia tengah belajar di dalam ponsel miliknya.
Sampai di sebuah tempat sepi yang lumayan jauh dari gerbang sekolah Hajeera turun dari dalam mobil seperti biasanya, yah dirinya tidak terlalu menyukai di antar sampai gerbang sekolah, karena ia malas meladeni jilatan jilatan orang munafik.