Aroma melati yang merebak di gedung itu terasa mencekik paru-paru Rina. Harusnya, hari ini menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya. Namun, di balik riasan bold dan kebaya putih mewah yang melekat di tubuhnya, ada hati yang sedang hancur berkeping-keping.
Di sampingnya, duduk Gus Azkar. Pria itu tampak tenang, nyaris tanpa cela. Dua bulan lalu, saat Azkar datang melamar ke rumahnya, Rina tak punya kuasa untuk menolak keinginan orang tuanya. Azkar adalah menantu idaman—seorang ustadz muda yang dihormati, santun, dan memiliki garis keturunan pemuka agama yang terpandang.
Tapi bagi Rina, Azkar adalah orang asing yang memisahkan dunianya dengan Bian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Pengakuan di Balik Luka
Penyesalan yang Terlambat
Gus Azkar kini benar-benar merasa menjadi orang paling bodoh di dunia. Ia terlalu sibuk dengan rasa bersalahnya sampai ia buta bahwa Rina—gadis yang ia paksa masuk ke dunianya—ternyata telah memberikan hatinya. Rina melawan maut, melawan tarikan cahaya putih, dan melawan keinginannya untuk istirahat selamanya, hanya demi kembali kepada pria yang kini justru menawarkan kata "cerai".
"Rin..." Azkar berbisik, suaranya kini benar-benar pecah menjadi isak tangis. "Mas minta maaf... Mas benar-benar laki-laki bodoh. Mas kira dengan melepaskanmu, itu bukti sayang Mas. Mas nggak tahu kalau kamu berjuang sejauh itu buat kembali ke sisi Mas."
Azkar meraih tangan Rina, menempelkannya ke keningnya, dan menangis sejadi-jadinya di sana. Ia tidak peduli lagi dengan citranya sebagai seorang Gus yang harus kuat. Di hadapan Rina, ia hanyalah seorang pria yang baru menyadari bahwa ia telah mematahkan hati yang paling tulus mencintainya lewat "jalur langit".
Rina tidak menarik tangannya, tapi ia juga tidak membalas genggaman itu. Ia tetap diam, membiarkan suaminya tenggelam dalam penyesalan yang ia ciptakan sendiri.
____________________________________________________
Rina telah mengungkapkan kebenaran yang paling menyakitkan: bahwa ia mencintai Azkar, namun ia kecewa karena Azkar tidak peka terhadap pengorbanannya.
____________________________________________________
Gus Azkar masih tertunduk, bahunya berguncang hebat karena tangis penyesalan yang membuncah. Ia merasa tidak pantas lagi mendongak menatap wajah istrinya. Namun tiba-tiba, ia merasakan sentuhan lembut yang sangat akrab di puncak kepalanya.
Rina, dengan sisa tenaga yang masih sangat minim, menggerakkan tangannya yang terpasang infus untuk mengusap rambut suaminya. Gerakannya pelan, hampir tidak terasa, namun sukses membuat napas Azkar tertahan sejenak.
Usapan yang Menyakitkan
Harapan sempat muncul di hati Azkar. Ia mengira usapan itu adalah tanda maaf, tanda bahwa Rina akan kembali luluh padanya. Namun, kalimat yang kemudian meluncur dari bibir Rina justru menjadi belati terakhir yang meruntuhkan sisa-sisa kekuatannya.
"Tak usah menangis," ucap Rina datar, suaranya sangat tenang seolah ia sedang membicarakan cuaca. "Terima kasih telah menalak saya barusan, walaupun kesannya saya yang mengajak kita berakhir."
Kalimat itu terasa begitu dingin dan final. Rina kemudian menarik kembali tangannya dari kepala Azkar dengan perlahan, meletakkannya kembali di atas kasur. Ia memejamkan mata, memutus kontak batin yang sempat tercipta. Setelah itu, ia benar-benar membisu—kali ini dengan kebisuan yang jauh lebih gelap dan dalam.
Kehancuran Sang Gus
Azkar mendongak dengan mata yang sembap dan merah. Ia menatap Rina yang kini tampak sangat jauh, meski raga mereka hanya berjarak beberapa senti. Kalimat "terima kasih telah menalak saya" itu terus terngiang di kepalanya, menghakiminya atas tawaran bodoh yang ia berikan tadi.
Ia baru sadar, bagi wanita yang sudah mempertaruhkan nyawa untuk kembali ke sisi suaminya, kata "cerai" bukan lagi sebuah solusi, melainkan sebuah penghinaan atas pengorbanan cintanya.
"Rin... bukan itu maksud Mas..." Azkar mencoba meraih tangan Rina lagi, namun Rina justru menyembunyikan tangannya di balik selimut tanpa membuka mata.
Azkar terdiam di tempatnya. Ia menyadari satu hal yang menyakitkan: ia telah mendapatkan kembali tubuh Rina dari maut, namun ia baru saja kehilangan jiwa Rina karena lisannya sendiri. Sekarang, bukan lagi ajal yang memisahkan mereka, melainkan kekecewaan yang telah membeku di hati Rina.
Di luar ruangan, dokter dan perawat hanya bisa menatap melalui kaca, sementara Ibu Rina sudah tak sanggup lagi melihat penderitaan batin yang dialami kedua insan yang saling mencintai namun tak saling memahami itu.
Suasana menjadi sangat dingin karena Rina menganggap tawaran Azkar sebagai talak yang menyakitkan.