Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Cakra untuk bertemu dengan El-Barack
Suara bantingan pintu jati itu terdengar seperti ledakan di seluruh lantai eksekutif. Cakra berjalan dengan langkah lebar, wajahnya merah padam. Para karyawan yang berpapasan dengannya langsung menunduk, tak berani bernapas.
Begitu sampai di ruangannya, Cakra langsung menyapu bersih semua benda di atas meja kerjanya. Berkas-berkas penting, laptop, hingga plakat penghargaan jatuh berhamburan ke lantai dengan suara gaduh.
"Dasar brengsek! Kenapa malah jadi seperti ini?" Cakra berteriak hingga urat lehernya tampak ingin putus. Ia mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi.
"Aku pikir cintamu masih sama seperti dulu, Hana! Tapi ternyata..." Ia menjeda kalimatnya, membayangkan tangan Tama yang melingkar protektif di pinggang Hana. "Bajingan itu... berani-beraninya dia menyentuh milikku!"
"Aarrkkhhh!"
Cakra menendang kursi kerjanya hingga terguling. Pikirannya kalut. Di satu sisi, perusahaannya butuh suntikan dana dari Global Energi, namun di sisi lain, egonya sebagai pria Ardiwinata hancur lebur.
"Kau pikir kau bisa mengancam ku dengan kontrak itu, Hana?" gumamnya dengan senyum miring yang menyeramkan. "Jika aku tidak bisa mendapatkan mu lewat cinta, aku akan mendapatkan mu lewat El. Kita lihat, sejauh mana kau bisa bertahan saat putra kesayanganmu kembali ke pangkuan Ardiwinata."
Kediaman Irjen pol Sutoyo
Malam itu, langit di atas mansion terasa kelabu, seolah mencerminkan suasana hati penghuninya. Hana berdiri di balkon, menatap kosong ke arah taman yang gelap. Di sampingnya, Tama berdiri tegak seperti karang, namun sorot matanya menyimpan kekhawatiran yang sama.
"Aku tidak bisa tenang, Mas," suara Hana memecah keheningan, terdengar bergetar. "Mas Cakra itu nekat. Kalau dia sudah terdesak, dia akan melakukan apa saja. Bagaimana kalau dia membawa pengacara? Bagaimana kalau dia menculik El dari sekolah?"
Tama menggeser posisinya, menghadap Hana sepenuhnya. "Hana, dengarkan aku. Secara hukum, posisinya lemah. Dia mengabaikan kalian selama bertahun-tahun. Tapi aku tahu, Cakra bukan tipe yang bermain bersih."
"Itu yang aku takutkan, Mas," Hana memeluk dirinya sendiri, kedinginan oleh pikirannya sendiri. "Dia bilang El adalah pewaris sah Ardiwinata. Dia tidak menginginkan El karena cinta, dia hanya menginginkan 'aset' untuk nama besarnya."
Tama mengepalkan tangannya di balik saku celana. "Aku sudah menempatkan dua orang personel tambahan untuk mengawasi El secara jarak jauh. Mulai besok, aku sendiri yang akan menjemputnya sekolah. Jangan biarkan ketakutanmu menang, Hana. Itu yang dia inginkan."
Hana menatap Tama dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih, Mas. Aku tidak tahu apa jadinya aku tanpa kamu di saat seperti ini."
Tama pun mengenggam kedua tangannya Hana, mencoba menguatkannya meskipun saat ini hatinya bergemuruh.
Tanpa mereka sadari, di balik gorden pintu balkon yang sedikit terbuka, seorang anak laki-laki kecil berdiri mematung. El Barack, yang awalnya ingin membawakan segelas air putih untuk bundanya, kini terdiam dengan tangan yang gemetar memegang gelas plastik.
Kata-kata itu terngiang jelas di telinganya.
'Ayah, Cakra. Mengambil El.'
“Jadi Bunda sudah bertemu dengan Ayah?” gumam El dalam hati. Jantung bocah itu berdegup kencang. Selama ini, sosok ayah hanyalah lubang kosong dalam ingatannya yang coba ia tutupi dengan keceriaan.
“Apakah Ayah tahu keberadaanku? Dan... kenapa Bunda terlihat begitu takut padanya?”
El melangkah mundur perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara. wajahnya yang biasanya ceria kini berubah menjadi serius dan penuh tanda tanya. Jika pria bernama Cakra itu adalah ayahnya, mengapa kedatangannya justru membawa badai tangis bagi bundanya?
.
.
Keesokan harinya, suasana di sekolah El Barack tampak lebih tegang dari biasanya. Tama tidak main-main dengan ucapannya; dua pria berbadan tegap dengan pakaian sipil berjaga di gerbang, sementara Tama sendiri memantau dari kejauhan dengan mata elang yang tidak lepas dari setiap pergerakan di koridor.
Hana melepas El di depan kelas dengan kecupan lama di kening. Ia tersenyum, meski matanya menyiratkan kelelahan. Bagi Hana, El adalah permata yang harus dilindungi dari kejamnya dunia, terutama dari sosok Cakra yang ia anggap sebagai monster masa lalu. Ia belum siap menghancurkan imajinasi El tentang sosok "Ayah" yang sempurna, meski itu berarti ia harus memikul beban rahasia sendirian.
Namun, perlindungan seketat apa pun tetap memiliki celah jika musuh bermain dari dalam.
Di dalam kelas, saat guru sedang menyiapkan materi, Axel, teman dekatnya El sekaligus keponakan Cakra, mulai mendekat. Ia menyodorkan sepucuk surat berwarna krem dengan logo keluarga Ardiwinata yang samar.
"Ini dari Pamanku," bisik Axel pelan.
El, yang memang memiliki kecerdasan di atas rata-rata anak seusianya, segera membuka lipatan kertas itu. Matanya yang jernih menelusuri barisan kata yang ditulis dengan tulisan tangan yang tegas dan berwibawa.
Untuk Putraku, El Barack.
Mungkin kau bingung siapa yang menulis ini. Namaku Cakra Ardiwinata, dan aku adalah Ayah kandungmu. Aku tahu kau anak yang pintar, El. Aku sangat ingin memelukmu, tapi ada tembok besar yang menghalangi kita saat ini. Darah Ardiwinata mengalir di nadi mu, dan kau adalah kebanggaanku.
Dada El bergemuruh. Setitik air mata jatuh mengenai kertas itu. Haru dan bingung bercampur menjadi satu. Penantiannya selama ini, pertanyaan-pertanyaan yang selalu ia simpan sendiri setiap melihat teman-temannya dijemput oleh ayah mereka, kini terjawab dalam selembar kertas.
"Jadi Pamanmu itu adalah Ayahku, Axel?" tanya El dengan suara bergetar, berusaha menahan tangis agar tidak memancing perhatian guru.
"Kata Paman Cakra sih begitu, cuma Bunda kamu melarang Pamanku, maksudku Ayahmu untuk bertemu denganmu, El," jawab Axel polos.
El terdiam. Logikanya yang tajam mulai bekerja. Ia teringat wajah pucat Bundanya tadi malam dan ketegangan antara Bunda dan Om Tama.
"Aku harus bertemu dengan Ayah," gumam El, jemarinya meremas pinggiran surat. "Tapi aku juga tidak ingin ada yang tahu. Entah ada masalah apa antara Bunda dan Ayah dulu, aku benar-benar tidak tahu. Aku ingin bertemu Ayah, tapi aku juga ingin menjaga perasaan Bunda!"
Axel tampak berpikir sejenak, lalu matanya berbinar. "Begini saja El, bagaimana besok saat jam istirahat kita bertemu Ayahmu di kantin belakang? Itu tempat paling sepi. Pamanku juga sangat ingin bertemu denganmu!"
Mendengar rencana itu, secercah harapan muncul di wajah El. Ia menyeka air matanya dan mengangguk mantap. Senyum kecil terukir di bibirnya, sebuah senyum penuh rahasia yang pertama kali ia sembunyikan dari ibunya.
Lonceng pulang berbunyi. Tama sudah berdiri tegak di samping mobil, menyambut El dengan senyum tipis. Ia memperhatikan gerak-gerik El, mencari tanda-tanda jika ada orang asing yang mendekatinya.
"Bagaimana sekolahmu hari ini, El? Ada yang mengganggumu?" tanya Tama sambil membukakan pintu mobil.
"Tidak ada, Om Tama. Hari ini menyenangkan sekali," jawab El dengan nada riang yang dibuat-buat. Ia duduk di kursi belakang, tas sekolahnya dipeluk erat. Di dalamnya, surat dari Cakra tersimpan rapi di sela-sela buku matematikanya.
Tama melirik dari kaca spion tengah. Ia merasa El tampak sedikit lebih bersemangat dari biasanya, namun ia menganggap itu hanya karena nilai mata pelajaran El yang selalu bagus. Ia sama sekali tidak curiga bahwa bocah berusia lima tahun itu baru saja menyusun strategi pelarian yang sangat rapi.
Di kediamannya, Cakra Ardiwinata sedang menyesap kopinya sambil menatap layar ponsel yang menampilkan titik GPS di sekolah El.
"Besok, El... besok kita akan bertemu," bisik Cakra dengan seringai kemenangan. "Hana boleh memilikimu di rumah, tapi darah Ardiwinata tidak akan pernah bisa ia hapus dari dirimu."
Bersambung...