Kenzo Banyu Samudera adalah anak tiri dari keluarga konglomerat, hidup sebagai pecundang yang dihina, disiksa, dan dibuang. Lemah, cupu, dan tak pernah melawan—hingga suatu malam ia nyaris mati bersimbah darah. Namun kematian itu justru menjadi awal kebangkitan.
Kesadaran Bayu Samudra, petarung jalanan miskin yang tewas dalam pertarungan brutal, terbangun di tubuh Kenzo. Bersamaan dengan itu, sebuah Sistem Pemburu aktif di kepalanya. Kebangkitan ini bukan hadiah. Keluarga Kenzo memfitnah, menghapus identitasnya, dan mengusirnya dari rumah.
Dari jalanan kumuh, Bayu merangkak naik. Tinju jalanannya berpadu dengan kecerdasan Kenzo dan kekuatan sistem. Perlahan ia membangun kerajaan bayangan bisnis legal di permukaan, mafia di balik layar. Namun sisa memori Kenzo menghadirkan luka, kesepian, dan konflik batin.
Di antara dendam, cinta, dan kegelapan, Bayu harus memilih: menjadi monster penguasa, atau manusia yang masih mengingat rasa kalah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: UANG PERTAMA MENGALIR
#
Bayu terbangun dengan badan remuk semua. Rusuknya ngilu. Kepala berdenyut. Tangannya kaku. Tapi... anehnya, nggak separah yang dia kira.
Dia duduk di kasur. Mengangkat kaosnya. Lihat rusuknya yang kemarin retak parah.
Lebam-nya... berkurang?
Bayu meraba pelan. Masih sakit. Tapi nggak sesakit kemarin.
Regenerasi cepat.
Hadiah dari sistem. Bener kerja.
Dia berdiri pelan. Jalan ke cermin kecil yang nempel di dinding. Menatap wajahnya.
Hidungnya yang kemarin bengkak... udah agak kempes. Luka di dahi... udah mulai nutup. Mata yang lebam... warnanya udah pudar.
"Gila... ini beneran..."
Gumaman kagum keluar.
TOK TOK TOK!
Ketukan di pintu. Bayu menoleh.
"Bayu! Gue!" suara Pak Guntur dari luar.
Bayu buka pintu. Pak Guntur berdiri di sana. Senyum lebar. Di tangannya, tas ransel hitam.
"Pagi, jagoan." Dia lempar tas itu ke tangan Bayu.
Bayu tangkap. Berat. "Ini apa?"
"Uang lu. Tujuh puluh lima juta. Tunai. Gue suka bayar tunai buat orang yang bisa dipercaya."
Bayu buka tas itu. Matanya melebar.
Tumpukan uang kertas seratus ribuan. Rapi. Banyak banget. Penuh satu tas.
Ini... pertama kalinya Bayu pegang uang sebanyak ini.
Bahkan saat jadi Bayu Samudra dulu, uang terbanyak yang dia pernah pegang cuma lima juta. Itu pun langsung dipake buat bayar utang ibu.
Tapi sekarang...
Tujuh puluh lima juta.
Di tangannya sendiri.
"Kenapa... kenapa nggak transfer?" tanya Bayu pelan.
Pak Guntur nyengir. "Transfer ribet. Ada jejak. Polisi bisa lacak. Tunai lebih aman. Asal lu nggak bego belanjain semua sekaligus."
Bayu menatap uang itu lama. Tangannya gemetar.
Bukan karena takut. Tapi karena... ini nyata. Ini beneran.
Gue... gue punya uang.
"Makasih," katanya pelan.
Pak Guntur menepuk bahunya. "Jangan makasih dulu. Kerja lu baru mulai. Minggu depan ada pertandingan lagi. Lawan dari luar kota. Kalau menang, lu dapet lebih banyak."
Bayu mengangguk. "Gue siap."
"Bagus." Pak Guntur berbalik mau pergi, tapi berhenti. "Oh iya. Jangan keluyuran pake uang segitu. Banyak orang jahat di luar. Lu bisa dirampok. Atau lebih parah... dibunuh."
"Gue akan hati-hati."
Pak Guntur turun tangga. Langkahnya bergema di tangga besi.
Bayu menutup pintu. Duduk di kasur. Tas di pangkuannya.
Dia buka lagi. Menatap uang itu.
Tujuh puluh lima juta.
Cukup buat hidup enam bulan. Mungkin setahun kalau irit.
Tapi gue nggak mau cuma hidup. Gue mau... balik.
Otaknya mulai bekerja. Merencanakan.
Pertama, gue butuh peralatan. Laptop baru. Handphone. Koneksi internet. Biar bisa ngakses file-file yang ada di USB.
Kedua, baju. Gue nggak bisa jalan keluar pake baju lusuh terus. Orang bakal curiga.
Ketiga... tempat aman buat nyimpen uang. Nggak bisa taro semua di kamar. Terlalu riskan.
Bayu bangkit. Masukin sepuluh juta ke kantong dalam jaket. Sisanya dia sembunyiin di bawah kasur. Dilipet dalem plastik, taro di celah pegas yang udah rusak.
Nggak aman banget. Tapi sementara cukup.
Dia keluar kamar. Turun tangga. Arena masih sepi. Baru jam delapan pagi. Malam tadi mereka tutup jam empat subuh.
Bayu keluar dari gudang. Matahari pagi menyilaukan. Udara laut masih berasa asin di hidung.
Dia jalan ke jalan raya. Naik angkot. Tujuan: pusat kota.
***
Toko elektronik besar. Ber-AC dingin. Lampu terang. Produk-produk mengkilap di etalase.
Bayu masuk dengan ragu. Baju-nya masih lusuh. Tapi dia udah cuci muka. Rambut disikat pake tangan. Minimal kelihatan lumayan rapi.
Seorang SPG mendekat. Senyum ramah tapi ada tatapan meremehkan di matanya saat lihat penampilan Bayu.
"Ada yang bisa saya bantu?"
Bayu menatapnya datar. "Gue butuh laptop. Yang bagus. Buat kerja berat."
SPG itu menahan senyum meremehkan. "Budget berapa, Mas?"
"Nggak ada budget. Yang penting spek-nya bagus."
SPG itu terdiam. Lalu senyumnya jadi lebih tulus. Mungkin dia sadar Bayu nggak main-main.
"Silakan ikut saya."
Dia bawa Bayu ke bagian laptop premium. Tunjukin beberapa pilihan. Bayu milih yang paling kenceng. Prosesor terbaru. RAM gede. Storage SSD satu tera.
Dua puluh juta.
"Gue ambil ini. Plus handphone. Yang layarnya gede. Buat kerja juga."
SPG itu manggil supervisor. Transaksi beres. Bayu bayar tunai.
Karyawan toko menatap nggak percaya saat Bayu keluarin tumpukan uang dari tas.
Tapi Bayu nggak peduli.
Dia keluar bawa tas belanjaan gede. Laptop. Handphone. Charger. Mouse. Harddisk eksternal.
Terus dia ke toko baju. Beli celana jeans. Kaos polos. Jaket. Sepatu. Nggak mahal-mahal. Tapi layak. Biar nggak kelihatan kayak gelandangan lagi.
Terakhir... dia mampir ke toko kunci. Beli brankas kecil. Buat nyimpen uang dan dokumen penting.
Jam tiga sore, Bayu balik ke arena. Naik ke kamarnya. Bawa semua barang belanjaan.
Dia kunci pintu. Buka semua plastik. Setup laptop di meja kecil. Colok charger. Nyalain.
Layar menyala terang. Sistem operasi loading cepat.
Bayu ambil USB dari saku celana dalam. USB yang berisi semua file bukti kejahatan keluarga Samudera.
Dia colok ke laptop. Buka folder.
File-file mulai muncul.
Ratusan. Mungkin ribuan.
Dokumen PDF. Foto. Screenshot chat. Rekaman audio. Video.
Bayu mulai buka satu per satu.
Transfer mencurigakan dari kas perusahaan ke rekening offshore. Ratusan miliar.
Faktur pembelian properti fiktif. Uangnya masuk ke rekening pribadi Valerie.
Chat antara Valerie dan makelar tanah ilegal. Ngomongin suap ke pejabat.
Email antara Raka dan supplier narkoba.
Bayu berhenti scroll. Matanya melebar.
Narkoba?
Dia buka email itu. Baca pelan.
Raka pesan kokain. Banyak. Untuk dijual ke kalangan atas. Pesta-pesta eksklusif.
Dan Valerie... tau.
Bahkan bantu danain.
"Brengsek..."
Bisikan marah keluar.
Mereka nggak cuma koruptor. Mereka... pengedar narkoba.
Bayu scroll terus. Makin banyak bukti. Makin jelas.
Ada foto. Valerie ketemu sama pria asing di restoran mewah. Di belakangnya... tas hitam besar. Kemungkinan besar isinya uang atau barang.
Ada rekaman audio. Valerie ngomongin pembayaran ke polisi buat tutupin kasus narkoba Raka.
Semua ada.
Semua tersimpan rapi oleh Kenzo.
Bayu bersandar di kursi. Napas panjang keluar.
Kenzo... lo udah ngumpulin semua ini. Tapi lo nggak berani pake.
Karena lo takut.
Takut mereka bakal bunuh lo.
Dan... mereka emang bunuh lo.
Bayu menutup laptop. Menatap kosong ke depan.
Sekarang... gue punya bukti. Gue punya uang. Gue punya tempat tinggal.
Tinggal... waktu yang tepat.
Dia buka brankas kecil yang tadi dibeli. Masukin USB ke dalamnya. Kunci rapat.
Lalu dia sembunyiin brankas itu di balik lemari plastik. Nggak kelihatan dari luar.
Bayu duduk di kasur. Menatap laptop di meja.
Tujuh hari.
Sistem kasih waktu tujuh hari buat ungkap kejahatan keluarga Samudera.
Sekarang udah hari ketiga.
Tinggal empat hari lagi.
"Gue harus mulai bergerak."
Gumaman pelan keluar.
Tapi... gimana caranya?
Kalau gue lapor polisi, mereka bakal bayar polisi buat tutupin.
Kalau gue sebar ke media, mereka bakal bayar media buat nggak muat.
Mereka punya uang. Punya koneksi. Punya kekuasaan.
Gue... cuma punya bukti.
Bayu menutup matanya. Mikir keras.
Harus ada cara lain.
Cara yang mereka nggak bisa tutupin.
Lalu... ide muncul.
Pelan. Tapi jelas.
Media sosial.
Viral.
Kalau gue sebar bukti ini di media sosial... bikin viral... terlalu banyak orang yang lihat... mereka nggak bisa tutupin semua.
Bayu membuka matanya. Senyum tipis muncul.
"Iya. Itu caranya."
Dia buka laptop lagi. Mulai riset. Cara bikin konten viral. Cara sebar cepat. Cara biar nggak ketahuan siapa yang nyebarin.
Jam-jam berlalu. Bayu nggak bergerak dari depan laptop. Cuma baca. Belajar. Merencanakan.
Sampai malam. Sampai matanya perih.
Tapi dia nggak berhenti.
Karena ini... ini satu-satunya kesempatan.
Kesempatan buat balikin semuanya.
Dan dia nggak akan sia-siain.