Felicia datang ke kantor itu hanya untuk bekerja.
Bukan untuk jatuh cinta pada manajer yang usianya lima belas tahun lebih tua—dan seharusnya terlalu jauh untuk didekati.
James Han tahu batas. Jabatan, usia, etika—semuanya berdiri di antara mereka.
Tapi semakin ia menjaga jarak, semakin ia menyadari satu hal: ada perasaan yang tumbuh justru karena tidak pernah disentuh.
Ketika sistem memisahkan mereka, dan Felicia hampir memilih hidup yang lain, James Han memilih menunggu—tanpa janji, tanpa paksaan.
Karena ada cinta yang tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dipilih di waktu yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seribu Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perbincangan Tengah Malam
Felicia menggeliat dalam selimut yang menutupi tubuhnya hingga ke dada. untuk sesaat, ia berusaha menyesuaikan pandangannya karena cahaya lampu yang sangat temaram dan aroma ruangan yang terasa tidak familiar untuknya.
wanita itu mengedarkan pandangannya, seingatnya kemarin setelah kembali dari Bogor, ia mampir ke apartemen James dan menunggu pria itu menyelesaikan panggilan telfonnya di sofa ruang tamu. lalu mengapa saat ini ia berada di kamar ini?
ia menyibak selimut tebal itu kemudian turun dari tempat tidur. Karena James tidak terlihat ada diruangan tersebut, Felicia memutuskan untuk mencarinya. Lagipula, sepertinya ponsel dan barang-barangnya tertinggal di sofa ruang tamu, jadi ia hendak mengambilnya dan berpamitan pulang.
“Kamu terbangun?” suara itu memenuhi pendengaran Felicia saat ia membuka pintu kamar.
Felicia mengangguk pelan, “maaf, aku jadi ketiduran.” ia berjalan menghampiri James yang tengah berkutat dengan laptop di pangkuannya.
“Tidak masalah Fel, kamu pasti kelelahan. Sini, kamu mau aku buatkan minuman hangat?” Pak Han menepuk sisi kosong di sebelahnya.
“Mas, ini jam berapa? Aku harus pulang.”
James tersenyum, “sudah pukul dua Fel. lebih baik kamu pulang besok pagi saja.”
Mata Felicia membelalak, “aku tidur selama itu?”
“Sepertinya kamu nyaman disini,”
Felicia tidak menyangkal hal itu. Memang tempat tinggal James ini terasa sangat nyaman. Selain karena luas dan ditata dengan sangat rapi, entah mengapa ada rasa hangat yang anehnya bisa membuat Felicia bisa semudah itu tertidur dengan lelap.
Padahal biasanya, gadis itu paling sulit tertidur jika sedang menginap dirumah orang lain.
“Sebentar, aku buatkan minuman hangat. Mau matcha atau coklat hangat?” tanya James sembari meletakkan laptopnya di meja kaca yang ada di depannya.
“Coklat boleh, biar aku aja Mas.” Felicia menahan lengan James yang hendak melangkah menuju dapur.
“Kalau di rumah, biar aku yang buatkan ya. Kamu duduk saja disini,”
Dada Felicia terasa hangat saat mendengarnya, entah sudah berapa lama tidak ada yang memperhatikannya seperti ini. Nek Diah memang menyayanginya, tetapi beliau selalu terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga seringkali Felicia merasa sendirian.
“Ini, hati-hati masih panas.” James menyimpan secangkir coklat hangat yang masih mengepul itu di meja.
“Makasih, Mas.” Felicia mendongak kemudian tersenyum menatap James yang kini terlihat jauh lebih santai dengan kaos rumahan dan celana tidur yang entah bagaimana masih saja membuat pria itu terlihat tampan.
Felicia meraih coklat hangat itu, meniupnya sekilas kemudian meminumnya perlahan. “Sedang mengerjakan apa, Mas? Ada yang bisa aku bantu?”
James menggeleng pelan, “bukan masalah besar. Ini cuman laporan singkat. Tadi aku belum ngantuk, makanya aku kerjakan ini sambil menunggu kantuk.”
“Mas sering tidur larut begini?” tanya Felicia penasaran.
“Tidak juga. Seringnya kalau sudah mepet deadline, dan kalau kepalaku lagi penuh.”
Felicia menoleh, “berarti sekarang kepala kamu lagi penuh ya?”
James tersenyum karena tebakan wanitanya itu sangat jitu. Sedari tadi pria itu memang sulit tidur karena tengah memikirkan banyak hal. “Kamu pintar menebak. Kayaknya kamu sudah hafal aku banget ya?”
“Aku lumayan jago baca orang, itu menurut pendapat teman-temanku ya.”
James terkekeh, “well, sepertinya itu memang benar.”
“Mas bisa berbagi sama aku kalau Mas mau.” Felicia meletakkan cangkirnya yang tinggal tersisa setengah. “Daripada dipikirkan sendiri.”
James menoleh, kemudian tersenyum sesaat. Sepertinya, tersenyum sudah menjadi hobi baru James saat ini. “Memangnya kamu mau dengerin?"
“Kan aku yang nawarin, Mas.” kekeh Felicia.
“Pikiranku selalu dipenuhi kamu Fel.
Setidaknya untuk beberapa bulan belakangan.” kalimat itu terucap dengan sangat ringan. James tampaknya tidak berusaha menutupi apapun dari wanitanya itu.
“Serius, Mas, jangan gombal.”
“Aku serius, Fel.”
Felicia bergeming. Wanita itu menatap mata James yang kini tengah mengunci tatapannya. Ia berusaha mencari sirat jenaka disana, tetapi tidak ada. James mengatakan yang sebenarnya. Kalimat tadi bukan usahanya untuk menutupi ataupun godaan belaka.
“Maaf, kalau aku bikin kamu sulit tidur. Apa aku bikin kesalahan sampai membuat Mas Jimmy kepikiran?”
James memutar tubuhnya, menghadap penuh ke arah Felicia. “Bukan itu. Saya selalu memikirkan kamu, karena entah bagaimana tiba-tiba saja begitu banyak rencana yang tercipta di kepala saya. Dan semuanya, selalu tertuju pada kamu.”
Felicia merasakan desiran hebat saat James mengatakan hal tersebut. “Rencana?”
James mengangguk, “jangan salah paham. Ini, rencana yang baik.”
“Misalnya?”
James menghela nafasnya sebentar, sedikit ragu tetapi kemudian memberanikan diri untuk mengatakan apa yang sedari tadi memenuhi kepalanya. “Misalnya, membayangkan betapa menyenangkannya jika kamu ada disini. Setiap hari, bersamaku. Dalam jangkauan pandanganku, bisa melihat kamu sebelum tertidur dan saat bangun di pagi hari. Itu yang sedari tadi memenuhi kepalaku.”
Dada Felicia berdebar, nafasnya tiba-tiba terasa pendek, bukan karena sedih melainkan pacuan adrenalin yang luar biasa dari kalimat yang dikatakan James dan juga tatapannya yang terasa begitu dalam.
“Nanti, setelah menikah, kamu mau kan tinggal bersamaku?” tanya James memastikan bahwa itu tidak hanya akan terjadi di angan-angannya saja.
Felicia menjawabnya dengan anggukan. “Aku akan tinggal bersama suamiku, tentu saja.”
James menelengkan kepalanya, “i like that. Aku suka saat kamu mengatakannya.” tentu saja pria itu serasa di suapi egonya saat Felicia menyertakan kata ‘suami’ dalam kalimatnya.
“Sebaiknya Mas tidur, sudah malam. Jangan sampai besok telat atau Mas ngantuk di kantor.” Felicia berusaha menutupi salah tingkahnya dengan mengalihkan topik pembicaraan.
“Aku masih ingin menatap kamu.” lagi-lagi James berhasil membuat wajah Felicia memerah seperti stroberi. Entah dimana sisi ini disembunyikan selama ini, yang jelas Felicia selalu merasa seperti mendapat serangan fajar setiap kali James bertingkah aneh.
“Mas, jangan gini.”
James menyipitkan matanya, masih ingin menggoda wanita kesayangannya itu. “Gini, gimana, sayang?”
“Gini. Bersikap nggak kayak biasanya. Ini bukan Pak Han yang aku kenal.” jelas Felicia berusaha melindungi kesehatan jantungnya yang sedari tadi berdebar abnormal.
“Memang bukan.” James sengaja mencondongkan tubuhnya ke arah Felicia. “Pak Han yang kamu kenal itu, aku dalam mode bekerja.”
Lagi, ia menggeser tubuhnya lebih dekat ke arah Felicia, membuat wanita itu seketika menahan nafasnya. Matanya sedikit membelalak karena terkejut dengan pergerakan James yang sangat diluar prediksi ini.
“Yang ada didepan kamu ini, Jimmy, kekasih kamu. Jadi, jangan samakan ya, karena mereka dua versi yang berbeda.” James menatap Felicia dengan lekat. Felicia bisa melihat pupil mata James membesar, tatapannya naik turun dari mata ke bibir Felicia secara bergantian.
Lalu dalam hitungan detik, James mengecup bibir Felicia singkat. Sangat singkat sehingga membuat Felicia hanya bisa mematung dibuatnya.
“Ayo, kembali tidur sebelum aku tidak bisa menahan diri lagi.”
Dunia seolah berhenti berputar bagi Felicia. Kecupan singkat itu meninggalkan sensasi panas yang menjalar cepat ke seluruh tubuhnya. Ia masih mematung, menatap James dengan napas tertahan, sebelum akhirnya tersadar bahwa jantungnya sudah berdegup melampaui batas normal.
"I-iya, Mas. Aku... aku masuk dulu," jawab Felicia terbata. Tanpa berani menatap mata James lebih lama, ia segera menyambar tasnya dan berbalik dengan langkah terburu-buru.
James berdiri diam di tempatnya, kedua tangannya tenggelam di saku celana, memerhatikan punggung Felicia yang menjauh dengan tatapan intens. Tepat saat tangan Felicia menyentuh gagang pintu, James memanggilnya kembali.
"Felicia?"
Felicia berjengit. Ia menoleh sedikit, hanya separuh wajah. "I-iya, Mas?"
James menatapnya dengan tatapan yang jauh lebih dalam, sisi menggoda tadi sudah digantikan oleh ketulusan yang murni. "Selamat istirahat. Tidur yang nyenyak, ya. Mas Jimmy sayang kamu."
Felicia tidak sanggup menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk cepat dan segera masuk ke dalam kamar, menutup pintu dengan bunyi klik yang halus namun tegas.
Di balik pintu yang tertutup, Felicia langsung menyandarkan punggungnya. Ia memegang pipinya yang terasa seperti terbakar. "Astaga, Mas Jimmy..." bisiknya pada keheningan kamar.
Sementara itu, di ruang tengah, pemandangan yang sangat berbeda terjadi.
Begitu pintu itu tertutup sempurna, James Han, sang atasan yang biasanya dikenal dingin, kaku, dan tak tersentuh, seketika kehilangan wibawanya. Ia membuang napas panjang yang sedari tadi ia tahan, lalu menutup mulutnya dengan tangan, berusaha meredam tawa bahagia yang meluap.
Pria berusia hampir empat puluh tahun itu menyugar rambutnya ke belakang dengan kedua tangan, lalu berjalan mondar-mandir di ruang tengah dengan langkah yang gelisah namun penuh energi. Ia berhenti di depan jendela besar yang menghadap lampu-lampu kota, mencoba menenangkan debar jantungnya yang tidak tahu diri.
James menyentuh bibirnya dengan ibu jari, lalu tiba-tiba ia menunduk dan tertawa kecil sendirian—sebuah tawa rendah yang terdengar sangat puas sekaligus tak percaya.
Ia menggeleng-gelengkan kepala, merasa geli pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa seorang manajer yang terbiasa menghadapi rapat-rapat penuh ketegangan bisa merasa se-emosional ini hanya karena satu kecupan singkat?
"James, get a grip!" gumamnya pada diri sendiri, namun senyumnya justru semakin melebar hingga matanya menyipit.
Ia berjalan menuju dapur, meneguk segelas air dingin dengan cepat seolah-olah itu bisa mendinginkan kepalanya yang mendadak penuh dengan wajah Felicia. James bersandar pada kitchen island, menatap pintu kamar yang tertutup itu dengan senyum kecil yang tak kunjung hilang.
"Kamu benar-benar membuat saya gila, Fel," gumamnya pelan.
Malam itu, James Han tidak langsung tidur. Ia duduk di balkon, menyesap sisa kopinya yang sudah dingin, menikmati perasaan "muda" yang kembali meledak di dadanya—perasaan yang ia pikir sudah lama hilang seiring bertambahnya usia.