Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.
Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.
"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.
"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.
Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?
Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Ancaman Serius.
Rania langsung menghempaskan tangan Rangga dan menatap laki-laki itu dengan mata memerah. "Aku ibunya, Dafa itu anakku! Siapapun tidak berhak melarangku termasuk kau!" bentaknya sembari menunjuk tepat ke wajah Rangga.
"Hahahah." Rangga tertawa, tawa yang terdengar sangat menyakitkan hati Rania. "Dan aku ayahnya, aku berhak melakukan apapun pada putraku."
Plak.
Satu tamparan kembali mendarat di pipi Rangga membuat rahang laki-laki itu kembali mengeras, sementara Rania menatapnya dengan penuh murka dan napas yang memburu.
"Persetan denganmu, Rangga! Aku akan membawa putraku pergi dari laki-laki bajing*an sepertimu!" bentak Rania, dadanya tampak naik turun karena terbakar emosi.
Tanpa menunggu balasan dari Rangga, Rania langsung berlari keluar untuk segera pergi menemui Dafa. Dia harus segera membawa putranya pergi jauh dari jangkauan laki-laki gila itu saat ini juga.
"Cih!" Rangga berdecih melihat kepergian Rania, lalu dia segera berbalik dan mengikuti langkahnya wanita itu.
Sementara itu, Rania terus berlari menuju pintu depan lebih dulu. Tangannya meraih gagang, memutarnya dengan tergesa.
Terkunci.
Napas Rania tersendat. Dia mencoba lagi, lebih kuat. Gagang itu tetap tak bergerak, dingin dan keras di telapak tangannya.
Brak! Brak!
Rania mendorong dan menarik-narik pegangan pintu dengan kuat berharap pintu itu terbuka. "Brengs*ek!" umpatnya.
Rania lalu berlari ke pintu belakang. Langkahnya terpeleset sedikit di lantai yang licin oleh keringat dan panik. Dia meraih kunci, memutar.
Terkunci juga.
Detak jantung Rania melonjak semakin cepat, memukul-mukul dadanya dari dalam. Udara terasa semakin menipis.
"Aargh!" teriaknya, kali ini lebih keras.
Suaranya menggema di dinding rumah yang tetap diam.
Rania lalu berbalik, melihat kearah Rangga yang memperhatikan dari kejauhan. "Buka, Rangga! Biarkan aku pergi dari sini!" Suaranya keras, serak, dan penuh putus asa.
Rangga menghela napas berat, kemudian berjalan mendekati Rania. "Aku sudah bilang kau harus tetap berada di sini, Rania, jadi ngapain kau berlarian seperti orang gila?" Dia menggeleng dengan tidak habis pikir.
"Yang gila itu kau, Rangga!" bentak Rania. "Kau gila karna mengurungku seperti ini, kau gila karna memisahkan aku dan Dafa! Kau benar-benar gila!" teriaknya dengan membabi buta.
"Aku melakukan semua ini demi kita, Rania. Demi rumah tangga kita,"
"Cukup!" Teriakan Rania menggema di seluruh penjuru rumah, tangan gemetar, napas tersengal, sungguh rasanya dia benar-benar menjadi gila karena perbuatan laki-laki itu.
"Aku mohon, Rangga. Tolong lepaskan aku, aku mohon." Dia menangkupkan kedua tangan di depan dada karena benar-benar sudah tidak sanggup lagi. "Aku tidak akan meminta apapun darimu, aku akan meninggalkan semuanya. Tapi aku mohon lepaskan aku, biarkan aku dan Dafa pergi." Dia meratap, bahkan hampir bersimpuh di kaki Rangga.
Rangga semakin mempercepat langkah kakinya saat mendengar ucapan Rania. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat apa yang wanita itu lakukan.
Rania berlari mengambil pisau yang berada tidak jauh darinya. Tidak hanya satu, dia mengambil dua pisau sekaligus lalu mengarahkannya pada Rangga.
"Apa yang kau lakukan?" bentak Rangga dengan mata menyala marah.
"Aku akan membunuhmu jika kau mendekat," ucap Rania, wajahnya tampak sangat serius walau tangannya sedikit gemetar.
Rangga mengepalkan tangan, menatap Rania dengan tidak percaya. "Letakkan pisau itu, Rania. Jangan main-main!" bentaknya lagi.
Rania mengeleng kuat. "Aku tidak main-main. Aku akan membunuhmu kalau kau mendekat, dan aku juga akan membunuh diriku sendiri."
Deg.
Rangga tersentak, merasa sangat terkejut mendengar ucapan Rania, sementara wanita itu sepertinya sangat serius dengan apa yang diucapkan.
"Kenapa kau jadi seperti ini, Rania," ucap Rangga melemah, berusaha untuk menenangkan Rania dan mengambil pisau yang sangat berbahaya itu.
Rania mendesis. "Kau yang membuatku jadi seperti ini, Rangga. Jadi cepat buka pintunya sekarang juga!" perintahnya, perlahan dia melangkah maju membuat Rangga terkesiap.
"Berhenti, Rania,"
"Tidak!" bentak Rania. "Kalau kau tidak membuka pintunya, maka aku akan menancapkan pisau ini ke dadamu, atau aku malah akan lebih dulu mengakhiri hidupku sendiri."
Deg.
Tubuh Rangga bergetar, kedua matanya menatap takut. Apalagi saat ini Rania mengarahkan pisau itu tepat ke dadanya sendiri, bahkan sudah menggoresnya.
"He-hentikan, Rania. Aku akan membukanya," ucapnya cepat. Dia segera berbalik dan berjalan ke pintu depan untuk membukanya.
Rania menghela napas lega karena ancamannya berhasil, tetapi dia tidak ingin memberi celah dan tetap menghunuskan pisau itu.
"Berikan kuncinya padaku!" perintah Rania saat Rangga sudah membuka pintu. "Berikan kunci pintu belakang juga." pintanya.
Rangga menggertakkan giginya, tetapi tetap melempar kunci-kunci yang sejak tadi dia pegang. "Sekarang buang pisau itu, Rania." katanya tajam.
Rania mengambil kunci-kunci yang ada dilantai dengan kakinya, kemudian menggabungkan pisau yang sedang dia pegang ditangan kanan. "Sekarang pindah ke sana!" perintahnya lagi sambil menunjuk ke arah tangga.
Rangga menghembuskan napas kasar sembari mengikuti perintah Rania, sementara Rania sudah berjalan ke arah pintu sambil membawa kunci-kunci yang dia beri tadi.
"Diam dan jangan bergerak!" bentak Rania saat melihat kaki Rangga melangkah maju.
"Sekarang hentikan, Rania. Aku sudah- Rania!" teriak Rangga saat Rania berbalik dan dengan cepat menutup pintu rumah mereka. "Tunggu, Rania. Buka pintunya!" Dia memukul-mukul pintu itu sambil berteriak marah.
Rania segera mengunci pintu rumah itu tanpa menghiraukan teriakan Rangga, kemudian dia berbalik dan berlari ke jalan raya untuk segera pergi dari tempat itu, tanpa peduli jika saat ini dia sedang tidak memakai sendal dan tampilannya pun sangat acak-acakan.
"Hah, hah, hah." Napas Rania tersengal-sengal, dia harus segera mencari taksi sebelum Rangga berhasil keluar dari rumah.
Sangking buru-burunya, Rania tidak sempat memperhatikan kendaraan yang sedang melintas, sampai akhirnya ada sebuah mobil berwarna hitam pekat nyaris menabrak tubuhnya.
Ckiitttt.
Pengemudi mobil hitam itu menekan pedal rem dengan kuat saat tiba-tiba melihat seorang wanita berlari ke arah mobilnya. Suara ban berdecit kencang disertai teriakan dari wanita itu.
"Aargh!" Rania terduduk lemas di atas aspal karena merasa sangat terkejut saat tubuhnya hampir di tabrak oleh sebuah mobil. Dadanya berdegup kencang, tubuhnya gemetaran, dan pisau-pisau yang sejak tadi dia pegang berjatuhan.
Pengemudi mobil itu bergegas keluar untuk melihat keadaan wanita yang hampir saja dia tabrak. "Apa kau baik-baik saja?" tanyanya seraya menjongkokkan tubuh di hadapan wanita itu.
Rania yang masih merasa syok menganggukkan kepala, perlahan dia melihat ke arah laki-laki yang sedang berada tepat di hadapannya.
"Ka-kau?"
*
*
*
Bersambung.
dah nurut aja kenapa sama tuan muda