NovelToon NovelToon
Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

‼️MC BERSIFAT IBLIS‼️

Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.

Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.

Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.

Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.

Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut

ANTI DAO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alam Rahasia Lembah Gunung Jinting 4 : Surat di Tubuh

Dua Hari Sebelumnya - Di Kota Jinting.

Alun-alun teleportasi Keluarga Lu adalah tempat yang sakral. Lantainya terbuat dari Giok Putih Dingin yang diukir dengan formasi spasial kuno, dijaga siang dan malam oleh elit klan. Biasanya, hanya kilatan cahaya kemenangan dan tawa kebanggaan yang muncul di sini saat para genius klan kembali dari perburuan.

Namun hari ini, cahaya formasi itu berkedip dengan warna merah darah yang tidak stabil.

VWOOOM.

Udara bergetar, merobek keheningan sore.

Dua sosok termaterialisasi di tengah alun-alun.

Yang pertama adalah seorang pemuda pengawal keluarga. Dia berlutut, wajahnya biru, matanya melotot keluar. Tangannya mencengkeram dadanya sendiri, berusaha memompa jantung yang sudah berhenti berdetak.

Dia telah membakar setiap tetes Essence Blood dan Qi di Dantian-nya untuk mengaktifkan Jimat Pelarian Jarak Jauh sambil membawa beban tambahan. Energinya habis total di tengah terowongan teleportasi. Dia sampai di tujuan, tapi nyawanya adalah biaya tol yang harus dibayar.

Dia jatuh tersungkur. Mati.

Namun, perhatian para penjaga alun-alun tidak tertuju pada mayat pengawal itu.

Perhatian mereka tertuju pada "sesuatu" yang dibawa pengawal itu.

Sebongkah daging manusia yang masih bergerak.

Tidak ada lengan. Tidak ada kaki.

Hanya torso tubuh, kepala, dan paha atas. Luka-lukanya tidak diperban, melainkan hangus berwarna abu-abu gelap, seolah-olah daging itu dimatikan paksa agar tidak mengalami pendarahan, namun juga tidak bisa sembuh.

Makhluk itu menggeliat di atas giok putih yang dingin. Mulutnya terbuka lebar, mencoba berteriak, tapi tidak ada suara yang keluar.

Khhh... Kkhhh...

Hanya suara desisan udara yang melewati pita suara yang hancur.

Para penjaga mendekat dengan tombak terhunus, mengira ini adalah serangan teror berupa mayat hidup. Namun, salah satu penjaga senior melihat wajah makhluk itu. Wajah yang bengkak, tanpa gigi, dengan satu rongga mata yang kosong dan berdarah.

Tapi dia mengenali sisa-sisa fitur wajah itu.

"T-Tuan Muda... Lu Duo?" bisik penjaga itu, kakinya lemas. "Demi Langit... apa yang terjadi?"

Makhluk itu—Lu Duo—melihat penjaga itu dengan satu matanya yang tersisa. Air mata darah mengalir. Dia mencoba menggerakkan tubuhnya yang buntung, mencoba menulis sesuatu di lantai dengan lidahnya, tapi rasa sakitnya terlalu hebat.

Di dadanya, terukir tulisan yang masih merah dan basah, diukir dengan presisi yang kejam:

HUTANG AKAN DI BAYAR DENGAN BUNGA YANG TINGGI— DAIMENG

Aula Patriark - Kediaman Utama Keluarga Lu.

Aula ini biasanya dipenuhi dengan aroma dupa cendana yang menenangkan dan diskusi politik yang membosankan. Tapi hari ini, aula itu berbau amis dan dipenuhi aura pembunuh yang mencekik.

Lu Daihong, Patriark Keluarga Lu, duduk di singgasana naga hitamnya. Wajahnya yang biasanya tanpa ekspresi kini tampak kaku, seolah dipahat dari es abadi. Matanya menatap ke bawah, ke tengah aula.

Di sana, Lu Gubo—adik sepupu Patriark, sekaligus ayah kandung Lu Duo—sedang memeluk putranya yang cacat.

Lu Gubo meraung. Raungannya bukan bahasa manusia. Itu adalah suara binatang yang terluka parah. Dia, seorang kultivator Ranah Roh tingkat 1 (di atas ranah jiwa), membiarkan auranya meledak liar, meretakkan lantai aula.

"Lihat!" teriak Lu Gubo, mengangkat tubuh Lu Duo yang buntung tinggi-tinggi. "Lihat apa yang mereka lakukan pada putraku! Lengan! Kaki! Mata! Gigi! Semuanya diambil!"

Para Tetua klan yang duduk di sisi kiri dan kanan menahan napas. Pemandangan itu terlalu grotesk. Lu Duo bukan sekadar di kalahkan; dia dibongkar.

"Dantian-nya..." suara Lu Gubo bergetar, air mata mengalir di wajahnya yang berjanggut. "Retak. Hancur. Bocor perlahan. Dia masih punya kultivasi, tapi dia tidak akan pernah bisa menyerap Qi lagi. Dia akan hidup ratusan tahun sebagai seonggok daging yang sadar tapi tidak berguna!"

"Siapa..." suara Lu Daihong akhirnya terdengar. Rendah, berat, bergema di seluruh aula. "Siapa yang melakukan ini? Sekte Awan Biru? Sekte Bambu Hitam?"

"Bukan!" Lu Gubo meletakkan putranya pelan-pelan. Dia menunjuk dada putranya, pada tulisan yang diukir di sana.

"Baca! Ini pesan untuk kita semua!"

Lu Daihong menyipitkan mata. Dia membaca tulisan itu.

Di samping singgasana, berdiri seorang pria muda berusia dua puluh lima tahun. Dia mengenakan jubah hitam dengan emblem Ouroboros Emas di dada kiri. Wajahnya tampan, namun matanya sipit dan tajam seperti ular berbisa.

Dia adalah Lu Tian, kultivator Ranah Jiwa tahap 9 akhir, putra keenam Lu Daihong, sekaligus Kepala Dewan Penegak Hukum Keluarga Lu. Salah satu Kakak kandung yang dulu paling sering menyiksa Lu Daimeng.

Lu Tian melangkah maju. Dia memeriksa tulisan itu.

"Gaya tulisan ini..." gumam Lu Tian. Dia menyentuh bekas luka bakar pada huruf-huruf itu. "Tidak ada jejak Qi api. Tidak ada jejak Qi angin. Ini murni... tekanan energi fisik."

Lalu, Lu Tian melihat ke arah Lu Duo yang merintih. Dia meletakkan tangannya di dahi adik sepupunya, menggunakan teknik Pencarian Jiwa ringan untuk melihat memori terakhir.

Tubuh Lu Tian tersentak.

Wajahnya yang biasanya arogan berubah menjadi topeng ketidakpercayaan.

"Tidak mungkin..." bisik Lu Tian.

"Katakan, Apa yang kau lihat Tian'er" suara Lu Daihong tenang.

"Ayah..." Lu Tian menelan ludah. "Dalam ingatan Lu Duo... pelakunya... pelakunya memang Lu Daimeng."

Hening.

Kesunyian yang absolut melanda aula itu. Bahkan Lu Gubo berhenti meraung sejenak.

Lalu, gelombang penyangkalan meledak.

"Omong kosong!" teriak Tetua Pertama. "Anak itu mustahil melakukan ini? Sampah tanpa Dantian itu? Dia sudah dibuang ke Hutan Kabut Kematian beberapa bulan lalu! Dia pasti sudah jadi kotoran serigala!"

"Lu Duo pasti terkena teknik ilusi!" sahut Tetua lainnya. "Musuh menggunakan wajah Lu Daimeng untuk mempermainkan mental kita!"

Lu Tian menggelengkan kepalanya perlahan. Wajahnya serius.

"Aku melihatnya, Ayah. Dalam memori itu... Lu Daimeng tingginya dua meter lebih. Kulitnya sangat keras seperti logam. Matanya... matanya memiliki enam pupil."

"Enam pupil?" Lu Daihong mengerutkan kening. "Mata Tiga Pupil ganda? Itu tanda fisik dari..."

"Mutasi Dao," potong Lu Tian. "Atau Teknik Terlarang Kuno atau Lu Daimeng mempersembahkan hidupnya untuk iblis."

Lu Tian berbalik menghadap ayahnya.

"Lu Daimeng tidak mati. Dia selamat. Dan entah bagaimana, dia mendapatkan kekuatan sesat. Yang membuatnya menggunakan Qi aneh. Yang membuat fisiknya bisa menghancurkan formasi dan bahkan menahan racun."

"Dan..." Lu Tian menunjuk ke arah pintu keluar. "Tetua Logistik yang mati dua hari lalu... tulisan darah di taman... semuanya cocok. Itu bukan faksi lain. Itu dia. Lu Daimeng kembali untuk menagih hutang."

Lu Daihong mengepalkan tangannya di sandaran kursi. Kayu besi hitam itu hancur menjadi serbuk di bawah cengkeramannya.

Rasa malu.

Itu yang dia rasakan. Bukan rasa bersalah karena membuang anaknya. Tapi rasa malu karena "sampah" yang dia buang ternyata bisa menggigit balik dan mempermalukan klan di depan seluruh dunia kultivasi.

"Jika berita ini tersebar bahwa Keluarga Lu diobrak-abrik oleh anak buangan sendiri, reputasi kita akan hancur," kata Lu Daihong dingin. "Kita akan menjadi lelucon di seluruh benua ini."

"Lu Tian," panggil Patriark.

"Hamba siap," Lu Tian membungkuk. Ada kilatan kejam di matanya. Dulu dia menyiksa Lu Daimeng untuk kesenangan. Sekarang, dia harus membunuhnya untuk kehormatan.

"Sebagai tetua dewan penegak hukum di wilayah ini kau yang mengambil keputusan."

Suara Lu Daihong tidak menyisakan ruang untuk negosiasi.

"Jika dia memang telah jatuh ke jalan iblis, maka kewajiban kitalah untuk memusnahkannya. Bawa kepalanya padaku. Dan pastikan..." Lu Daihong melirik Lu Duo yang cacat di lantai. "...pastikan dia membayar sepuluh kali lipat dari ini sebelum dia mati."

"Dimengerti ayah," Lu Tian menyeringai. "Aku akan mengingatkannya mengapa dia dulu selalu bersujud di kakiku."

Hari Penutupan Alam Rahasia - Dua Bulan Kemudian.

Gerbang Alam Rahasia di Lembah Gunung Jinting mulai bergetar. Pusaran energi yang stabil kini menjadi kacau, tanda bahwa dimensi itu akan segera runtuh dan melempar keluar siapa saja yang tidak memiliki kuncinya.

Di luar gua, ratusan kultivator telah berkumpul.

Tapi suasananya berbeda dari saat pembukaan.

Pasukan Keluarga Lu, dipimpin oleh Lu Tian yang mengenakan zirah hitam, memblokade area depan. Mereka memeriksa setiap kultivator liar yang keluar dengan brutal.

"Baris! Tunjukkan wajah kalian!" bentak Lu Tian, pedangnya terhunus.

Satu per satu, murid sekte dan kultivator liar dimuntahkan oleh gerbang cahaya.

Zian Qin dari Sekte Bambu Hitam keluar. Dia tampak lebih kuat, auranya menekan. Dia membawa gada, senjata barunya.

Lu Tian menghadangnya. "Zian Qin! Di mana adikku? Lu Daimeng?"

Zian Qin meludah ke tanah. "Minggir jangan kira kau lebih kuat dariku kau bisa memerintahku, Anjing Keluarga Lu. Aku tidak punya urusan dengan drama kalian."

"Kau melihatnya di dalam!" desak Lu Tian, auranya menekan. "Bukankah Lu Duo dihancurkan. Kau ada di sana!"

Zian Qin menyeringai. "Ya, aku melihatnya. Sepupumu menangis seperti bayi. Dan Adik kandungmu... heh. Dia monster. Jika aku jadi kau, aku tidak akan macam-macam dengannya."

"Dia tipe orang yang cepat bertambah kuat." Puji Zian pada Lu Daimeng.

Bi Yue dari Sekte Awan Biru keluar berikutnya. Dia tampak elegan seperti biasa, meskipun jubahnya sedikit kotor.

"Nona Bi Yue," Lu Tian mencoba lebih sopan, tapi matanya dingin. "Apakah Lu Daimeng masih di dalam?"

Bi Yue menatap Lu Tian dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sedikit rasa takut di sana.

"Kami tidak melihatnya sejak kejadian di lembah bunga api," jawab Bi Yue dusta. Dia tidak ingin terlibat. Dia tahu Lu Daimeng adalah bencana berjalan. "Mungkin dia mati dimakan binatang buas di Zona Dalam. Zona itu terlalu berbahaya."

Gerbang dimensi bergetar makin hebat. Cahayanya mulai meredup.

Satu per satu orang keluar. Tapi sosok raksasa setinggi 2,3 meter tidak kunjung muncul.

Lu Tian menunggu. Matanya merah karena marah dan tidak sabar.

"Keluar kau, Sampah! Jangan bersembunyi!" teriak Lu Tian pada gerbang yang menyusut.

Tapi tidak ada jawaban.

VWOOOM... Blar.

Gerbang itu tertutup. Segelnya kembali aktif, menyatu dengan tebing batu, menghilang seolah tidak pernah ada.

Alam Rahasia tertutup. Tidak akan bisa dibuka lagi selama sepuluh tahun ke depan.

Hening.

"Dia..." salah satu bawahan Lu Tian ragu-ragu. "Dia tidak keluar, Tuan Muda. Dia terjebak di dalam."

Lu Tian menatap tebing kosong itu. Dia tertawa.

"Hahahaha! Bodoh! Dia pikir dia siapa? Bertahan sepuluh tahun di dalam Alam Rahasia yang penuh dengan Qi beracun dan binatang purba?"

Lu Tian menyarungkan pedangnya dengan kasar.

"Dia mati. Tidak ada manusia yang bisa bertahan di sana saat siklus pembersihan alam dimulai. Dia mengubur dirinya sendiri."

Lu Tian berbalik, jubahnya berkibar.

"Ayo pulang. Lapor ke Ayah bahwa ancaman telah selesai. Alam semesta telah membereskan sampahnya sendiri."

Keluarga Lu menarik pasukannya. Mereka pergi dengan keyakinan bahwa masalah telah selesai. Bahwa Lu Daimeng telah menjadi sejarah.

Mereka tidak tahu betapa salahnya mereka.

Di Dalam Alam Rahasia - Zona Dalam.

Dunia ini sunyi. Langit nebula biru tua itu tetap abadi, tidak peduli dengan waktu di luar.

Di dalam gua naga hitam yang tersembunyi di balik tebing Zona Mati.

Lantai gua dipenuhi mayat kultivator yang mulai mengering dan tulang-belulang kuno. Di tengah-tengahnya, di samping telur naga hitam yang berdenyut, terbaring sesosok tubuh.

Lu Daimeng.

Dia tidak mati. Tapi dia tidak sadar.

Dia telah koma selama dua bulan penuh.

Tubuhnya hancur setelah pertarungan melawan delapan kultivator liar. Lubang di perut, bahu yang remuk, tulang yang patah. Secara medis, dia seharusnya sudah menjadi mayat yang dingin.

Tapi dia tidak membusuk.

Sebaliknya, sebuah fenomena mengerikan sedang terjadi.

Tubuh Lu Daimeng diselimuti oleh kepompong energi berwarna hitam transparan. Itu adalah manifestasi fisik dari Dark Null.

Anti-Dao di dalam perutnya—dua titik singularitas seukuran atom itu—tidak tidur. Mereka bekerja lembur.

Karena Lu Daimeng tidak sadar untuk makan, singularitas itu mengambil alih sistem otonom tubuhnya. Mereka menciptakan medan hisap pasif.

Mereka menyedot segalanya.

Mereka menyedot sisa Qi dari mayat-mayat kultivator di sekitar.

Mereka menyedot residu mineral dari lantai batu.

Mereka menyedot uap air dari udara.

Dan yang paling mengerikan... mereka menyedot Niat Naga yang bocor dari telur di sebelahnya.

Telur Naga Hitam Abyssal itu, yang awalnya sekarat karena kekurangan energi, menemukan simbiosis aneh.

Telur itu memancarkan aura naga untuk melindungi dirinya. Singularitas Lu Daimeng memakan aura itu, memurnikannya, dan tanpa sadar mengalirkannya kembali sebagian ke telur itu dalam bentuk energi Dark Null yang lebih murni.

Sirkulasi energi tertutup.

Manusia dan Telur Naga. Monster Buatan dan Monster Purba.

Mereka saling memberi makan dalam tidur panjang mereka.

Luka-luka di tubuh Lu Daimeng perlahan menutup. Jaringan parutnya tidak lagi kasar, melainkan sembuh total tanpa bekas sedikitpun. Tulang-tulangnya yang patah menyambung kembali dengan kepadatan yang lebih tinggi, disusupi oleh esensi naga.

Di dalam kegelapan komanya, Lu Daimeng tidak bermimpi tentang penyiksaan keluarganya lagi.

Dia bermimpi dia adalah seekor naga yang melahap matahari.

Dan di dunia nyata, Alam Rahasia telah tertutup, mengunci predator paling berbahaya di dunia ini di dalam sangkar yang penuh dengan makanan.

Waktu sepuluh tahun bagi dunia luar mungkin lama. Tapi bagi Lu Daimeng, itu hanyalah waktu inkubasi.

Bersambung...

1
M Rijal
😍💪 semangat thor
EGGY ARIYA WINANDA: Siap😁
total 1 replies
M Rijal
gw tunggu up nya thor
EGGY ARIYA WINANDA: Sipp 😂😂
total 1 replies
M Rijal
ini benar2 novel yang menarik. 👹😈
EGGY ARIYA WINANDA: Thank u😈👍
total 1 replies
EGGY ARIYA WINANDA
Ini bukan cerita tentang protagonis yang menyelamatkan dunia, ini adalah kisah villain yang berhasil melahap dunia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!