NovelToon NovelToon
Sistem Reward 2× Lipat

Sistem Reward 2× Lipat

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjadi Pengusaha / Sistem / Mengubah Takdir / Mafia / Romansa
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Loorney

Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.

Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.

Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 - Membeli Ponsel

Motor membelah jalanan dengan tenang, bagai menikmati setiap detik yang dihabiskan berdua. Setidaknya itulah yang dirasakan Mawar. Senyum tipis masih mengambang di bibirnya, wajahnya memerah. Kali ini, dengan keberanian yang tiba-tiba muncul, tangannya memberanikan diri menyentuh pinggang Gerard, bahkan meremasnya perlahan—sebuah bentuk pegangan yang ia minta sendiri.

Jantungnya berdegup kencang, tapi ia tak ingin melawan perasaan itu. Bagaimanapun, mereka sedang bersama. Dengan gugup, ia mengangkat kepala, pandangannya singgah sebentar di bayangan spion motor yang memantulkan sorot mata Gerard. Dadanya berdesir, wajahnya kembali terasa membara.

Kenapa dia harus seganteng ini? Pikiran Mawar buyar, tubuhnya bergoyang halus tanpa sadar hingga keseimbangan motor sedikit terganggu.

Gerard sudah tak lagi kaget. Ini sudah terjadi beberapa kali. Bahkan, ia sudah siap mental seandainya suatu saat mereka benar-benar oleng dan terjatuh. Di tengah pikiran itu, tiba-tiba terdengar suara lembut di belakangnya.

“Em…” Mawar terdengar ragu, menelan ludah sebelum bergeser sedikit mendekat. “Kakak mau belanja ke mana?” tanyanya, suaranya lebih jelas terdengar di telinga Gerard. Ia siap dibawa ke mana saja, asalkan tetap bersama Gerard—lelaki yang anehnya sudah begitu ia percayai.

“Oh, cuma mau beli ponsel. Mungkin ke tokonya langsung,” jawab Gerard, kepalanya menoleh sedikit saat berbicara.

Mawar mengangguk pelan, membalas dengan “Hmm…” sebagai tanda paham. Tapi kemudian, ia mendadak bingung—otaknya kosong, tak ada kata yang muncul. Jarang sekali ia merasakan kebingungan seperti ini.

“Ngomong-ngomong, kamu tahu nggak tempat yang bagus atau merek ponsel yang oke? Aku nggak terlalu paham soal beginian,” tanya Gerard lagi, diakhiri tawa kecil yang terdengar malu.

Di tengah usahanya mencairkan suasana, pertanyaan itu bagai angin segar bagi Mawar. Senyumnya langsung merekah. Tanpa ragu, ia menepuk bahu Gerard dan berseru, “Tentu! Aku jagonya urusan gini. Serahkan semuanya padaku!”

Dengan arahan penuh semangat dari Mawar, motor berbelok menuju tempat yang tak pernah disambangi Gerard sebelumnya: sebuah mal besar yang megah. Di area parkir, hampir tak terlihat motor seperti miliknya—yang ada hanya motor besar atau mobil-mobil yang harganya tak bisa ia tebak. Dari tampilannya saja, jelas semuanya bernilai tinggi.

Tapi itu bukan masalah. Gerard punya cukup uang untuk sekadar membeli ponsel, atau bahkan berbelanja sedikit. Ia pun mengikuti langkah Mawar yang semakin bersemangat menuju sebuah toko ponsel. Sepanjang jalan, Mawar terus saja menjelaskan beragam hal tentang ponsel—informasi baru yang sama sekali asing bagi Gerard.

“Wah, jadi begitu ya?” ucap Gerard terdengar kagum. Kecanggungan di antara mereka pun perlahan menghilang tanpa disadari.

Mawar yang berjalan di sampingnya mengangguk, menoleh dengan senyum kecil. “Iya! Aku sarankan kakak beli iPhone, atau kalau nggak, Samsung. Cocok banget buat kakak yang cuma butuh buat sehari-hari, nggak perlu spek tinggi, dan awet!”

Gerard tersenyum tipis. “Lega akhirnya bisa nemuin barang yang pas. Untung kamu yang nemenin,” ujarnya santai.

Mereka sempat bertatapan sebentar. Gerard hanya mengangkat alisnya, dan itu sudah cukup membuat Mawar langsung memalingkan muka. Ia tak sanggup menahan pandangan itu lebih dari sepuluh detik. Malu banget! Kenapa dia ngeliatin aku kayak gitu?! Pikirannya bergejolak, perasaan yang tak bisa dibaca oleh Gerard.

Saat ini, Mawar hanya mengenakan pakaian sederhana, seperti baru akan lari pagi. Tapi itu bukan sumber malunya—Gerard. Hanya dengan tatapan singkat, jantungnya sudah berdegup kencang, seperti sedang diawasi oleh seorang selebritas.

Tapi masuk akal. Bagaimanapun, Gerard memang memiliki pesona yang melebihi lelaki biasa. Dari sudut mana pun dilihat, semuanya terasa sempurna. Meski sebenarnya, itu juga berkat pemulihan dari Sistem yang telah mengembalikan fisiknya seperti beberapa tahun silam.

Mereka terlihat kontras saat berjalan berdampingan. Bukan karena perbedaan kelas, melainkan sikap yang berseberangan: Gerard dengan langkah tenang dan teduh, sementara Mawar terus memalingkan muka setiap kali pandangan mereka tak sengaja bertemu.

Mawar membawa Gerard ke toko Apple yang megah. Pintu kaca bergeser membuka jalan bagi mereka, dan begitu masuk, Mawar segera menarik lengan Gerard yang terpana menuju konter. Seorang karyawan menyambut dengan hangat, wajahnya berseri penuh semangat.

"Selamat siang!" sapa karyawan itu, merapatkan kedua tangan dengan sikap ramah. "Ada yang bisa saya bantu? Ingin melihat produk Apple? Kami punya berbagai pilihan, termasuk ponsel terbaru. Atau mungkin sudah ada jenis tertentu yang diminati?"

Disambut begitu antusias, Gerard agak kelabakan. Matanya mengelilingi etalase, di mana berderet ponsel dengan percaya diri—tampak serupa namun berbeda, masing-masing menawarkan fitur yang unik.

Mawar mengangguk-angguk sambil mendengarkan penjelasan karyawan. Di kepalanya sudah penuh rekomendasi, tapi ia ingin melihat reaksi Gerard dulu, yang sejauh ini masih tampak netral. Setelah penjelasan cukup panjang, Mawar berpaling ke Gerard, semangatnya kembali menyala.

"Karena Kak Gerard belum mantap, gimana kalau aku bantu pilih?" tawarnya dengan maksud baik. Ia tak tega melihat Gerard kebingungan memilih.

Gerard mengangguk lega, senyum tipis mengembang. "Boleh banget. Aku lagi bimbang nih, antara versi terbaru atau yang sebelumnya. Perubahannya nggak terlalu signifikan, dan aku cuma butuh buat kebutuhan biasa. Menurutmu gimana?"

"Wah, menarik!" Mawar menepuk tangan kecil, lalu menunjuk ke etalase sambil meminta karyawan mengeluarkan dua model yang dimaksud. "Nah, menurutku… Kakak lebih cocok ambil model terbaru. Fiturnya lebih lengkap, pasti cocok dengan kebutuhan kakak. Aku jamin, nggak bakal nyesel!"

Mawar menjelaskan dengan lancar dan meyakinkan, hingga Gerard sempat berpikir: jangan-jangan Mawar ini sales Apple dalam penyamaran. Tapi tentu tidak mungkin—dia ini orang kaya, pikirnya dalam hati.

Setelah pertimbangan yang tak singkat, akhirnya Gerard memilih model terbaru berwarna silver, yang memberinya kesan klasik dan elegan. Cukup, pikirnya—sampai mereka menawarkan sesuatu lagi: sebuah laptop. Tawaran itu sulit ditolak, apalagi memang akan sangat berguna nantinya.

Rp 48.998.000 berkurang dari saldonya. Memang tidak menguras habis, tapi tetap saja jumlah itu besar. Kini sisa uangnya menjadi Rp 249.467.000—masih sangat cukup untuk menjalani hidup, bahkan mungkin masih bisa bertambah.

Belanja kali ini jauh melampaui rencana awal. Mereka keluar dari toko dengan perasaan campur aduk: senang sekaligus sedikit bingung. Gerard merasa seperti baru saja terhipnotis, meski penyesalan tak bertahan lama.

Mawar melihatnya sebagai kebahagiaan tersendiri. Ia sudah menduga Gerard punya tabungan yang lumayan, meski tadi ia siap membantu seandainya diperlukan. Dia tersenyum, kini berani menatap langsung mata Gerard yang tenang.

"Gimana, kak? Suka nggak?" tanyanya penasaran. Gerard hanya mengangkat bahu pelan.

"Aku nggak tahu, sih…" ucapnya sambil menengok ke arah kantong belanjaannya. "Awalnya mau beli Samsung, soalnya dulu pakai Android dan udah nyaman. Tapi… coba-coba ini nggak salah juga, ya?" Gerard terkekeh ringan, suaranya terdengar lebih plong.

Beruntung, untuk pembayaran tadi, Gerard menggunakan kartu debit yang diberikan Sistem dalam kondisi darurat. Soalnya, jumlah segitu kalau dibayar tunai pasti merepotkan. Sistem memang banyak membantu, meski sikapnya sangat jual mahal.

Setelah membeli ponsel dan MacBook, Gerard tak langsung mengajak Mawar pulang. Sebagai balas budi, ia mengajaknya makan di restoran. Berharap kali ini Mawar tak menolak seperti sebelumnya.

Tapi siapa sangka, begitu mereka duduk berhadapan, Mawar yang menopang dagunya langsung berseri-seri dengan senyuman lebar. "Tentu, dong! Aku suka sekali tempat ini, apalagi kalau sama kakak!" katanya, tulus mengembang di udara.

1
Loorney
Nulis buru-buru emang bikin kacau, update dulu baru revisi 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!