NovelToon NovelToon
Cinta Pandangan Pertama

Cinta Pandangan Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Romantis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Lanaiq

Alvaro Rayhan, seorang fotografer freelance yang biasa merekam kehidupan orang lain, tidak pernah mengira bahwa suatu sore yang biasa di sebuah kafe kecil akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.

Di bawah sinar senja yang lembut dan wangi kopi, ia melihat Aurellia Kinanti—seorang karyawan kafe dengan senyum yang hangat, dan momen itu tertangkap oleh kameranya tanpa ada rencana sebelumnya.

Perjumpaan singkat tersebut menjadi permulaan dari perjalanan emosional yang berlangsung perlahan, tenang, dan penuh keraguan. Alvaro, yang selalu menutupi perasaannya dengan lensa kamera, harus belajar untuk menghadapi ketakutannya akan kehilangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanaiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Maaf

Perasaan bersalah itu tidak hilang begitu saja. Bahkan setelah pulang, setelah mandi, dan berbaring sambil memandang langit-langit kamarnya, emosi itu masih terasa berat di dada Aurellia. Ia merasa ada yang mengganjal, tapi rasanya tak bisa dihilangkan hanya dengan menghela napas dalam-dalam.

Gambaran Alvaro yang duduk sendiri di meja kesukaannya terus berputar di pikirannya. Dia biasanya datang dengan sunyi. Selalu menunggu, entah itu untuk kopi, menanti suasana sepi, atau—tanpa Aurellia sadari—menunggu untuk diperhatikan.

“Kenapa aku bisa sebodoh ini,” ucap Aurellia lirih.

Ia meraih bantal, memeluknya, dan menutupi wajahnya. Pesan dari Nindy sudah ia baca. Ia menyadari bahwa Nindy tidak memiliki niat jahat. Tetapi justru karena itulah, ucapannya menjadi lebih menyentuh. Karena semuanya adalah kebenaran.

Aurellia biasanya sangat peka. Bahkan kadang terlalu peka.

Ia biasanya bisa merasakan kedatangan seseorang dari suara pintu. Dari langkah kaki. Dari bayangan di cermin. Dari perasaan hangat yang tiba-tiba muncul.

Tetapi pada hari itu. . . tidak ada.

Ponselnya berada di genggaman. Pesan terakhir dari Alvaro masih terlihat. Obrolan ringan sebelum kejadian di kafe. Tidak ada tanda-tanda kekecewaan. Tidak ada kalimat dengan nada sinis. Tidak ada yang lain.

Dan justru itu yang semakin mengganggunya.

“Seandainya dia marah, mungkin aku bakal lebih tenang,” bisiknya. “Tapi dia cuma diam saja…”

Ia membuka pesan, mulai mengetik.

> Var…

Kemudian dihapus.

Ia mengetik lagi.

> Aku mau ngomong sesuatu…

Dihapus lagi.

Aurellia menghela napas berat. Ia melempar ponselnya ke atas kasur dan kemudian duduk tegak.

“Rasanya kayak pengecut kalo cuma bilang lewat chat,” pikirnya.

Ia ingin meminta maaf. Tetapi bukan sekadar mengatakan kata-kata. Ia ingin Alvaro merasa diperhatikan. Merasa berharga. Sama seperti bagaimana Alvaro selalu membuatnya merasa istimewa—tanpa meminta imbalan.

Keesokan harinya, Aurellia berangkat kerja dengan pikiran yang penuh. Kali ini, ia berada dalam satu shift dengan Dimas.

Sejak awal, Dimas sudah merasakan ada yang berbeda. Aurellia tampak lebih sunyi, senyumnya tidak cerah, dan beberapa kali tampak melamun sambil salah memberikan pesanan.

“Rel,” kata Dimas sambil menyentuh lengannya dengan lembut. “Lo keliatan ngelamun terus. Jangan-jangan salah bikin kopi lagi. ”

Aurellia terkejut. “Hah? Oh, iya, maaf. ”

“Kenapa? ” Dimas menatapnya dengan tangan disilangkan. “Berantem sama Alvaro? ”

Pertanyaan itu membuat Aurellia langsung menggelengkan kepala. “Enggak. Justru… aku yang ngerasa bersalah. ”

Dimas mengangkat alisnya. “Wah. Ini jarang kejadian. ”

Aurellia mendengus pelan, namun cepat mengendurkan ekspresinya. “Kemarin dia datang ke sini, dan aku tidak sadar. ”

“Oh. ” Dimas mengangguk pelan. “Yang itu, ya. Aku liat. ”

Aurellia menoleh cepat. “Lo ngeliat? ”

“Iya,” jawab Dimas dengan santai. “Dia duduk, nunggu, minum. Kemudian pergi. ”

Perasaan sesak langsung menyelimuti dada Aurellia. “Dan lo nggak bilang apa-apa? ”

Dimas mengangkat bahu. “Gue pikir lo sadar. Biasanya lo begitu. ”

Kata-kata itu muncul lagi. Biasanya.

“Gue ngerasa bersalah banget,” suara Aurellia terdengar lesu. “Dia selalu nunggu. Sekali ini gue nggak sadar, rasanya kayak… gue nggak peduli. ”

Dimas bersandar pada meja, menatap Aurellia lebih serius sekarang. “Rel. Dengerin gue. ”

Aurellia mengangguk.

“Orang bisa mencintai tanpa menjadi sempurna. Yang terpenting, lo sadar dan mau perbaikin. ”

“Yang jadi masalah… gimana caranya? ” tanya Aurellia pelan. “Gue pengen minta maaf, tapi nggak pengen sekadar ngobroo. ”

Dimas tersenyum kecil. “Nah, ini baru Aurellia yang gue kenal. ”

Ia berpikir sejenak, lalu menyatakan, “Ajak dia ngelakuin sesuatu yang dia nikmati. ”

Aurellia terkejut. “Hah? ”

“Alvaro itu tipe orang yang bahagianya sederhana,” Dimas melanjutkan. “Bukan dengan hadiah atau kejutan yang rumit. Tapi dengan waktu. ”

Aurellia terdiam.

“Dia suka fotografi,” Dimas menambah. “Suka berjalan tanpa arah. Suka diam dan mengamati sesuatu dalam waktu yang lama. ”

Aurellia menelan air liur. Semua itu benar. Selama ini, Alvaro sering melakukan hal-hal itu untuknya.

“Sekarang,” kata Dimas dengan suara lembut, “giliran lo. ”

Hari itu terasa lebih ringan setelah pembicaraan itu. Namun di pikiran Aurellia, rencana mulai terbentuk.

Malamnya, ia memberanikan diri untuk menghubungi Alvaro.

> Var, kamu ada waktu besok?

Tak lama kemudian, ia mendapat balasan.

> Lumayan, tapi kenapa?

Aurellia mengambil napas dalam-dalam.

> Aku mau ketemu. Aku mau minta maaf. . . tapi sambil jalan.

Tiga titik muncul cukup lama.

> Mau minta maaf kenapa?

Aurellia menggigit bibirnya.

> Biar aku bisa jelasin secara langsung.

Balasan itu akhirnya muncul.

> Oke.

Satu kata itu membuat dada Aurellia penuh perasaan. Antara merasa lega sekaligus gugup.

Keesokan sore, mereka bertemu. Bukan di kafe. Bukan di tempat ramai. Aurellia memilih tempat yang sering dikunjungi Alvaro untuk memotret—sebuah taman kecil di kota yang tak terlalu ramai, dengan cahaya sore yang lembut.

Alvaro datang dengan kamera di lehernya, seperti biasa. Namun, senyumnya tidak selebar biasanya.

“Hai,” sapanya.

“Hai,” jawab Aurellia. “Makasih udah mau dateng. ”

Mereka duduk di bangku kayu. Angin sore berhembus perlahan.

Aurellia menundukkan kepala, memainkan jarinya. “Aku mau minta maaf. ”

Alvaro menoleh. “Rel—”

“Dengerin dulu,” potong Aurellia cepat. “Kemarin di kafe… aku beneran nggak sadar kamu dateng. Tapi itu bukan alasan. ”

Ia menghela napas, lalu menatap Alvaro. “Aku ngerasa bersalah. Karena kamu selalu nunggu. Dan waktu sekali aku nggak sadar, rasanya kayak aku khianatin semua perhatianmu. ”

Alvaro terdiam.

“Aku nggak mau kamu ngerasa sendirian lagi. Apalagi gara-gara aku,” lanjut Aurellia, suaranya bergetar. “Maaf ya. ”

Ketenangan menyelimuti mereka. Kemudian Alvaro tersenyum kecil.

“Aku nggak marah,” katanya pelan.

“Justru itu,” Aurellia memberikan senyum pahit. “Itu yang bikin aku lebih takut. ”

Alvaro tertawa kecil. “Kamu lucu. ”

Ia mengangkat sedikit kameranya. “Kamu tau? Cuna ajak aku ke sini, itu udah cukup buat aku ngerasa diutamain. ”

Mata Aurellia mulai berkaca-kaca.

“Tapi,” Alvaro melanjutkan, “Kalo kamu mau bikin aku lebih bahagia…”

“Kenapa? ” tanya Aurellia cepat.

“Biarin aku fotoin kamu. ”

Aurellia terdiam, lalu tersenyum—senyum lega, penuh kasih, dan kali ini tanpa keraguan.

“Iya,” katanya. “Aku mau. ”

Dan sore itu, di bawah cahaya lembut, Aurellia belajar satu hal penting:

meminta maaf bukan hanya soal seberapa besar kesalahan—tapi seberapa tulus keinginan untuk melindungi orang yang kita cintai.

Menjelang waktu maghrib, sinar di taman mulai berubah menjadi keemasan yang lebih mendalam. Satu per satu orang-orang mulai pulang, suara anak-anak yang sebelumnya berlarian mulai menghilang. Namun Alvaro dan Aurellia masih berada di sana, duduk berdampingan di bangku kayu yang sama.

“Eh, udah mulai gelap,” ucap Aurellia sambil memandangi langit.

“Bener juga,” jawab Alvaro dengan nada santai. “Rasanya baru bentar. ”

Aurellia tertawa pelan. “Kamu dari tadi terus fotoin aku. Nggak capek? ”

“Kalo modelnya kamu sih, nggak,” jawab Alvaro cepat, lalu tampak sedikit canggung. “Maksudnya… cahaya sore tadi memang indah banget. ”

Aurellia memandangnya, senyum tipis tidak dapat ia sembunyikan. Rasanya ringan. Tidak ada lagi beban dari kemarin. Tidak ada lagi perasaan canggung. Hanya ada mereka, pembicaraan ringan, dan sesekali tawa yang muncul dengan sendirinya.

Ketika langit benar-benar gelap, Alvaro berdiri. “Ayo, aku anterin kamu pulang. ”

Selama perjalanan dengan motor, Aurellia terdiam bukan karena merasa canggung. Tangannya memegang ujung jaket Alvaro, dan angin malam terasa lebih hangat dari biasanya.

Di depan rumah, sebelum turun, Aurellia memanggil pelan, “Var…”

“Hm? ”

“Makasih, ya. Udah biat segalanya ebih sederhana. ”

Alvaro tersenyum. “Sama-sama. Dan makasih juga… udah milih aku buat minta maaf. ”

Aurellia turun dengan perasaan yang jauh lebih tenang. Malam itu, bukan hanya kesalahan yang terselesaikan—tapi juga jarak kecil yang sempat ada, benar-benar hilang.

1
deepey
semangat kk, saling support ya ka. 💪😄
deepey
bukan tampak lagi tp beneran bahagia 😍
Lanaiq: baper yaa kak 🤭
total 1 replies
deepey
good Nara, jelasin ke kk kamunya lg di fase penyangkalan
deepey
semangat kk, salam kenal..
Lanaiq: makasi kak 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!