NovelToon NovelToon
Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Tumbal / Hantu
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.

Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Tumbal Lantai Empat

Aroma formalin yang bercampur dengan bau tanah basah menusuk indra penciuman Elara begitu ia melangkah masuk ke ruangan utama di Basement Level 4. Ruangan itu tampak seperti sisa-sisa ruang operasi zaman kolonial yang terlupakan, dengan dinding-dinding keramik putih yang kini telah berubah warna menjadi kekuningan dan dipenuhi jamur. Di tengah ruangan, di atas sebuah meja bedah besi yang berkarat, tubuh Pak Darto terbaring kaku dengan dada yang naik turun secara tidak wajar, seolah ada sesuatu yang memaksanya bernapas.

Dr. Arisandi berdiri di sisi meja bedah itu, memegang sebuah skalpel antik yang berkilau di bawah temaram lampu bohlam yang berkedip-kedip. Pria itu tidak menoleh sedikit pun meski suara langkah kaki Elara bergema di seluruh penjuru ruangan yang lembap itu. Ia justru menggumamkan mantra-mantra dalam bahasa asing yang terdengar seperti desisan ular, sementara tangannya bergerak perlahan di atas tubuh Pak Darto tanpa menyentuhnya.

"Hentikan kegilaan ini, Dokter!" teriak Elara, suaranya bergetar menahan rasa takut yang merayapi punggungnya.

Dr. Arisandi menghentikan gumamannya, lalu perlahan memutar kepalanya ke arah Elara dengan senyum tipis yang mengerikan. Tatapan matanya kosong namun tajam, seolah bukan lagi jiwa manusia yang menghuni raga dokter senior RSU Cakra Buana tersebut. Di belakangnya, bayangan-bayangan hitam di dinding tampak menggeliat, seakan hidup dan menanti perintah untuk menerkam.

"Kau datang terlambat, Nona Senja, atau mungkin justru tepat waktu untuk menyaksikan kelahiran kembali tempat ini," ucap Dr. Arisandi dengan nada tenang yang justru membuat bulu kuduk berdiri.

Elara mengeratkan genggamannya pada liontin perak yang ia bawa, satu-satunya benda peninggalan ibunya yang diyakini memiliki proteksi. Ia menyadari bahwa konfrontasi fisik dengan pria itu adalah hal yang mustahil, mengingat kekuatan gaib yang kini melingkupi ruangan tersebut. Udara di sekitar mereka terasa berat dan bermuatan listrik statis, membuat rambut-rambut halus di lengan Elara berdiri tegak.

"Rumah sakit ini tidak butuh tumbal, Dokter, ini hanya delusi Anda untuk menutupi kejahatan medis yang Anda lakukan," balas Elara sambil melangkah maju perlahan, matanya menyapu sekeliling mencari celah untuk memutus ritual itu.

Dr. Arisandi tertawa kecil, suara tawanya memantul di dinding-dinding lembap dan terdengar ganjil. Ia mengangkat skalpelnya tinggi-tinggi, dan seketika itu juga suhu di dalam ruangan turun drastis hingga embus napas mereka terlihat mengepul putih. Lantai di bawah kaki Elara bergetar halus, seolah fondasi Kota Arcapura sendiri sedang menolak apa yang terjadi di ruangan bawah tanah ini.

"Kau pikir RSU Cakra Buana bisa bertahan selama ratusan tahun tanpa 'pemeliharaan' khusus?" tanya Dr. Arisandi, kini menatap Pak Darto yang mulai kejang-kejang di atas meja.

Elara melihat urat-urat hitam mulai merambat naik dari leher Pak Darto menuju wajahnya, tanda bahwa entitas yang dipanggil Arisandi mulai mengambil alih wadahnya. Tanpa berpikir panjang, Elara menyambar sebuah toples kaca berisi cairan keruh dari rak di dekatnya dan melemparkannya sekuat tenaga ke arah Dr. Arisandi. Toples itu pecah menghantam lantai tepat di dekat kaki sang dokter, menyebarkan bau alkohol menyengat dan pecahan kaca.

Tindakan impulsif itu berhasil memecah konsentrasi Arisandi, membuatnya tersentak mundur dan menjatuhkan skalpel antiknya. Pada saat yang bersamaan, lingkaran lilin yang mengelilingi meja bedah itu padam sebagian karena cipratan cairan dari toples. Raungan marah terdengar bukan dari mulut Arisandi, melainkan dari sudut-sudut gelap ruangan itu, seolah dinding itu sendiri yang menjerit kesakitan.

"Kau merusak segelnya, bodoh!" hardik Dr. Arisandi, wajahnya kini berubah panik, bukan lagi dingin dan terkontrol.

Elara tidak membuang kesempatan itu; ia berlari menerjang ke arah meja bedah dan menarik tubuh Pak Darto sekuat tenaga agar jatuh dari meja. Tubuh pria tua itu terasa sangat berat dan dingin seperti es, namun adrenalin memberikan Elara kekuatan ekstra untuk menyeretnya menjauh dari pusat ritual. Pak Darto terbatuk keras, memuntahkan cairan hitam pekat ke lantai, sementara matanya terbuka lebar menatap langit-langit dengan tatapan liar.

"Bangun, Pak! Kita harus pergi dari sini sekarang!" seru Elara sambil menepuk pipi Pak Darto dengan keras.

Dr. Arisandi mencoba mendekat untuk menghalangi mereka, namun bayangan-bayangan hitam yang tadi menurut padanya kini berbalik arah. Karena ritual terputus di tengah jalan, entitas penunggu tanah RSU Cakra Buana menuntut bayaran atas janji yang diingkari. Salah satu bayangan hitam itu memanjang dan melilit kaki sang dokter, membuatnya terjatuh keras ke lantai beton yang keras.

"Tolong! Jangan biarkan mereka mengambilku!" jerit Dr. Arisandi, kuku-kukunya mencakar lantai berusaha menahan tarikan kekuatan tak kasat mata itu.

Elara menatap pemandangan itu dengan ngeri, namun ia tahu ia tidak bisa menyelamatkan orang yang sudah menyerahkan jiwanya sendiri. Ia memapah Pak Darto yang masih linglung, menyeretnya menuju pintu keluar besi yang berkarat. Suara retakan tembok terdengar semakin keras, dan debu-debu mulai berjatuhan dari langit-langit, menandakan struktur bangunan tua itu mulai tidak stabil akibat benturan energi supranatural.

"Lari, Elara... jangan menoleh ke belakang," bisik Pak Darto dengan suara parau, kesadarannya perlahan mulai kembali meski fisiknya sangat lemah.

Mereka berdua tertatih-tatih menyusuri lorong gelap Basement Level 4, meninggalkan Dr. Arisandi yang kini menjerit histeris di dalam ruang operasi. Suara jeritan itu perlahan memudar, digantikan oleh suara gemuruh reruntuhan yang menutup akses ke ruangan terkutuk tersebut. Elara tahu ini belum berakhir, mereka masih harus mencari jalan keluar dari labirin bawah tanah ini sebelum seluruh bangunan menimbun mereka hidup-hidup.

1
deepey
syukurlah satu pasak sudah tercabut
chitra
seru kak
deepey
ya ampun udah seminggu elara berjuang bertahan hidup... pasti fisik dan mentalnya udah lelah bgt
deepey
ayo elara cepat kabur, sebelum arisandi datang.
deepey
elara cepat cari jalan keluar💪
mentari
seru banget ceritanya
chika
seru banget kak
chika
cerita nya bagus
deepey
seruu
deepey
pak Darto jangan jd plot twist y Thor
S. Sage: adalah pokok nya🤭
total 1 replies
deepey
saling support kk 😄
deepey
makin penasaran
deepey
semangat berkarya kaka 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!