NovelToon NovelToon
Abiyan; TUAN MUDA Terbuang

Abiyan; TUAN MUDA Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Kebangkitan pecundang / Persahabatan / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: Moms TZ

Hidup bergelimang harta, tetapi tanpa kasih sayang seorang ibu, membuat Abiyan tumbuh menjadi sosok pemuda yang keras kepala dan pembangkang. Suatu hari dia melakukan kesalahan fatal dengan terlibat balapan liar yang mengakibatkan dirinya tertangkap polisi.

Akibat perbuatannya, Bastian sang ayah murka dan Abiyan harus menerima hukuman terberat: dia terbuang dari rumah yang selama ini menjadi istananya. Tanpa kemewahan, tanpa perlindungan, Abiyan terpaksa harus menghadapi dunia yang keras dan penuh tantangan seorang diri.

Mampukah Abiyan sang tuan muda yang terbuang, bertahan hidup dan belajar menjadi pribadi yang bertanggungjawab? Atau justru dia akan semakin terpuruk dalam kesengsaraan?

Ikuti kisahnya hanya di sini:

"Abiyan, Tuan Muda Terbuang" karya Moms TZ, bukan yang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24.

Setelah seminggu menjalani masa percobaan seperti yang dikatakannya pada Abiyan dan Tyo, sesuai janji Pak Joni mengumumkan siapa yang berhak menjadi asistennya. Pagi itu semua karyawan berkumpul untuk mendengarkan informasi yang akan disampaikan olehnya.

"Selamat pagi semuanya," sapanya. Suaranya menggema memenuhi ruangan. "Seperti yang telah saya janjikan, hari ini saya akan mengumumkan siapa yang akan menjadi asisten saya."

Suasana menjadi tegang. Desir harapan dan kecemasan bercampur aduk, terutama bagi Abiyan dan Tyo.

"Saya tahu mereka berdua sudah bekerja keras," lanjut Pak Joni, pandangannya menyapu ke seluruh ruangan.

Abiyan dan Tyo saling bertukar pandang, mencoba membaca pikiran satu sama lain.

"Setelah mempertimbangkan banyak hal..." Pak Joni berhenti sejenak, menciptakan ketegangan yang semakin menjadi. "...saya memutuskan untuk memilih..."

Jantung Abiyan dan Tyo berdebar semakin kencang.

"...Abiyan."

Tyo tak terima, kemudian maju dan menyampaikan protesnya. "Maaf, Pak," katanya. "Tapi, bolehkah saya tahu apa alasan Bapak memilih Abiyan? Saya merasa kinerja saya selama ini tidak kalah dengannya."

Abiyan menatap Tyo tak percaya dengan sikapnya yang nekad. Suasana kembali menegang.

"Tyo, saya mengerti kekecewaanmu," jawab Pak Joni dengan tenang. "Keputusan ini saya ambil berdasarkan pertimbangan yang matang. Abiyan memiliki keunggulan dalam hal..."

"Tapi, Pak..." Tyo masih mencoba membantah, tetapi Pak Joni mengangkat tangannya.

"Cukup, Tyo!" Pak Joni berkata dengan tegas. "Keputusan saya sudah final. Saya harap kamu bisa menerimanya dengan lapang dada."

Tyo terdiam, menahan amarahnya. Ia menatap Abiyan dengan sinis, lalu berbalik dan kembali ke tempatnya.

Pak Joni berjalan menuju ruangannya. Tyo, dengan langkah cepat, menyusulnya.

"Pak, saya mohon penjelasan!" seru Tyo, begitu mereka berdua berada di dalam ruangan Pak Joni.

Pak Joni menghela napas, lalu duduk di kursinya. "Tyo, saya sudah menjelaskan semuanya tadi," katanya dengan lelah.

"Tapi, Pak, alasan Bapak tidak masuk akal! Saya yakin ada alasan lain di balik semua ini!" Tyo bersikeras.

Pak Joni menatap Tyo dengan tajam. "Jadi kamu menuduh saya tidak fair, begitu?"

"Tyo, kamu yakin ingin saya menjelaskan alasan sebenarnya?" tanyanya dengan sedikit mengancam.

Tyo mengerutkan kening. "Maksud Bapak, apa?"

"Apa perlu saya beberkan semuanya?" Suara Pak Joni terdengar begitu dingin.

"Jangan kamu pikir saya tidak tahu, bagaimana kamu selalu berusaha memprovokasi Abiyan."

Tyo terkejut. Wajahnya pucat pasi. "Saya... saya tidak tahu apa yang Bapak bicarakan," elaknya gugup.

"Tidak usah menyangkal, Tyo. Saya punya bukti," balas Pak Joni, matanya tak lepas dari Tyo. "Saya tahu kamu mengambil berkas itu untuk mencuri ide dan mempresentasikannya seolah-olah itu adalah hasil kerja kerasmu sendiri."

"Kamu lupa bahwa di kafe ini dilengkapi kamera tersembunyi?" Pak Joni menatap Tyo dengan pandangan ambigu.

Tyo terpojok. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.

"Saya harap kamu mengerti sekarang, kenapa saya memilih Abiyan," lanjut Pak Joni. "Saya tidak bisa mempercayakan posisi penting kepada seseorang yang tidak jujur."

Dengan tertunduk lesu dan langkah gontai, Tyo keluar dari ruangan Pak Joni. Pikirannya kalut, amarahnya membara. Dia merasa dipermalukan dan dikhianati.

Namun, pemandangan yang dilihatnya membuat amarahnya semakin memuncak. Dia melihat Abiyan dikelilingi oleh rekan-rekannya yang lain. Semua orang tampak antusias memberikan selamat kepada Abiyan atas terpilihnya sebagai asisten Pak Joni— pemilik kafe itu.

"Selamat ya, Bi. Gue sudah yakin kalau loe yang bakal jadi asisten Pak Joni."

"Iya, Bi. Loe sangat kompeten dan bisa diandalkan."

Dan masih banyak lagi yang lainnya. "Terima kasih, teman-teman. Mohon kerjasamanya, ya."

Abiyan menyatukan telapak tangannya di depan dada. Dia tampak bahagia dan bangga menerima semua ucapan selamat tersebut.

Naraya tersenyum malu-malu sambil mengulurkan tangannya. "Selamat ya, Bi. Semoga kamu bisa amanah mengemban jabatan ini," ucapnya.

"Makasih, Ra," balasnya sambil tersenyum hangat. "In syaa Allah, aku akan mengemban jabatan ini dengan baik. Doakan aku, ya."

Tyo yang melihatnya merasa muak, dia seperti orang asing di tempat itu. Tangannya mengepal kuat-kuat. Semua orang tampak berbahagia atas keberhasilan Abiyan, seolah-olah tidak ada yang peduli dengan perasaannya. Aroma kopi yang biasanya menenangkan kini terasa menyesakkan.

Dengan langkah cepat, Tyo meninggalkan area kafe. Dia tidak tahan lagi melihat pemandangan yang membuatnya semakin sakit hati. Dia ingin segera pergi dari tempat itu dan melupakan semua kejadian yang baru saja menimpanya.

.

.

.

Setelah mengumumkan Abiyan sebagai asistennya, Pak Joni pergi menemui seseorang di sebuah tempat yang telah mereka sepakati.

"Apa yang ingin Anda sampaikan?" tanya seseorang yang tak lain adalah Tara, asisten Bastian.

Pak Joni tersenyum. "Semuanya berjalan lancar, Tuan. Tuan Muda Abiyan sudah resmi menjadi asisten saya."

"Bagus." Tara mengangguk puas.

"Tapi tugas Anda belum selesai sampai di sini," kata Tara. "Pastikan dia benar-benar kompeten dan tangguh, sampai dia siap memimpin perusahaan nanti. Saya serahkan itu pada Anda."

"Saya mengerti, Tuan," jawab Pak Joni. "Saya akan membimbingnya dengan baik, dan memastikan dia siap untuk menghadapi semua tantangan."

"Dan satu lagi, Tuan. Sepertinya saat ini Tuan Muda Abiyan sedang jatuh cinta pada rekan kerjanya," kata Pak Joni hati-hati.

Tara tertegun sejenak. "Siapa dia? Apa gadis itu begitu istimewa?" tanyanya.

"Dia... " Pak Joni tampak ragu-ragu. "Dia wanita yang sedang hamil, suaminya meninggalkannya, Tuan."

Tara menarik napas panjang. "Baiklah, Anda terus pantau dan laporkan pada saya setiap perkembangannya."

Pak Joni mengangguk. Mereka berdua kemudian melanjutkan percakapan, membahas strategi dan rencana untuk membimbing Abiyan agar bisa menjadi pemimpin yang bertanggung jawab dan berintegritas di masa depan.

.

.

.

Siang menjelang sore, Naraya sedang menikmati waktu istirahatnya di ruang ganti, ketika tiba-tiba, salah seorang rekan kerjanya menghampiri dirinya.

"Ra, di depan ada kurir yang mencarimu," beritahunya.

"Kurir...?" Naraya mengernyit heran. "Tapi aku nggak pesan apa-apa."

"Sudah sana temui, dia nunggu tuh, di depan," katanya lagi.

Naraya pun bergegas ke depan menemui kurir yang dimaksud.

"Maaf, dengan Bu Naraya?" tanya kurir itu sopan

"Iya, saya sendiri," jawab Naraya. "Ada apa ya, Mas?"

"Saya mengantarkan surat ini untuk Ibu Naraya, tolong ditandatangani," ucapnya seraya menyodorkan sebuah amplop berlogo pengadilan agama.

Naraya menerimanya lalu membubuhkan tanda tangannya sebagai tanda terima.

"Terima kasih."

Setelah kurir itu pergi, ia kembali ke belakang dan membuka amplop itu dengan rasa ingin tahu.

Naraya begitu terkejut, ternyata, itu adalah surat gugatan cerai dari Farid, suaminya. Meskipun sebenarnya hal itu yang ia inginkan, tetap saja ada sesuatu yang berdenyut nyeri di lubuk hatinya.

.

Maaf ya, Gaes.

Kemarin mau up udah kemaleman, jangan kabur, ya🤗

1
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
itu karena Lo aslinya bego🤣
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
ngarang aja lo
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
keok dia. makanya jgn curang
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
tuh yg ditunggu² udah datang😄
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
ortu egois. kalau mau nikah lagi seharusnya cari laki² yg juga mau menerima putrimu
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
nungguin Abiyan ya🤭
Aditya hp/ bunda Lia
anak tiri emak durjana nya Naraya ....
Aditya hp/ bunda Lia: pasti 😂😂
total 2 replies
Cindy
lanjut
vj'z tri
waduh kalau Abi d tolak cewek terus apa kabar kalian 🤣🤣🤣🤣🤣
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: ya udah terima nasib🤭
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
emang kemjamu semula bagaimana? bentuk kodok atau kadal? di cci kan biar bersih, 🤧
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 3 replies
Esther
siapa dia
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: entahlah🤭
total 1 replies
ora
Mamanya, kah/CoolGuy/
Terus pemuda itu anak tirinya. Nggak punya sopan santun banget ....
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: mungkin🤭
total 1 replies
ora
Haduhhh. Perkara kemeja aja jadi ngehina orang😒😒
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lha iyo
total 1 replies
Patrick Khan
wahhh anak manja kyk nya itu😒
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: masa????
total 1 replies
Tiara Bella
siapa lg nh perempuan ibunya kah.....
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: mungkin🤭
total 1 replies
Esther
Aku juga cinta kamu Abiyan.....kata Naraya🤭
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤭😍🫶🫰😂
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
pertanyaanmu terjawab setelah membuka tas bekalnya.
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nar Sih
ungkapan cinta keluar juga ,pasti nara menerima cinta mu abyan ,tpi kmu mesti sabar nunggu hinga nara sdh lahiran
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: huumm
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
Waaw, ... Biyan 👍
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 😍😍😍😍😍
total 1 replies
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
sudah kuduga. ayo Biyan, tunjukkan kalau kamu tdk bisa dipandang remeh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!