Hazel Bellvania Cavanaugh adalah definisi kesetiaan yang naif. Ia mencintai James Patrick, seorang atlet sekolah yang karismatik namun manipulatif.
Hubungan mereka aneh—tanpa ciuman, tanpa sentuhan intim, karena James berjanji ingin "menjaga" Hazel hingga pernikahan. Namun, di balik topeng itu, James adalah predator yang memanfaatkan jari-jarinya untuk memuaskan hampir seluruh siswi di SMA mereka.
Kebohongan James terkubur rapat di bawah bayang-bayang geng paling berkuasa di sekolah yang dipimpin oleh Kenneth Karl Graciano. Kenneth yang dingin dan tak tersentuh mengetahui rahasia busuk James, namun ia diam. Bukan karena setia kawan, melainkan karena ia sedang menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkan segalanya dan mengambil apa yang menurutnya pantas ia miliki, Hazel Bellvania Cavanaugh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Dua
Pagi itu, suasana di kediaman Cavanaugh tidak sedingin tujuh tahun lalu. Arthur berdiri di balkon, menatap Kenneth yang datang dengan langkah tegap, namun tidak ada lagi sorot mata menantang di sana. Kenneth datang membawa seluruh kerendahan hatinya, siap bersujud jika itu yang diminta Arthur.
Namun, Arthur yang sekarang bukan lagi pria yang meledak-ledak. Waktu telah menempanya menjadi sosok yang lebih bijaksana. Ia telah melihat bagaimana Hazel menderita dalam diam di Swiss, dan ia sadar bahwa membenci Kenneth hanya akan terus menyiksa adiknya.
Kenneth berdiri di hadapan Arthur di ruang kerja yang dulu menjadi saksi bisu kemarahan mereka.
"Aku tidak datang untuk bernegosiasi, Arthur," ucap Kenneth dengan suara rendah namun mantap. "Aku datang untuk memohon. Aku tahu luka yang kubuat mungkin tidak akan pernah benar-benar sembuh, tapi biarkan aku menghabiskan sisa hidupku untuk menebusnya. Berikan aku restumu untuk menikahi Hazel."
Arthur diam cukup lama. Ia menatap ke arah taman, di mana Kenzo dan Zella sedang berlari-lari kecil di bawah pengawasan Hazel. Ia melihat binar mata Hazel yang sudah lama hilang, binar yang hanya bisa dikembalikan oleh pria di depannya ini.
Arthur menghela napas panjang, lalu berbalik dan menatap Kenneth. "Jika tujuh tahun lalu aku ingin membunuhmu, hari ini aku hanya ingin melihat adikku bahagia. Dan sialnya, kebahagiaannya ada padamu, Kenneth."
Arthur melangkah mendekat, menepuk bahu Kenneth dengan berat. "Aku merestui kalian. Bukan karena aku melupakan apa yang terjadi, tapi karena anak-anak itu berhak memiliki seorang ayah, dan Hazel berhak memiliki pria yang dia cintai. Jaga dia, Kenneth. Jika kau menyakitinya lagi, aku tidak akan membawa dia pergi ke Swiss, aku akan memastikan kau menghilang dari muka bumi."
Kenneth menundukkan kepalanya dalam-dalam, sebuah penghormatan tulus yang tidak pernah ia berikan pada siapapun sebelumnya. "Terima kasih, Arthur. Aku berjanji."
Hari Pernikahan...
Pernikahan itu digelar secara tertutup di paviliun mawar milik keluarga Graciano. Tidak ada media, tidak ada James, hanya keluarga inti yang hadir.
Kiana duduk di barisan depan dengan senyum tipis yang tulus, melihat adiknya berdiri di altar. Saat Hazel berjalan anggun menuju Kenneth dengan Kenzo dan Zella yang membawa keranjang bunga, air mata Kenneth jatuh lagi. Kali ini, itu adalah air mata kebahagiaan yang murni.
Saat pendeta meresmikan hubungan mereka, Kenneth mencium kening Hazel dengan sangat lembut, seolah-olah Hazel adalah porselen paling berharga di dunia.
"Hutangku lunas sekarang, Hazel," bisik Kenneth di sela ciuman mereka.
"Belum, Sayang," balas Hazel sambil tersenyum manis di balik cadar tipisnya. "Kau masih punya hutang seumur hidup untuk mencintaiku dan anak-anak."
Kenneth terkekeh, lalu menggendong Zella sementara Kenzo memegang tangannya. Keluarga yang dulunya hancur karena dendam, kini dipersatukan oleh cinta yang tak terduga.
Beberapa bulan setelah pernikahan itu, kehidupan di mansion Graciano tak lagi sunyi. Suasana dingin dan kaku yang dulu menyelimuti rumah itu kini tergantikan oleh tawa kecil Zella dan derap langkah lari Kenzo di koridor.
Matahari menyelinap masuk melalui jendela kamar utama. Kenneth terbangun lebih dulu, namun ia tidak langsung beranjak. Ia hanya diam, memandangi wajah Hazel yang tertidur tenang di pelukannya. Selama tujuh tahun, ini adalah pemandangan yang hanya ada dalam mimpinya, dan kini ia memilikinya setiap hari.
"Eungh..." Hazel melenguh pelan, membuka matanya dan langsung disambut oleh tatapan dalam Kenneth.
"Pagi, Istriku," bisik Kenneth sambil mengecup kening Hazel lama.
"Pagi, Ken. Kau sudah bangun sejak tadi?" suara Hazel masih serak khas bangun tidur.
Kenneth tersenyum tipis, senyum tulus yang kini menjadi milik Hazel seutuhnya. "Aku hanya tidak ingin melewatkan satu detik pun melihatmu. Aku masih sering merasa ini seperti mimpi."
Hazel mengusap pipi Kenneth yang kini lebih sering tersenyum. "Ini nyata, Ken. Kita sudah di rumah."
Kebahagiaan mereka memuncak di meja makan. Tidak ada lagi suasana mencekam. Kenzo duduk dengan tegap di samping Kenneth, meniru cara ayahnya memegang pisau dan garpu dengan sangat presisi. Sementara Zella duduk di dekat Hazel, sibuk menceritakan mimpinya tentang taman bunga.
"Daddy," panggil Kenzo dengan nada yang sangat mirip dengan Kenneth. "Apakah nanti sore Daddy bisa mengajariku bermain anggar? Aku ingin melindungi Mommy dan Zella."
Kenneth meletakkan cangkir kopinya, menatap putranya dengan bangga. "Tentu, jagoan. Tapi ingat, seorang pria menggunakan kekuatannya untuk melindungi, bukan untuk menyakiti. Kau mengerti?"
Kenzo mengangguk mantap. Kenneth melirik Hazel, mereka saling bertukar senyum—menyadari bahwa Kenneth sedang berusaha menanamkan prinsip yang berbeda dari masa lalunya yang kelam.
Siang harinya, sebuah mobil hitam terparkir di halaman. Arthur turun dari mobil, namun kali ini ia tidak membawa aura kemarahan. Ia membawa sekotak mainan untuk keponakannya dan sebuah buku langka untuk Kenneth.
Kiana, yang kini sudah jauh lebih stabil dan mulai aktif kembali melukis, menyambut Arthur di teras. Hubungan mereka memang belum sepenuhnya pulih, namun ada kedamaian yang baru.
"Terima kasih sudah datang, Arthur," ucap Kenneth tulus sambil menjabat tangan kakak iparnya itu.
Arthur menepuk bahu Kenneth. "Hanya ingin memastikan kau tidak membuat Hazel menangis hari ini."
"Tidak akan pernah lagi," jawab Kenneth tegas.
Mereka semua berkumpul di taman belakang. Kenneth duduk di rumput, membiarkan Zella menghias rambutnya dengan bunga mawar, sementara ia berdiskusi kecil dengan Arthur tentang bisnis. Hazel berdiri di kejauhan bersama Kiana, memperhatikan pria-pria dalam hidup mereka yang akhirnya bisa berdamai dengan masa lalu.
Malam harinya, setelah anak-anak terlelap, Kenneth dan Hazel berdiri di balkon penthouse mereka, tempat yang dulu menjadi saksi bisu kehancuran mereka. Namun kini, tempat itu penuh dengan kehangatan.
Kenneth memeluk Hazel dari belakang, menumpukan dagunya di bahu sang istri.
"Aku mencintaimu, Hazel. Lebih dari hidupku sendiri," bisik Kenneth.
Hazel menggenggam tangan Kenneth yang melingkar di perutnya. "Aku juga mencintaimu, Ken. Terima kasih sudah menjemput kami kembali."
Di bawah taburan bintang Queenstown, Kenneth menyadari bahwa dendam memang bisa menghancurkan seseorang, namun cinta dan pengampunan memiliki kekuatan yang jauh lebih besar untuk membangun kembali apa yang telah hancur. Keluarga kecilnya kini lengkap, dan untuk pertama kalinya, Kenneth Graciano merasa benar-benar hidup.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰🥰😍
terimakasih
ceritanya bagus