NovelToon NovelToon
ISTRIKU TERNYATA SULTAN

ISTRIKU TERNYATA SULTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Kata orang, cinta itu buta. Buat Kara Anindita, cinta itu bukan cuma buta, tapi juga bikin miskin mendadak.
​Demi menikah dengan Rio Pratama—cowok biasa yang dia pikir tulus mencintainya apa adanya—Kara rela melakukan "prank" terbesar dalam hidupnya. Dia menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal Anindita Group, raksasa properti nomor satu di negeri ini. Kara menukar kartu kredit unlimited-nya dengan uang belanja recehan, menukar penthouse mewahnya dengan kontrakan petak yang atapnya bocor, dan menukar gaun desainernya dengan daster diskonan di pasar kaget.
​Kara pikir, hidup sederhana asal penuh cinta itu indah.
​Tapi ternyata, "tulus" itu ada masa kedaluwarsanya.
​Tiga tahun menikah, setelah karier Rio menanjak (yang Rio nggak tahu, itu berkat koneksi "orang dalam" Kara), sikap suaminya berubah 180 derajat. Rio mulai sombong, gila hormat, dan menganggap pengorbanan Kara sebagai kewajiban istri yang tidak berpenghasilan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6: Sarapan Sang Ratu dan Rencana Pembalasan

​Kara membuka matanya perlahan.

​Hal pertama yang dia rasakan adalah kelembutan.

Bukan kasur busa tipis yang pernya menusuk punggung. Bukan bantal apek yang sudah kempes.

Ini adalah kasur King Koil dengan sprei Egyptian Cotton 1000 thread count yang rasanya sesejuk awan.

​Hening.

Tidak ada suara motor knalpot racing dari gang depan. Tidak ada teriakan Bu Tejo menagih utang panci ke tetangga. Hanya ada desasing pelan air purifier dan wangi diffuser aroma white tea yang menenangkan.

​Kara merentangkan tangannya, menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan lampu gantung kristal Swarovski.

​"Aku pulang..." bisiknya, suaranya serak khas bangun tidur.

​Setetes air mata lolos dari sudut matanya. Tapi kali ini bukan air mata sedih. Ini air mata lega. Rasanya seperti baru saja keluar dari penjara bawah tanah dan menghirup udara segar untuk pertama kalinya setelah tiga tahun.

​Tok. Tok.

​Pintu kamar ganda yang besar itu diketuk pelan.

​"Nona Muda? Maaf mengganggu. Air mandi rempah sudah siap. Sarapan juga sudah disiapkan Tuan Besar di teras belakang," suara lembut Bi Inah, kepala pelayan yang sudah mengasuh Kara sejak bayi, terdengar dari balik pintu.

​Kara tersenyum tipis. "Masuk, Bi."

​Bi Inah masuk membawa nampan berisi segelas air lemon hangat madu—rutinitas pagi Kara yang hilang selama tiga tahun karena Rio bilang lemon itu mahal.

​"Terima kasih, Bi," ucap Kara sambil menerima gelas itu.

​Bi Inah menatap Nona Mudanya dengan mata berkaca-kaca. Dia melihat tangan Kara yang kasar dan ada bekas luka bakar kecil kena cipratan minyak. "Nona... tangan Nona..." Bi Inah terisak pelan. "Tuan Besar menangis semalaman melihat kondisi Nona saat datang kemarin."

​Kara meletakkan gelasnya, lalu memegang tangan keriput pengasuhnya itu. "Nggak apa-apa, Bi. Anggap aja Kara lagi KKN tiga tahun. Pelajaran hidup."

​Kara turun dari ranjang. Dia berjalan ke kamar mandi yang luasnya dua kali lipat dari rumah kontrakannya bersama Rio. Dia berendam di jacuzzi hangat, membiarkan busa sabun mewah melunturkan daki kemiskinan dan kenangan pahit tentang Rio.

​Satu jam kemudian.

​Kara turun tangga dengan mengenakan dress santai berbahan linen warna beige. Wajahnya polos tanpa make-up, rambutnya digerai alami. Meski sederhana, aura mahalnya sudah kembali.

​Di teras belakang yang menghadap ke kolam renang luas dan taman tropis, seorang pria paruh baya sedang duduk membaca koran bisnis. Rambutnya sudah memutih semua, dan garis wajahnya terlihat lebih tua dari yang Kara ingat.

​"Papa..." panggil Kara pelan.

​Pria itu—Gunawan Anindita, salah satu orang terkaya di negeri ini—langsung melempar korannya. Dia berdiri, merentangkan kedua tangannya.

​Kara berlari kecil dan menghambur ke pelukan ayahnya.

​"Maafin Kara, Pa... Maafin kebodohan Kara..." Tangis Kara pecah di bahu ayahnya.

​Gunawan memeluk putri tunggalnya erat-erat, seolah takut Kara akan hilang lagi. "Sstt... Papa yang salah. Harusnya Papa seret kamu pulang dari dulu. Harusnya Papa nggak biarin kamu nikah sama laki-laki tidak tau diri itu."

​Mereka berpelukan lama, menumpahkan rindu dan penyesalan.

​Setelah emosi mereda, mereka duduk berhadapan di meja makan. Hidangan sarapan terhampar mewah: Croissant hangat, omelet truffle, buah-buahan segar potong, dan jus jeruk murni.

​Kara menatap makanan itu. Kemarin dia makan nasi sisa kemarin sore. Hari ini dia makan sarapan seharga gaji bulanan Rio.

​"Makan yang banyak, Nak. Kamu kurus sekali," kata Gunawan, menatap putrinya prihatin. "Papa sudah siapkan dokter gizi dan terapis spa buat balikin kesehatan kamu."

​Kara mengangguk, mulai memotong omeletnya. "Makasih, Pa."

​Gunawan meletakkan garpunya. Wajahnya berubah serius, matanya memancarkan kilatan amarah yang dingin. Khas seorang pebisnis yang siap menghancurkan lawan.

​"Soal laki-laki itu... Rio," suara Gunawan memberat. "Papa sudah suruh asisten Papa selidiki. Dia kerja di Wijaya Corp kan? Itu anak perusahaan teman Papa. Papa bisa telepon direkturnya sekarang buat pecat dia. Atau Papa bisa bikin dia masuk daftar hitam blacklist di semua perusahaan di Jakarta."

​Gunawan mengepalkan tangannya di atas meja. "Dia sudah menghina putri Anindita. Papa akan pastikan dia jadi gelandangan sore ini juga."

​Kara mengunyah makanannya pelan-pelan, menelan rasa nikmat truffle yang lumer di mulut. Dia meletakkan pisau dan garpunya dengan anggun, lalu menyeka bibirnya dengan serbet kain.

​Dia menatap mata ayahnya. Tatapan Kara tenang. Dingin. Mengerikan.

​"Jangan, Pa," jawab Kara datar.

​Gunawan terkejut. "Kenapa? Kamu masih cinta sama bajingan itu?"

​"Cinta?" Kara tertawa kecil. Tawa yang hambar. "Cintaku udah mati di lobi kantornya kemarin, Pa."

​Kara menyandarkan punggungnya di kursi yang nyaman.

​"Kalau Papa hancurkan dia sekarang, itu terlalu mudah. Dia bakal merasa jadi korban. Dia bakal mikir dia dipecat karena nasib buruk, bukan karena kesalahannya. Dia nggak akan belajar apa-apa."

​Kara mengambil gelas jus jeruknya, memutar-mutar isinya.

​"Biarkan dia, Pa. Biarkan dia ngerasain hidup tanpa aku. Biar dia ngerasain gimana rasanya pulang ke rumah gelap, nggak ada makanan, tagihan numpuk, dan nggak ada istri bodoh yang beresin kekacauannya."

​Senyum tipis terukir di bibir Kara. Senyum seorang villainess yang elegan.

​"Lagipula, Rio itu ambisius tapi nggak kompeten. Tanpa koneksi Papa yang aku kasih diem-diem selama ini, kita liat... berapa lama dia bisa bertahan di posisinya? Sebulan? Dua bulan?"

​Gunawan menatap putrinya dengan kagum. Dia melihat bayangan dirinya sendiri di mata Kara. Cerdas. Taktis. Kejam.

​"Baik," Gunawan mengangguk setuju. "Kita mainkan cara kamu. Slow burn. Papa akan tarik semua 'bantuan gaib' yang selama ini menopang karier dia."

​"Tapi..." Gunawan tersenyum licik. "Boleh dong Papa kasih sedikit 'hadiah perpisahan'?"

​"Apa itu?"

​"Pengacara Papa sudah kirim surat gugatan cerai ke kantornya pagi ini. Bukan lewat pos, tapi diantar langsung oleh tim legal kita. Biar satu kantor tau kalau dia digugat cerai."

​Kara tertawa. Kali ini tawa yang lepas dan tulus.

"Itu baru asik, Pa. Biar dia malu sekalian."

...****************...

...Bersambung......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️...

...****************...

1
Arieee
mantap🤣
stela aza
lanjut thor
Night Watcher
😆😆😆🤭
Night Watcher
lah.. selama ini, ibunya rio gak punya rumah thor?
terus kemaren2 sblm kara pergi, ibunya tinggal dimana?
nanya lho thor, bkn menghujad.. 🤭🙏
Night Watcher
asyik keknya.. satset gak byk meleber.. 👌
Night Watcher
ngintip dulu...
Ma Em
Makanya Rio jadi orang jgn banyak tingkah , baru merasa senang sedikit sdh belagu selingkuh sekarang menyesal saja kamu sampai mati tapi Kara tdk akan pernah kembali lagi pada lelaki mokondo .
Ma Em
Kara kalau Rio datang langsung usir saja jgn dikasih kesempatan untuk bilang apapun .
Ma Em
Rio baru jadi menejer saja sdh sombong ga ingat waktu hdp susah bersama Kara setelah hdp nya baru senang sedikit sdh lupa sama istri yg nemenin dari nol dan malah selingkuh , Rio kamu pasti akan menyesal setelah tau siapa Kara Anindita yg selalu kamu hina itu .
tanty rahayu: emang gak tau diri tuh cowok 😔
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!