Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pil
Setelah peluit akhir benar-benar berhenti bergema, suasana stadion berubah menjadi lautan manusia yang riuh. Murid-murid Jarvis High berhamburan keluar dengan sorak-sorai kemenangan. Di tengah keramaian itu, Clara merangkul bahu Greta yang masih mengenakan jersey kebesaran milik Luca.
"Aduh, bau kopinya mulai kalah sama bau parfum kapten basket kita, nih," ledek Clara sambil mengendus-endus udara di sekitar Greta saat mereka berjalan menyusuri lorong sekolah menuju kantin.
Greta hanya menunduk, mencoba mengeratkan jersey itu untuk menutupi wajahnya yang masih terasa panas. "Berhenti, Clara. Dia hanya kasihan karena seragamku kotor."
"Kasihan?" Clara tertawa renyah, lalu tiba-tiba berhenti dan berdiri di depan Greta. Ia mengubah ekspresi wajahnya menjadi sangat serius, mencoba menirukan gaya keren Luca saat di lapangan tadi. " 'Pakai ini. Jangan sampai kamu kedinginan,' " ucap Clara dengan suara yang dibuat berat dan dramatis, menirukan ucapan Luca tadi.
"Clara! Tidak seperti itu!" Greta mencoba mendorong bahu sahabatnya itu, namun ia tidak bisa menahan senyum tipis yang muncul di bibirnya.
"Terus, tadi waktu kamu teriak 'Kamu pasti bisa, Kapten!', wah... itu sinematik banget, Greta! Kamu lihat tidak muka Luca tadi? Dia langsung kayak serigala yang nemu mangsanya. Langsung SHOOT! Dan masuk!" Clara memperagakan gerakan menembak bola dengan heboh di sepanjang lorong, membuat beberapa murid yang lewat menoleh ke arah mereka sambil tersenyum.
"Aku hanya ingin dia fokus, itu saja," gumam Greta pelan.
Sesampainya di kantin mereka langsung menuju konter makanan. Aroma kentang goreng dan keju memenuhi ruangan.
"Aku yang traktir! Anggap saja ini perayaan kemenangan Luca... eh, kemenangan sekolah kita," ujar Clara semangat.
Mereka pun memesan menu favorit yang sangat populer di sekolah-sekolah Kanada:
Dua porsi Poutine besar: Kentang goreng renyah yang disiram saus gravy cokelat kental dan ditaburi cheese curds (potongan keju kenyal) yang melimpah Dan Dua gelas besar Iced Maple Latte: Minuman kopi susu dingin dengan sirup maple asli yang manis dan segar.
Mereka membawa nampan berisi makanan hangat itu ke meja di sudut kantin yang agak sepi. Clara langsung menusuk potongan keju di poutine-nya.
Clara menusuk potongan keju di poutine-nya, namun gerakannya melambat. Ia mencondongkan tubuh ke arah Greta, wajahnya berubah serius, mengabaikan suasana kantin yang riuh.
"Tapi jujur Greta," bisik Clara, suaranya sedikit tertahan. "Tadi saat aku menunggumu di depan toilet... aku melihat Revelyn merangkul Norah. Norah pingsan, Greta. Dan ada darah di kepalanya. Aku sebenarnya ingin menunggumu sampai keluar, tapi aku panik dan akhirnya malah menolong mereka ke UKS."
Greta tidak menjawab. Ia hanya menunduk, tangannya yang ramping memegang sedotan, mengaduk Iced Maple Latte-nya perlahan hingga es batu di dalamnya berdenting pelan. Wajahnya tetap tenang, seolah cerita Clara hanyalah angin lalu.
Clara mengerutkan kening, tampak berpikir keras. "Tapi yang membuatku bingung... kenapa Norah tiba-tiba menumpahkan kopi di kepalamu di stadion tadi? Aneh sekali, kan? Tadi dia pingsan lalu tiba-tiba muncul hanya untuk melakukan hal sekasar itu. Keterlaluan sekali dia, benar-benar tidak punya urat malu."
"Dia hanya marah, Clara. Dan orang marah biasanya melakukan hal yang bodoh."
Clara mengerutkan dahi, matanya membelalak lebar. "Marah? Kenapa dia harus semarah itu sampai pingsan?"
Greta terdiam sejenak, lalu perlahan mengangkat poni rambutnya, memperlihatkan luka lecet yang masih memerah dan sedikit bengkak di dahinya. "Mereka tadi memukulku di gedung belakang, Clara," ucapnya datar, sebelum kembali menunduk dan mengaduk minumannya seolah hal itu bukan masalah besar.
"Astaga..! Jadi itu yang sebenarnya terjadi?!" Clara memekik tertahan, wajahnya berubah merah padam karena geram. "Benar-benar keterlaluan! Kemarin aku dan Luca sudah mencoba melaporkan kelakuannya ke Mr. Kennedy, tapi kami malah diusir dari ruangan. Dia memang merasa berkuasa karena ayahnya donatur sekolah ini. Kita harus melakukan sesuatu, Greta! Kita butuh cara lain untuk membalasnya!"
"Eh, sebentar... tapi kenapa Norah tadi pingsan dan ada darah di kepalanya?" tanya Clara penasaran. "Maksudku, kalau mereka memukulmu, kenapa justru dia yang sampai bocor begitu kepalanya?"
Greta menyesap Iced Maple Latte-nya dengan sangat tenang. Ia mengangkat bahu sedikit.
"Entahlah," jawab Greta pelan. "Mungkin saat di gedung belakang tadi dia terlalu bersemangat mengejarku, lalu tidak sengaja menabrak tumpukan kayu dengan kepalanya yang besar?"
Clara terdiam satu detik, lalu membayangkan adegan Norah yang angkuh berlari dengan gaya sok cantik namun berakhir menabrak balok kayu dengan telak. Sontak, Clara langsung berdiri sedikit dari kursinya dan memeragakan gerakan Norah yang sedang berjalan sombong, lalu tiba-tiba kepalanya terhentak ke depan seolah menabrak sesuatu yang keras.
"Bugh! Aduh, kepalaku yang besar!" ucap Clara dengan suara yang dibuat-buat seperti suara Norah yang sedang merintih.
Gelak tawa mereka pecah di sudut kantin, membuat beberapa murid menoleh heran melihat dua gadis yang biasanya tenang itu kini tertawa sampai mengeluarkan air mata. Untuk sejenak, ketegangan dari Norah dan luka di kepala mereka terlupakan oleh lelucon konyol Clara namun memuaskan itu.
Setelah nampan poutine mereka mulai bersih dan tawa mereka berangsur reda, Greta merogoh tas sekolahnya. Gerakannya sangat tenang, namun ada kesan terburu-buru yang tersembunyi dalam jemarinya. Ia mengeluarkan sebuah botol plastik kecil berwarna putih polos.
Sebelum Greta sempat membuka tutup botol putih polos itu, tangan Clara lebih cepat menyambarnya.
"Ja.. jangan.." ucap Greta, suaranya sedikit meninggi, tangannya terulur untuk meraih kembali benda itu namun Clara menjauhkannya.
"Obat apa ini, Greta? Kenapa botolnya polos sekali? Tidak ada nama apotek atau keterangan dosisnya?" tanya Clara sambil membolak-balik botol kecil itu di bawah cahaya lampu kantin. Ia merasa ada yang tidak beres; botol itu tampak terlalu misterius untuk sekadar vitamin biasa.
"Itu obat pribadiku, Clara," jawab Greta dengan nada datar namun tegas. Ia segera mengambil kembali botol itu dari tangan Clara dengan gerakan yang cepat dan pasti.
Clara mengerutkan kening, rasa penasaran di hatinya bukannya hilang malah semakin menjadi. "Apa maksudnya obat pribadi? Greta, kita sudah berteman lama, tapi aku baru tahu kamu harus minum obat seperti ini."
Greta tidak langsung menjawab. Ia membuka tutup botolnya, mengeluarkan satu butir tablet kecil berwarna putih susu, lalu menelannya dengan sekali teguk air mineral. Ia menarik napas panjang, seolah membiarkan zat di dalam obat itu mulai bekerja di dalam aliran darahnya.
"Ini adalah resep dari dokter yang pernah merawatku dulu," kata Greta akhirnya, matanya menatap kosong ke arah sisa es batu di gelasnya. "Ia bilang obat ini mampu membuatku merasa tenang."
"Tenang? Apa maksudmu? Apa kamu sering merasa cemas?" Clara bertanya dengan nada khawatir, suaranya merendah.
Greta menoleh ke arah Clara, memberikan sebuah tatapan yang membuat bulu kuduk Clara berdiri sedikit. "Jika aku tidak menelan satu butir per harinya... aku akan mendapatkan mimpi buruk, Clara. Mimpi buruk yang sangat nyata sampai aku tidak bisa membedakannya dengan dunia asli."
"Mimpi buruk... Apa maksudnya?" suara Clara mengecil, hampir seperti bisikan yang penuh ketakutan.
Greta menatap lurus ke depan, ke arah jendela kantin yang mulai menampilkan semburat warna senja. "Sangat menyeramkan, Clara. Bahkan aku tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata yang benar. Yang aku ingat hanyalah banyak sekali darah... di lorong yang gelap dan dingin."
Clara tersentak, tangannya yang tadi memegang garpu kini bergetar kecil. "Apa yang sebenarnya terjadi, Greta? Apa hubungannya denganmu?"
"Aku tidak ingat secara pasti," jawab Greta, suaranya terdengar hampa seolah ia sedang menceritakan kisah orang lain. "Tapi dokter yang merawatku bilang, itu adalah cuplikan ingatan yang muncul kembali... cuplikan saat orang tuaku meninggal."
Mendengar itu, jantung Clara seolah berhenti berdetak sejenak. Rasa bersalah langsung menghantam dadanya dengan telak. Ia teringat betapa ia tadi tertawa-tawa dan memaksa ingin tahu, tanpa menyadari bahwa ia sedang menggali luka paling dalam di hidup sahabatnya.
Dengan cepat, Clara meraih tangan Greta dan menggenggamnya erat-erat di atas meja. "Maafkan aku, Greta... Tolong maafkan aku. Aku benar-benar tidak bermaksud membukanya kembali. Aku hanya penasaran, aku tidak tahu kalau itu soal orang tuamu."
Greta menoleh, menatap tangan Clara yang menggenggamnya, lalu perlahan sebuah senyum tipis—senyum yang tenang namun menyedihkan—muncul di bibirnya. Ia membalas genggaman tangan Clara dengan lembut.
"Tidak apa, Clara. Kamu tidak perlu minta maaf," ucap Greta tulus. "Aku punya obat ini untuk melupakan itu semua. Selama aku meminumnya, ingatan itu akan tetap terkunci."
Tanpa mereka sadari, Luca Blight yang tadinya hendak menghampiri mereka, kini membeku di balik pilar dekat area minuman. Ia mendengar semuanya. Rahangnya mengeras dan matanya memancarkan rasa simpati yang mendalam sekaligus kemarahan pada takdir yang menimpa gadis itu.
Luca kini mengerti mengapa Greta selalu terlihat begitu tenang dan terkendali; itu bukan karena dia kuat, melainkan karena dia sedang berjuang melawan memori berdarah di dalam kepalanya.
Namun, sesuatu di benak Luca terusik. Jika obat itu untuk melupakan, apakah itu berarti Greta sama sekali tidak tahu siapa yang bertanggung jawab atas kematian orang tuanya?.
Luca memutuskan untuk menyimpan semua informasi berat yang baru saja ia dengar di dalam kepalanya. Ia tidak ingin merusak momen tenang mereka atau membuat Greta merasa dikasihani. Dengan langkah seringan mungkin, ia mengendap-endap ke belakang kursi Greta.
"BAA!"
"HANTU... MONYET...!!" teriak Greta spontan dengan suara melengking. Tubuhnya nyaris terjungkal dari kursi saking kagetnya.
Suasana kantin yang tadinya melankolis mendadak pecah. Luca dan Clara terdiam seribu bahasa selama dua detik, saling pandang, lalu ledakan tawa mereka memenuhi seisi ruangan.
"Hahaha! Aku hantu... atau monyet, Greta?" tanya Luca sambil memegangi perutnya yang kaku karena tertawa. Ia tidak menyangka gadis setenang Greta bisa mengeluarkan serentetan kata ajaib seperti itu saat terkejut.
Clara bahkan sampai memukul-mukul meja. "Aduh! Monyet katanya! Luca, kamu dibilang monyet hantu!"
Greta yang sudah sadar sepenuhnya langsung menjatuhkan kepalanya ke atas meja, menyembunyikan wajahnya yang kini merah padam sampai ke telinga. Ia menutupi kepalanya dengan kedua tangan, merasa harga dirinya runtuh seketika.
"Diam kalian! Jangan tertawa!" suara Greta teredam oleh meja, yang justru membuat Luca semakin gemas.
Luca menghentikan tawanya perlahan, meskipun senyumnya masih sangat lebar. Ia menepuk bahu Greta yang tertutup jerseynya dengan lembut. "Oke, oke, maaf. Aku tidak tahu reflekmu sekreatif itu."
Luca berdiri dari kursi kantin, raut wajahnya kembali tenang setelah tertawa tadi. Ia menatap Clara dan Greta bergantian.
"Perawat yang sudah kujanjikan akan tiba di rumah Clara sebentar lagi," ucap Luca memberitahu.
Clara langsung menepuk dahinya, baru teringat. "Oh iya! Kamu sudah menyiapkan perawat ya kemarin untuk mengecek Greta!... Wah, untung kamu ingatkan, Luca. Ayo Greta, kita pulang sekarang!"
Greta mengangguk pelan. Merasa urusan di sekolah sudah selesai, ia mulai memegang ujung jersey basket besar yang dipakainya, berniat melepaskannya untuk dikembalikan kepada sang kapten. Namun, baru saja jersey itu terangkat sedikit, tangan Luca dengan sigap menahan lengan Greta.
"Tidak apa," ucap Luca pelan namun tegas, matanya menatap Greta dengan dalam. "Pakai saja dulu. Udara di luar sedang dingin, dan seragammu masih basah karena kopi."
Clara yang melihat tangan Luca masih menempel di lengan Greta langsung memasang wajah nakal. Ia menyenggol bahu Greta sambil tertawa kecil.
"Ehem! Aduh, tiba-tiba udaranya kok jadi manis ya, bukan dingin?" ledek Clara sambil menutup mulutnya. "Pakai saja, Greta. Lumayan kan, bisa pamer ke satu sekolah kalau kamu pulang pakai 'jimat' keberuntungan kapten tim basket! Besok-besok mungkin jerseynya nggak usah dicuci biar bau parfum Lucanya nggak hilang, ya kan?"
"Clara!" tegur Greta dengan wajah yang kembali memerah seperti kepiting rebus, sementara Luca hanya bisa berdehem salah tingkah dan buru-buru menarik tangannya.
Mereka bertiga berjalan meninggalkan kantin yang mulai temaram.
Sore itu di Jarvis High ditutup dengan aroma kopi yang memudar, digantikan oleh aroma jersey basket bersih dan harapan baru bagi Greta. Kemenangan Luca di lapangan mungkin besar, tapi kemenangan kecilnya sore itu adalah berhasil melihat Greta tersenyum di balik rahasia gelap yang selama ini ia simpan sendiri.
oke lanjut thor.. seru ceita nya