Mutiara mengira kalau dikhianati oleh kekasihnya adalah hal yang terburuk di dalam hidupnya, musibah yang akan membuat di hidupnya terpuruk. Namun, ternyata hal itu merupakan berkah di dalam hidupnya.
"Kenapa kamu tega, Fajar? Kenapa aku hanya dijadikan lelucon saja di dalam hubungan kita ini?"
Bagaimana kehidupan Mutiara selanjutnya?
Kuy baca, jangan lupa kasih komen yang baik jika suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMNB 22
Alice tidak lagi berjalan, dia menyeret langkahnya. Di dalam gudang tua itu pengap dan berdebu, walaupun seperti itu tetap ada angin dari celah dinding yang retak.
Namun, baginya setiap hembusan angin yang datang malah terasa seperti bara api yang menggesek kulitnya. Panas sekali. Cairan sialan itu telah mengubah darahnya menjadi lava.
"Sialan! Panas sekali, tadi aku hanya minum minuman kemasan. Kenapa rasanya seperti minum obat---"
Alice mencengkeram pinggiran meja kayu yang lapuk, jemarinya memutih, kuku-kukunya menggaruk permukaan kayu hingga serpihannya masuk ke bawah kulit.
Kini wanita itu menyadari ada yang salah dengan yang dia minum, kemarahan dalam dirinya langsung membuncah.
"Bangsatt! Ini pasti karena ulah orang itu, pasti dia orang jahat!" pekik Alice sambil mencari benda yang mampu menuntaskan geloranya.
Sayangnya di sana tak ada apa-apa. Hanya ada debu dan bau karat. Hasrat itu kini bukan lagi sekadar keinginan, itu sudah seperti rasa sakit yang menuntut tumbal.
"Panas!"
Rintihan itu lolos dari bibirnya yang terasa kering. Sangat menyiksa dan rasanya Alice ingin masuk ke dalam kolam berisi pria tampan untuk berendam.
"Aku harus bagaimana?! Kenapa juga aku tidak berhati-hati!" umpatnya penuh kekesalan.
Di sudut terjauh gudang itu, di balik tumpukan peti kemas yang berkarat, Alice melihat secercah cahaya. Dia bahkan samar-samar mendengar suara berat pria yang bersahutan, kasar dan penuh makian.
Bukannya merasa takut, justru dia merasa senang. Bahkan, senyum di bibirnya mengembang dengan begitu sempurna.
"Pria? Suara pria?"
Sungguh Alice tidak merasa takut sama sekali. Ketakutan itu telah terbakar habis oleh zat kimia dalam tubuhnya. Yang tersisa hanyalah insting untuk memadamkan api.
"Aku harus menghampiri mereka, siapa tahu ada yang mau membantuku. Ya, siapa tau ada yang mau bantu."
Alice melangkah lebih jauh untuk menghampiri mereka, semakin lama dia melangkah, suara para pria itu terdengar semakin jelas.
Wanita itu sudah seperti orang gila, dia bahkan berjalan sambil menanggalkan bajunya. Kemejanya kini sudah tergeletak di atas lantai kotor, menyisakan kain tipis yang basah oleh keringat.
Matanya liar, berkabut oleh gairah yang menyakitkan. Dia merasakan rasa sakit dan panas yang begitu menyiksa, Alice bahkan kini merasa miliknya gatal dan berkedut.
"Tolong, tolong aku," ujar Alice sambil tersenyum ketika dia benar-benar melihat ada pria di sana yang sedang duduk melingkar sambil minum.
Tiga pria di sana melonjak kaget. Seorang pria bertato kalajengking di lehernya bahkan hampir menjatuhkan botol birnya.
"Siapa? Hei! Apa-apaan ini?" teriak si pria bertato kalajengking, dia bahkan sampai bangun dan mundur selangkah.
Alice mendekat, langkahnya gontai tapi pasti. Ia mencengkeram kerah jaket kulit pria itu, menariknya mendekat hingga napasnya yang memburu menyapu wajah si preman.
"Tolong aku," bisik Alice, suaranya parau dan dalam. "Siapa pun tolong bantu aku memadamkan gelora ini. Aku punya uang. Aku akan bayar berapa pun. Kamu, atau temanmu, tolong lakukan sesuatu!"
Bukannya menyambar kesempatan itu, si pria bertato Kalajengking justru memucat. Kedua preman lainnya yang ada di sana juga nampak bergidik ngeri.
Si pria bertato kalajengking memperhatikan Alice, dia melihat pupil mata Alice yang melebar dan getaran hebat di sekujur tubuh wanita itu. Ini bukan godaan; ini adalah kegilaan.
"Sinting! Lepaskan aku, Jalanng!"
Pria itu menyentak tangan Alice hingga wanita itu jatuh terduduk di lantai semen yang dingin. Walaupun dia tak memakai baju, tapi penampilan Alice justru terlihat menakutkan.
"Bos, lihat matanya! Dia seperti orang kesurupan setan," ujar preman satunya lagi, wajahnya penuh kecemasan.
"Iya bener, jangan-jangan dia nantinya mau membunuh kita lagi," timpal preman yang memakai kaos oblong.
Alice menggelengkan kepalanya, karena dia datang bukan untuk membunuh. Justru dia merasa butuh bantuan karena hampir mati dengan rasa yang menyiksa itu.
"Dengar, Nona Manis," si pria bertato Kalajengking meludah ke samping, menatap Alice dengan pandangan jijik sekaligus ngeri. "Biasanya kami yang berburu, bukan diburu oleh wanita gila yang kehilangan urat malu sepertimu. Simpan uangmu untuk beli otak baru!"
"Aku---- aku akan bayar kalian dengan mahal. Aku tak kesurupan, otakku tak gila. Tolong aku, aku mohon."
Alice merangkak maju, jemarinya gemetar mencoba meraih ujung sepatu si pria bertato. Dia benar-benar sudah tak tahan dalam keadaan menyiksa seperti ini.
"Najis! Ayo pergi dari sini!"
Si pria bertato Kalajengking memberi kode pada teman-temannya. Mereka tidak boleh berurusan dengan wanita seperti Alice, karena ini bahaya.
"Aku tidak mau berurusan dengan wanita yang lebih buas dari binatang hutan. Bisa-bisa kita yang mati lemas!"
Walaupun mereka adalah orang jahat, tetapi mereka juga tidak bisa begitu saja menerima orang yang tiba-tiba datang seperti itu, mereka tetap harus waspada.
"Iya bener, mending kita kabur."
Pria yang memakai kaos oblong mendekat ke arah Alice. "Hei, Nona! Kalau mau jualan, cari pasar yang benar, jangan di lubang tikus!" ejeknya sambil tertawa sumbang, meski kakinya melangkah mundur dengan cepat.
Mereka berbalik dan lari tunggang langgang menembus kegelapan gudang, meninggalkan suara langkah sepatu yang bergema cepat, menyisakan Alice sendirian di tengah keheningan yang menyesakkan.
"Dasar bodoh! Mau dikasih enak kabur, padahal mau aku kasih duit juga."
Gudang itu kembali senyap, menyisakan Alice yang meringkuk di lantai semen yang dingin. Kepalanya berdenyut seirama dengan detak jantungnya yang liar.
Ia merangkak, jemarinya mencakar dinding bata yang mengelupas, dia mencari sesuatu. Apa pun itu, yang bisa untuk mengalihkan rasa terbakar di seluruh tubuhnya.
Namun, yang ia temukan hanyalah kegelapan dan sisa besi tua yang berkarat. Sempat terpikir untuk menggunakan besi berkarat itu, tapi dia takut juga.
"Duh! Make apa ya? Gak kuat banget rasanya," ujar Alice yang merasa kalau miliknya semakin berdenyut.
Wanita itu kembali merangkak, dia mencari benda yang bisa dia gunakan untuk menuntaskan geloranya dengan bantuan cahaya dari celah dinding yang rusak, tetapi sayangnya dia tidak menemukan apa pun.
"Tolong, tolong aku. "
Suaranya kini hanya berupa desisan lemah, dia tak tahan lagi. Tubuhnya menggigil karena tak segera menemukan racun penawar.
Di saat dia merintih seperti orang mau mati, Alice mendengar suara langkah kaki yang teratur menggema. Bukan langkah panik para preman tadi, melainkan langkah sepatu kulit yang berat dan berwibawa. Cahaya senter menyambar wajah Alice, membuatnya silau.
"Siapa itu?"
Alice berharap kalau yang datang adalah orang yang bisa menolongnya, orang yang mampu menuntaskan keinginannya yang sudah di ubun-ubun.
mutiara kocakk 🤭