Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.
Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.
Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.
Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Efek obat bius yang diberikan pada Lusy memudar dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dari perkiraan medis yang dibuat oleh Axel atau Samuel. Sementara mereka masih sibuk menganalisis data metabolisme yang muncul di layar monitor dengan penuh perhatian, sebuah gerakan tidak terduga dari balik dinding kaca isolasi membuat mereka langsung menyadari bahwa sesuatu yang sangat tidak beres sedang terjadi.
Tubuh Lusy mulai berkedut sangat hebat, setiap otot di tubuhnya berkontraksi dengan gerakan tidak terkontrol, membuat kasur di bawahnya bergoyang terasa mengganggu dalam kesunyian laboratorium.
Axel, yang sedang fokus memeriksa setiap angka dan grafik yang muncul di monitor, tersentak kaget dan langsung menoleh ke arah ruang isolasi saat mendengar suara geraman yang dalam dan kasar yang lebih menyerupai gesekan logam kasar di atas permukaan beton daripada suara manusia yang sedang dalam kondisi tidak nyaman.
"Dia bangun lebih awal dari yang kita perkirakan." Bisik Axel penuh dengan kekhawatiran.
Lusy tidak seperti manusia biasa yang membuka mata dengan perlahan dan lambat saat bangun tidur. Ia terjaga dengan sentakan instan yang sangat kuat, tubuhnya melenting ke segala arah di atas brankar medis dengan kekuatan yang luar biasa besar—kekuatan yang membuat ikatan fiksasi yang digunakan untuk mengikat pergelangan tangannya terasa seperti akan putus dengan sendirinya, mengeluarkan suara derak logam yang cukup keras untuk terdengar jelas di luar ruangan.
Pupil matanya yang berwarna merah padam dan sudah tidak lagi memiliki warna putihnya yang khas membelalak dengan sangat lebar, menyapu setiap sudut ruang isolasi dengan pandangan penuh dengan kegelisahan dan tidak ada sedikit pun rasa sadar diri yang bisa dilihat darinya. Ia tidak lagi memanggil nama Axel atau orang tersayang lainnya seperti yang biasanya dilakukan saat ia dalam kondisi sadar; ia hanya bisa mengerang dengan suara yang parau dan kasar, sebuah suara yang seolah menyuarakan rasa lapar yang sangat menyiksa hingga ke dalam sumsum tulangnya.
Dalam kondisi kehilangan akal budi dan kesadaran diri sebagai manusia, Lusy mulai bertindak sepenuhnya di luar nalar dan kontrol yang bisa diterima oleh akal sehat. Karena tidak menemukan sesuatu yang bisa dianggap sebagai makanan atau sumber energi di dalam ruang isolasi yang kosong itu, ia mulai menghantamkan kepalanya dengan keras ke permukaan dinding kaca yang kuat itu.
𝘋𝘶𝘨! 𝘋𝘶𝘨!
Suara benturan yang keras itu membuat jantung Axel seolah berhenti berdetak sejenak, membuatnya merasa seperti ada sebuah benda berat yang menekan dadanya dengan sangat kuat.
Tak berhenti sampai di situ saja, Lusy kemudian mulai mencakar dengan sangat ganas bagian lengan dan dadanya sendiri dengan kuku-kuku hitam dan tajam yang sudah tumbuh dengan sangat cepat akibat mutasi yang terjadi di dalam tubuhnya. Ia mengoyak kulit putihnya itu hingga menimbulkan luka gores yang dalam dan mulai mengeluarkan darah merah segar yang mengalir perlahan ke bawah lengan dan dadanya, membuat seragam medis yang dikenakannya menjadi kotor dan penuh dengan noda darah yang menyakitkan untuk dilihat.
"Lusy, berhenti! Kamu sedang melukai dirimu sendiri!" Teriak Axel dengan rasa tidak berdaya, tangannya yang masih mengenakan sarung tangan latex putih itu langsung menempel pada permukaan kaca isolasi dengan sangat erat seolah ingin bisa menjangkau tubuh Lusy dan menghentikan tindakan merusak diri yang ia lakukan.
Matanya yang sudah berkaca-kaca oleh air mata melihat dengan sangat jelas bagaimana tunangannya yang selalu dia cintai dengan sepenuh hati itu sedang menyiksa raga sendiri dengan cara yang sangat menyakitkan, dan ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghentikannya dari luar ruangan yang terlindungi oleh kaca tebal itu.
"Axel, jangan sekali-kali masuk ke dalamnya! Dia sangat berbahaya dan bisa saja menyakitimu!"
Samuel dengan cepat mencoba menahan bahu Axel yang sudah mulai bergerak maju ke arah pintu ruang isolasi itu. Namun upayanya itu tidak terlalu berhasil karena Axel sudah benar-benar kehilangan kendali diri dan hanya berpikir untuk segera menghentikan penderitaan yang dialami oleh Lusy itu tanpa memikirkan risiko yang mungkin akan ia hadapi nantinya.
Dengan gerakan yang tidak terduga, Axel menyambar tuas pintu isolasi yang terletak di sisi kanan ruangan itu dengan sangat cepat. Ia tahu bahwa masuk ke dalam ruangan itu adalah sebuah keputusan yang sangat berbahaya dan bisa saja membuatnya terluka bahkan sampai mati, namun ia tidak bisa tinggal diam lagi dan menyaksikan Lusy terus menyiksa dirinya sendiri seperti itu. Ia harus melakukan sesuatu untuk menghentikan tindakan merusak diri itu, tidak peduli apa yang harus ia lakukan atau apa yang harus ia bayarkan sebagai hasilnya.
Saat ia merangsek masuk ke dalam ruangan isolasi yang sudah terbuka sedikit itu, tangannya yang tergesa-gesa tanpa sengaja tergores oleh pinggiran pintu baja yang tajam dan tidak terawat dengan baik, sayatan dalam yang langsung mengeluarkan darah merah segar yang sangat hangat dan mulai merembes keluar dari telapak tangannya, menetes dengan sangat lambat ke permukaan lantai.
Seketika saja tetesan darah itu mulai muncul dan mengeluarkan aroma yang khas dari tubuh manusia, gerakan brutal yang dilakukan oleh Lusy tiba-tiba terhenti dengan sangat jelas. Semua gerakan yang tidak terkontrol di tubuhnya berhenti sama sekali, membuatnya berdiri dengan tubuh yang sedikit membungkuk di atas brankar medis itu dengan pandangan yang mulai berubah dari kegelisahan menjadi sesuatu yang lebih tenang namun tetap sangat mengerikan.
Hidungnya yang sudah mulai berubah bentuk sedikit kembang kempis dengan sangat jelas, ia menghirup udara dengan cara yang sangat rakus dan penuh dengan hasrat seolah sedang mencium aroma sesuatu yang sangat lezat dan dibutuhkan oleh tubuhnya. Kepalanya perlahan-lahan menoleh ke arah Axel yang sedang berdiri di dekat pintu ruangan itu, bukan dengan tatapan yang penuh dengan hasrat untuk menyerang seperti yang mereka takuti sebelumnya, melainkan dengan ekspresi yang sangat asing dan tidak pernah mereka lihat sebelumnya pada wajah Lusy.
Lusy kemudian mulai merangkak dengan sangat lambat namun tetap penuh dengan tujuan mendekat ke arah Axel yang sudah membeku tidak bergerak di tempatnya, matanya yang berwarna merah padam terkunci dengan sangat erat pada tetesan darah yang masih terus menetes dari telapak tangannya yang terluka.
Axel benar-benar membeku di tempatnya tanpa bisa bergerak sama sekali, tubuhnya menjadi sangat kaku dan bahkan sulit untuk bernapas dengan normal. Ia melihat dengan sangat jelas bagaimana Lusy meraih tangan kanannya yang terluka itu dengan gerakan yang kini menjadi sangat halus namun penuh dengan tuntutan yang tidak bisa ditolak.
Ia sudah siap untuk diserang dan terluka bahkan sampai mati oleh wanita yang ia cintai, namun yang terjadi kemudian adalah sesuatu yang sangat mengejutkan dan membuatnya tidak bisa mempercayai apa yang dilihatnya sendiri. Lusy tidak menggigit atau mencoba menyakiti dirinya dengan cara apa pun; ia hanya menghirup aroma darah yang keluar dari sayatan di tangannya itu dengan sangat dalam, kemudian menjilat dengan sangat lembut sisa-sisa darah yang menetes di permukaan kulitnya dengan lidahnya yang terasa sangat panas dan sedikit kasar ketika menyentuh kulitnya yang terluka itu.
Pada detik-detik pertama saat lidahnya menyentuh luka itu, Axel merasakan sedikit rasa sakit yang kemudian segera hilang dan digantikan oleh perasaan yang sangat aneh dan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dan yang paling mengejutkan dari semua itu adalah bahwa urat-urat berwarna biru gelap yang sebelumnya menonjol jelas di leher dan lengan Lusy mulai perlahan-lahan menyusut ke dalam tubuhnya, kembali ke bentuknya yang normal dan tidak lagi terlihat dari luar. Sorot mata yang liar dan penuh dengan kegelisahan itu juga mendadak meredup dengan sangat jelas, kembali menjadi jernih dan seperti biasa hanya untuk sesaat saja sebelum ia kembali kehilangan kesadarannya.
"A-Axel?" Bisik Lusy dengan suara yang sangat lirih, suara yang kembali menjadi seperti suara wanita yang ia kenal selama ini.
"Pahit sekali... rasa lapar yang aku rasakan ini sangat pahit dan menyiksa sekali... aku tidak bisa mengendalikannya lagi, Axel..."
Setelah mengucapkan kata-kata itu dengan susah payah, tubuh Lusy mulai melemas dan akhirnya jatuh pingsan kembali dalam pelukan yang sudah terbuka oleh Axel untuk menampungnya. Tubuhnya yang tadinya penuh dengan kekuatan dan keganasan itu kini menjadi sangat lembut dan tidak berdaya sama sekali.
Axel bisa merasakan bagaimana tubuh Lusy yang sangat lembut itu berada di dalam pelukannya, dan ia hanya bisa memeluknya dengan sangat erat seolah ingin memberikan sedikit rasa aman dan nyaman pada wanita yang ia cintai itu meskipun ia tahu bahwa hal itu mungkin tidak akan terlalu banyak membantu dalam situasi yang sudah seperti ini.
Axel terduduk di lantai ruang isolasi yang sudah mulai terasa dingin, memangku kepala Lusy yang tak sadarkan diri. Ia melihat dengan sangat hati-hati bagaimana wajah Lusy yang sudah kembali menjadi seperti biasanya—wajah yang cantik dan lembut yang selalu membuat hatinya merasa hangat dan tenang setiap kali melihatnya. Namun di dalam hatinya yang paling dalam, ia tahu bahwa semua itu hanya bersifat sementara dan bahwa saat obat bius atau efek darah yang ia berikan itu mulai menghilang, monster yang ada di dalam dirinya akan kembali muncul dengan kekuatan yang mungkin akan lebih besar lagi dari sebelumnya.
Di luar kaca isolasi yang jelas itu, Samuel dan Doni berdiri mematung dengan wajah yang sudah menjadi pucat pasi. Mereka menyaksikan semua yang terjadi dengan mata kepala sendiri, dan kebenaran yang baru saja mereka lihat itu jauh lebih kelam dan menyakitkan daripada semua simulasi eksperimen pada tikus yang pernah mereka lakukan sebelumnya di laboratorium itu.
"Dia tidak membutuhkan karbohidrat atau protein biasa seperti yang kita pikirkan sebelumnya. Nutrisi yang bisa didapatkan dari makanan manusia pada umumnya tidak akan pernah cukup untuk mengimbangi laju mutasi seluler yang terjadi di dalam tubuhnya. Sel-sel yang sedang bermutasi itu membutuhkan hemoglobin dalam jumlah yang sangat besar... mereka benar-benar membutuhkan asupan organik yang sudah terolah dengan cara khusus seperti yang ada di dalam darah manusia."
Axel kemudian perlahan mendongak untuk melihat wajah Samuel yang sudah mulai menunjukkan ekspresi keputusasaan yang mendalam itu, sorot matanya yang sudah hancur dan penuh dengan rasa sakit melihat bagaimana sahabatnya itu mencoba untuk menerima kebenaran yang sangat pahit ini.
Ia tahu bahwa apa yang akan ia katakan selanjutnya akan menjadi sebuah pukulan yang sangat kuat bagi mereka semua, namun ia tidak bisa menyembunyikannya lagi karena mereka sudah harus tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh Lusy untuk bisa tetap hidup dan sadar sebagai manusia yang normal.
"Dia membutuhkan darah untuk bisa tetap sadar dan menjadi dirinya sendiri sebagai manusia, Sam. Tanpa asupan darah yang cukup secara teratur, dia hanya akan terus menjadi binatang yang kelaparan dan akan terus melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dibutuhkannya sampai akhirnya dia mati karena tidak bisa lagi mengontrol diri sendiri atau karena tubuhnya tidak bisa lagi menahan beban mutasi yang terlalu besar itu."
Kesimpulan yang sangat pahit dan menyakitkan itu menggantung di udara laboratorium, membuat setiap orang yang ada di dalamnya merasa seperti ada sebuah batu besar yang menekan dada dan membuat mereka sulit untuk bernapas dengan normal.
Mereka kini benar-benar tahu apa saja harga yang harus mereka bayarkan untuk bisa mempertahankan sisa-sisa jiwa Lusy yang masih ada di dalam tubuhnya yang sudah bermutasi itu, harga yang tidak hanya menuntut mereka untuk menyimpan rahasia besar ini dari dunia luar, namun juga menuntut pengorbanan yang jauh lebih besar dari apa yang pernah mereka bayangkan sebelumnya dalam hidup mereka masing-masing.
.
.
.
.
.
.
.
ㅡ Bersambung ㅡ