NovelToon NovelToon
Kapan Cinta Datang?

Kapan Cinta Datang?

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Evelyn12

"Menikah tentulah merupakan hal yang sangat didambakan seseorang. Apalagi menikah dengan orang yang kita inginkan dan kita cintai."

" Namun, bagaimana jika kamu menikah atas dasar keterpaksaan? Disisi lain, kamu ingin melihat orang tua mu bahagia, tapi disisi lain kamu masih terjebak dimasa lalu. Seolah cintamu sudah habis dimasa itu."

"Menjalani semuanya tanpa perasaan cinta. Akankah berakhir bahagia? Atau justru malah menambah masalah baru untuk aku... dan juga dia..."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mau Dibawa Kemana Pernikahan ini?

Pagi berikutnya...

Seolah ingin melupakan pertengkaran semalam, Naina beraktivitas seperti biasanya. Menyiapkan sarapan sudah menjadi rutinitasnya yang tidak akan ia lewatkan.

Berusaha melupakan, tapi justru pertanyaan berbagai pertanyaan selalu melintas dipikiran Naina, hal itu seperti duri kecil yang mengganggu hati kecilnya.

*

Dimas datang dan duduk di meja dengan wajah datar. Ia seperti enggan untuk menatap wajah Naina.

"Ini kopinya, Mas." Naina meletakkan secangkir kopi di hadapan Dimas, dan kemudian ia duduk di hadapan pria itu.

"Iya."

"Aku sudah siapkan roti bakar dan selai. Mau ku buatkan?" Tanya Naina agak sedikit canggung.

"Tidak usah. Aku bisa sendiri."

"Setelah pulang kerja, apa Mas ada waktu?"

Dimas diam sejenak, sedangkan Naina menatapnya penuh harap.

"Sepertinya hari ini aku lembur." Jawaban Dimas yang membuat Naina mendengus kecil. Terlihat kekecewaan di raut wajahnya.

"Aku ingin kamu meluangkan sedikit waktu buat kita bersama, Mas. Mungkin dengan itu, kita bisa membangun sebuah perasaan. Saat ini aku tidak meminta lebih, tapi setidaknya kita tidak bersikap seperti ini." Ucap Naina.

"Aku tau, semua ini terjadi tanpa didasari suatu perasaan apapun. Tapi, apakah salah jika kita berusaha untuk menumbuhkan rasa itu? Karena tidak mungkin kita akan menjalani pernikahan ini dengan kondisi yang seperti ini selamanya, kan?" Sambung Naina.

Dimas menatap Naina.

"Maafkan aku, Naina. Aku tidak bermaksud menyakitimu." Jawab Dimas.

"Kalau begitu, kenapa Mas tidak jujur dari awal, Mas? Kenapa Mas menikahiku?"

"Kamu tahu jawabannya. Aku tidak punya pilihan. Saat itu, aku benar-benar terdesak dan harus mengikuti kata Ayah. Ayah sakit-sakitan karena menginginkan aku untuk segera menikah."

"Jadi, aku ini hanya boneka, alat untuk menyenangkan orang tua Mas, dan menjadi tameng mu, Mas?"

Dimas terdiam, ia tidak bisa menjawab.

"Bukankah tidak elok berdebat di meja makan, Nai? Lagian ini masih pagi, jangan memulai pertengkaran. Jangan menambahi beban pikiranku." Dimas mengalihkan pembicaraan, yang membuat Naina tertunduk.

"Maaf. Aku tidak bermaksud mengajak Mas bertengkar. Aku hanya ingin tau, mau dibawa kemana sebenarnya pernikahan kita ini?"

Dimas lagi-lagi hanya diam seperti sengaja mengabaikan Naina. Sedangkan Naina, ia hanya bisa memendam apa yang ia rasakan. Karena menurutnya, berbicara pun percuma. Hanya menimbulkan pertengkaran yang membuat hubungan mereka semakin buruk.

Seperti biasa, setelah sarapan Dimas segera berangkat, sedangkan Naina hanya bisa menatap punggung pria itu yang kian menjauh. Kali ini, ia tidak membuntuti pria itu sampai ke garasi mobil. Naina masih duduk di meja makan dengan mata yang berkaca-kaca.

"Seperti ingin menggapai bulan, rasanya mustahil..." Ucap Naina.

*

Naina menatap ponsel genggam yang dulu ia dapatkan dari Sofia. Walau tidak mengerti menggunakan benda itu secara detail, tapi untuk sekedar menelpon atau mengirim pesan Naina bisa, karena sebelumnya ia sering melihat teman sekolahnya menggunakan benda itu.

"Apa aku perlu menceritakan ini pada mbak Sofia?" Tanya Naina pada diri sendiri. Ia menggenggam ponsel itu dengan erat. Beberapa hal harus ia pertimbangankan.

"Tapi, itu sama saja aku menceritakan cacat pada bajuku sendiri. Aku tidak ingin menambah beban pikiran mbak Sofia. Apalagi saat ini mbak Sofia sedang mengandung. Selagi aku bisa bertahan, aku akan bertahan. Pernikahan ini tidaklah salah. Mungkin harus dengan kesabaran yang lebih lagi, agar nanti kedepannya bisa berakhir dengan baik. Lagi pula, pernikahan ini baru saja terjadi. Mungkin hal seperti ini biasa untuk pasangan yang baru saja menikah. Canggung, komunikasi yang jarang, dan lain sebagainya."

"Jujur saja, sikap mas Dimas membuat aku kesepian dan merasa sendiri. Aku tidak punya siapa-siapa. Aku hanya bisa mengadu pada diriku sendiri. Sakit ku, sedih ku aku telan sendiri."

"Sedari kecil, aku selalu diajarkan untuk kuat. Kuat dalam segala hal. Cobaan hidup sudah jadi makanan ku. Lika-liku kehidupan sudah biasa aku hadapi."

"Entah Tuhan punya rencana apa kedepannya. Aku yakin, dengan aku meng-iyakan tujuh puluh kali pertanyaan itu, ada kebahagiaan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya akan hadir."

"Aku harus kuat. Walau di awal terasa berat, tapi aku yakin kedepan akan lebih baik." Kalimat yang tidak bosan-bosan selalu Naina ucapkan pada diri sendiri.

*****

Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Tapi Dimas tak kunjung pulang. Selambat-lambatnya pria itu, jam segini seharusnya sudah terdengar ia mengetuk pintu. Naina menunggu di sofa ruang tamu. Ada kekhawatiran di sana. Matanya masih terbelalak, seperti enggan untuk tidur.

Sementara itu...

Dimas tampak duduk di Warkop pinggir jalan, ia bersama rekan sekantornya yang memang sudah janjian bertemu di sana. Bukan Tony, tapi Angga. Pria matang yang belum juga menikah. Ia berperawakan tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek, dengan kulitnya yang hitam manis. Salah satu teman Dimas yang kocak dan terkenal dengan jomblo abadi.

"Padahal enak udah ada bini, pulang tinggal kelonan." Goda Angga pada Dimas di sela hisapan rokoknya. Dimas hanya nyengir.

"Gua aja pengen nikah cuma belom ketemu jodoh. Lah, elu... udah nikah malah asik nongkrong di sini. Rugi! Gua kalo udah nikah kalo bisa mah gak bakalan keluar rumah, maunya full sama bini. Paling keluar cuma buat kerja. Sisanya sama bini." Sambung Angga lagi.

"Entahlah, Bro. Mungkin beda cerita kalo kita nikah sama orang yang kita cinta." Jawaban Dimas membuat Angga memicingkan alis.

"Maksud lu? Lu gak cinta bini lu gitu?" Angga menatap Dimas penuh curiga.

"Ah! Enggak, kok."

Angga memperhatikan wajah Dimas, terlihat lesu dan tidak ada semangat disana. Hisapan rokok dengan hembusan asap yang kasar membuat Angga mengerti, sohibnya itu sedang menyimpan banyak beban.

"Gua aja kaget tiba-tiba lu nikah. Sedangkan kita semua tau lu selama ini asik nge-jomblo sama kaya gua."

Dimas lagi-lagi menyunggingkan senyum kecil sinis.

"Jangan bilang lu nikah terpaksa karena dijodohkan atau apalah itu kaya di film-film." Celetuk Angga.

Dimas menyeruput kopi, seolah pertanda akan ada cerita panjang setelah ini.

"Gua baru satu kali bertemu dengan Naina, dan harus menikahinya. Gimana menurut lu? Terdengar lucu, kan? Satu kali bertemu langsung menikah."

"Kok bisa, sih? Kirain bini lu itu pacar lu yang selama ini sengaja lu umpetin."

"Naina itu sepupu istrinya Tony. Gua ketemu dia pas ke rumah Tony beberapa waktu lalu. Saat itu Ayah gua lagi sakit. Dan gua gak tega liatnya. Hari-hari yang ditanyakan kapan gua nikah. Gua takut bokap gua meninggal, sebelum ngewujudin keinginan beliau."

"Walah..."

"Selama ini gua banyak memendam rasa. Dari orang tua yang selalu sibuk nyuruh gua nikah. Lu gak tau rasanya seperti apa didesak setiap hari."

"Astaga! Pantes aja lu keliatan gak bahagia. Muka lu kusut sejak nikah gua perhatiin. Gak ada aura-aura pengantin baru."

"Entahlah. Gua rasa, gua terlalu cepat ngambil keputusan tanpa memikirin dampak kedepannya. Dan sekarang gua kelabakan sendiri."

"Kasian dong bini lu. Kenapa harus melaksakan. Egois ini namanya."

"Iya gua tau. Makanya gua bingung sekarang. Pernikahan ini udah terlanjur, sedangkan gua masih terikat dengan masa lalu. Jujur."

"Hah?! Sarah?!" Tanya Angga yang memang tau hubungan Dimas dan Sarah, karena dulu mereka satu sekolah. Siapa yang tidak tau kisah cinta Dimas dan Sarah? Romeo dan Juliet pada masanya.

Dimas mengangguk.

"Anjay! Udah bertahun-tahun lu masih ada rasa? Gila ya lu?!" Angga seketika syok.

"Gak tau dah. Susah banget buat lupain Sarah."

"Dia kan udah nikah. Udah ada anak juga."

"Enggak tau pokoknya. Gua gak cari tau tentang dia. Tapi perasaan gua masih sama kaya dulu."

"Lu ada bego begonya ternyata, ya? Seorang Dimas Aksara yang selalu jadi kebanggan Bos, yang sudah terkenal pinter di sekolah dulu. Pinter di Kantor, bisa menyelesaikan segala persoalan, sebego ini ternyata?" Ucapan Angga membuat Dimas diam.

"Bro! Dia aja gak mikirin lu tapi lu malah stuck sama dia. Lu aja di selingkuhi sama dia, lu malah masih aja kecintaan. Bego banget." Ucapan Angga seperti sebuah tamparan buat Dimas.

"Masa depan udah ada di depan mata, lu masih terjebak di masa lalu. Astaga!" Sambung Angga lagi, "sori kalo gua agak kasar, tapi biar lu sadar. Buat apa ngarep Sarah yang udah punya kehidupan sendiri, ingat lu aja mungkin enggak."

Dimas sama sekali tidak bisa menjawab, karena ucapan Angga semua ada benarnya. Cuma hatinya yang masih denial, tetap mengganggap itu semua hanyalah angin lalu.

Beberapa saat Dimas dan Angga hanya diam-diaman, yang terdengar hanyalah obrolan dari pengunjung lain, dan suara musik dari Warkop itu.

"Udah ah! Gua mau pulang. Ntar mak gua nyariin." Ucap Angga membereskan handphone, rokok dan koreknya kemudian memasukkannya ke dalam tas.

"Iya, hati-hati." Jawab Dimas

"Lu pulang, gih. Kasian bini lu. Ini udah larut." Ucap Angga, seketika membuat Dimas tersadar ada Naina yang pasti menunggu nya pulang.

"Walaupun nikah terpaksa kan sekarang status lu sudah jadi suami orang, Bro. Setidaknya, jangan menyakiti istri lu yang gak tau apa-apa." Ucap Angga sebelum ia berlalu meninggalkan Dimas.

***

Dimas membuka pintu rumah. Seperti biasa, Naina tertidur di sofa menunggu ia pulang. Kali ini, ada sedikit iba di hatinya, apalagi saat ia memperhatikan wajah polos Naina. Gadis itu tetap terlihat cantik walau sedang tidur.

Dimas berjongkok menghadap Naina. Ia mengusap pelan kepala gadis itu.

"Padahal kamu tidak salah. Tapi aku seolah menyalahkan kamu atas apa yang terjadi dalam hidupku."

Naina membuka pelan matanya, "Mas... kamu sudah pulang?" Tanya Naina lirih seperti belum sepenuhnya tersadar.

Naina kembali memejamkan mata, ia kembali tertidur hingga tidak menyadari bibir Dimas sudah mendarat di bibirnya.

"Anggap saja sebagai ucapan permintaan maafku karena pertengkaran tadi pagi." Lirih Dimas.

***

1
pojok_kulon
Kamunya setia belum tentu dia yang disana juga setia sama kamu Dim 🤭🤭
pojok_kulon
Duh gemasnya
pojok_kulon
Pasti Dimas menunggu cinta pertamanya ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!